
Kedua laki-laki itu hari ini sangat berbeda mereka lebih banyak bercanda dari pada bekerja. Kehadiran gadis itu mungkin akan merubah semuanya menjadi lebih baik (Oh Dewi Penolong).
Briyan membawa pesanan sarapannya itu ke ruang pemilik perusahaan. Dia meletakkan sarapannya di atas meja dengan kursi sofa yang cukup nyaman.
Makanan itu dibuka satu persatu dihadapan Adrean. Pemuda itu hanya menatap sahabatnya yang sedang menggodanya dengan semua makanan yang dipesannya.
Adrean menggelengkan kepala perlahan melihat kelakuan asistennya itu seperti anak kecil yang sedang pamer barang miliknya. Briyan sendiri berpura-pura tidak perduli dengan apa yang dipikirkan oleh Sang Bos.
"Tidak ada efek sama sekali sepertinya." Kata Briyan dalam hati ketika melihat Sahabatnya yang sedang duduk di kursi kebesaran miliknya itu kembali fokus pada layar monitor yang ada dihadapannya.
Matahari sudah berada tepat di tengah yang berarti bahwa waktu sudah sangat siang atau tengah hari. Dia ingin merebahkan tubuhnya sebentar di ruang sebelah karena memang semalam dia tidak bisa tidur.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki seorang pimpinan perusahaan menuju ruang tidur yang ada di dalam ruang kantornya terlihat mantap. Kakinya yang panjang membuat langkahnya semakin sempurna dengan tubuhnya yang tegap.
Krek
Kaki yang menggunakan sepatu kulit seorang pemuda menginjak sesuatu benda yang belum pernah dilihat sebelumnya. Pemuda itu berjongkok mengambil benda itu perlahan.
__ADS_1
Benda yang tidak asing baginya, tetapi dia lupa dimana melihat benda itu. Adrean merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mengamati Banda itu yang ditenteng dengan tangan kanannya.
(Adrean mau menghipnotis dirinya sendiri agar bisa tertidur mungkin).
Pemuda itu memutuskan untuk menuju ruang kerjanya kembali. Mata itu tidak bisa dipejamkan memikirkan liontin yang ditemukannya baru saja.
"Dia sendiri yang pernah tidur di sini, tidak ada yang lain juga yang pernah masuk ke ruangan ku ini." Kata Adrean dalam hati.
"Ini pasti miliknya, kemarin pasti dia keluar juga karena liontin ini." Lanjutnya.
Pemuda itu tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Dia segera pulang menuju hotel miliknya itu dengan mengantongi liontin yang baru saja ditemukannya.
Pemuda itu berjalan dengan sedikit berlari ketika baru keluar dari mobil yang baru saja berhenti. Kali ini Adrean diantarkan oleh Asistennya Briyan.
"Tidak sabaran amat sih, seperti pengantin baru." Ledek Briyan ketika melihat kelakuan Sahabatnya itu yang memang luar biasa setelah mengenal gadis itu.
"Kesambet setan dari mana itu sobat ku." Kata Briyan lirih.
"Ngikut juga tidak?" Tanya Adrean ketika pintu lift sudah akan terbuka sambil memutar badannya setengah.
"Tidak, aku takut satu lift dengan mu." Jawab Briyan dengan intonasi sedikit tinggi agar bisa didengar oleh sahabatnya itu karena jarak yang lumayan jauh.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka lebar dan seorang pemuda yang tampan dan gagah kini masuk ke dalamnya. Dia sedikit tidak sabar ingin bertemu dengan seorang gadis yang sekarang tinggal bersamanya.
Pemuda itu juga tidak tahu perasaan apa yang dimilikinya saat ini. Rasa kasihan tapi juga rasa rindu dan ingin selalu bersamanya setiap saat.
Pintu lift sekarang sudah tertutup dengan rapat. Adrean benar-benar meninggalkan asistennya itu menuju ruang hotel paling atas.
Lift itu berhenti tepat dimana tujuan Pemiliknya menginginkannya. Saat pintu itu terbuka Adrean langsung berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan miliknya.
Ceklek
Handle pintu dibuka oleh Adrean dengan segera. Pemuda itu mencari keberadaan gadis itu di kamarnya.
Adrean masuk begitu saja di kamar gadis yang sekarang tinggal bersamanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena rasa khawatir yang berlebihan. Pemuda itu langsung memeluknya begitu erat tanpa sadar.
Pemuda itu takut jika gadis itu melarikan diri seperti yang terjadi kemarin. Sinta hanya diam membeku saat Pemuda itu memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi pada mu?" Tanya gadis itu setelah Adrean sedikit melonggarkan pelukannya.
"Aku takut kalau kamu pergi dari sini dan mendapatkan masalah seperti kemarin." Kata Adrean tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Adrean menatap mata indah gadis yang ada di dalam pelukannya itu. Mata mereka bertemu sangat lama.
Ceklek
__ADS_1
Handle pintu tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Keduanya tersadar karena terkejut dengan suara pintu yang baru saja dibuka hingga keduanya saling menjauh.
Gadis itu sangat malu dibuatnya sedangkan Adrean jangan ditanya dia tidak peduli sudah ketangkap basah. Pemuda itu masih dengan muka temboknya tanpa ada rasa malu sedikit pun.