Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 55. Sinta bermuka cemberut


__ADS_3

Sinta yang mulanya bermuka cemberut dihadapan Adrean kini tersenyum. Adrean sebenarnya bukan tipe orang yang suka pamer kemesraan di hadapan orang lain.


Lala pun akhirnya pulang ke rumah dengan wajah kecewanya.


Adrean dan Sinta pergi ke kamar bersiap-siap. Adrean ingin mengajak Istrinya pergi ke puncak. Sinta senang sekali hatinya walaupun masih sering muntah-muntah.


Perjalanan menuju puncak tidaklah jauh. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Villa punya Adrean pun sudah tampak. Villa itu sangat besar dan lebih tinggi dari villa yang lain.


Waktu sudah menunjukkan sore hari. Penjaga Villa sudah membersihkan semua ruangan kecuali kamar utama.


Penjaga villa itu cukup ramah dengan semua orang tanpa kecuali. Ia memiliki anak gadis yang masih sekolah. Semua biaya sekolahnya di tanggung oleh Adrean. Adrean memang menanggung semua biaya sekolah para pekerjanya tanpa kecuali. Itu pun di luar gaji mereka.


Malam ini sepasang suami istri sedang menikmati indahnya malam dibawah pancaran sinar rembulan. Makan malam di tepi danau dengan pancaran cahaya lilin. Waaau.... Romantisnya.


Sinta membuka percakapan mereka.


Sinta: "Mas kok kamu dulu gak mau jalan sama Lala?"


Adrean: "Jangan ucapkan nama wanita lain saat kita berdua."


Sinta: "Kenapa?"


Adrean: "Hanya ada kita, ini awal dan akhir kamu menyebut nama wanita lain saat kita berdua."


Sinta: "Mas."


Ucapan Sinta terhenti saat itu sebab Adrean sudah melum***at bibir Sinta.


Sinta: "Apa'an sih. Malu dilihat orang."


Adrean: "Makanya panggil dengan benar."


Sinta: "Iya Sayang." Puas Bang Toyib."


Adrean: "Iya Sarimeh."


Aku akan selalu mencintai & menyayangimu. Karena kamu sangat cantik, baik dan sederhana. Jadi aku gak suka dengan wanita yang make up berlebihan atau segalanya yang berlebihan. Gak ada alasan kamu cemburu pada wanita lain. (penjelasan Adrean)


Mereka berdua pindah duduk di rerumputan dekat danau. Sinta menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Mereka menikmati malam panjang di sana.


Hampir tengah malam, udara semakin dingin. Pasangan suami istri itu mulai beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan menuju Villa.


Sinta: "Lumayan jauh juga."


Adrean: "Kenapa? Capek?"


Sinta: "Gak. Itung-itung olahraga.


Adrean tiba-tiba menggendong Sinta. Ia pun kaget dengan tindakan suaminya.


"Olahraganya didalem kamar saja." (Bisik Adrean).


Sinta minta diturunkan karena memang masih lumayan jauh jaraknya. Ia takut Suaminya kecapean.


Sampai di dalam kamar Adrean langsung meletakkan istrinya di atas ranjang. Ia sendiri langsung membuka bajunya karena keringat bercucuran.


Adrean: "Mana bayarannya sayang? Ularku sudah kelaparan nih. Minta tumbal."


Sinta: "Tadi kan aku sudah bilang minta turun."


Adrean: Katanya sayang ku mau olah raga, kalau jalan duluan ntar belum sempat olah raga udah kecapean.


Adrean berjalan mendekati Istrinya. Tanpa bicara ia mulai melum***bibis manis itu. Membuka pakaian Istrinya perlahan sampai tak tersisa. Sang suami mulai menikmati seluruh tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Sinta mendesah semakin keras. Hal itu membuat Suaminya semakin menggila dengan permainannya.


Malam yang semakin dingin. Hembusan Angin yang lembut menerpa tubuh mereka membuat mereka berdua semakin menikmatinya.


Akhirnya permainan diselesaikan beberapa jam. Hingga waktu hampir pagi. Pagi itu mereka berdua masih terlelap. Adrean bangun terlebih dahulu. "Hebat kamu sayang." Bisik Adrean tepat ditelinganya.


Sinta memang sangat kelelahan dengan kondisinya yang masih lemah. Adrean membiarkannya istirahat.


Adrean segera membersihkan diri kemudian mengambil laptopnya. Ia memeriksa semua e-mail masuk.


