Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 165. Pinter Begitu-an


__ADS_3

Ketiga anak laki-laki itu membagi tugas mereka untuk mengambil pesanan. Pesanan yang sudah diambil segera mereka sembunyikan di kamar Axel.


"Saatnya berburu." Teriak ketiganya serempak.


Mereka masing-masing mengambil sepeda mereka yang ada di garasi. Itung-itung buat olah raga mereka menggunakan sepeda kayuh.


"Untung saja kakak belum keluar dari dalam. Dia pasti sedang ketiduran." Kata Daffa sesampainya di kediaman utama setelah mengambil pesanan mereka.


"Mungkin." Kata Axel sambil memilah milah barang yang mereka dapat.


Waktu sudah semakin sore tetapi kesibukan dalam rumah itu belum juga selesai. Kemungkinan akan dilanjutkan besok lagi.


Kesibukan itu bukan hanya di luar ruangan tetapi juga di dalam sebuah kamar seorang anak laki-laki. Apa yang mereka bertiga lakukan di sana tak seorang pun tahu dan ingin tahu.


Meskipun banyak orang yang sedang bekerja di rumah itu hari ini mereka tidak ingin tahu jika mereka berusaha untuk mengetahuinya maka sesuatu juga akan terjadi padanya. Biarpun mereka masih tergolong anak kecil tapi kemampuan mereka tidak dapat dibayangkan oleh orang lain.


Papa dan Mama harus lembur di kantor hingga larut malam untuk beberapa hari kedepan untuk dapat merayakan hari yang paling membahagiakan untuk anak gadis mereka. Mereka sudah menganggap Mentari sebagai anak kandung mereka sendiri yang sangat mereka sayangi.


Mereka tidak pernah membedakan kasih sayang yang mereka berikan pada anak-anak. Hal itu membuat mereka juga tumbuh dengan penuh kasih sayang yang tidak kurang.


Rencana ketiga anak laki-laki ini tidak ada yang mengetahuinya. Kedua orang tua mereka bahkan tidak mengetahuinya.


Rencana itu hanya bisa dijalankan saat resepsi itu berlangsung. Saat resepsi itu berlangsung maka semua orang akan sibuk dengan urusannya masing-masing.


Seorang Pria paruh baya mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya. Dia meluangkan waktu untuk menghubungi salah satu orang rumah.


Nomor anak gadisnya tertera di layar ponsel itu. Dia pun mendeal nomor tersebut tetapi tidak tersambung.


"Kemana ini anak? Apakah masih diluar ada kegiatan?" Kata Papa lirih.


"Hallo. Assalamualaikum." Sapa Seseorang yang ada di sebrang.


"Wa'alaaikumsalam." Jawab Papa setelah panggilan itu diangkat dan mendengar sapaan orang yang dihubunginya itu.


"Kenapa tadi gak segera diangkat?" Tanya Papa yang masih khawatir dengan keadaan anaknya itu.


"Maaf-maaf Pa tadi aku ketiduran." Jawab Mentari santai.


"Tadi kan Papa sudah bilang kamu di rumah saja gak usah pergi-pergi dulu." Nasehat Papa.


"Walaupun itu ke kampus kamu juga tidak harus berangkat." Lanjutnya.


"Iya-iya." Jawab Mentari.


"Itu kondisi rumah bagaimana? Apa sudah selesai dekorasinya? Tanya Papa.


"Tahu, tadi kan aku bilang ketiduran." Jawab Tari dengan santai.

__ADS_1


"Nanti Papa kan bisa lihat sendiri kalau sudah sampai di rumah." Kata Tari lagi.


"Dasar kamu itu, sana cuci muka biar ilang itu ilernya." Perintah Papa.


"Baik." Kata Mentari sambil berlari menuju meja rias untuk bercermin melihat sekeliling bibirnya.


"Dari mana Papa tahu kalau aku ngiler?" Tanya Tari setelah melihat ia benar-benar ngiler setelah bangun tidur.


"Kamu itu sudah besar dan mau menikah belum tahu kalau Papa mu ini tahu segalanya seperti..... " Kata Papa.


"Papa dan Mama malam ini pulang larut, kamu jaga diri mu dan adik-adik mu." Pesan Papa pada Mentari sebelum mengakhiri telepon.


"Baiklah." Kata Mentari.


"Ya sudah Papa tutup dulu teleponnya ya?" Kata Papa.


"Wasalamualaikum." Kata salam dari Papa.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Mentari.


Di rumah lain terjadi hal yang sama. Mereka sama-sama mendekorasi seluruh tempat, kecuali di kamar tidur.


