
Ayah dan Adrean sangat senang. Kegembiraan mereka tidak mungkin diperlihatkan di depan orang asing. Setelah Dokter itu pergi Ayah meledek Adrean.
Ayah: "Ular mu berbisa juga ya Yan?"
Adrean: "Iya lah. Setiap malam kan lembur. Bahkan lebih lho."😁😁😁😁
Ayah: "Buka rahasia ya?"
Adrean: "Terpaksa Yah."
Ayah: "Hati-hati lho ntar cepet bosen."
Adrean: "Gak akan, yakin deh... Dari pada Ayah selama Bunda hamil, dipuasain tu ularnya. 😊😊😊
Ayah dan Anak ini berkelakuan seperti seorang sahabat. Mereka bercerita tanpa ada rasa canggung.
Adrean menutupi tentang kelemahannya akibat obat perangsang yang tak sengaja diminumnya.
Anak mu memang membawa keberuntungan buat kalian. Adrean kemudian terdiam "Ya hari ini memang ada 2 kebahagiaan perusahaan Sinta dan anak ku.
Adrean dan Ayahnya sedang barbahagia atas kehamilan Sinta. Ayah yang pagi ini ada rapat penting pamit pada Adrean. Ia minta dikabari kalau Sinta sudah sadar.
Mentari yang datang lebih awal. Ia berjalan menuju ruang kelas yang baru. Saat akan memasuki kelasnya ia merasa ada yang mengawasinya.
Kelas ini lumayan nyaman dan tenang. Mentari gadis yang periang, banyak gaya, cerewet sedikit arogan. Berbeda sekali dengan kakaknya Sinta yang kalem dan banyak diam. Tari bisa menyesuaikan diri dengan Sinta. Sinta bisa memberikan banyak nasehat kepadanya saat Ia lepas kendali.
Rio teman pertama di kelasnya. Mentari selalu memilih bangku paling depan tepat dengan papan tulis. Itu yang diajarkan Kakaknya Sinta. Tujuannya agar cepat mengerti.
Rio yang datang setelah Mentari. Rio memutuskan duduk sebelah kanan meja Mentari.
Mentari yang baru dikelas ini harus bisa menyesuaikan diri dengan kelas dan teman-temannya.
Rio: "Baru ya?"
Mentari: "Gak tuh?"
Rio: "Kok aku baru liat."
Mentari: "Masa Sih? Aku tiap hari dateng ke Sekolah kok."
Rio: "Berarti kamu pangkas kelas dong."
Mentari: "Ya begitulah."
Rio terpana dengan kecantikan teman barunya ini. Ia berusaha mendekatinya. Cindi yang melihat Rio sudah berbincang dengan Mentari mencoba menyela pembicaraan mereka.
Cindi: "Siapa Yo? Anak baru ya?"
Rio: "Begitulah."
Mentari: "Kenalin aku Tari."
Cindi: "Aku Cindi. Senang kenalan dengan mu."
Rio dan Cindi menjadi teman dekat Mentari. Alfian adalah cowok cool yang sangat ganteng seperti seorang pangeran. Mentari dan Alfian memang dari keluarga yang memiliki status yang hampir sama.
Alfian datang paling akhir dibandingkan teman-temannya. Terhitung dari usianya Alfian lebih tua sedikit dari Mentari.
Alfian: "Wuih, ada cewek baru nih." (Sambi mengacak rambut Mentari)"
Mentari: "Sopan dikit kenapa kak."
Alfian: "Emang kenapa?"
Mentari: "Jaga tuh tangan."
Alfian: "Itu baru rambut, belum yang lain." (celetuknya)"
Mentari yang baru dikelasnya terdiam. Ia tidak ingin membuat masalah. Alfian dengan kejadian baru saja merasa tertarik dengan Mentari yang galak padanya. Anak gadis pertama yang berani membalas segala perbuatannya.
