Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 91. Perjalanan Diam Seribu Bahasa 78


__ADS_3

Aroma parfum semakin menyengat di hidung gadis cantik ini. Hatinya pun semakin dak-dik-duk- der.


"Rindu dengan ku ya?" Tanya seorang laki-laki tepat di telinga Mentari yang membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan.


Bulu kuduk gadis ini merinding juga dibuatnya. Karena terkejut sang gadis menoleh ke arah sumber bisikan tadi.


Cup


Betapa malunya tanpa sengaja pipi putih dan halus itu kini berubah jadi memerah. Sebuah kecupan tanpa adanya kesengajaan itu membuat banyak mata membulat menatap tajam pada mereka.


Kedua pandangan mata bertemu. Terlihat sebuah kasih sayang yang sangat dalam antara satu sama lain.


"Ehem-ehem." Suara Deddy yang membuyarkan pandangan mereka.


"Tahanlah dulu mata kalian." Kata Mommy


"Memangnya kenapa Mom?" Tanya Alfian polos.


"Kalau diterusin bisa jadi malam ini bukan hanya malam pertama buat kedua mempelai tapi juga malam pertama kalian." Jelas Mommy


"Dari pandangan kalian ada bisikan-bisikan setan yang akan mempengaruhi kalian." Lanjut Deddy


"Dari mata turun ke bawah sana Bro." Kata Ziko usil saat mendekati Alfian.


"Bilang aja elu iri sama gue yang lancar jaya." Balas Alfian pada sahabatnya.


"Tenang Al nanti malam ada yang gantiin kalian kok." Ledek Papa.


"Apa'an sih Pa?" Kata Mama dengan mencubit perut suspek suaminya.


"Biar disegera'in peresmiannya." Kata Papa lirih di telinga Mama.


Mentari hanya terpaku menundukkan kepalanya karena masih merasa terkejut dengan kejadian baru saja. Wajahnya yang semakin memerah bak kepiting rebus sangat terlihat.


Malam semakin larut. Kedua pengantin pun setelah mengucapkan terimakasih ingin segera istirahat.


Briyan dan Dita menghampiri Adrean ingin mengucapkan terimakasih secara langsung. Setelah berpamitan mereka pun langsung menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan sebelumnya.


Briyan memang sudah menyiapkannya di kamar yang berbeda dengan kamar sebelumnya. Bapak dan Adiknya juga sudah menyiapkan kamar pengantin di rumah mereka sendiri.


Kamar pengantin untuk mereka ada dua tempat. Pihak hotel menyiapkan sesuai dengan perintah Briyan sedangkan yang ada di rumah mereka memang rencana dari pihak keluarga.



Sedikit gambaran aja ya kamar pengantin mereka berdua yang dipenuhi dengan bunga mawar dan lilin. Selamat malam pertama buat Pengantin Baru.


Ting


Suara pintu lift terbuka setelah tombol ditekan oleh seorang petugas.


Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju lantai dimana kamar pengantin sudah disediakan.


Di depan lift sudah ada petugas yang menunggu mereka. Keluar dari dalam lift mereka sudah ditunggu oleh seorang petugas lagi. Dengan penuh rasa hormat ia mengantarkan keduanya menuju kamar mereka.


"Silahkan Tuan." Kata Petugas sambil menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya.


Briyan memang seorang laki-laki yang sangat tegas. Jika hanya melihatnya sebentar ia terlihat bengis dan kejam.


Sepasang pengantin baru itu pun memasuki kamar pengantin. Ada rasa malu di hati pengantin wanita.


Deg deg deg


Begitulah suara degup jantung sepasang pengantin baru itu. Tepat sampai di depan pintu kamar seperginya pelayan hotel Briyan langsung menggendong Dita ala brida stile.


Wanita yang baru saja berstatus sebagai istri seorang Briyan terkejut dengan perlakuan tersebut. Dita diturunkan di atas tempat tidur dengan perlahan.


Jantung Dita berdegup semakin kencang. Hal ini juga dirasakan oleh laki-laki yang bersamanya saat ini.


"Aku mau mandi dulu." Kata Dita sambil mendorong tubuh kekar yang ada di depannya saat ini.


