
Perjalanan jauh ini cukup melelahkan bagi Sang Ibu yang bagaikan malaikat tak bersayap. Membesarkan dan merawatnya seorang diri dengan penuh kasih sayang tanpa keluh kesah.
Dini hari mereka baru sampai di sebuah desa yang masih sangat asri. Masih luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Sungai yang mengalir dengan air yang masih begitu jernih.
Sang Ibu merindukan kampung halamannya yang begitu asri. Banyak kenangan indah yang tak bisa terlupakan dengan suaminya.
Ceklek
Suara gagang pintu yang diputar agar bisa berbuka. Dilihat seluruh isi rumah yang masih sama seperti ketika ditinggalkan.
Bi Inna tidak heran saat pulang melihat kondisi rumahnya yang sangat bersih. Dia tahu beberapa hari sebelumnya pasti Tuan Richat menyuruh orang untuk membersihkan rumah ini.
Bruk
Seorang pemuda kini menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dengan tiba-tiba. Rasa lelah sehari semalam tanpa memejamkan matanya.
"Istirahatlah di kamar mu dulu Sebelum kamu kembali." Titah Sang Ibu dengan melihat sebuah foto besar Almarhum suaminya dan membelai foto itu dengan penuh perasaan.
"Baiklah Ibu ku sayang." Kata Adrean sambil memeluk Sang Ibu dari belakang sebelum menuju kamarnya.
"Harusnya bukan aku yang dipeluk seperti ini." Kata Sang Ibu sedikit menolehkan kepala sedikit melihat wajah Sang Putra.
"Lalu?" tanya Sang Pemuda tampan berpura-pura tidak tahu maksut dari Ibunya itu.
"Menikah dan berikan aku cucu." Pinta Sang Ibu sedikit sedih karena memang ada yang mengisi hari-hari Sang Putra.
"Aku akan cuma maunya satu orang wanita sekarang ini yang sedang bersamaku." Pemuda itu merayu Sang Ibu agar tidak memaksanya segera menikah.
"Apa gak ada wanita lain yang bisa kamu goda selain Ibu mu ini?" Tanya Sang Ibu memukul lengan Adrean dengan penuh kasih sayang.
"Jangan-jangan kamu tampan tapi gak laku." Lanjut Sang Ibu.
"Mana mungkin Putra mu yang tampan ini tidak laku?" Tanya Adrean pada Sang Ibu sambil lalu menuju kamar miliknya dahulu.
Pemuda tampan itu membuka kamar miliknya dulu setiap kali pulang kampung halaman. Dia segera membuka gorden agar cahaya matahari pagi bisa masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pemuda itu mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Tidak butuh waktu lama untuknya pergi ke alam mimpi. (Semoga saja tidak membuat sebuah pulau).
"Putra kita seperti diri mu pandai dalam segala hal, termasuk dalam hal seorang wanita." Batin Sang Ibu.
"Sangat dan sangat berhati-hati memilih." Lanjutnya.
Bu Inna pergi ke dapur setelah beberapa saat Adrean masuk ke kamar. Dia mulai memasak makanan entah untuk sarapan atau makan siang, karena sudah mulai naik sedangkan mereka belum sempat sarapan.
"Assalamualaikum." Sebuah salam diucapkan oleh seorang wanita dan seorang laki-laki dengan pakaian yang cukup sopan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang wanita yang hampir lanjut usia itu berjalan dari dalam dapur menuju ruang tamu.
"Maaf kalian siapa?" Tanya Wanita yang baru keluar itu.
"Saya Pak Man dan ini adik saya Mbak Sum." Jawab Pak Man.
"Ada perlu dengan siapa?" Tanya Bi Inna karena dia tidak begitu mengenal mereka berdua sebab sudah sangat lama tidak tinggal di kampung ini.
"Bu boleh saya bekerja di sini?" Tanya Mbak Sum dengan sopan memasang wajah yang menyedihkan.
"Saya...." Kata Bi Inna terputus.
