Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 120. Hari Minggu Yang Membosankan: 87


__ADS_3

Papa menuju tempat dimana ada rekaman CCTV di hotel itu. Ia minta diperlihatkan rekaman saat di ruangan kejadian dimana anak gadisnya bersama seorang laki-laki.


Bukanlah sesuatu yang sulit untuk keluarga ini mendapatkan informasi. Uang memiliki kekuatannya sendiri.


Tidak berapa lama Papa kembali ke ruangannya. Mama sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Mereka sudah memesan tiga kamar kamar yang berbeda di sana. Eh salah yang menyediakan kamar untuk keluarga Adrean adalah yang empunya gawe.


Papa dan Mama berada dalam satu kamar. Kakak juga berada di kamar yang berbeda lagi. Ketiga kurcacinya berada dalam satu kamar.


Ruangan yang ditempati keluarga Adrean di hotel ini sudah seperti apartemen. Pesan satu ruangan sudah terdapat beberapa kamar dan ada beberapa ruangan layaknya rumah.


Papa mendekap tubuh Mama yang meringkuk seperti bayi sedang tidur. Mama tak bergerak sama sekali karena sentuhan sang suami.


Entahlah memang beberapa hari ini badan Sang Mama mudah sekali capek. Bahkan ketika dibangunkan pun sangat susah.


Di kamar lain Kakak sedang duduk bersandar di kepala tempat tidurnya. Ia memainkan ponselnya itu. Ia membuka sosmet milik teman-temannya.


Di kamar lain terjadi keributan antara tiga bersaudara. Kamar mereka bahkan sudah seperti kapal pecah.


"Sepi." Kata Garda mengeluarkan sedikit kepalanya mengintai anggota keluarga lain.


"Paling semua tidur." Sahut Axel sambil mendorong tubuh Garda yang menghalangi pintu kamar.


"Intip kamar mereka yuk." Ajak Garda.


"Gak ah, ntar mata aku kasian bisa timbilen kau intip-intip." Tolak Daffa.


"Mending aku cari makan aja ini perut udah laper lagi." Lanjut Daffa.


"Makan aja yang kamu pikirin, ntar jadinya gendut baru tahu elu." Ejek Axel.


"Kan masa pertumbuhan mas Bro." Kekeh Daffa.


"Yaudah kamu cari makan aja tu di ruang makan ntar kita berdua dibawa'in ya?" Pinta Axel.


"Haduh. Bilang aja kalian berdua males dan maunya tinggal makan." Keluh Daffa.


Daffa pun berlalu menuju dapur mencari makan yang ada di sana. Di lemari pendingin pun sudah ada berbagai macam buah dan minuman dingin.


Axel dan Garda menuju ruang untuk bersantai. Mereka menyalakan televisi dan melihat acara kartun kesukaan mereka.


Diantara ketiganya yang paling doyan makan memanglah Daffa. Ia tidak begitu memperhatikan penampilannya. Tidak peduli badannya kurus atau gemuk.


Axel dan Garda berbeda lagi mereka selalu membatasi makanan yang mereka makan. Sebenarnya bukan membatasi tapi mengatur pola makan. Jika mereka makan dengan porsi yang banyak mereka selalu menyeimbangkan dengan membakar lemak tubuh mereka dengan olah raga. Tidak pernah ada kata diet bagi mereka.

__ADS_1


"Nih makanannya." Kata Daffa dengan meletakkan beberapa makanan dari dapur.


"Minumannya mana?" Tanya Axel.


"Ambil sendiri emang tangan akunya berapa?" Tanya Daffa.


"Lha itu minuman sini buat aku aja." Kata Garda saat melihat Daffa hanya membawa satu botol minuman.


"Bosen ah di sini. Hari minggu biasanya kita bisa lari-larian di rumah ya? Biarpun gak kemana-mana." Keluh Daffa.


Kakak tiba-tiba keluar dari kamarnya mendengar samar-samar televisi menyala. Ia keluar dari kamarnya menghampiri ketiga adik jagoannya itu.


Kakak langsung merampas makanan yang ada di tangan Axel yang sedang asik melihat televisi. Betapa terkejutnya mereka bertiga hingga ketiganya sampai melompat dari kursi tempat mereka duduk.


"Kuntilanak." Teriak Axel, Garda dan Daffa yang terkejut hingga melompat dari kursi tempatnya duduk.