"Em... " Briyan pun mengijinkan sang istri setelah jatuh di atas tempat tidur setelah didorong oleh sang istri.


Laki-laki yang akan melepas lajangnya itu menatap punggung sang istri menuju kamar mandi. Dita masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya perlahan.


Kamar mandi kini sudah tertutup rapat, tapi tanpa di kunci. Dita kini menyandarkan punggungnya di pintu tersebut karena merasa jantung yang semakin berpacu dengan kencang.


Saat akan melepas gaun pengantin yang melekat pada badannya. Dita merasa kesulitan tidak bisa meraih kancin yang terdapat di punggungnya.


Lama ia berada di dalam kamar mandi membuat laki-laki yang baru tadi siang menjadi suaminya merasa cemas. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul ke kamar mandi.


Tok tok tok


Suara pintu kamar mandi diketuk oleh Briyan.


"Jangan-jangan tertidur seperti tadi siang." Pikirnya.


Tanpa menunggu lama.


Kreeek


Suara pintu kamar mandi pun terbuka dengan mudahnya. Terkejutlah wanita yang ada di dalam sana.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Dita membalikkan badan menatap Pria yang baru saja masuk menyusulnya.


"Menyusul mu, karena kamu sangat lama sekali di dalam sini." Kata Briyan berjalan mendekat ke arah Dita hingga wanita itu berjalan mundur dan akhirnya terpojok punggungnya menempel pada dinding kamar mandi.


Kini keduanya hampir tak berjarak. Nafas menyapu pada wajah Dita terasa hangat hingga ia pun memalingkan wajahnya.


"Bisa minta tolong bantu melepas pangait gaun ini?" Pinta Dita dengan penuh harap tanpa menatap wajah sang suami.


"Berbaliklah, aku akan membantu mu melepaskan gaun ini." Kata Briyan dengan santainya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Dita saat badan Sang Suami mulai menghimpit badan Dita dari belakang.


"Mandi bersama mu." Kata Briyan dengan santainya.


Dita membulatkan matanya seketika mendengar penuturan Sang Suami.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam di sini, aku tidak mau malam pertama ku di kamar mandi. Biarpun adik kecilku sudah meronta-ronta di dalam sana." Jelas Briyan.


Akhirnya sepasang pengantin baru itu mandi bersama tanpa terjadi sesuatu. Biarpun rasa malu itu ada saat itu.


Selesai mandi mereka keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang membalut tubuh mereka. Seperti sebelumnya Briyan menggendong sang istri hingga tempat tidur.


Briyan pun memulai aksinya malam ini menghabisi sang istri seperti katanya tadi. Mereka bermain hingga pagi.


Merasa capek akhirnya mereka berdua bangun saat matahari sudah beranjak naik.


♥️♥️♥️♥️


131


Malam itu adalah malam yang cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa terlihat indah. Semua tamu undangan sudah mulai meninggalkan acara resepsi hingga suasana mulai semakin sepi.


"Sudah larut malam, kami pamit pulang dulu." Kata Papa.


"Oh, benar tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya." Kata Alfian.


Papa dan keluarganya beranjak dari tempat mereka duduk. Mereka saling mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Hati-hati dijalan Tuan?" Pesan Deddy pada keluarga Alfian.


"Baiklah terima kasih." Balas Adrean.


"Mau kemana kamu?" Tanya Alfian pada Mentari.


"Ya pulanglah." Jawab Mentari saat tangannya dicekal dengan erat oleh Alfian.


"No... no... no... " Kata Alfian dengan mengacungkan ibu jari telunjuk dan menggerakkannya.

__ADS_1


"Pulang sama aku." Lanjutnya tegas.


"Gak! Lagian ini udah terlalu malam kali." Balas Tari sambil melingkarkan kedua tangannya di atas perut.


"Udah kalau mau dianterin sama Kak Alfian juga gak apa kali." Sahut Axel yang tiba-tiba datang bersama kedua saudara kembarnya.


"Apa?" Balas Kakak Tari


"Dari mana saja kalian?" Tanya Kak Tari.


"Kayak jalangkung tahu gak?" Tanyanya lanjut.