"Diberi gaji berapapun kami terima." Kata Pak Man sebelum Wanita yang ada dihadapannya itu melanjutkan kata-katanya yang terputus tadi.
"Baik tapi gubuk saya sangat kecil jika kalian bersedia tinggal di sini." Jelas Bi Inna.
"Terimakasih Bu." Kata Kedua orang yang ada dihadapan Bi Inna.
Wanita pemilik rumah itu mengantarkan kedua orang orang menuju kamar mereka. Pemilik rumah banyak bertanya mengenai kehidupan.
"Aku baru saja tiba dan mereka tidak mungkin kebetulan melamar kerja di rumah ini kan? Batin Bu Inna curiga pada mereka berdua punya maksut tertentu.
"Siapa sebenarnya mereka dan siapa yang menyuruh mereka." Lanjutnya.
"Semoga saja apa yang mereka katakan benar adanya tidak ada niat buruk yang terselubung." Lanjutnya lagi dalam hati.
__ADS_1
Kedua orang yang usianya hampir paruh baya sekitar 35-an itu merupakan utusan yang diminta oleh Tuan Richat untuk menjaga Mantan Asisten Rumah Tangga yang sangat berjasa bagi Dia dan keluarganya itu. Dia tidak ingin terjadi apapun pada wanita yang sudah menjadi janda akibat Almarhum suaminya melindungi dia.
Wanita yang sudah hampir lanjut usia itu hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja. Kedua orang yang baru datang itu diminta pemilik rumah agar mereka istirahat terlebih dahulu.
Bu Inna beranjak ke dapur memasak makanan untuk ke tiga orang yang ada di rumahnya itu. Baru menyiapkan bahan Mbak Sum datang membantu.
Seorang Pemuda mengerjapkan mata berulangkali untuk memperoleh kesadaran dari mimpi indahnya. Dia menutup mulutnya saat menguap setelah duduk di sisi tempat tidur.
Ceklek
Adrean membuka pintu kamar dan tatapan matanya menangkap seseorang yang dia kenal tapi sedikit ada keraguan. Perlahan Pemuda itu mendekati laki-laki yang usianya itu hampir sama dengannya.
"Maaf Bapak siapa? Tanya Adrean pada Pak Man yang membelakanginya setelah menepuk pundak laki-laki itu.
"Saya....." Jawab Pak Man dengan menundukkan kepala takut ketahuan dengan identitasnya itu yang bersamaan dengan datangnya Bu Inna.
"Ayo kita makan sekarang." Ajak Sang Ibu pada Adrean.
"Baiklah Ibu ku sayang." Kata Pemuda itu berjalan dengan merangkul pundak Sang Ibu.
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan untuk menikmati masakan yang sudah lama tidak dia rasakan. Rencananya memang sore ini dia akan kembali ke ibu kota untuk menyelesaikan segala urusannya di sana.
Adrean mengambil ponselnya yang berada di dalam kamarnya setelah makan. Dia mengecek berbagai macam laporan yang diberikan oleh asistennya yang ada di negara X.
Waktu tidak terasa sudah semakin sore, seorang pemuda sudah bersiap-siap untuk kembali ke ibu kota. Kesibukannya ini membuatnya lupa bertanya tentang kedua orang yang baru datang di rumah Sang Ibu baru saja.
Pemuda itu sudah berencana berangkat pada malam hari karena pada waktu itu memang sedikit pengguna jalan sehingga dia bisa menggunakan kecepatan agak tinggi. Masih berat rasanya meninggalkan kampung kelahirannya yang indah dan asri itu.
"Mau kembali sekarang?" Tanya Sang Ibu pada Adrean setelah makan malam selesai.
"Hem." Jawab Adrean sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan lupa pesan Ibu mu yang sudah semakin tua ini!" Kata Sang Ibu.
Gurat wajah sedih terlihat pada ibu dan anak ini, hanya sebentar saja pertemuan mereka. Sang Ibu hanya bisa berharap kehidupan Sang Anak bisa lebih cepat menemukan seorang wanita yang bisa menjaganya.
__ADS_1