Sinta akhirnya terbangun. Ia mendapati suaminya sedang mengerjakan sesuatu di sofa. "Maaf aku bangun terlambat." kata Sinta


"Istirahatlah dulu kalau kamu masih capek." Balas Adrean.


Sinta segera bangun dan membersihkan diri. Ia ingin jalan-jalan karena nanti sore sudah pulang.


Adrean dan Sinta memutuskan jalan-jalan di puncak. Mereka melewati danau, hutan bahkan sungai yang airnya masih sangat jernih.


Waktu sudah sore. Mereka balik ke villa. Dalam perjalannan pulang Sinta berniat akan mengajak Mentari liburan ke puncak. Keinginan itu disampaikan pada Adrean. Ia pun menyetujuinya.


Ibu sudah menunggu dari tadi siang. Sampai di rumah memang sudah pukul 06.00. Mereka langsung membersihkan diri dan menuju ruang makan. Mereka makan dengan lahap bersama sang Ibu.


Selesai makan malam Sinta langsung pamitan pergi kekamarnya. Adrean masih bersama Ibunya. Ia akan pulang ke rumahnya besuk pagi. Adrean akan datang kembali saat Mentari liburan.


Mentari memang sangat merindukan sang nenek. Tidak mungkin lah keluarga Tuan Richat membiarkan anak gadisnya pergi sendiri.


Saat kembali ke kamar Adrean mendengar Istrinya sedang muntah-muntah di kamar mandi. Ia langsung menuju kamar mandi tanpa mengetuk pintu didapatinya sang istri sudah lemas tak berdaya. Sinta sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri apa lagi berjalan.


Adrean akhirnya menggendong dan meletakkan istrinya di atas tempat tidur.


Sepasang suami istri itu akhirnya tidur pulas. Karena besuk pagi mereka akan melakukan perjalanan jauh. Adrean selalu merasa nyaman jika tidur memeluk istrinya.


Pagi telah datang, sepasang suami istri itu sempat menikmati mentari pagi yang bersinar menghangatkan tubuh mereka.


Perjalanan ke rumah mereka akan sangat melelahkan. Sinta harus mempersiapkan dirinya.


Saat dalam perjalanan Adrean menceritakan alasannya yang membua ia jatuh hati pada Sinta. Kesederhanaan dalam sikapnya, termasuk riasannya yang ia gunakan sangat sederhana. Kebanyakan wanita memang memilih untuk merias dirinya dengan make up an tebal (Aku banget kalau ini). Itulah bedanya Sinta dengan wanita lain.


Mereka berpapasan dengan Lala di jalan. Adrean menghentikan mobilnya dan menyapanya. Sinta sudah tidak memiliki rasa cemburu lagi. Sinta hanya terdiam dalam mobilnya.


Lala menanyakan nomor ponsel Adrean. Ia tidak memberikannya. Adrean telah mengganti nomor ponselnya. Nomor yang hanya digunakan untuk menghubungi Istrinya. Sedangkan nomor ponsel yang digunakan untuk keluarganya sudah beda lagi.

__ADS_1


Urusan kantor sudah ditangani Briyan. Ia kembali menjadi asistennya. Bahkan dengan sekertarisnya sendiri dia tidak percaya.


Sinta yang sering muntah-muntah merasa lemas. Ia tidur dalam mobil dengan nyentak. Adrean sesekali melihat Istrinya yang sedang tidur.


Sinta badannya terlihat semakin kurus saja. Semua makanan yang ia makan selalu dimuntahkan lagi.


Adrean tidak bisa melihat istrinya semenderira itu. Tapi Ia juga ingin memiliki anak. Sedang Sinta sangat senang dengan kehadiran buah hatinya.


Adrean berencana akan menemui dan bertanya pada Dokter kandungan yang menangani yang istrinya itu. Obat untuk menangani rasa mual dan muntahnya.


Sebelumnya Ia akan pergi ke rumah Bunda. Ia ingin melihat Bundanya yang juga sedang mengandung.


Rumah Adrean semakin dekat. Sinta belum juga bangun. Ia melajukan mobilnya dengan hati-hati. Sampai di rumah Ia langsung menggendong istrinya ke kamar.


Menggendong istrinya memang bukan hal yang luar biasa lagi. Bahkan setiap hari ia lakukan.


Usia kandungan Bunda sudah tiga bulan sedangkan Sinta baru satu minggu. Adrean jadi berpikir kalau rumah banyak anak-anak pasti ramai.