"Udah di ACC tu sama ketiga bodyguart ganteng mu." Kata Papa yang udah nunggu keputusan Tari.


"E..... Gimana Ya?" Balas Kak Tari sambil memutar bola mata.


"Yuk, kita duluan aja. Toh sudah ada yang anterin kok." Kata Axel.


"Yang pastinya selamat sampai tujuan." Sahut Garda.


"Betul." Sahut Daffa kemudian.


"Ya sudah ayo jalan! Ajak Mama dengan senyum jahilnya.


"Yuk .... Yak .... Yuk." Kata Axel, Garda, dan Daffa secara bersamaan.


Semua anggota keluarga Adrean pun pulang ke rumah mereka terkecuali Mentari. Terasa capek seluruh badan mereka, tapi apalah daya pekerjaan besuk pagi sudah menumpuk.


Perjalanan mereka selalu saja terasa menyenangkan. Ya karena ketiga jagoan mereka selalu saja bisa membuat keributan. Biarpun rasa ngantuk menyerang tetapi mata mereka tidak bisa terpejam karena ulah dan canda tawa mereka.


Setelah kepergian keluarganya Mentari merasa sangat canggung harus berhadapan dengan keluarga Alfian. Jika tidak ditanya ia hanya diam.


Ziko dan Monic tiba-tiba datang ingin meminta pertanggungjawaban atas kata-kata bosnya itu. Ingin rasanya mengajukan berbagai macam pertanyaan tapi apalah daya ia hanyalah pegawai dokantornya.


Alfian bukanlah orang yang tidak bisa membedakan antara urusan pribadi dengan pekerjaan. Akan tetapi selalu saja ia menggunakan nama perusahaan untuk mengancam Ziko agar tidak banyak tingkah. Dilain pihak Ziko merasa banyak berhutang budi pada keluarga Alfian.


"Mau nganter pakai apa kamu Al?" Tanya Ziko saat berjalan mendekati sahabatnya Alfian.


"*Kenapa aku tak pakai mobil sendiri ya tadi?" Tanya Alfian dalam hati.


"Haduh, sungguh sangat bodohnya aku." Lanjutnya lagi dengan tersenyum pada Mentari*.


Senyum yang dilontarkan Alfian terasa hambar dilihat mata. Mentari tahu kalau laki-laki muda yang mengajaknya barusan merasa malu karena terlanjur berjanji akan mengantarnya pulang tapi apalah daya. Lupa kalau ia tidak membawa gerobak.


"Ded, aku ke kamar mandi dulu yah?" Tanya Mammy.


"Iya, jangan lama-lama." Balas Deddy yang melihat muka sang istri sudah sangat pucat.


Mammy menuju kamar mandi terdekat. Ia ingin memuntahkan semua isi perutnya.


Huek huek huek.


Kosong sudah isi perut. Lemas sungguh terasa lemas, hingga Mammy pun tak sanggup untuk berdiri.


Deddy yang berada di ruang tunggu bersama orang-orang terdekatnya tidak sadar kalau sang istri sudah lumayan lama berada di kamar mandi. Ia asyik menyaksikan kebodohan dan perdebatan antara anak simata wayangnya dengan asistennya itu.


"Aku mau kamu ikut sama aku." Pinta Alfian dengan menarik paksa tangan Ziko.


"Mau apa Al, gue masih normal." Kata Ziko yang meronta-ronta menolak permintaan sahabatnya itu.


"Mobil mu aku bawa. Titik?" Kata Alfian penuh penegasan.


"Enak aja, trus aku pulang dengan apa?" Tanya Ziko.


"Taxi kan banyak?" Jawab Alfian.


"Enak aja, ini udah pukul berapa mau pakai Taxi?" Tolak Ziko.


"Gak pernah lihat berita apa pembunuhan dan perampokan akhir-akhir ini." Lanjutnya.


"Apalagi pemerkosaan dengan tampang gue yang ganteng ini." Kata Ziko untuk memperjelasnya.


"Tapi bener juga sih ganteng, tapi sayang agak sedikit narsis." Batin Monik*.


"Berikan kuncinya atau aku potong 60% gaji mu." Ancam Alfian.