Cindi dan Rio hanya heran melihat Mentari yang begitu beraninya pada Alfian.
Cindi: "Tar udah lah jangan ngambek, ntar cantiknya ilang lo. Alfian memang kayak gitu. Berbuat sesukanya.
Rio: "Tapi tenang aja bentar lagi dia juga udah kelar sekolah di sini."
Mentari mendengar kata pindah seakan hatinya tidak rela. Ia sendiri juga merasa heran. Hatinya seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Alfian yang duduk tepat dibelakangnya walaupun baru sehari kenalan ingin memandangnya selalu.
Bel berbunyi semua anak mengikuti pelajarannya dengan baik. Apalagi Alfian ingin segera menyelesaikan sekolahnya disitu.
Bel istirahat berbunyi. Mentari hanya diam di kelas. Ia mengulang mengulang kembali pelajaran tadi dan mengerjakan tugas dari gurunya.
Rio dan Cindi mengajaknya ke kantin. Mentari menolaknya ia merasa masih kenyang. Saat bel masuk berbunyi selesai semua pekerjaan yang dikerjakan Mentari.
Rio dan Cindi sudah masuk kelas. Alfian mencoba mencari perhatian pada Mentari.
Tapi Mentari sudah fokus pada pelajarannya.
Pulang sekolah Mentari langsung menuju mobil yang menjemputnya. Mobil dengan sopir pribadi kepercayaan ayahnya.
Alfian melihat Mentari pergi dengan mobil itu. "Mobil mewah." bisiknya. Ia tahu karena Daddynya sendiri punya mobil seperti itu.
Alfian sebentar lagi masik Sekolah Dasar tinggal satu bulan. Pulang sekolah Ia langsung ke toko buku mencari buku penunjang untuk sekolahnya. Daddy dan Mammynya selalu sibuk tidak ada waktu. Tapi dia sendiri paham kalau mereka sangat menyayanginya.
Mentari pulang dan disambut Bundanya. Ia langsung menuju kamar dan berganti pakaian kemudian membaringkan tubuhnya.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk Sang Bunda. Bunda mengajak makan Mentari. Bunda dan Mentari turun ke ruang makan. Di sana sudah disediakan berbagai macam makanan dan lauk.
Saat makan Bunda melihat Mentari secara intens. Selesai makan Bunda bertanya pada anaknya itu.
Bunda: "Sayang, tadi di Sekolah gimana?"
Mentari: "Baik kok Bun, Mentari bisa ngikuti."
Bunda: "Tadi kamu gak makan di kantin?"
Mentari: "Gak Bun, tadi aku ngerjain tugas."
Bunda: "Rajin amat kamu Sayang."
* * * * *
Di kediaman Tuan Adrean.
Adrean sedang menunggu istrinya yang pingsan sendirian, karena Ayah sudah pergi ke kantor. Akhirnya Sinta mulai sadar. Adrean semakin sayang pada Sinta.
Adrean: "Sayang makasih ya.?
Sinta: " Ada apa?"
Adrean: "Selama ini kamu telah melayaniku dengan baik tanpa mengenal waktu."
Sinta: "Itu sudah menjadi kewajiban ku Sayang."
Adrean: "Kamu mengandung anak ku." (Adrean memeluk Sinta erat).
Sinta yang mendengar dalam tubuhnya ada malaikat kecil sangat senang. Tiba-tiba Sinta sendiri yang berhasrat siang itu. Adrean jadi heran tapi mereka melakukannya juga.
Adrean ingin memanggil dokter kandungan. Ia takut terjadi sesuatu pada Sinta dan calon bayinya. Karena Dokter Mawar bilang Sinta sangat lemah kondisinya saat ini.
Adrean dan Sinta masih tertidur setelah bekerja siang ini. Setelah terbangun mereka masih bermanja-manja di atas tempat tidur. Belum sempat membersihkan diri Adrean menegang karena Sinta membisikkan sesuatu. Akhirnya terjadi pertempuran lagi.