Waktu sudah sore. Sinta mulai terbangun. Ia mencari sosok suaminya. Akhirnya ia turun menuju dapur. Ditemuinya Sang Suami sedang memasak sesuatu.


Aroma yang menggugah selera. Sinta mendekat dan menuju ruang makan menunggu suaminya yang sedang memasak sampai selesai.


Adrean: "Sayang, kau sudah bangun?"


Sinta: "Iya lah sayang. Kalau belum aku gak mungkin sudah duduk di sini."


Adrean: 😔😔😔😔 (mukanya masem)


Sinta: "Kenapa itu wajah ditekuk gitu."


Adrean: "Gak papa."


Sinta: "Laper nih Yang.l


Adrean kemudian ke dapur mengambil semua masakannya. Ia meletakkan di meja makan. Belum selesai dikeluarkan semua Sang Istri sudah melahap habis semua tanpa sisa.


Adrean: "Beneran ni kamu yang habisin?"


Sinta: "Iya, emang gak boleh?"


Adrean: "Boleh lah tapi ini terlalu banyak Sayang. Perut kamu gak apa-apa?"


Sinta: "Gak papa."


Adrean menunggu istrinya, siapa tahu seperti biasa setelah makan langsung memuntahkan semua lagi. Beberapa jam Ia menunggu istrinya tapi gak terjadi sesuatu. Tapi itu porsi yang sangat banyak.


Sinta mengajak Sang Suami ke rumah Ayah dan Bundanya. Selama hamil Ia belum pernah berkunjung ke sana. Sinta juga merasa kangen dengan Adiknya itu. Si Tuan Putri yang cantik, pintar dan suka ngejahilinnya.


Adrean sebelumnya juga ingin mengajak Istrinya. Tapi keduluan sama istri yang ngajak. Ia jadi berpikir mungkin l


selama hamil ia akan memiliki kemampuan membaca pikiran orang.


"Iya benar." Kata Sinta.


"😁😁😁😁" Adrean hanya tersenyum.


Sinta hanya menganggukkan kepala. Tidak berapa lama Ia pun menyusul ke kamar menyiapkan pakaian gantinya.


Adrean keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan dipinggang. Sinta melihatnya tanpa berkedip. Waduh badan suamiku begitu kekar berbentuk ( batin Sinta)


"Air liurnya tuh netes." Goda Adrean.


Sinta yang menyadari itu malu sendiri dibuatnya. Akhirnya Ia langsung mengambil jubah mandi dan pergi ke kamar mandi.


Adrean dan Sinta bersiap pergi ke rumah Ayahnya. Adrean terlihat sangat segar sedangkan Sinta badannya semakin kurus.


Adrean selalu melihat keadaan Sinta. Sinta terlihat sangat santai. Dalam perjalanan mereka saling bercanda dan tertawa.


Di kediaman Tuan Setia mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Kebiasaan mereka setelah makan mereka berbincang bersama. Karena Mentari sebentar lagi juga akan ujian kenaikan kelas, mereka lebih fokus belajar dengan Mentari.


Saat belajar Mentari terkadang harus mendengarkan kedua orang tuanya bertengkar. Pertengkaran itu membuat suasana mencair. Sinta yang tadinya tegang dibuat tertawa. Pertengkaran mereka hanya sebuah candaan.


Pintu gerbang utama dibuka. Adrean datang tanpa pemeriksaan sama sekali. Penjaga pintu sudah mengenal beliau anak Tuan Richat.


Tanpa memencet Bel Sepasang suami istri itu langsung masuk. Mereka langsung menuju ruang keluarga. Itu sudah menjadi kebiasaan keluarga Tuan Richat jadi Adrean dan Sinta sudah hafal.


Adrean dan Sinta mengucapkan salam bersamaan "Assalamualaikum"


Anggota keluarga Ayah pun menjawab serempak: "Wa'alaikumsalam."


Mentari yang baru asik mengerjakan tugas sekolah langsung berlari menuju ke dua kakaknya. Ia langsung memeluk mereka karena rasa kangennya yang sudah terlalu dalam.


Mentari langsung digendong dalam pelukan Adrean dengan manjanya.


Mentari: "Abang Ganteng sekarang sibuk banget ya?"


Adrean: "Kenapa Tuan Putri?"


Mentari: "Tari kan kangen."


Adrean: "Baru juga dua Minggu gak ketemu udah kangen sama Pangeran yang satu ini. Pangeran yang sangat tampan di dunia ini.


Mentari dan Sinta: " Ia kalau dilihat dari lubang semut." 😄😄😄😄


Adrean: "Benerkan nyatanya Kakak Sinta saja bisa jatuh cinta sama Abang."


