Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 128. Pengamatan


__ADS_3

Alfian hanya memainkan benda pipih di kursi penumpang. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di hotel tempat resepsi itu diadakan.


Di depan hotel turun seorang pria yang sangat tampan. Petugas hotel mempersilahkannya masuk setelah pria itu menunjukkan selembar undangan. Bahkan ia diantarkan sampai pada tempat berlangsungnya resepsi.


Sijoli yang penuh dengan rasa canggung berhenti dan turun di tempat parkir. Mereka langsung menuju lobi dan menunjukkan selembar undangan. Petugas yang ada di depan hotel pun mengantarkan mereka.


Hotel ini salah satu hotel yang sangat megah yang ada di kota ini, bahkan hotel ini juga sudah ternama. Seluruh negri juga sudah tahu itu adalah hotel yang sangat terkenal dan mewah bahkan pelayanan juga sangat bagus.


"Sepertinya sangat mewah resepsi mereka." Celetuk salah satu tamu undangan.


"Padahal ia hanya asisten pribadi lho." Sahut salah satu temannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari lift bersama kedua orang tua dan ketiga adik kembarnya.


"Apa urusannya dengan mu?" Tanya tamu undangan tadi.


"Tidak ada." Katanya gadis cantik itu.


"Jangan suka berbicara'in orang lain." Sambungnya lagi sambil berjalan menuju tempat resepsi.


Kedua orang yang sedang berbincang tadi hanya tersenyum getir menanggapi kata-kata gadis cantik itu. Mereka tidak tahu apa pun tentang orang yang sedang menikah saat ini. Ya karena mereka hanyalah anak dari rekan bisnis mereka. ( Kalau dalam lagu mah cocote Tonggo kalau ini cocote anak konco).


Tap tap tap


Terdengar suara langkah kaki yang pajang sangat tergesa-gesa. Entahlah aroma parfum yang sangat familiar tercium oleh gadis cantik dan menawan yang sedang berjalan bersama anggota keluarganya.


Gadis itu pun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


Alfian mempercepat langkah kakinya setelah mempersilahkan petugas tadi kembali pada tempatnya. Matanya menangkap sesosok gadis yang menjadi tunangannya.


Saat itu juga Alfian mulai memperlambat langkahnya. Ia sempat mengamati gadis itu.


"Kenapa berhenti?" Tanya Papa pada anak gadisnya.


"Tidak, ayo lanjut jalan." Jawabnya.


"Rasanya aku kenal dengan bau parfum ini." Batinnya.


"Iya ayo cepat nanti terlambat lho." Kata Mama dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Kenapa juga Mama tersenyum seperti itu pada ku." Batin nya lagi.


Mama tanpa sengaja melihat calon anak menantunya saat melihat ketiga jagoannya yang sudah tertinggal karena mereka sempat bercanda saat berjalan. Ia berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Insting orang rindu Pa?" Bisik Sang istri pelan.


"Insting apa'an kayak hewan aja pakai Insting segala." Protes Sang Suami.


"Memang bukan ya?" Tanya Mama.


"Bicara yang jelas atuh Mah." Kata Papa meminta penjelasan.


"Orang yang lagi jatuh cinta, rasa rindu wanita pakai rasa. Semuanya dianggapnya." Jelas Mama.


"Makanya tadi ekspresi wajah dan perilakunya berubah saat berjalan." Lanjutnya.


"Nanti juga datang." Kata Papa tersenyum smirk.


Axel, Garda dan Daffa sudah menghilang entah kemana. Papa mereka juga tidak tahu, tapi masih berpikir positif.


Sang Papa tahu kalau kalau ketiga anak laki-lakinya bisa menjaga diri mereka. Ketiganya tidak akan berbuat sembrono di setiap tempat.


Ketiga saudara kembar ini sudah bersama dengan Alfian. Mereka memang sudah melihat Alfian masuk gedung hotel sejak kedatangannya.


Ziko bersama dengan gadisnya sudah berada di dalam acara pesta. Mereka berdua mencari sang Bos.


"Kemana juga ini Bos." Tanya Ziko asistennya.


"Itu malah Deddy dan Mommynya di sana." Tunjuk Ziko dengan dagunya.


"Mampus aku." Kata Ziko sedikit gugup.


"Kenapa memang?" Tanya Monic.


"Gak lihat apa? Mereka kesini." Jawab Ziko yang sedikit memiringkan wajahnya kesembarang arah untuk menutupi wajahnya.


"Lantas?" Pasti nanya in itu bocah.


Deg deg deg deg

__ADS_1


Jantung Ziko sedikit berdetak agak cepat. Ia pasti diintrogasi tentang anak mereka.


"Malam Om, Tante." Sapa Monic sopan.


"Malam juga cantik." Kata Mommy


"Nak Ziko selamat malam." Sapa Deddy.


"Malam juga Om, Tante." Jawab Ziko sopan dengan memikirkan segala pertanyaan yang akan dia dapatkan.


"Aduh kayak akan ada ujian ini. Aku ujian sejak dulu aja bisa santai kok. Sekarang ini kenapa aku jadi gugup." Batin Ziko.


"Dimana Alfian?" Tanya Deddy.


"Tadi bilang udah janjian mau berangkat sama kamu." Lanjutnya.


"Iya Nak Ziko, apa mungkin gak jadi karena gak enak jadi obat nyamuk diantara kalian?" Jelas Mommy.


"Tadi memang kita berangkat bertiga Tan, tapi Alfiannya aja yang mau turun di lobi trus ngilang." Jawab Monic.


Ziko yang gak bisa harus jawab apa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mencoba menetralkan jantungnya.


Alfian yang sudah hadir di dalam pesta bersama dengan ketiga laki-laki kecil itu sedang mengawasi interaksi antara asisten dan kedua orang tuanya. Tidak lupa juga ia mengawasi tunangannya.


Alfian yang berdiri dekat kolam renang sedangan melakukan pengamatan. Ia mengamati setiap gerak-gerik gerik orang terdekatnya.


Suasana malam ini menggambarkan suasana hati yang sangat bahagia ditengah pesta malam ini. Taman di hotel sudah dirancang oleh ahlinya. Ditambah lagi dekorasi alam yang bebas dan menyenangkan menenangkan hati.


Taman dengan dikelilingi oleh genangan air dengan bunga eceng gondok, lotus, teratai dan lainnya. Tidak lupa dengan lilin-lilin yang menyala di atas air itu menambah ke indahan suasana pesta malam ini.



Itu gambaran di mana seorang Alfian tengah berdiri sedang melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Tapi maaf di dalam foto itu ada yang kurang kondisinya ingat waktu pesta di malam hari ditambah dengan banyaknya lilin yang ikut mengapung di atasnya.


Hangat terasa dalam hati Alfian merasakan kasih sayang yang tulus dari orang-orang yang terdekat dengannya. Mereka juga yang berjuang dari awal hingga saat ini.


"Semoga mereka akan selalu ada bersamaku. Amin." Doa Alfian dalam hati.


Papa, Mama dan Kakak berjalan menuju mimbar untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Mereka cukup lama di atas mimbar itu.

__ADS_1


Alfian terus mengamati juga keluarga calon istrinya. Senyum hangat untuk mempelai dari keluarga itu terukir di wajah mereka.


__ADS_2