Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 51. Pekerjaan Itu Hanya Sebuah Topeng


__ADS_3

Gadis itu berjalan menuju dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat yang diminta oleh Adrean. Pemuda itu sendiri menuju ke ruang kerja.


Adrean sempat menoleh bukan hanya sekali tetapi beberapa kali. Dia memperhatikan gadis yang berjalan menuju dapur dengan senyum-senyum sendiri.


Ceklek


Pintu ruang kerja dibuka oleh seorang pemuda yang baru saja meminta seseorang untuk membuatkan teh hangat untuknya. Saat berjalan masuk dia masih saja tersenyum-senyum sendiri.


Adrean berjalan menuju sofa menuju dimana sahabatnya itu duduk. Dia segera menjatuhkan bokongnya di sofa kemudian menyandarkan punggungnya itu.


Pandangan matanya melihat ke langit-langit ruang kerjanya. Wajahnya tersenyum menunjukkan rasa bahagia.


"Apa kamu masih normal?" Tanya Sahabatnya yang sedang memandangi layar monitor yang ada di hadapannya.


"Bilang ngiri." Jawab Adrean menoleh pada sahabatnya itu.


Adrean kembali melihat langit-langit ruang kerjanya. Dia sendiri merasa nyaman bila dekat dengan Sinta.


Tok tok tok


Pintu ruang kerja diketuk oleh seorang gadis dengan membawa nampan yang diatasnya ada terdapat teh hangat. Dua cangkir dan satu teko untuk berjaga-jaga jika kedua orang itu ingin menambah minuman mereka, tidak lupa juga gula disertakan terpisah.


"Masuk." Kata salah satu orang yang ada di dalam ruang kerja itu.


Ceklek


Handle pintu diputar perlahan kemudian pintu itu dibuka dan didorong perlahan. Langkah kaki hampir tidak terdengar melangkah menuju sofa dimana kedua orang pemuda sedang melihat orang yang baru saja masuk.


Sinta meletakkan nampan beserta semua yang ada di atasnya di atas meja perlahan. Dia mempersilahkan kedua orang itu untuk minum teh tersebut setelah meletakkannya di atas meja.


Gadis itu menegakkan badannya kemudian langsung berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu. Adrean yang semula hanya menatap punggung gadis itu saat dia hendak pergi karena sudah tidak memiliki alasan apapun untuk menahannya.


"Tunggu sebentar nona." Kata Briyan saat gadis itu hendak memutar Knop pintu hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Ya, anda masih membutuhkan sesuatu?" Tanya Sinta setelah memutar badannya menghadap pada pemuda yang tadi memanggilnya.


"Benar, kemarilah." Kata Briyan yang membuat sahabatnya itu menatap dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Adrean seketika itu hanya melihat sahabatnya yang sedang menatap layar monitor yang ada dihadapannya. Dia sama sekali tidak memandang gadis yang dipanggilnya tadi.


Hening


Hening


Hening


Pemuda itu meminta Sinta untuk duduk di sofa yang ada di seberang tempatnya. Briyan menutup laptop miliknya sebelum bicara lebih lanjut.


"Apa yang akan dikatakannya." Batin Adrean.


"Awas saja jika bicara macam-macam." Lanjutnya."


Sinta menghempaskan bokongnya di sofa yang ditunjuk oleh pemuda yang memanggilnya tadi. Gadis itu menatapnya dengan tatapan redup tetapi tegas.


Pemuda itu mengungkapkan semua rencana terhadap Sinta tanpa meminta pertimbangan pada sahabatnya sebagai bos. Adrean tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu tanpa meminta pendapatnya sebagai atasannya.


Adrean tidak memberikan komentar apapun saat itu. Dia juga menghormati keputusan sahabatnya itu saat ini kerena mereka berdua memang tidak dalam kondisi sedang dalam ikatan pekerjaan.


Gadis itu pergi ke kamarnya setelah meminta ijin untuk beristirahat. Kedua pemuda itu tahu kalau Sinta pasti akan memikirkan tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri setelah sampai di kamarnya.


