
Gerobak cinta melaju dengan kecepatan yang agak lebih dari biasanya. Suara yang begitu halus nyaris tak terdengar dikeluarkan dari mobil itu. Belum lagi disainnya baik dari luar ataupun dalam sangatnya luar biasa.
Takut Gadisnya menunggu lama atau sudah terasa kangen berat Alfian ingin segera sampai di kampus. Tepat di depan Gadis itu mobil pun berhenti.
Kaca Mata hitam segera ia kenakan dengan pakaian yang masih sama tadi ia kenakan. Bukan karena sombong tapi ia tidak mau orang banyak tahu tentang kehidupannya.
Saat itu juga banyak mahasiswa dikampus itu yang terpesona dengan apa yang ia bawa saat itu. Dugaan demi dugaan terlontar dari mulut mereka.
"Lama?" Tanya seorang pemuda yang baru saja keluar dari gerobak cinta dengan gagahnya.
"Dah tau nanya!" Balas seorang gadis.
Pemuda itu pun membukakan pintu mobil dengan wajah dinginnya. Di dalam sana hanya tercipta sebuah keheningan setelah keduanya berada dalam gerobak itu.
Seorang gadis yang sejak lama mengagumi sesosok Alfian hingga ia terobsesi melihat pemandangan baru saja merasa badannya panas dingin. Ia adalah teman satu kampus dengannya.
Mulailah ia merencanakan segala sesuatunya untuk menghancurkan setiap gadis yang dekat dengannya. Tatapan membunuh terlihat dimatanya.
"Lihat saja nanti!" Ancamnya walaupun ia belum tahu saat ini yang bersama Tari adalah Pemuda yang menjadi incarannya.
"Kamu tidak akan bisa bersama dengan lelaki ku." Lanjutnya.
Sama halnya di dalam sebuah gerobak kini terasa dalam sebuah atmosfer yang panas. Tidak ada sebuah percakapan sedikit pun.
Sang Sopir menghentikan gerobaknya secara mendadak di sebuah tempat. Tempat yang sangat sepi tetapi cukup terawat.
"Kenapa ke sini?" Tanya Gadis itu penuh selidik.
"Mau memakan mu." Jawab Sang Pemuda.
"Turun atau aku akan benar-benar melahap mu hari ini." Lanjutnya setelah Pemuda itu membukakan gerobak miliknya.
Sang gadis turun tetapi ia tidak segera mengikuti langkah Alfian. Alfian akhirnya berbalik meluhat wajah kusam pada yang kekasih.
"Apa yang kita lakukan di sini." Tanya Tari dengan nada kesal.
"Apa yang dilakukan sepasang kekasih di tempat yang sangat sepi seperti ini?" Tanya Alfian balik.
"Oh.... " Jawab Sang kekasih.
Gadis ini tetap saja diam di tempat tak bergerak sama sekali. Hingga akhirnya Alfian menggandengnya menggenggam erat tangan dengan menautkan kelima jari di sela-sela jari sang kekasih.
"Aku akan mengenalkan mu pada seseorang." Jelas Alfian dengan langkah cepatnya.
"Di tempat seperti ini?" Tanya Tari
__ADS_1
"Oh my good." Lanjut Sang Gadis.
Tanpa menghiraukan kata-kata gadis yang saat ini bersamanya terus saja ia berjalan hingga sampai pada suatu batu nisan yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Batu nisan dengan ukiran dan lingkungan yang agak jauh dari makam yang lain dan memang dibuat lebih bagus.
Tangan yang tadi menggandengnya dengan erat kini mulai mengendur dan melepaskan tangan Sang Gadis. Tari merasakan genggaman yang mulai dilepas itu dan melihat sekelilingnya yang berbeda.
"Kenapa berhenti?" Tanya Tari.
"Katanya mau mengenalkan ku pada seseorang?" Lanjutnya.
Gadis itu hanya melihat di depan mereka sebuah batu nisan yang bertuliskan nama seorang gadis. Umur gadis yang tertulis di batu nisan itu terpaut tidak jauh dari Pemuda yang saat ini bersamanya.
Kecewa
Kecewa
Kecewa
Kekecewaan sebelum mendengarkan penjelasan orang yang saat ini bersamanya menyeruak dalam pikirannya. Pikiran Tari kini penuh dengan tanda tanya.
