Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 70. jagung bakar


__ADS_3

"Wah, ada jagung bakar tu Pa." Kata Mama sambil menunjuknya.


"Emang jagungnya Papa gak enak?" Tanya Papa.


"Papa dasar mesum." Kata Mama sambil mengerucutkan bibirnya.


"Itu bibir kenapa Ma? Kok manyun. Apa minta di lahap?" Tanya Papa.


Nenek berjalan di depan bersama ke empat cucunya. Karena waktu sudah sangat larut Papa mengajak mereka pulang istirahat karena besuk mereka masih ada acara lain


♥️♥️♥️♥️


Mereka sampai di rumah langsung menuju kamar masing-masing. Mereka langsung memberaihkan diri kemudian tidur.


Mentari masih berkutat dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Bimbang tapi harus direlakan juga. Orang yang ia sayangi dengan tulus harus menjadi milik orang.


Pagi telah datang. Mentari pagi sudah menembus gorden putih yang ada di setiap kamar. Mereka semua sudah bangun sejak subuh tadi.


Adrean menghubungi orang yang mengurus villa itu. Ia memberitahukan akan pergi ke sana pagi ini juga.


"Sudah persiapannya?" Tanya Adrean.


"Emang mau kemana sih Pa?" Tanya Garda.


"Yang jelas bukan ke jurang." Kata Tari.


"Emang kakak seputus asa itu?" Tanya Mama


"Cinta setengah mati ya?"Ledek Papa.


"Gak kali Pa." Jelas Tari.


"Kalau setengah mati nanti bisa-bisa koma dong." Canda Mentari.


Semua tertawa mendengar Mentari berkata seperti itu.


Mobil yang mereka kendarai melaju dengan sedang. Banyak kelokan yang harus dilalui. Perjalanan menuju Villa itu kurang lebih 2 Jam.


"Segar." Celetuk Axel.


"Emang es?" Jawab Garda.


"Iya segar bukan main alias dingin kayak Papa di Kantor gak ada ekspresi sama sekali." Lanjut Daffa.


"Biarin." Kata Papa sambil mengerucutkan bibir.


"Itu bibir kenapa Pa? Minta dikaretin apa?" kata Mentari.


Mendengar perkataan itu semua tertawa renyah. Tak lama mereka sampai.


Mama dan Mentari membelalakkan matanya karena terkejut bukan kepalang. Bukan karena Villanya yang megah tapi mereka mengingat kejadian dulu.


"OMG. Ini villa megah banget kayak istana." Kata Axel penuh kekaguman.


"Ini villa Papa?" Tanya Mentari.


"Bukan. Jawab Papa singkat.


"Lha trus punya siapa dong?" Kata Mama penasaran.


"Punya Kakak." Jawab Papa.


"Dulu sebelum Almarmum Ayah meninggal ia membuatkan Villa ini untuk mu. Beliau meminta agar diserahkan pada mu tepat pada waktunya." Jelas Papa.


Rasanya ingin menangis sekarang mengenang Ayah dan Bundanya. Mana mungkin ini bukan saat yang tepat. Hari ini rasa bahagia menyelimuti keluarganya saat ini. Ia tidak ingin merusaknya.


Ketiga saudara laki-laki sudah bermain berlarian kesana kemari dengan riang. Akhirnya Mereka pun ikut berkejar-kejaran.


Penjaga Villa itu menghampiri mereka.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Penjaga Villa


"Pagi Pak. Tolang bantu kami membawa koper-koper ini ya?" Pinta Papa


"Baik Tuan." Balas Penjaga Villa


Mereka masuk kedalam villa sambil mengaguminya. Mereka mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


"Pa sebelumnya aku sama mama dulu pernah melihat ini. Jadi Villa ini milik Ayah?" Tanya Mentari sambil mencubit hidung mancungnya.


"Ya, ia begitulah." Jawabnya.


"Tapi kenapa aku baru tahu sekarang?" Tanya Mentari.


"Iya cuma berpesan agar menyerahkan villa ini tepat pada waktunya.


Papa memberitahukan kamar kepada mereka. Mereka memegang kuncinya masing-masing. Mentari menempati kamar utama.


Mentari langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri. Pikirannya sudah berkecamuk berbagai pertanyaan.


Waktu beranjak siang seperti biasanya ketiga wanita itu berkutat dengan pekerjaan dapur. Papa terlihat sibuk menghubungi seseorang.


