
Pintu ruang kantor itu tertutup kembali tanpa suara hanya dengan menggesekkan sebuah kartu. Ruang kantor milik Alfian memang disiapin ganda.
Mereka bertiga pergi meninggalkan sebuah ruangan yang didalamnya hanya ada seorang gadis cantik. Ketiga pemuda itu menuju ruang rapat yang tadi digunakan untuk mendisiplinkan karyawannya.
Mendisiplinkan dalam banyak arti terhadap masyarakat dimana sekarang mereka berada. Sebuah pendidikan untuk tidak memandang rendah orang lain.
Sang Pemilik berjalan mendahului kedua pemuda lain yaitu asisten dan yang satu lagi adalah petugas keamanan yang juga adalah teman ngegem disalah satu Klub di ibu kota. Bak layaknya seorang raja yang dikawal oleh kedua prajuritnya.
Pintu ruang rapat itu terbuka secara otomatis. Mereka bertiga masuk dalam ruangan itu.
Alfian berbicara dengan keduanya layaknya seorang pemimpin yang memiliki sebuah wibawa tinggi. Berbeda sekali saat mereka berada di luar layaknya seorang sahabat.
"Selamat Anda direkomendasikan di perusahaan lain di tempat saya dengan posisi dan gaji yang sesuai dengan kemampuan Anda." Kata Alfian sambil menjabat tangan petugas keamanan tersebut.
"Terimakasih." Jawab petugas keamanan tersebut dengan hati yang sangat senang.
"Selamat." Kata Ziko selaku asisten Sang Bos bergantian menjabat tangan petugas keamanan tersebut.
"Terimakasih." Jawabnya pada Pak Asisten.
"Asisten saya akan menjelaskan tugas apa saja yang bisa Anda kerjakan di sana." Kata Alfian tegasnya.
"Saya permisi dulu." Lanjutnya.
Pemilik mall itu pun langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan beranjak meninggalkan ruang rapat. Ia langsung kembali menuju ruang kantor dimana terdapat seorang gadis yang tadi tertidur.
Di depan pintu ruang kantornya tanpa menggunakan apapun pintu langsung terbuka hanya dengan kode wajah saja. Teringat sebuah kartu untuk membuka ruang itu sengaja tadi ia tinggalkan di dalam sana.
Alfian yang baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan melihat gadisnya masih tertidur seperti seorang putri salju. Kulitnya yang seputih salju itu memang alami dimilikinya.
Pemuda ini menghampirinya gadis yang sedang tertidur di sofa dalam kantornya. Disingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang gadis.
Merasa terusik Mentari pun membuka mata dan mengerjap beberapa kali. Gadis ini merasa linglung karena ia tidur bukan pada tempat biasanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Mentari dengan nada yang lumayan tinggi.
"Menghilangkan penat mu." Jawab Alfian singkat hingga sang gadis baru sadar posisinya sekarang.
"Maaf." Pinta Tari.
__ADS_1
"Kenapa belum ganti baju?" Lanjutnya.
"Menunggu mu menggantikan baju untuk ku." Jawab Alfian.
Mentari membulatkan mata sempurna mendapat pernyataan dari Pemuda yang bersamanya sekarang. Ia tak menyangka Pemuda ini akan mengatakan hal itu.
Alfian berjalan menuju sebuah ruangan yang memang sudah didisain untuk meletakkan semua peralatan pribadinya jika darurat. Diambil kaos yang tadi dia gunakan saat masuk mall ini.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Di ruang sidang Asisten muda ini menjelaskan tugasnya kepada Petugas Keamanan secara detail. Petugas keamanan itu pun segera paham karena ia sangat cerdas.
"Paham?" Tanya Ziko singkat pada Petugas keamanan tersebut.
Petugas keamanan itu hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia sudah mengerti dengan semua yang dijelaskan oleh Asisten tersebut.
Kedua laki-laki itu keluar dari ruang sidang berjalan beriringan. Banyak karyawan yang merasa iri dengan Pemuda yang baru saja mendapat rekomendasi dari atasan mereka.