Semua orang yang di sana terkikik geli mendengar perdebatan kedua laki-laki ini. Bukan gadis yang diperebutkan tapi malah sebuah mobil. 🙂🙂🙂


Karena terbawa arus, suasana yang sangat jarang ini membuat Deddy ikut terbawa juga. Lupa dengan keberadaan sang istri.


"Mulai jadi bucin ini anak, tak pernah berpikir dulu sebelum bertindak. Gak inget apa gak bawa gerobak?" Celoteh Deddy.


"Al, Mammy mu tadi pergi ke toilet kok lama banget. Deddy jadi khawatir." Lanjut Sang Deddy.


"Ya udah lah bos bawa aja itu mobil." Kata Ziko.


"Tapi dengan syarat, Bos." Pinta Ziko.


"Apa?" Tanya Alfian.


"Naikkin gaji aku." Jawab Ziko.


"Dasar mata duitan." Kata Alfian.


"Sama kan kayak Bos yang suka potong-potong gaji." Kata Ziko.


Deddy sudah mulai khawatir dengan sang istri mulai mencari sendiri ke kamar mandi. Di panggilnya nama sang istri dalam kamar mandi wanita.


Mammy akhirnya menyahut panggilan itu dengan lirih karena sudah tidak berdaya. Deddy yang merasa panggilannya dijawab segera membuka pintu kamar mandi. Dilihat mammy sudah sangat lemas dengan keringat yang dingin.


"Mam, apa yang terjadi?" Tanya Deddy.


"Gak tahu lah Ded, tiba-tiba saja perut aku terasa mual." Jawab Mammy.


"Ke rumah sakit ya Mam?" Pinta Deddy.


Mammy hanya menggelengkan kepala tidak mau di antar ke rumah sakit. Akhirnya Deddy memapah sang istri menuju tempat yang nyaman.


Alfian mencari Deddy setelah berdebat dengan asistennya itu. Ia ingin meminta ijin untuk mengantarkan sang kekasihnya pulang.


Saat mengedarkan pandangan matanya menangkap sosok sang Deddy yang sedang memapah Mammynya. Teringatlah ia dengan suara Sang Deddy yang khawatir dengan keadaan sang mammy saat pertengkarannya dengan sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi dengan Mammy?" Tanya Alfian pada Deddy setelah menghampiri kedua orang tuanya.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit aja. Kata Tari.


"Wajah tante pucet banget, biar segera mendapat pertolongan." Lanjut Tari.


"Baiklah sayang." Balas Mammy.


"Tadi gak mau diantar ke rumah sakit. Giliran calon mantu yang bilang langsung di setujui aja. Tapi gak apalah yang penting Mammy segera mendapat perawatan yang terbaik." Batin Deddy


"Al cepat ambil mobil di tempat parkir." Kata Sang Deddy pada Alfian.


"He'em... " Kata Alfian yang segera beranjak menuju tempat parkir..


Sesampainya di tempat parkir dan menuju mobil sang Deddy ia mencari-cari kunci mobil tapi tidak ditemukan. Semua saku sudah digerayanginya.


"Kenapa aku jadi bodoh begini, kunci juga Deddy aku langsung pergi aja tanpa meminta kunci." Batin Alfian merutuki kebodohannya sendiri dengan menepuk keningnya sendiri.


Alfian kembali menuju lobi dan bertabrakan dengan Deddy di pintu loby. Alfian pun meminta kunci pada sang Deddy.


Dilemparkan kunci itu dengan sigap sang anak langsung menangkapnya. Tanpa menunggu lama ia pun bergegas mengambil mobil di tempat parkir.


♥️♥️♥️


132


Sesampainya di tempat parkir dan menuju mobil sang Deddy ia mencari-cari kunci mobil tapi tidak ditemukan. Semua saku sudah digerayanginya.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi bodoh begini, kunci juga Deddy aku langsung pergi aja tanpa meminta kunci." Batin Alfian merutuki kebodohannya sendiri dengan menepuk keningnya sendiri.


Alfian kembali menuju lobi dan bertabrakan dengan Deddy di pintu loby. Alfian pun meminta kunci pada sang Deddy.