Sinta: "Yakin?"


Adrean: "Se..... yakin-yakinnya."


Sinta: "Gak kali Dek, dulu tu Abang kamu suka ngancem & maksa."


Adrean: "Sayang jangan suka buka kartu ah!" (Bisik Adrean).

__ADS_1


Sinta: "Tu kan bener."


Adrean: "Kalau gak jatuh cinta sama aku mana mungkin kamu bisa cepet bunting."


Semua dalam ruangan itu tertawa penuh bahagia. Sinta mendekati Mentari ia mengajarinya mengerjakan tugas seperti dulu. Ayah, Bunda dan Adrean sedang berbincang-bincang di ruang tamu.


Tugas Mentari selalu cepat selesai kalau dibantu kakaknya Sinta yang pintar & cerdas. Mereka berdua bercerita banyak hal yang terjadi di Sekolah.


Di ruang tamu Adrean, Ayah, dan Bunda sedang membicarakan tentang perusahaan mereka. Adrean akan memegang perusahaannya Bunda untuk sementara waktu. Perusahaan Sinta belum ada keputusan. Kemungkinan Suaminya sendiri. Soalnya Sinta sering muntah-muntah gak jalas.


Adrean akhirnya bertanya seputar kehamilan.


Adrean: Bun, apa Bunda juga mengalami mual dan muntah?"


Bunda: "Ya, iya lah Mas Bejo Mas Bejo."


Ayah dan Adrean tertawa mendengar sebutan itu.


Mentari dan Sinta tiba-tiba muncul. Mendengar mereka tertawa Sinta pun bertanya.


Sinta: "Ada apa ini Sayang, kok semua tertawa? Emang ada yang lucu?"


Bunda: "Iya, ada penghuni baru."


Sinta: "Siapa Bun?"


Bunda: "Itu Mas Bejo."


Suasana di ruangan itu jadi ramai. Gelak tawa terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Semua pembantu jadi heran dengan kelakuan pemilik rumah. Biasanya hanya penuh ketegangan tapi malam ini semuanya mencair seperti es yang mencair.


Adrean dan Sinta malam ini dilarang pulang oleh Tuan Putri. Tat kala Tuan Putri sudah mengambil keputusan tak ada yang berani mengubahnya.


Mentari memang sangat manja tapi dia tahu apa yang harus dilakukan. Dalam setiap keputusan yang terpenting sekalipun ia bisa berpikir lebih dewasa. Ayah dan Bundanya sangat bangga. Perusahaan kadang kala membutuhkan masukan nasehat darinya dalam mengambil keputusan.


Malam ini Mentari ingin tidur bersama kedua kakaknya. Ayah dan Bunda melarang karena merasa tidak enak. Adrean dan Sinta tidak keberatan. Apalagi Adrean yang harus bisa menahan diri.


Waktu sudah larut malam tapi Mentari masih ingin bersama mereka semua. Sinta tidak ingin adiknya itu tidur terlalu larut sehingga ia mengajaknya istirahat.


Adrean dan Sinta pergi ke kamarnya. Mereka membersihkan diri. Mentari yang sudah selesai membersihkan diri Mentari langsung menyusul ke kamar Kakaknya.


Mereka bertiga tertidur dengan lelap. Menjelang pagi hari Sinta dan Mentari memimpikan hal yang sama. Mentari bersama dengan ke tiga anak laki-laki yang sama usianya sedang bermain. Mereka bermain di sebuah rumah yang sangat besar yang berada di sebuah desa terpencil.


Mimpi itu membuat Sinta dan Mentari tidak bisa tidur kembali. Sinta menanyakan pada Adiknya yang saat itu tidak tidur kembali. Mentari bercerita pada kakaknya Sinta. Hatinya bertanya-tanya kenapa mimpinya sama. Bunda tidur di kamar yang berbeda pun bermimpi yang sama juga.


Pagi akhirnya datang juga. Mentari pagi bersinar menghangatkan tubuh. Berbeda dengan Mentari Tuan Richat pagi ini wajahnya terlihat kurang bersemangat.


Berangkat sekolah Mentari diantar oleh kedua kakaknya. Sebelum memasuki ruang kelas kak Sinta berpesan mimpi adalah bunga tidur, jadi jangan terlalu dipikirkan.


Mentari sampai di kelas hanya termenung. Ia memikirkan tentang mimpinya tadi malam yang sama dengan kakaknya terasa sangat nyata.