Keduanya bercakap-cakap saat ini, jika orang melihat mereka bisa berpikir kalau mereka berdua sudah lama kenal. Mereka menuju sebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
Makan siang terlewat kan karena masalah baru saja. Awalnya Pemuda yang bersamanya menolak makan bersama Ziko. Apalah daya Mas Asistennya memaksa.
"Terimakasih." Balasnya.
Seorang Pramusaji menghampiri mereka dan menanyakan pesanannya. Setelah Pramusaji itu pergi mereka melanjutkan percakapannya.
"Apa Pak Alfian seperti itu?" Tanya Petugas Keamanan.
"Maksutnya?" Tanya Ziko yang pura-pura tidak tahu maksut orang yang bersamanya saat ini.
"Ya seperti tadi di dalam ruang kantor." Jelas Pemuda yang bersama Ziko.
"Tahu." Jawab Ziko sambil mengendikkan bahunya.
"Ujung-ujungnya juga pasti jadi Bucin." Kata Petugas Keamanan.
"Terlihat sekali dari dalam ruangannya tadi." Lanjutnya.
"Tahu aja." Jawab Ziko.
__ADS_1
Pesanan pun datang dan mereka mengakhiri percakapan mereka baru saja. Mereka lebih memilih makan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Di dalam ruang kantor Alfian bersin-bersin saat mengganti baju. Ia tahu pasti ada yang membicarakannya saat ini.
"Sakit ya?" Tanya seorang Gadis yang ada bersamanya saat ini.
"Periksa lah." Pinta Alfian.
"Ini pasti ada yang membicaraksn ku." Batin Alfian.
Gadis ini pun mendekat dan menyuruh Alfian untuk berbaring di sofa yang tadinya digunakan olehnya tadi pijat hingga tertidur. Tari juga tahulah yang namanya berterima kasih.
Pemuda tampan itu menuruti semua perkataan Mentari. Setelah berbaring Gadis itu menempelkan punggung tangannya pada dahi Alfian.
"Tidak demam." Katanya.
"Siapa bilang juga aku sakit." Kata Alfian beranjak dari sofa menuju kamar dalam ruang kantornya untuk menggantikan bajunya.
Berdiri lama berlenggang di depan cermin Pemuda ini sedang menilai penampilannya sendiri. Seperti seorang wanita yang sedang memperhatikan kecantikannya saat akan pergi berkencan.
Saat itu juga ia baru sadar kalau kedua orang bawahannya tadi melihatnya sedang memijat Tari. Malu bila ia harus dikarakan Bucin.
Ketahuan kalau Bos Besar mereka yang dingin dan selalu dengan ekspresi datar adalah seorang Bucin. Jika hal ini diketahui oleh lawan bisnisnya pastinya bisa digunakan untuk menjatuhkan Alfian.
Kedua temannya itu bisa dipercaya untuk menjaga rahasia Alfian. Ia tidak ingin sahabatnya itu memiliki masalah karena memang selama ini Alfian banyak membantu orang lain.
Mentari dengan sabar menunggu pemuda yang kini sedang mengganti pakaiannya di dalam kamar pribadi. Sambil menunggu ia berjalan-jalan di dalam ruang kantor Alfian.
Gadis ini akhirnya mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran Alfian. Ia penasaran dengan apa saja yang disimpan di dalam laci seorang laki-laki.
Jarang pergi ke kantor ini membuatnya penasaran dengan segala hal yang ada di sana. Wajar bagi seorang calon istri ingin mengetahui segala sesuatu tentang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Ceklek
Laci meja terbuka terbuka setelah beberapa saat Gadis ini mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran milik Alfian. Dilihat di dalam laci foto keluarga beberapa lembar dan beberapa arsip yang sangat penting.
Foto keluarga yang terlihat sangat bahagia. Foto itu mengingatkan tentang orang tua kandungnya ketika beliau masih hidup.
Butir bening mengalir tanpa disadarinya seiring dengan tangan yang mengambil foto itu. Dadanya terasa sesak mengingat hidupnya sendiri.
__ADS_1
Seseorang tiba-tiba berjongkok di samping kanan mendongokkan kepalanya menatap wajah cantik yang sudah berlinang dengar air mata. Alfian mengusap pipi yang sudah sangat basah itu dengan tangannya.