
Alfian membulatkan matanya seketika mendengar kata-kata anak kecil ini. Anak ini sangat cerdas dari seumuran diusianya sama seperti ketiga jagoan calon istrinya.
"Jadi main gak?" Tanya Alfian.
"Gak ah Om. Paling juga Om kalah." Ledek anak laki-laki itu.
"Enak aja. Mau bukti in?" Tantang Alfian.
Alfian dan anak laki-laki itu bermain bola dengan sangat seru. Hingga waktu pun sudah beranjak siang. Permainan pun berhenti ketika seorang gadis menuju tempat mereka.
Anak itu melihat gadis itu seperti harimau kelaparan mengincar makanannya. Matanya tak berkedip sama sekali melihat langkah gadis yang semampai.
"Cantik ya?" Tanya Alfian pada anak laki-laki itu.
"Iya, pakai banget." Jawab anak laki-laki itu dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis tadi.
Thaaaak
Suara kepala dijitak.
"Ah sakit Om." Kata anak laki-laki itu sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit.
"Anak kecil gak boleh genit kayak gitu." Nasehat Alfian.
"Belajar di sekolah yang bener." Lanjutnya lagi.
"Sok tahu." Gerutu sang anak.
Di seberang jalan terlihat seseorang sedang melambai-lambaikan tangannya. Pakaian yang akan dikenakan cukup sopan.
"Udah ya Om. Aku udah dicariin." Kata Sang Anak.
"Udah aku bilang jangan panggil Om." Titah Alfian.
"Ngaca aja deh Om." Kata sang Anak sambil berlari menuju baby sisternya.
Anak itu sebenarnya tidak membutuhkan babysiter. Hanya orang yang bekerja sebagai babysister itu sudah mengasuh anak itu dari masih lahir. Banyak kecocokan diantara mereka.
Gadis yang bekerja sebagai babysister itu hanya mengenakan seragamnya jika berada di rumah majikannya. Beda sekali jika ia berada di luar ia diperbolehkan memakai pakaiannya sendiri.
Ia sangat pintar dalam berbagai hal. Hanya saja kehidupan yang tidak mendukungnya.
Alfian hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia heran juga bisa kalah berdebat dengan anak kecil.
"Apa aku setua itu?" Pikirnya.
Alfian pun kembali melakukan aktivitasnya. Ia joging sampai di rumah karena waktu memang sudah sangat siang. Matahari sudah terasa sangat panas.
Di halaman rumah terlihat Deddy sedang bermain bola Basket. Ya itulah hobi sang Deddy dan Alfian dikala waktu liburnya.
Alfian menghampiri sang Deddy. Bola basket yang ada di tangan sang Deddy rebut begitu saja.
Sangat dan sangat gesit sang Deddy mempertahankan bola itu. Gagal sudah rencana merebut bola itu.
__ADS_1
"Masih muda juga masak menyerah begitu saja." Kata Deddy.
"Siapa yang nyerah juga." Elak Alfian.
"Ya udah ayo tanding Al." Tantang Sang Deddy.
Deddy dan Anak nya itu mulai pertandingan yang sangat sengit. Keduanya sama-sama hebatnya.
Mommy melihat kedua jagoannya itu dari teras rumah. Ia hanya menggelengkan kepala melihat kedua laki-laki itu.
"Bapak sama anak sejak dulu sama aja." Batin Mommy.
Mommy membawakan jus jeruk. Ia tahu kalau mereka pasti kehausan.
"Udah istirahat dulu." Perintah Mommy.
"Nanggung Mom." Kata Alfian.
"Istirahat dulu Al." Kata Deddy dengan menghentikan permainannya.
Mereka akhirnya duduk di bawah pohon rindang di tepi lapangan bola itu. Jus yang dibawakan oleh Sang Mommy akhirnya disekap hingga kandas.
"Mommy jadi jurinya. Ok." Kata Deddy mengedipkan mata kanannya.
"Ok." Jawab Mommy dengan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Kalau Alfian menang nanti Deddy yang akan membiayai pernikahannya, honeymoon, dan juga rumah untuk anak kita." Kata Deddy.
"Itukan emang jadi tanggung jawabnya Deddy harusnya." Protes Alfian.
Alfian memang pernah mengatakan semua itu pada Deddy dan Mammynya. Ia tidak mau bekerja menggantikan posisi Sang Deddy.
Alfian mengatakan itu agar ia bisa meniti karirnyanya sendiri dari bawah. Ia tidak mau menggunakan nama keluarga untuk mempermudah semua pekerjaannya.
Sifatnya yang keras serta rasa tanggung jawab yang besar itu membuatnya sukses tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya.
"Ok. Ayo kita mulai." Ajak Alfian.
Mereka berdua bermain dengan sengit. Mommy hanya melihat keduanya sedang asik bertanding.
Hingga waktu yang sudah diputuskan bersama telah habis. Hasil dari pertandingan itu pun seri dengan hasil banyak keringat yang bercucuran di badan mereka.
"Sudah dulu Deddy mau mandi." Kata Deddy meninggalkan Alfian di lapangan Bola itu berjalan beriringan dengan Mommy.
"Nanggung Deddy aku masih belum menyerah." Teriak Alfian saat sang Deddy sudah berjalan menjauh dari lapangan itu.