Sinta yang kelelahan berusaha bangun menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Adrean yang atletis tak mengenal lelah.
Adrean tahu istrinya kelelahan ia mengajaknya keluar makan malam. Sinta minta makan malam di warung kaki lima. Akhirnya mereka berangkat dan makan di warung dengan lahapnya.
Saat perjalanan pulang ke Adrean bermaksud memanggil dokter kandungan tapi atas ijin Sinta. Sinta menolaknya, ia lebih suka datang ke rumah sakit sebab di sana fasilitasnya lengkap.
__ADS_1
Adrean mengijinkannya untuk periksa ke rumah sakit. Sinta sebenarnya tidak suka dengan rumah sakit yang mengandung kenangan buruk.
Pagi hari Adrean dan Sinta pergi ke rumah sakit. Sampai di sana Ia sudah disambut oleh semua petugas rumah sakit. Saat memasuki rumah sakit Sinta meneteskan air matanya.
Adrean: "Sayang kamu kenapa?"
Sinta: "Aku gak papa Sayang."
Akhirnya mereka melangkah masuk ke dalam ruang dokter kandungan. Mereka bisa masuk dahulu karena sudah ada janji dengan dokternya. Selain itu rumah sakit ini adalah milik Adrean.
Adrean melihat Sinta yang meneteskan air mata saat diluar tadi ingin bertanya lebih lanjut. Tapi niatnya diurungkan karena bukan waktu yang tepat.
Adrean menanyakan keadaan istrinya pada dokter kandungan. Dokter hanya menyarankan untuk menjaaga kestabilan emosi istrinya yang bisa berdampak pada kandungannya yang masih sangat muda.
Dokter memberikan vitamin dan penguat kandungan pada Adrean. Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit menuju Apotik untuk mengambil obat dan vitamin untuk Sinta.
Ponsel tiba-tiba berdering panggilan masuk dari Ayahnya. Ia menanyakan kabar Sinta. Karena sangat bahagia Adrean lupa memberinya kabar.
Adrean merasa bersalah karena lupa memberitahukan keadaan Sinta yang sedang mengandung. Ia jadi ingat belum memberitahukan pada Ibunya.
Adrean: "Hallo. Ayah maaf aku lupa karena senangnya."
Ayah: "Dasar kamu itu anak terkaya."
Adrean: "Amin."
Ayah: "Ya sudah gimana keadaan istrimu?"
Adrean: "Baik. Cuma butuh banyak istirahat."
Ayah: "Jaga cucu sang penguasa, awas kalau terjadi sesuatu pada mereka Raja mu ini akan marah."
Adrean: "Iya." (Jawab Adrean sambil tertawa bersama).
Ayah: "Sudah dulu. Lain kali kita ketemu."
Begitulah Ayah dan anak kalau lagi berbincang, tidak ada status atau batasan. Mereka terlihat seperti seorang sahabat.
Adrean dan Sinta hari ini berencana akan ke rumah Ibu. Pagi ini mereka mempersiapkan segala sesuatunya. Sinta yang kondisinya masih sangat lemah sangat diperhatikan oleh Adrean.
Perjalanan menuju rumah ibu Adrean memang sangat jauh. Sepanjang perjalanan Sinta hanya tidur menyandarkan badannya di kursi mobil. Adrean sangat khawatir tidak biasanya ia tidur dalam perjalanan.
Adrean memandangi wajah cantik istrinya dengan penuh kasih sayang. Sesekali ia berhenti menanyakan keadaan istrinya.
Sinta melihat tukang bakso yang berjualan. Penjual bakso itu sudah tua. Adrean kaget karena Sinta tiba-tiba berteriak ingin makan bakso.
Mobil melaju lumayan kencang, sehingga saat istrinya berteriak tukang bakso sudah terlewat jauh. Adrean akan membelikan bakso di warung depan katanya.