Alfian hari ini sudah libur dari segala aktivitas hariannya, sedangkan Deddy masih sibuk dengan segala urusan kantor. Urusan kantor memang harus diselesaikan juga dalam waktu dekat ini agar bisa berkonsentrasi dalam urusan pernikahan sang anak.


Deddy yang sedang berkutat dengan pekerjaannya itu membuat teringat dengan sang istri yang tengah hamil. Kini badannya berada di kantor sedangkan pikirannya berada di rumah.


Membelah diri seperti amuba hingga pekerjaan itu bisa sekaligus selesai. Rasa khawatir itu membuatnya setiap detik mengirimkan pesan memintanya untuk makan.


Pesan yang selalu sama dari Deddy membuat istrinya itu enggan untuk membuka pesan tersebut. Tak ada balasan dari sang istri membuatnya semakin khawatir.


Alfian biarpun tidak bisa ke kantor tapi di rumah besar itu sedang menyelesaikan pekerjaannya. Bayangan gadis yang akan menjadi istrinya itu selalu ada di dalam pikirannya hingga menambah semangatnya dalam bekerja.


Alfian berada di ruang kerja karena di kamarnya itu masih dikuasai oleh sang mammy. Hal itu masih sering terjadi walaupun antara kedua orang tuanya itu telah mencapai kesepakatan.


Ting


Ponsel seorang calon mempelai pria itu berbunyi dengan nyaring. Alfian pun mengambil ponsel yang tergeletak di meja ruang kerja sejak pagi.


Betapa senangnya dia mendapatkan pesan dari seseorang hingga dia pun dengan langkah lebarnya ingin segera menggapai benda itu. Dilihat Id pemanggil yang tertulis di layar ponsel dan tiba-tiba wajahnya pun berubah sedikit menyedihkan.


"Aku kira pacar ku." Teriak Alfian tidak ingin membalas chat itu hingga dia pun langsung menelepon.


"Galak amat." Kata Deddy.


"Sopan sedikit lah Al ini Deddy mu." Keluh Deddy mendapat suara sapaan yang begitu ketus dari sang anak.


"Kenapa Deddy? Aku juga lagi sibuk ini." Jelas Alfian.

__ADS_1


"Baru juga sehari gak dihubungi kamu udah kayak singa jantan yang siap menerkam." Ledek Deddy.


"Udahlah Deddy intinya aja gak usah pakai acara meledek aku." Pinta Alfian.


"Mammy mu tadi udah makan kah?" Tanya Deddy.


"Kenapa tanyanya ke aku. Tanya aja langsung ke Mammy." Pinta Alfian.


"Udah tapi dianggurin." Jawab Deddy.


"Ya udah itu di kantor kan banyak tu pekerjaan yang harusnya segera diselesaikan dari pada nganggur." Kata Alfian yang mulai meledek lagi.


"Aku bukan baby sisternya Mammy kali Ded, mana aku tahu." Lanjut Alfian.


"Dasar kamu itu anak kurang dihajar biar tambah pinter. Besok udah nikah aja gak tambah berbakti sama orang tua tapi malah sangat berbakti." Puji Lestari Deddy.


"Gitu aja taring drakulanya muncul." Ledek Alfian.


"Kalau mau munculin taring sama Mammy aja Ded." Lanjutnya dengan diiringi tawa yang nyaring.


"Kamu ternyata lebih pinter dari Deddy kalau masalah hal begitu an. Sudah tak perlu diajarin lagi." Kata Deddy.


"Lha apa gunanya di sekolahin kalau gak tambah pinter dan kelewat pinter?" Jawab Alfian.


"Kalau memang betul kamu tambah pinter, sekarang jawab pertanyaan Deddy." Kata Deddy.


"Ok." Balas Alfian singkat.


"Makanan apa yang hari ini sudah dimakan mammy mu?" Tanya Alfian.


"Ok ok itu tadi sebenarnya memang pertanyaan awal Deddy kan? Tanya Alfian.


"Mammy tadi sudah makan tahu bulat." Lanjutnya.


"Ok sayang terimakasih sudah menjaga mammy mu." Kata Deddy.


"Aku jijik mendengar kata sayang dari mu Ded. Masak tahu makan tahu mana enak." Keluh Alfian.


"Ya sudah Al selamat bergalau ria." Ledek Deddy.


"Memangnya Deddy gak galau tidak melihat Mammy? Gitu aja ngeledekin aku." Kata Alfian.


"Sama-sama manusia galau dilarang meledek."


Tut Tut Tut


Telpon pun terputus secara dipihak oleh Deddy. Jika tidak perbincangan mereka tidak akan ada habisnya. Deddy tahu sang anak akan selalu membalas semua perkataan darinya.

__ADS_1


__ADS_2