Setahu dia, hanya dirinya lah wanita yang pertama ada dihatinya. Kini pikiran negatif muncul dalam hati dan pikirannya.
**Tap
Tap
Mentari berbalik dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Ingin segera ia meninggalkan tempat itu.
"Berhenti." Suara itu menghentikan langkahnya.
"Pulang sekarang!" Perintah Tari dengan nada amarah dan mendongokkan kepalanya untuk menahan rasa kecewanya.
"Cantik kan?" Tanya Sang Pemuda pada batu nisan yang ada dihadapannya.
Gadis yang memendam kekecewaan itu semakin salah paham. Ia pikir kata-kata tadi sebuah pujian untuk almarhum yang saat ini ada dihadapan Alfian.
Alfian yang berjongkok kini berdiri dan menghampiri Gadisnya itu. Sangat terbaca sekali di wajahnya ia sangat tidak suka karena salah paham.
"Tidak maukah kamu mengenal adik perempuan ku?" Tanya Alfian dengan mendekap tubuh sang kekasih.
Pertanyaan itu tepat di telinga Tari hingga berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu sangat keras mendorong tubuh kekar Alfian.
Malu dan sangat malu kini ada dibenaknya. Salah paham itu akhirnya terselesaikan saat Alfian menceritakan semua alkisah pahit keluarga mereka.
"Jadi dia yang mau kamu kenalin?" Tanya Tari dengan nada yang tidak segarang tadi.
__ADS_1
Sebuah senyuman lah sebagai jawabannya. Dengan senyuman itu Tari sudah tahu maksutnya.
Waktu sudah menjelang tengah hari. Udara sekeliling sudah terasa mulai agak panas. Mereka berdua memutuskan untuk pulang setelah Alfian mengenalkan adiknya yang telah tiada.
Mereka memberi tahukan kepada Almarhum kalau mereka akan menikah. Ingin sekali rasanya Alfian adiknya itu masih ada dan ikut merasakan kebahagiannya saat ini.
Allah ternyata berkehendak lain. Ia lebih sayang pada adiknya itu.
Perasaan yang teduh dirasakan Gadis ini saat mendengar cerita Alfian yang memang sangat menyayangi adiknya itu. Beda sekali saat kesehariannya Laki-laki ini sangat garang pada orang lain.
"Ayo pulang." Ajak Alfian sambil berdiri.
"Sekarang?" Tanya Tari yang masih terpesona dengan sosok Alfian calon suaminya yang sangat tegar dalam menjalani hidup hingga mencapai puncak kesuksesannya sekarang.
"Jadi sekarang masih mau di sini?" Tanya Alfian balik dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat raut wajah Alfian itu yang mulai menggodanya ia pun segera berdiri dan berjalan perlahan. Takut ada makhluk jadi-jadian yang ke 3.
Menuju gerobak cinta itu memang terasa sepi tak ada satu orang pun. Akan tetapi makam di sana memang dirawat dengan baik oleh penjaga yang tidak setiap hari ada di sana.
Bugh
Sebuah batu kecil yang menghalangi jalan seorang pemuda berotot. Hingga terjadi sesuatu kejadian yang memang tidak diinginkan.
Mentari yang berjalan sudah berada di dekat gerobak cinta berbalik karena mendengar teriakan kecil dari orang yang saat ini bersamanya. Berhimpitan dengan gerobak itu sang gadis bersandar dan tubuh Alfian jatuh di atasnya.
Alfian menyadari bahwa tubuhnya kini menindih tubuh seorang gadis. Akan tetapi ia tidak ingin segera berdiri karena nikmat yang tidak disengaja itu.
Gerobak cinta ternyata tahu juga keinginan sang pemilik. Berhenti di tempat yang tepat, dan membawa berkah.
"Sakit ini." Keluh Tari lirih.
"Sebentar lagi." Jawab Alfian.
"Aku gak bisa bergerak, ampek dadaku." Kata Tari.
"Biar aku beri napas buatan kalau ampek." Balas Alfian.
Saat mulut Alfian sudah mulai mendekat pada bibir yang ramum itu. Kejadian tak terduga mulai terjadi lagi.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Kejadian apa ya kira-kira?
Salam sehat untuk semua semoga bisa beraktifitas seperti biasa. Amiin.
__ADS_1
Jangan lupa baca terus ya Novel KTM nya.