Di sebuah warung bakso Adrean berhenti. Sinta tidak mau turun dari mobil. Ia malah menangis dan merengek seperti anak kecil.
Sinta bilang cuma mau bakso tadi di pinggir jalan yang pakai gerobak. Adrean pun bingung, dua hari ini ia tidak mau makan kalau makan pun selalu muntah-muntah.
Adrean akhirnya mengalah menuruti kemauan istrinya. Abang tukang bakso tadi sudah hampir mau pergi.
Mobil berhenti tidak jauh dari penjual bakso. Sinta langsung berlari kecil menuju penjual bakso. Ia tidak sadar kalau sedang mengandung.
Melihat Sinta berlari Adrean berteriak karena khawatir terjadi sesuatu. Sinta langsung duduk di bawah pohon yang rindang. Ia memesan bakso dua porsi.
Sinta akhirnya memakan bakso itu dengan lahapnya. Suaminya hanya menggelengkan kepala.
Adrean: "Sayang kalau makan pelan-pelan."
Sinta: "Iya, kok gak dimakan baksonya Sayang?"
Adrean: "Kamu aja yang makan."
Sinta: "Enak kok sayang. Kamu makan aja nanti aku pesen lagi kalau masih laper."
Adrean yang melihat istrinya merasa heran, karena kali ini ia tidak memuntahkan makanannya. Sinta yang melihat sang suami tidak segera memakan makanannya langsung mengambil bakso yang ada di depannya.
Sinta akhirnya menyuapi suaminya dengan penuh kasih sayang. Mulanya Adrean menolak dengan alasan bisa makan sendiri. Sinta menyuapinya sampai habis.
Sinta terlihat bahagia setelah makan. Ia memanggil penjual baksonya hendak membayar. Penjual bakso itu pun mendekat ketika hendak pergi Sinta menahannya.
Penjual Bakso: "Rp 30.000,00 .Neng"
Adrean mengeluarkan uang Rp 100.000,00 untuk membayar baksonya. Ketika akan memberikan kembalian, tiba-tiba Sinta menolak kembalian itu.
Penjual Bakso: "Terimakasih Tuan, ini kembaliannya."
Sinta: "Sama-sama Bang, ambil saja kembaliannya."
Penjual Bakso: "Terimakasih, Neng."
Sinta: "Tunggu Bang, kenapa sepertinya Abang terlihat ada masalah ya?"
Tanya Sinta secara tiba-tiba.
Penjual Bakso: Ia Non, Istri saya baru masuk rumah sakit. Biaya tidak ada."
Sinta: "Di Rumah Sakit mana Bang?"
Penjual Bakso: "Rumah Sakit A."
Sinta: "Pindahin aja ke Rumah Sakit X."
Penjual Bakso: "Mana mungkin Neng. Di Rumah Sakit itu saja saya gak tahu bagaimana bayarnya. Apalagi itu Rumah Sakit paling bagus."
Sinta: "Ya sudah Bang, kalau Abang gak bisa pindahin biar saya yang pindahin."
Penjual Bakso: "Tapi Neng... "
Sinta: "Udah Abang percaya saja sama saya."
Penjual Bakso: "Terimakasih Neng."
Adrean dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana istrinya tahu kesulitan orang
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Setelah makan bakso istrinya jadi lebih ber-energi. Makanan yang ia makan baru saja tidak dimuntahkan.
Sinta mencari ponselnya di dalam tas. Ia terus memegang ponsel itu. Mentari menghubunginya tak berapa lama. Ia menanyakan keberadaan mereka.
Perjalanan yang lumayan jauh membuat keduanya lelah. Sampai di rumah sang ibu rasanya Sinta ingin segera merebahkan tubuhnya.
Ibu segera menyuruh mereka masuk dan istirahat. Ibu juga belum tahu maksud kedatangan mereka. Ibu akhirnya membersihkan kamar Anaknya sendiri.