Ketiga anaknya itu bermain di depan villa dengan sangat senang. Taman yang luas, terdapat berbagai macam tanaman, ada danau alam yang sangat indah. Aneka macam mainan seperti ayunan, perosotan dan lain sebagainya sudah ada.


Besuk tiba saatnya hari Minggu. Hari dimana akan harusnya kebahagiaan putri kecilnya itu memiliki tambatan hati. Ayah sibuk dengan berbagai macam hal.


Makan siang telah tersedia di meja. Mereka semua makan dengan lahap. Apalagi ketiga anak laki-lakinya itu sedang masa pertumbuhan.


Makan siang telah selesai mereka melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada berbagai hal yang bisa mereka lakukan disana.


Nenek menemani ketiga kurcaci bermain di halaman belakang. Walaupun sudah cukup umur tapi masih saja memiliki cukup energi untuk menemani cucunya bermain.


Mentari berjalan menuju danau. Ia ingin melupakan semua penat hatinya. Ingatan masa lalu bersama kedua orang tuanya masih segar dalam ingatannya.


Rasanya baru kemarin aku bersama mereka. Sekarang mereka sudah bahagia dialam sana. Begilutah yang ada dalam pikirannya.


Mama menyusul anak gadisnya itu. Ia ingin berbincang-bincang dengannya.


"Ngapain duduk sendiri di sini sayang?" Tanya Mama.


"Ntar bisa kesambet lho." Lanjutnya.


"Gak Mah, baru menikmati udara segar yang gak ada di kota."


"Kalau masalah kesambet sih, maunya aku." Kata Mentari sambil tersenyum smirk.


"Besuk juga kamu pasti kesambet kok, tenang aja." Kata Mama.


"Iya kesambet sama semua laki-laki yang ada belakang villa." Jawab Mentari yang belum tahu kalau ia akan dijodohkan dengan seorang laki-laki muda yang sangat tampan.


Hari yang sangat menyenangakan buat mereka. Semakin sore udara semakin dingin. Mereka selesai mandi kemudian bersantai seperti biasa. Ada saja obrolan yang diciptakan.


Seusai sholat magrib mereka langsung menuju ruang makan dan menikmati makan malamnya.


"Villanya bagus ya seperti Villa impian."Kata Exel sambil berjalan menuju teras. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan liburan kali ini. Jarang sekali mereka liburan ke puncak seperti ini.


Daffa dan Garda pun mengikuti dari belakang dengan antusias. Tak berapa lama mereka berjalan mengelilingi keadaan Villa itu.


Mentari yang masih berada di dalam Villa itu membersihkan meja makan. Tidak lupa ia dibantu oleh Mamanya.


Acara membersihkan meja makan telah selesai. Mama berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Pa bagaimana kita memberitahukan pada anak itu?" Tanya Mama.


"Tenanglah aku yang akan bicara nanti malam." Jawab Papa.


Mentari menghampiri Papa dan Mamanya. Setelah selesai menyiapkan acara untuk bakar daging nanti malam. Hal itu diluar rencana mereka.


Sholat Isa' telah selesai. Mereka diajak oleh Mentari pergi ke belakang Villa.


"Wah, enak nih." Kata Papa.

__ADS_1


"Sekali-sekali lah ya, kita buat daging bakar sendiri." Kata Mentari


"Iya, yang mau jadi calon istri orang harus pinter masak tuh. Biar suaminya tambah sayang." Jelas Mama


Deg


Mentari jadi kaget mendengar perkataan Papanya.Ia pun mulai bertanya sangat dan sangat runtut dan detail.


Papa tidak memberikan banyak penjelasan. Jadi dipikirnya ia akan ditunangkan dengan masyarakat di desa itu.


Apa aku harus menerimanya, bahkan aku tidak tahu siapa dia. Apa aku akan bahagia.


Katanya dalam hati.


Kesedihan yang sangat mendalam sudah menggerogotinya.


Alfian juga akan ditunangkan, tidak ada salahnya aku mencoba untuk bahagia. Aku dan dia berarti sudah tidak ada harapan lagi.


Begitulah yang ada dalam pikiran Mentari.


Usai acara Memanggang daging dan mereka sangat menikmatinya. Mereka langsung menuju ke kamar masing-masing.


Mentari berjalan dengan sangat cepat menuju kamar. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.


Pintu kamar langsung ditutup. Ia langsung menuju tempat tidurnya. Ia tengkurap sambil menangis tersedu-sedu. Matanya sudah mulai sembab.


Mama tahu kegelisahan anak gadisnya itu. Ia takut kalau anaknya merasa tak ada yang mengerti kegelisahan hatinya.