"Bukan Nanggung lagi kali ini Al, tapi Deddy mau benggang ini." Jawab Deddy dengan bahasa absurbnya.
"Deddy gak inget kalau di sini ada jomblo happy." Protes Alfian.
"Siang-siang ini telinga udah dicemari dengan kata-kata mu Deddy." Lanjut Alfian.
Deddy dan Mommy hanya tersenyum renyah mendengar semua perkataan Alfian baru saja. Anak yang dulu sangat lucu kini telah tumbuh menjadi laki-laki yang penuh tanggung jawab. Itulah kebanggaan tersendiri bagi mereka.
__ADS_1
Alfian akhirnya mengikuti kedua orang tuanya. Ia segera mandi dan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.
Mommy membuatkan makan siang untuk seluruh anggota keluarga. Anggota keluarganya kan cuma tiga.
Deddy yang cukup kecapean dengan pertandingan dengan anak laki-lakinya itu setelah mandi segera menuju ruang kerjanya. Banyak hal yang perlu di dikerjakan sebelum pernikahan anak semata wayangnya.
Semua aset dan harta yang dimiliki keluarga ini sungguh tak terbayangkan. Digunakan untuk tujuh keturunan pun tak akan ada habisnya. (Itu menurut pandangan orang, tetapi kita juga harus sadar semuanya hanyalah titipan Allah semata. Jika ia menginginkannya kembali hanya dalam hitungan detik pun semua akan sirna).
Deddy sudah merencanakan semua aset dan kekayaannya itu untuk cucunya kelak. Alfian sebagai anaknya bahkan tidak diberikan sama sekali akan harta sang Deddy.
Deddy melakukannya karena tahu akan kemampuan anaknya itu yang mampu dan bisa bertahan di dalam dunia bisnis. Bahkan mampu untuk melakukan yang lebih.
Bunda sudah selesai memasak dengan berbagai macam menu makanan. Nasi yang dimasak tadi pagi dihidangkan kembali. Sayur mayur dan lauk yang masih ada dari sarapan tadi juga dihidangkan lagi.
Sayur dan lauk itu hanya perlu dipanaskan. Bunda hanya menambahkan sedikit menu yang dirasa kurang untuk menu makanan mereka.
*** *** *** *** *** *** ***
Ini keluarga Alfian kaya tapi ngirit ya. Makanan yang sekiranya masih bisa dimakan dilahap juga. E....... Pembaca sekalian maaf ya memang bener apa adanya orang kaya itu selalu seperti itu. Untuk dirinya sendiri mereka tak pernah royal tapi jika untuk orang lain mereka tak pernah memperhitungkan seberapa banyak mereka mengeluarkan uang.
itu semua berlaku jika orang itu memang benar-benar kaya dari sananya. Tak pernah sombong dengan apa yang dimilikinya. Berbeda sekali dengan mereka orang kaya jadi-jadian. Mereka akan memperlihatkan banyaknya harta yang bisa mereka ambingkan (orang yang kaya baru saja).
Saya Author selalu menemui orang-orang seperti itu saat saya mengajar les privat di rumah orang-orang kaya. Apalagi dengan kekurangan saya, hal itu akan menjadi masalah.
Apa gurunya bisa nulis & apa gurunya bisa ngajar? Nah pertanyaan seperti itu selalu ada.
Kekurangan saya memang sangat terlihat nyata. Saya hanya bekerja dengan tangan kiri.
Allah sungguh lah sangat-sangat adil. Saya diberi berbagai macam kelebihan yang menurut orang tidaklah masuk akal.
Allah memberikan kecerdasan lebih buat saya. Bagaimana saya bisa memanfaatkan anggota tubuh saya yang lain untuk bisa bekerja seperti orang normal lainnya.
Sekolah juga sampai perguruan tinggi negeri yang biaya memang sangat terbatas. Jadi saya juga kerja part time waktu itu.
Naik motor dengan gas di setang kanan. Bisa melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya juga.
Bersyukur sekali saya mendapat suami yang begitu sayang pada saya, dan keluarga. Pasti banyak diantara kalian juga bertanya Suami saya juga cacatkan?
Bisa saya jawab di sini. Suami saya lengkap anggota tubuhnya.
Saya sadar dengan keadaan saya yang seperti ini cukup sulit untuk bekerja di instansi maupun mendapat suami yang benar-benar sayang dan cinta pada kita.
Untuk masalah suami saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik.
Masalah pekerjaan memang benar apa adanya tidak semua orang bisa menerima kehadiran saya yang sejak lahir ini. Hingga akhirnya saya ber-inisiatif untuk menciptakan lapangan kerja saya sendiri.
Author minta maaf karena di bab ini saya banyak curhatnya. Meluapkan semua isi hati dan keluh kesah yang ada dihati saya.
Selamat berbuka puasa.
Semoga bab yang baru up date ini bisa menemani pembaca setia untuk berbuka puasa.
Jika ada yang ber minat ini hiasan dinding kruistik dengan gambar pohon kelapa ini bisa WA saya. Nomor di profil Novel Toon juga ada.
__ADS_1
Buatan sendiri lho. Cuma gambar yang beli sama piguranya. 🙏🙏🙏🙏