Adrean memang sejak dulu tidak suka kamarnya dibersihkan oleh orang lain. Ibunya memang memiliki pembantu sejak Adrean menjadi seorang pengusaha.
Kamar Adrean selalu terkunci. Hanya Ibu dan Adrean yang memegang kunci itu. Setelah selesai dibersihkan oleh ibunya. Adrean dan Sinta menuju ke kamar mereka.
Mereka membersihkan diri kemudian tidur. Adrean tidur dengan memeluk istrinya dari belakang.
Mereka tidur satu jam setelah terbangun, tanpa sengaja Adrean menyentuh gunung kembar istrinya. Ia mulai menegang, tapi ragu dengan kondisi istrinya yang sangat kelelahan. Sinta sadar dengan itu, ia sudah berjanji akan menemaninya baik suka maupun duka.
Sinta memutuskan waktu itu untuk melayani suaminya. Adrean tidak berani menyentuhnya sehingga Sinta pun memberikan kode padanya. Sehingga terjadilah yang seharusnya terjadi.
Adrean dan Sinta semakin kelelahan. Mereka masih ingin bermalas-malasan dalam kamar. Ibu dan para bibi sedang menyiapkan makan malam.
Waktu sudah hampir malam. Mereka yang sedang bercumbu dalam kamar itu mulai membersihkan diri.
Adrean dan Sinta berjalan beriringan menuju ruang makan. Sinta kembali tidak punya selera makan.
Ibu menanyakan kenapa Sinta tidak mau makan. Adrean baru menceritakan kepada Ibunya kalau dia sedang mengandung. Ibunya sangat senang karena akan menjadi nenek.
Selesai makan malam Ibu bertanya pada Sinta apa yang ingin ia makan. Sinta hanya menjawab tidak ingin makan apa-apa.
Sinta mengajak jalan-jalan malam ini. Akhirnya mereka berjalan menyusuri jalan desa yang lumayan sepi.
Terdengar suara seorang perempuan minta tolong dengan sangat jelas. Adrean dan Sinta mencari sumber suara. Sinta diminta suaminya menunggu ditempat ini. Adrean pergi mencari suara wanita itu.
Adrean menemukan seorang wanita yang mengalami pelecehan. Ia hampir saja diperkosa untung saja Adrean datang tepat pada waktunya. Perkelahian pun terjadi. Adrean mengalahkan mereka tanpa lecet sedikit pun.
__ADS_1
Gadis itu akhirnya di bawa oleh Adrean menuju ke tempat tadi Sinta berada. Mereka menanyakan identitas gadis itu. Gadis itu diantar pulang oleh Adrean dan Sinta.
Hati Adrean semakin bertanya-tanya mengenai perubahan Sinta. Setiap kali ia meminta sesuatu pasti ada kejadian. Seperti ia memiliki kemampuan diluar batas manusia sejak ia hamil.
Waktu semakin larut, Adrean dan Sinta menuju rumah mereka. Ibu sudah lama menunggu, ia sangat khawatir. Mereka minta maaf pada Ibunya.
Waktu sudah sangat larut. Semua pergi ke kamar masing-masing. Malam ini Sinta tidur sendiri. Adrean membuka laptopnya membaca semua e-mail masuk yang terdapat banyak laporan penting.
Sinta terbangun ia tidak melihat suaminya. Ia ingin makan mangga muda. Mangga muda yang punya hanya tetangga sebelah rumah.
Sinta akhirnya keluar rumah sendiri. Ia melihat mangga muda yang bergelantungan di atas pohon. Tanpa sadar air liur pun keluar.
Tok-tok-tok
Sinta mengetuk pintu rumah yang punya mangga. Pemilik rumah akhirnya membukakan pintu. Lala nama anak pemilik rumah.
Lala: "Maaf kakak siapa? "
Sinta: "Aku Sinta Dek?"
Lala: "Kakak cari siapa?"
Sinta: "Kakak cuma mau minta mangga mudanya. Adek kok belum tidur?"