Mama berjalan menuju kamar Mentari yang sudah tertutup itu.


Tok-tok tok-tok tok-tok


Suara pintu kamar diketuk.


"Masuk." Kata yang punya kamar sambil mengusap air matanya yang mengalir dengan cepat.


"Sudah tidur?" Tanya Mama.


"Belum, ini baru mau tidur." Jawabnya lagi.


"Apa kamu menangis sayang?" tanya mama lagi.


"Tidak, tadi waktu cuci muka kemasukan sabun." Jawabnya bohong.


"Sudahlah jangan banyak pikiran. Kamu harusnya percaya sama Papa dan Mama. Sudah larut malam segeralah tidur. Biar besuk kelihatan sangat cantik lebih dari bisanya." Jelas Mama sambil memeluk dan mengusap punggung Mentari dengan lembut.


Mama pun menunggalkan kamar anak gadisnya itu. Mentari segera menarik selimutnya dan berusaha memejamkan matanya.


Di ruangan lain Papa sedang memeriksa e-mail yang masuk. Tapatnya di kamarnya sendiri, sambil menunggu istrinya untuk istirahat.


Ceklek


Suara pintu kamar Papa terbuka. Papa melihat kedatangan istrinya itu lalu menutup laptopnya.


"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Papa.


"Kalau ketiga anak laki-laki itu sudah tidur tapi kurang tahu kalau Mentari." Jawab Mama.


"Soalnya tadi aku lihat sepertinya ia habis nangis deh Pa." Lanjut Mama.


"Ya sudah lah besuk ia pasti sudah baikan lagi setelah melihat calonnya." Kata Papa.


Cup


Papa mencium leher jenjang sang istri. Jantungnya seakan sedang berdisko tiap kali suaminya menyentuhnya. Padahal mereka sudah sering kali melakukan hal yang lebih intim.


Mama yang duduk ditepi tempat tidur seketika menoleh pada suaminya. Bantal yang dekat dengannya pun diambil dan dilemparkan pada yang suami.


Papa kaget dibuatnya karena pukulan itu. Pukulan yang cukup keras mengenai lengan suaminya.


"Aduh Mama, sakit tahu." Kata Papa sambil mengelus-elus lengannya. Walaupun sebenarnya tidaklah sakit sama sekali.


"Nanti kalau sakit gak bisa olahraga sama Mama gimana?" Lanjut Papa.


Ciuman singkat dibibir sang suami. Mama langsung saja memalingkan wajahnya karena malu.


"Ada apa sih Ma pakai acara pukul-pukul segala?" Tanya Papa heran.


"Papa mau ngapain pakai acara menggerayangi aku?" Jawab Mama ketus.


"Papa mau minta jatah ni sayang, ularnya berontak laper katanya." Jawab Papa sambil menunjuk ular pitonnya itu.


Mama tersenyum menarik kedua sudut bibirnya. Ia mengelus elus perlahan punggung suaminya.


"Maaf Pa, Mama gak bisa sayang. Mama baru datang bulan." Jelas sang istri.


"Kenapa Papa bisa lupa ya?" Kata Papa sambil menepuk jidatnya.


"Tapi Ma ini selang air kondisi on." Lanjut Papa.


"Yaudah Papa solo ria aja ya sana." Perintah Mama.


Papa pergi ke kamar mandi untuk mandi air dingin untuk menjinakkan itu ular kobra yang siap mematuk. Papa berada di dalam kamar mandi cukup lama.


Mama sudah tertidur sejak suaminya masuk ke kamar mandi. Ia ingin bangun lebih pagi karena harus menyiapkan segala sesuatunya untuk besuk pagi.


Papa melihat sang istri yang tidur seperti anak kecil. Tidur sambil memeluk guling. Papa mengamati wajah istrinya secara intens.


Melihat selimut yang dipakai istrinya cuma sampai pinggang Papa naik ke atas tempat tidur. Sebelum memejamkan matanya ia mengecup kening sang istri kemudian menaikkan selimut sampai di leher.


*** *** *** ***


Dikediaman utama keluarga Alfian


Keluarga itu juga baru sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa. Alfian saat ini anak tunggal dan dari keluarga yang sangat terpandang mereka berpikir untuk lebih istimewa walaupun tidak ada perayaan sama sekali.


Alfian malam ini juga sangat gelisah. Pikirannya apakah dia bisa mencintai gadis itu. Gadis yang sama sekali belum ia ketahui.


