
Kedua orang yang baru tiba di rumah utama Adrean tidak menarik perhatian banyak orang. Semua orang bahkan sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Kedua orang itu keluar dari mobil secara bersamaan tanpa ada sebuah kata yang terucap. Tidak seperti biasanya Papa yang selalu berjalan beriringan dengan sang istri bahkan saling bergandengan tangan tidak terlihat hari ini.
Kejadian ini terlihat jelas di mata Daffa yang sejak tadi menatap keduanya dari lantai atas. Talky Walky yang masih berada ditangannya sekarang disembunyikan di dalam sebuah laci.
"Berguna juga ini benda." Batin Daffa.
Daffa dengan mata kepalanya sendiri melihat kedua orang tuanya saling terdiam tanpa ada sebuah percakapan. Papa langsung pergi ke ruang kerja sedangkan Mama menuju kamar.
Biasanya setiap kali Mama marah, suaminya itu akan merayunya begitu juga sebaliknya tapi tidak untuk kali ini. Daffa hanya menggelengkan kepala perlahan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat.
Cleek
Sebuah pintu kamar terbuka hingga kedua orang terlonjak kaget. Mereka seperti melihat sama-sama melihat sebuah penampakan.
"Kenapa kamu berdiri di sini?" Tanya pemilik kamar.
"Emang urusan mu?" Tanya Daffa.
"Ya urusan ku lah ini kan depan kamar ku." Jawab pemilik kamar.
"Jangan-jangan kamu mau ngintip?" Tebak pemilik kamar.
"Gila apa gue masak ujung tombak bertemu ujung tombak." Kata Daffa.
"Mana tahu kamu begitu." Kata Pemilik kamar ketus.
"Gak tertarik lah gue kalau sama." Kata Daffa.
"Biarpun dunia terbalik pun aku akan tetap menjaga harga diri ku terhadap sejenis." Lanjut Daffa.
Daffa berjalan mendekat pada orang yang berada di depannya. Dia mendorongnya hingga masuk ke kamar kemudian menutup pintu kamar itu.
Pemilik kamar itu terdorong hingga dia jatuh di atas tempat tidur. Dia berusaha memberontak tapi percuma saja kakaknya itu tak akan menang dari Daffa yang pandai dalam hal mengunci tubuh sebagai pertahanan diri.
"Insting ku cuma mengatakan kalau aku malam ini akan sangat panas biarpun ada AC di sebuah kamar." Kata Daffa di telinga Axel hingga membuat semua bulu kuduknya berdiri.
"Lepas, ini tidak benar. Kalau mau melakukan praktikum dengan orang lain jangan dengan ku. Aku masih normal." Cerocos Axel.
"Apa yang ada di otak mu saat ini? Aku berbuat yang tidak seharusnya kan? Tanya Daffa.
"Baiklah. Aku justru akan melakukannya dengan mu." Sambung Daffa dengan matanya yang sayu membuat saudaranya itu yakin dengan apa yang ada dipikirannya.
"Aku tidak segila itu tahu. Kak kamu pasti berpikir kalau aku akan menerkam mu kan? Jangan berpikir aku ini seorang gay karena hal yang baru aku lakukan baru saja." Kata Daffa mulai bangkit dari badan kekar Sang Kakak.
Daffa si jail dan suka membuat semua saudaranya itu selalu membuat penasaran. Akhirnya semua kejadian yang dilihatnya itu diceritakan pada kakaknya.
Cerita yang sangat runtut membuat semua yang mendengarkannya pasti langsung percaya. Pantang baginya juga untuk berbohong, Daffa akan mengatakan yang sebenarnya walaupun dia harus menanggung hukuman.
Talky walky diminta Daffa pada penjaga tadi siang saat pergi mengambil pesanan untuk surprase sang kakak. Tujuan awal sebenarnya hanyalah untuk mainan tapi malam ini ternyata malah berguna untuk mengetahui kondisi orang tuanya yang tidak bagus.
__ADS_1
Axel jadi tertarik dengan Talky walky yang diceritakan oleh Daffa. Dia ingin meminjam benda tersebut tetapi tidak diijinkan oleh sang adik.
Axel jadi melupakan tujuannya semula setelah kejadian baru saja akibat ulah Adiknya Daffa. Mereka tidak menyangka akan mendapati kedua orang tuanya yang sedang bertengkar melalui sebuah mainan.
168
OMES
Mainan orang yang biasa dilakukan untuk penjagaan seperti ponsel tetapi benda itu lebih besar. Jika dibawa kemana saja pun juga tidak praktis. Axel pun heran pada adiknya Daffa yang bisa-bisanya meminta Talky walky pada penjaga siang tadi.
Daffa sangat berterima kasih pada penjaga gerbang yang telah memberikan informasi mengenai kedua orang tuanya. Antara kakak beradik itu sedang berada dalam sebuah kamar sedang membicarakan kedua orang tua mereka yang sepertinya sedang memanas.
Kejadian malam ini yang berada di kamar sang kakak membuat Daffa tahu sifat kakaknya itu. Dia jadi tahu bahwa kakaknya itu sudah sering berpikir omes.
Daffa tidak menyangka sang kakak yang berpikir omes terhadapnya. Entah darimana sang kakak mendapatkannya.
"Aku tadi sedang memantau Papa dan Mama kak." Kata Daffa.
"Kakak sendiri ngapain jam segini keluar?" Tanya Lanjutnya.
"Kenapa harus pantau?" Tanya Axel.
"Menurut informan ku, mereka sedang bertengkar." Jawab Daffa.