Salah satu teman barunya menyapa. Mentari hanya melamun di kelas. Rio merasa Mentari cukup pendiam hari ini.


Cindy mengajaknya bermain di halaman sekolah Mentari menolaknya. Sindy akhirnya bertanya kepadanya.


Cindy: "Tar, sebenarnya ada apa dengan mu hari ini?


Mentari: "Gak ada apa-apa kok Cin."


Rio: "Gak mungkin lah gak ada apa-apa. Dari tadi aja gue lihat elu mukanya kusem.


Mentari tetap saja diam, ia berusaha tersentum. Bel masuk berbunyi mereka mengikuti pelajaran dengan baik. Hanya saja Mentari yang tidak bisa konsentrasi.


Guru hanya melihat Mentari dengan biasa saja. Pelajaran berlangsung dengan baik. Seusai pelajaran Gurunya bertanya padanya kenapa Mentari tidak seperti biasanya yang banyak bicara dan selalu cool.


Mentari dikenal sebagai siswa yang pintar dan cerdas disekolahnya. Ia sangat ramah pada siapa saja. Apabila ada yang menyimpang ia selalu menegurnnya secara langsung tanpa kenal status atau pun kedudukan.


Mentari pun tak menjawab semua pertanyaan baik dari guru atau pun temannya. Sesosok Alfian yang selalu mengganggunya tiba-tiba muncul dalam fikirannya.


Alfian memang sudah tidak bersekolah di situ. Ia jadi tidak ada yang menjahilinya. Bel tanda pulang sekolah berbunyi.


Tepat saat itu Kak Sinta sudah ada menunggunya di pintu gerbang. Mentari langsung berlari menuju Kakaknya.


Sinta: "Mukanya kok mendung ya?"


Mentari: "Bukan langit kakak."


Sinta: "Yaudah yuk pulang Sarimeh." Dari pada Ambyar kakak nanti yang repot."


Mentari: "Baiklah, Paijem. Kakak sekarang tambah pinter bercandanya."


Sinta: "Udah tadi malem mimpinya jangan dipikirin."


Mentari: "Tapi beneran kayak nyata. Aku jadi takut."


Sinta yang mengendarai mobil dengan sedang. Mentari melihat sosok yang ia kenal. Ia berada di area sekolah yang terkenal dengan anak-anak didik yang pintar dan juga elite.


Pikiran Mentari jadi gak tahu arah. Sinta tahu bahwa adiknya juga sedang berpikir tentang temannya. Ia tahu tanpa Mentari harus cerita. Menbaca pikiran orang jarang sekali meleset sejak ia hamil.


Sudah jangan difikirkan kau akan satu sekolah lagi dengannya. Ia punya alasan harus mempercepat studinya." Ceros kakak Sinta.


Mentari jadi malu Ia mulai mencari topik pembicaraan lain.


Sinta sebenarnya juga kepikiran tentang mimpinya. Ia tahu itu akan jadi kenyataan.


Akan ada kebahagiaan dan ada yang akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Pikir Sinta. Tapi Siapa dan bagaimana Ia pun tidak tahu.


Alfian yang masih di sekolah ia juga merindukan orang yang bisa dijahilinya itu. Setiap hari ia selalu pergi keperpustakaan. Waktu istirahatnya habis di sana.


Makan siang Alfian tidak pernah pergi ke kantin. Ia selalu. membawa bekal sendiri. Kalau ke kantin akan banyak memakan waktu.


Ada temannya yang mengatainya ia anak yang tidak selevel dengan mereka. Ia masuk ke situ karena biasiswa. Mereka tidak tahu Ia adalah pemilik sekolah itu.


Sampai dikediaman Tuan Richat, Sinta hanya mampir sebentar. Ia tidak ingin membuat suaminya khawatir karena ia pergi lama. Sebelum pergi Sinta berkata "Tersenyumlah Semua Akan Indah Pada Waktunya."

__ADS_1


Mentari hanya bisa berdoa semoga dilimpahkan keselamatan pada keluarganya. Dengan kata-kata kakaknya Ia lebih bisa rersenyum. "Mentari akan terlihat lebih indah besuk." Teriak Mentari.


Siang itu ia mencoba memejamkan matanya setelah makan siang. Ia masih bermimpi dengan hal yang sama. Ketika bangun ia masih memikirkan hal yang sama. "Sudahlah mimpi bunga tidur. Sebaiknya aku siapkan tugas-tugas ku."( Bisiknya


__ADS_2