Belum sempat dijawab Sinta pingsan. Ia berteriak memanggil Ibu dan Bapaknya. Sinta akhirnya dibaringkan dikursi ruang tamu.
Pemilik rumah tidak kenal dengan Sinta sehingga menunggu Ia sadar. Saat sadar ia tidak ingat kejadian baru saja.
Sinta yang sedang linglung ditanyai oleh Lala mengenai dirinya. Dia lupa membawa ponselnya.
Di rumah Adrean selesai bekerja langsung pergi ke kamar. Ia mencari sosok yang sangat ia cintai. Setelah dicari ternyata tidak ia temukan. Adrean semakin gelisah, karena ponselnya istrinya tidak dibawa.
"Kenapa jadi seperti ini." Gumamnya. Adrean ingin menghindari Sinta agar tidak terjadi sesuatu yang membuatnya lelah.
Di rumah Lala, Ia ingin dua buah mangga muda. Orang tua lala merasa heran dengan permintaan Sinta. Untuk memanjat pun rasanya tidak mungkin, karena memang waktu yang masih malam. Akhirnya Ayah Lala mencari bambu untuk mengambil mangga muda di atas pohon.
Dua mangga sudah didapatkan. Orang tua lala hanya menebak kalau Sinta hamil. Sinta meminjam ponsel Lala lali ia mengirim pesan singkat pada suaminya.
Pesan diterima Adrean, hatinya sangat senang. Tanpa menunggu lama Ia langsung menyusul Istrinya dengan berjalan kaki. Memang karena tempat yang dituju sangat dekat. Ibu yang melihat kepergian anaknya merasa heran.
Di depan rumah Lala Adrean langsung mengetuk pintu. Setelah dibuka Ia langsung masuk sebelum dipersilahkan yang punya rumah. Ia mendapati istrinya yang sedang duduk dan langsung memeluknya erat.
Bapak & Ibunya Lala kaget ternyata yang dilihatnya itu adalah sosok anak kecil yang dulu pekerja keras di desa itu.
Bapak Lala: "Adrean."
Adrean akhirnya melepaskan pelukannya. Adrean pun mengenalnya.
"Bapak." kata Adrean.
Mereka berbicara banyak hal sampai pagi. Sinta akhirnya tahu kalau Lala dulu pernah menaruh hati pada Suaminya. Umur Lala dan Adrean memang tidak berselisih jauh. Karena Lala memang pandai berias wajahnya pun kelihatan lebih muda.
Pagi hari Adrean dan Sinta berpamitan pulang ke rumah. Mereka membawa dua buah mangga kemauan Sinta. Sebalum pergi Ibu Lala berpesan "Jagalah dua buah hati mu dengan baik."
Adrean dan Sinta seakan mendapat pesan yang tidak mereka mengerti maksutnya. Mereka melangkahkan kaki menuju rumah mereka. Ibu sangat cemas ketika tadi malam tergesa-gesa berjalan keluar rumah malam tadi.
Adrean mendapat pesan dari Lala. Muka suaminya tetap saja dingin. Tapi Sinta merasa cemburu padanya. Ia merasa heran juga dengan Erika ia tidak merasakannya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Sinta dengan segera merampas dan memblokir nomor Lala, sebelum Adrean sempat membalas pesan itu. Adrean hanya tersenyum. Adrean mengajak Istrinya istrinya istirahat di kamar.
Sinta menuju kamar sambil marah-marah marah. Suaminya hanya tersenyum dan sabar menghadapinya.
Sinta: "Seneng tuh ketemu sama penggemar mu yang cantik!"
Adrean: "Sayang apa sih?"
Adrean berusaha menenangkan istrinya.
Sinta: "Jangan peluk-peluk."
Adrean: "Gak boleh ya Jamileh?"
Sinta: "Apa lho bilang Bambang?"
Adrean: "Cemburu nih Sang Permaisuri?"