"Sok tau." Kata Axel.
"Kalau begitu ini memang benar-benar gawat darurat." Lanjutnya dengan mata tajam menatap Sang Adik tak percaya.
"Bisa jadi masalah besar, sebentar lagi kan pernikahan kakak." Kata Axel setelah terdiam beberapa saat.
Tok tok tok
Pintu kamar Axel diketuk oleh seseorang hingga orang yang berada di sana semuanya terkejut. Di dalam ada dua orang yang sedang melakukan diskusi hingga sebuah ketegangan pun tercipta.
"Masuk." Perintah Axel sang pemilik kamar.
"Tumben pakai acara ketuk pintu. Biasanya juga langsung nyelonong masuk." Ledek Daffa yang memang apa yang dikatakannya semuanya adalah sebuah kenyataan.
"Kenapa kalian berdua masih berduaan? Inikan sudah larut malam." Kata Garda yang tadi mencari Daffa untuk sebuah keperluan.
"Apa kalian.....?" Tanya Garda penuh selidik karena keduanya berada di sisi tempat tidur.
"Dasar kalian ini sama-sama omes." Kata Daffa jengkel.
Penasaran dengan apa yang membuat kedua kakaknya mempunyai pikiran seperti itu diusianya yang sekarang Pemuda itu hanya menyimpannya sendiri. Sekarang yang lebih penting bagi dua adalah menyelesaikan masalah kedua orang tuanya yang sedang tidak akur.
"Kak tadinya aku ke kamar mu tapi kosong mlompong. Aku mau minta tolong pada mu." Jelas Garda.
"Tidak disangka kalian berdua di sini sedang entah lah... " Lanjutnya.
"Minta tolong apa?" Tanya Daffa dengan mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Entah lupa aku jadinya." Jawab Garda.
Garda sengaja ke kamar adiknya ingin tahu apa yang sedang dilakukannya tetapi tidak menemukan saudara kembarnya itu. Dia pun hanya menebak pastinya ke kamar sang kakak.
Garda tidak ingin ketahuan kalau sering menonton drakor bersama kakaknya. Dia tidak punya alasan lain kecuali sedikit berbohong.
"Ingat-ingatlah dulu sebelum ketahuan." Kata Daffa memperingatkan Kakaknya Garda.
Kata-kata Daffa bukan hanya memperingatkan satu orang akan tetapi kedua kakaknya itu. Hati ketiganya memang selalu tahu apa yang ada di hati dan pikiran saudara yang lainnya.
Ketiga pemuda kecil yang berada di kamar Kakaknya Axel tertawa lepas karena tahu apa yang dimaksutkan adiknya Daffa. Dibalik itu semua keadaan akan membalikkan sifat ketiganya.
Daffa pada akhirnya menceritakan semua informasi yang didapatkannya tadi. Informasi itu tidak hanya ditelan mentah olehnya tetapi Dia juga sempat melihat dengan mata kepalanya sendiri hingga pada akhirnya kejadian di kamar kakaknya Axel harus terjadi dan dilihat oleh kakaknya Garda.
Kejadian yang menimbulkan sebuah pikiran-pikiran yang tidak seharusnya dimiliki oleh ketiga anak laki-laki yang kini sudah mulai beranjak dewasa itu. Otak mesum orang dewasa selalu mengatainya Omes.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Daffa ingin meminta pendapat kedua saudara kembarnya.
"Biasanya kamu sendiri yang banyak ide." Kata Garda.
"Beberapa hari lagi Kakak kita akan menikah, kalau ini terus berlanjut akan jadi masalah besar." Lanjut Axel.
"Benar, tapi kita juga harus tahu dulu titik permasalahannya." Kata Garda.
Ketiganya diam terlihat seperti berpikir dengan serius. Di dalam kamar itu kini hanya sebuah keheningan.
"Kalau seperti ini tidak segera selesai rencana kita." Kata Axel.
"Kalian ini tenang saja, mereka tidak akan bertahan untuk tidak saling memperhatikan." Lanjut Daffa.
"Lha memang siapa tadi yang menyibukkan diri untuk membantu menyelesaikan duel tinju mereka?" Tanya Garda.
"Udah malem aku ngantuk mau tidur." Kata Axel sang pemilik kamar mulai melerai kedua bersaudara itu.
"Kalian mendingan kembali ke kamar kalian masing-masing." Lanjutnya untuk mengusir mereka berdua.
"Kakak mengusir kita nih?" Tanya Garda.
"Ya iya lah kalian sendiri sudah tahu kejadian yang selanjutnya akan terjadi pada kedua orang tua kita. Buat apa juga kita bahas." Jelas Axel.
"Ye... Gak ada perhatian sama sekali pada mereka." Kata Garda.
"Jika kita ikut campur juga tidak ada hasil yang signifikan." Jelas Axel.
"Kita malah akan dikatai anak kecil yang suka ikut campur urusan orang tua." Lanjut Axel.
"Itu anak malah udah molor di sofa." Kata Axel saat melihat Daffa sudah tertidur di sofa yang ada dikamarnya.
Sang kakak tidak tega membangunkan adik yang sudah tertidur sangat nyenyak. Terlihat sangat kelelahan saat tidurnya itu, entah apa yang dilakukannya seharian.
Ketiga bersaudara itu biarpun sering bersama-sama dalam sehari tetapi mereka memiliki aktivitas yang seharusnya berbeda pula. Perbedaan itu membuat mereka saling menghargai satu sama lain.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
REF