Dilemparkan kunci itu dengan sigap sang anak langsung menangkapnya. Tanpa menunggu lama ia pun bergegas mengambil mobil di tempat parkir.


Segera laki-laki tampan itu mengendarai menuju pintu masuk lobi. Di sana Ia sudah di tunggu. Terlihat seorang wanita paruh baya lemas tak berdaya. Untuk berjalan pun ia membutuhkan bantuan.


Deddy membuka pintu mobil penumpang untuk sang istri. Mentari pun ikut masuk ke dalam mobil itu.


Deddy pun masuk di mobil pada kursi penumpang. Ia merasa ada yang aneh dengan semua posisi tempat duduk.


"Tunggu." Perintah Deddy.


"Ada apa lagi Ded." Kata Alfian.


"Samping tempat duduk mu ada orang kah?" Tanya Deddy.


"Emang siapa lagi yang mau Deddy pinta naik?" Tanya Alfian.


Lama berpikir ditemukan jawaban pula. Ia tanpa sadar mengelus-elus perut sang istri.


"Sayang pindah ke depan gih?" Pinta Mammy.


"Mammy kepanasan ini kalau banyak orang."


Deg


Hati gadis yang akan menjadi anak menantunya itu merasa sakit. Ia berpikir buruk tentang perkataan Mammy.


Padahal mesin pendingin mobil bekerja sangat baik. Justru malah terasa dingin untuk semua orang yang ada di dalamnya.


"Apa Mammy sudah tidak menyukai lagi?" Batin Tari dengan menundukkan kepala berpikir yang tidak semestinya benar.


"Apa kesalahan ku hingga aku harus diusir secara halus seperti ini." Lanjutnya.


"Tahu aja sih Mam, kalau aku menginginkan hal itu." Sahut Alfian dari kursi kemudi.


"Kalau gak tahu bukan Mommy mu dong." Balas Mommy dengan lemas dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Mentari pun pindah pada bagian kursi samping Mas Sopir. Bukannya senang ia malah terlihat sedih. Dalam perjalanan itu Ia menundukkan kepalanya terus.


Mobil akhirnya melaju menuju rumah sakit. Ekspresi wajah gadis yang murung itu sangat terlihat oleh Mas Sopir.


(Bukan Pak Sopir tapi Mas Sopir)


Rumah sakit terdekat dari hotel itu telah menyiapkan segalanya. Saat masih di hotel Deddy sudah menghubungi pihak rumah sakit. Hingga ada penyambutan untuk semuanya kebutuhannya mereka.


Dokter, dan perawat sudah berada di pintu masuk. Saat keluar mobil brankar sudah disiapkan oleh petugas.


Brankar itu didorong menuju ruang pemeriksaan pasien vip. Alfian dan Tari masih harus memarkirkan mobil mereka.


Gagang pintu sudah akan dibuka oleh gadis itu. Alfian keburu menarik badannya hingga ia terduduk kembali menatap tajam Mas Sopir.


"Wajah ditekuk gitu sejak tadi?" Tanya Alfian.


"Ada apa Heem?" Tanyanya lagi.


Mendengar pertanyaan Alfian, ia jadi serba salah untuk menjawab. Bimbang karena pikirannya sendiri.


"Tidak." Jawab sang gadis dengan mengedikkan bahunya.


Alfian turun dari mobil berjalan memutar lewat depan mobil untuk membukakan pintu untuk gadisnya itu. Merasa ada sesuatu yang lain Ia terus saja mendesak dengan berbagai macam pertanyaan.


"Apa sekarang kau tidak suka dengan ku?" Tanya Alfian.


"Tidak, bukan seperti itu." Jawab Tari.


"Trus kenapa kau berubah ketika Mommy meminta mu untuk duduk bersama ku?" Tanya Alfian.


"Apa gak salah, Mommy yang gak suka aku duduk dengannya." Keluh gadis itu.


"Yah, gadis kecil masih kepingin main emak-emak'an. Bermanja dengan mamaknya." Ledek Alfian.


"Mommy tadi ngasih kesempatan kita, kamu aja yang gak peka." Jelas Alfian.


"Kalau mau ngasih kesempatan itu di tempat yang bener dong." Tantang Gadis itu saat melewati lorong rumah sakit yang cukup remang-ramang.