Adrean menarik Istrinya dengan kasar sampai Ia dalam pelukannya. Sinta yang nerocos terus tanpa ada titik koma akhirnya terdiam. Sinta dibungkam oleh Adrean dengan mulutnya.
Pangeran berhasil menghentikan permaisurinya. Sinta yang kelelahan akhirnya tertidur di dada bidang suaminya. Ia merasa nyaman tidur dipeluk suaminya.
Waktu sudah hampir siang, sepasang suami istri itupun belum bangun. Adrean yang kecapean karena menyelesaikan pekerjaan kantor juga masih tertidur. Sinta yang terbangun teringat dengan kedua mangganya.
Ibu melihat Sinta pergi ke dapur. Ia melihatnya mengupas mangga. Ibu menawarkan bantuan. Tapi Sinta menolak, ia tidak mau merepotkan ibunya.
Ting Tong- Ting Tong
Bel berbunyi tidak biasanya ada tamu. Ibu membuka pintu ternyata yang datang Lala. Ibu tidak pernah mengandalkan pembantunya selagi ia masih bisa atau punya waktu mengerjakannya sendiri.
Ibu: "Oh, Kamu La."
Lala: "Iya Tante. Adreannya ada?"
Ibu: "Ada, lagi istirahat di kamar."
Lala: "Boleh saya menemuinya di dalam?"
Ibu: "Maaf, La sebaiknya kamu balik. Takutnya nanti kamu kelamaan nunggunya."
Lala: "Gak papa Tan. Saya tunggu di sini saja."
Ibu memang sejak dulu tidak suka dengan Lala. Walaupun ia dari keluarga baik-baik dan terpandang. Sinta akhirnya bertanya pada ibunya siapa tamu yang datang.
Sinta: "Siapa Bu?"
Ibu: "Lala tetangga sebelah juga teman Suamimu Sin."
Sinta: "Mas Adrean biar saya bangunin saja Bu."
Ibu: "Gak usah biar bangun sendiri, kasian kecapean kerja semalam. Kamu temeni saja Lala di depan.
Sinta: "Gak ah Bu. Aku pingin makan mangga aja."
Ngomongin mangga Sinta tiba-tiba mengeluarkan air liur. Sinta akhirnya melahap habis dua mangganya. Ibu yang melihat saja merasa ngilu giginya.
Adrean bangun langsung menuju dapur. Ia takut Istrinya pergi lagi. Dilihatnya Ia sedang makan mangga muda sampai habis tak bersisa.
Sinta melihat suaminya belum mandi. Ia akhirnya menegurnya.
Sinta: "Wuih sedap".... sambil tersenyum manis.
Adrean: "Emang mie?"
Sinta: "Mandi sana!"
Adrean: "Ok. Permaisuriku."
Adrean dan Sinta pergi ke kamar. Adrean menuju kamar mandi sambil mengajak Sinta. Sinta sudah tidak mempedulikan kata-kata Suaminya. Dianggaplah angin lalu karena sebenarnya hatinya sudah panas seperti terbakar api.
Sinta menyiapkan pakaian Suaminya kemudian diletakkan di atas ranjang. Ia pergi menemui Lala di depan dan menyapanya.
Sinta: "Sabarlah, sebentar lagi Mas Adrean akan ke sini."
Lala: "Baiklah."
Lala terlihat sangat cantik dengan make up yang sedikit berlebihan. Adrean akhirnya datang. Sinta ingin menghindar, belum sempat melangkahkan kakinya Adrean sudah memegang erat tangannya.
Lala mau ngajak jalan Adrean tapi ditolak. Adrean akan mengajak Sinta jalan-jalan ke suatu tempat.
Lala: "Yan jalan-jalan yuk?"
__ADS_1
Adrean: "Maaf aku tidak bisa. Aku akan jalan-jalan dengan Istri tercintaku." (Sambil memeluk pinggang Sinta kemudian mencium keningnya dengan