Adrean hanya menjadi pendengar setia dari awal sampai akhir. Dia berusaha tidak mau ikut campur tentang segala keputusan yang diambil oleh gadis yang tinggal bersamanya saat ini.


"Apa rencana mu sebenarnya?" Tanya Adrean pada sahabatnya dengan dingin.


"Apa kamu hanya ingin memanjakannya di sini?" Tanya Briyan tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


"Benar, aku ingin memanjakannya sampai kapanpun." Jawab Adrean saat mengambil benda yang ada di saku celananya.


"Aku sepertinya mengenal dia." Kata Adrean sambil menggantungkan liontin yang ada di tangannya tepat di depan wajahnya.


"Jika itu kamu lakukan dia justru akan lari seperti kemarin." Kata Briyan.


"Dia gadis yang keras kepala, berdasarkan kehidupannya beberapa tahun terakhir ini pasti dia tidak akan sanggup jika harus berdiam diri." Lanjutnya yang diikuti dengan tertawa renyah.


Kedua pemuda itu menyesap teh yang sudah tersaji di atas meja untuk menghilangkan dahaga mereka. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Aku akan mengawasinya selama kamu pergi." Kata Briyan tiba-tiba saat melihat ada rasa gelisah masih ada di wajah sahabatnya.


"Tapi jangan mencongkel mata ku karena selalu mengawasinya." Lanjutnya.


"Huuuf." Suara Adrean yang membuang nafasnya kasar.


"Permasalahannya sekarang bagaimana aku harus memberitahukannya kalau aku akan pergi pasti dia juga akan pergi dari sini kan?" Kata Adrean.


"Dia pasti akan berusaha keluar dari sini karena bosan diperlakukan seperti tahanan." Lanjutnya.


"Maka dari itu aku memberikan pekerjaan itu padanya." Kata Briyan menjelaskan tujuannya tadi.


"Pekerjaan itu hanya sebuah topeng yang mampu untuk menahannya." Lanjutnya.


"Dia tidak akan keluar dari area hotel jadi akan aman." Jelasnya lagi.


Adrean pemuda yang pintar dan cerdas hanya karena satu gadis itu membuatnya bodoh. Begitu juga kali ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih hingga perjalanannya menjadi tertunda.


Waktu begitu cepat berlalu hingga sekarang sudah hampir masuk waktu magrib. Briyan pergi meninggalkan ruang kerja Adrean menuju ruang kerja miliknya sendiri yang berada di lantai dasar hotel itu.


Pemuda itu sengaja memberikan kesempatan pada sahabatnya untuk bicara pada gadis yang tinggal bersamanya. Sinta yang masih berada di kamarnya itu baru selesai mandi setelah beberapa jam memikirkan tawaran pekerjaan yang baru diterimanya.


Baju yang dimilikinya juga tidak banyak dan seperti biasa dia berias natural. Kesehariannya yang tampil apa adanya itu membuatnya tidak butuh waktu lama untuk mengganti pakaiannya serta merapikan dirinya.


Di ruang kerja seorang pemuda sedang sendirian merasakan badannya yang sudah lengket. Merasa tidak nyaman dia segera pergi ke kamarnya untuk segera mandi agar terasa lebih segar.


Adrean mendongokkan kepala setelah berada di ambang pintu ruang kerja yang baru saja dibukanya. Dia melihat pada sebuah kamar yang baru saja ditutup oleh Sinta.


Gadis itu terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya saat ini serta rambut yang dikuncir kuda. Mata Adrean tidak berkedip saat melihat leher putih gadis yang baru saja keluar dari kamarnya itu.


"Apa ini miliknya?" Tanya Adrean dalam hati saat melihat leher yang jenjang dan putih itu.


"Jika benar dia adalah...." Lanjutnya terputus saat gadis itu menyapanya.


Pemuda itu tidak mau membayangkan kejadian buruk yang pernah menimpa gadis itu. Suara yang sangat dikenalnya beberapa hari ini didengarnya.


Adrean mencoba mengingat masa kecilnya saat bermain bersama dengan seorang gadis kecil. Gadis itu memang memiliki beberapa kebiasaan yang tidak diketahui oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2