"Wah wah wah gadis ku sekarang sudah mulai berani ya?" Kata Alfian sambil menarik tangan Tari menuju ke tempat sepi.


"Baiklah aku akan meladeni mu." Lanjutnya.


Mereka berdua sekarang berada di tempat yang sepi. Merasa tertentang Alfian melanjutkan aksinya.


Diusapnya wajah gadis yang sekarang ini bersamanya dengan menggunakan jari telunjuk dengan sangat halus dengan penuh kesadaran. Alfian pun laki-laki normal, ia tidak mau diremehkan dengan tantangan seperti itu.


"Gila." Teriak Tari tepat di telinga Alfian.


"Memang." Jawabnya santai mengejar gadis itu yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.


"Tergila-gila sama kamu." Lanjutnya saat sudah berada di dekat gadis itu.


Mereka berjalan dengan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit itu lagi menuju tempat pemeriksaan sang Mammy. Mereka memindai setiap sudut tempat. Akhirnya ditangkaplah sosok sepasang suami istri yang mereka cari.


Suami istri itu keluar dengan rasa bahagia. Hingga menimbulkan tanda tanya pada sepasang muda mudi yang mencari mereka.


Flesh Off


Saat memasuki ruangan pemeriksaan mereka dipersilahkan masuk. Deddy dengan wajah yang sangat khawatir menemani Mommy yang sudah berbaring di atas tempat tidur pasien sangat terlihat lemas.


Dokter memeriksa seluruh kondisi Mommy dengan sangat teliti. Sang dokter pun tersenyum dan mengajukan berbagai pertanyaan pada pasangan itu.


"Apa yang dirasakan Nyonya?" Tanya Dokter sambil memeriksa Mammy dengan stetoskop ditelinganya.


"Sejak tadi saya mual dan muntah Dok." Jawab Mammy.


"Sudah berapa lama telat?" Tanya Dokter yang terpotong karena didahului oleh Deddy.


"Telat apa dok? Memang istri saya masih sekolah?" Tanya Deddy dengan intonasi yang agak tinggi.


"Telat datang bulannya Tuan." Jelas Dokter sambil menggelengkan kepalanya.


"Makanya dok, kalau ngasih penjelasan yang lengkap jangan setengah-setengah." Kata Deddy Untuk membela diri dari rasa malunya.


"Sudah 2 minggu Dok saya tamu bulanan tidak datang." Jelas Mammy untuk melerai pergulatan antara Suami dan dokter itu.


"Sebaiknya besuk Tuan dan Nyonya periksa ke dokter kandungan untuk memastikannya." Jelas Dokter itu.


"Baik dok besuk kami akan periksa ke dokter kandungan. Kata Mammy sambil duduk dan turun dari tempat tidurnya dengan dibantu sang suami.


"Terimakasih dokter. Kami permisi."


Mereka berdua keluar dari ruangan periksa. Kegembiraan yang tak pernah diduga pada usia mereka. Mereka selalu mengharapkan kehadiran anak lagi dalam kehidupan mereka akhirnya terkabulkan.


Kehamilan yang sangat diharapkan membuat kedua orang tua Alfian sangat-sangat lah senang. Keinginan mereka timbul setelah kepergian anak perempuannya karena sebuah kejahatan seseorang.


Kehamilan yang sangat diharapkan membuat kedua orang tua Alfian sangat-sangat lah senang. Keinginan mereka timbul setelah kepergian anak perempuannya karena sebuah kejahatan seseorang.


Flesh on


Alfian dan Mentari menangkap sosok Deddy dan Mammy keluar dari ruang periksa. Mereka melihat keduanya sangat dan sangat bahagia.


Alfian dan seorang gadis berlari kecil mendekati kedua orang tuanya. Penasaran dalam pikiran mereka melihat keduanya tampak sangat bahagia.


"Kenapa bahagia banget kayaknya?" Tanya Alfian.


"Bukannya merasa kasihan sama mammy malah seneng banget." Lanjutnya.


"Ucapkan selamat aja deh anak Deddy yang paling tampan pada kami." Perintah Deddy.

__ADS_1


__ADS_2