"What." Pekik Sang Kakak yang terkejut bersamaan dengan ketiga adik laki-lakinya.


"Dasar kalian tak tahu santun." Ledek Tari saat mendaratkan pantatnya di kursi sofa depan televisi.


"Lagian lihat tu penampilan sungguh sangat dan sangat berantakan." Balas Axel.


Daffa yang melihat adegan sang kakak dan sangat berantakan tidak jadi mengambil minuman akan tetapi ia malah mengambil ponsel. Sifat isengnya itu sewaktu-waktu bisa kambuh.


Ponsel selalu diarahkan pada Sang Kakak dan kedua saudaranya yang sedang beradu mulut. Posisi ponsel itu dalam keadaan vidio yang rencananya akan dikirimkan pada seseorang.


Ketiga adiknya biarpun sering kali kalah dalam setiap perdebatan antar saudara akan tetapi tidak pernah ada rasa dendam dalam hati mereka. Bahkan rasa sayang antar saudara semakin hari semakin besar.


*** Di Rumah Alfian ***


Hari minggu ini dari pagi Alfian menyibukkan dirinya sendiri. Ia tahu nanti malam ia juga harus menghadiri pesta pernikahan asisten calan Mertuanya.


Seperti biasa Minggu pagi Alfian joging mengelilingi komplek perumahan orang tuanya berada. Ia berhenti dan beristirahat di sebuah kursi taman.


Udara pagi yang masih bersih membuat pikirannya lebih segar. Tatapan mata Alfian menyapu setiap sudut taman.


Bugh


Suara sebuah bola Mengenai lengannya. Tidak berapa lama seorang anak laki-laki yang berbadan kecil, kulit putih, hidung mancung. Wih tampan sekali anak ini. Pokoknya anal ini imut-imut seumuran 3 tahun.


"Ma.... Maaf Om." Kata Sang Anak ketakutan.


Alfian tanpa menjawab beranjak dari duduknya menghampiri Anak kecil itu. Ia menghampiri sang anak tanpa ekspresi sama sekali.


Anak kecil itu semakin ketakutan karena Alfian semakin mendekat. Badan anak itu akhirnya berjalan sedikit mundur akibat rasa takutnya didekati Om Alfian.

__ADS_1


"Sendirian Ganteng?" Tanya Alfian dengan senyum dibibirnya yang merah dengan berjongkok mensejajarkan wajah anak itu.


"Ia." Jawab Sang Anak dengan takut.


"Mana orang tua mu?" Tanya Alfian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman.


"Aku ke sini sendirian. Mommy dan Deddy ku sibuk setiap hari." Jawab Sang Anak.


Hening


Hening


Hening


"Rumah Mu di mana?" Tanya Alfian setelah memandang wajah anak kecil itu secara intens.


"Rumah ku di Kompleks Perumahan XX. No 09 Om." Jawab si Ganteng.


"Memang Aku terlihat setua itu kamu panggil Om. Panggil aku kakak lebih keren." Perintah Alfian dengan mencubit pipi scubi anak laki-laki itu.


"Keren kata Om. Keren aku dong." Protes Sang Anak Ganteng.


"Haduh, mampus aku. Niatnya minta maaf malah meledeknya." Batin Sang Anak Laki-laki itu dengan menundukkan kepala.


Apa-apa an ini anak minta maaf bukannya memuji malah membuatku jatuh." Batin Alfian.


Alfian berdiri tepat dihadapan anak itu. Ia meminta bermain bola bersamanya.


"Mau main bola dengan ku?" Tawar Alfian sambil mengacak rambut anak laki-laki itu.


"Boleh aku juga bosen main sendirian." Balas anak laki-laki itu.


"Hari minggu memang membosankan kali ini." Celetuk Alfian.


"Memangnya Om gak punya teman kencan ya? Ledeknya.


Alfian membulatkan matanya seketika mendengar kata-kata anak kecil ini. Anak ini sangat cerdas dari seumuran diusianya sama seperti ketiga jagoan calon istrinya.


*** *** *** *** *** ***


🍚🍝🍖🍗🍰🍔🍟


🍽🍽🍽🍽🍽🍽


Selamat Berbuka puasa buat kakak-kakak yang menjalankan ibadah puasa ya. Semoga amalan kita selalu diterima Allah SWT.

__ADS_1


AMIN.


__ADS_2