Alfian sedang merenung di kamarnya. Ziko sebagai sahabatnya itu pun diajak bersamanya. Monic malam itu juga membantu di sana.


Ceklek


Pintu kamar pun terbuka. Ziko tiba-tiba masuk tanpa permisi.


Ziko melihat sahabatnya itu tanpa ekspresi sama sekali mulai. Bahkan ia lebih dingin dari biasanya. Ia pun duduk di sofa tepat di samping Alfian.


"Hai Bro, kenapa kamu di sini?" Tanya Ziko yang tahu sahabatnya baru galau.


"Lha ngapain juga kamu malah disini?" Tanya balik Alfian.


"Yah aku kan pingin tahu kamu baru dimana?" Jawab Alfian


Ngomong-ngomong itu cewek yang mau ditunangkan sama kamu berarti gadis desa dong alias kembang desa" Katanya lagi.


"Bukan tawon desa." Canda Alfian.


"Berarti nanti bukan kamu yang ngentup tapi ceweknya dong." Canda Ziko. (ngentup itu menyengat ya. 😁😁😁).


"Ini hari bukan jaman Siti Nurbayakan, tapi jamannya Siti Nur Halisa kenapa mau sih dijodohin." Kata Ziko.


"Aku yakin pilihan orang tua ku juga baik." Jelas Alfian.


Aku tidak mau mengecewakan mereka yang selama ini sangat berjasa pada ku." Lanjutnya.


"Dasar anak Papi Mami." Ledek Ziko


Terdengarlah tawa renyah dari lantai atas. Walaupun tak berlangsung lama.


"Selamat aja deh ya kamu sebentar lagi terikat sama tawon desa." Kata Ziko sebelum meninggalkan kamar Alfian.


"Semoga kamu juga bisa menjaga perasaannya." Lanjut Ziko.

__ADS_1


Semua persiapan sudah selesai. Badan sudah terasa capek. Ziko dan Monik berpamitan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Waktu semakin larut. Keluarga Alfian juga sudah merasakan capek tapi hati mereka sangat senang dengan acara besuk pagi. Agar tidak terlambat merekapun segera tidur. Tapi tidak dengan Alfian yang hatinya galau. Ia masih sempat duduk-duduk di balkon.


*** *** ***


Di Villa Besar


Pagi akhirnya datang. Mentari sedang sibuk membantu Nenek dan Mamanya yang sedang memasak di dapur. Terlihat wajah lesu miliknya.


Selesai memasak dan menyiapkan segala sesuatunya Mentari segera mandi. Ia berias dan memilih pakaian dibantu oleh sang Mama.


Mentari bukan orang yang mudah dalam urusan berias. Ia seperti Almarhum Bunda dan Mamanya. Ia tidak suka berlebihan dalam segala hal.


Saat di dalam kamar anaknya terjadi obrolan kecil. Hal itu membuat hati Mentari lebih merasa tenang.


"Sayang kamu cantik banget." Puji sang Mama.


"Terimakasih Ma." Jawab Mentari singkat.


"Setelah ini kamu akan terikat oleh seseorang. Yang jelas Ia laki-kali yang sangat baik." Penjelasan Mama.


"Kamu harus selalu menjaga perasaan dan hatinya ya." Pesan Mama.


Walaupun Sang mama sudah menjelaskannya ia tetap saja terlihat menyembunyikan perasaannya. Tidak dapat dipungkiri ia telah jatuh hati pada seseorang.


🙏🙏🙏🙏


*** *** ***


Papa sudah berada di ruang tengah menunggu tamu yang akan datang. Ia mengawasi ketiga anak laki-laki nya yang tengah bermain dengan asiknya.


Papa meminta ketiga anak laki-lakinya untuk segera mandi. Mama sudah menyiapkan pakaian untuk mereka juga.


"Emangnya siaps yang mau dateng sih Pa?" Tanya Garda sangat antusias.


"Ada deh." Jawab Papa sambil tersenyum


Alfian dan keluarganya sudah bersiap untuk berangkat malam ini. Mereka berangkat tengah malam dengan sopir pribadi mereka. Mereka berharap bisa sampai pada pagi hari ini.


Alfian duduk disamping sopir kemudi sedangkan kedua orang tuanya di belakang sopir. Alfian menatap keluar kaca mobil dengan perasaan yang amboradul (berantakan). Kedua orang tuanya terlihat sangat bahagia.


Ziko menyusul bersama dengan Monic beberapa saat sesudah keberangkatan Alfian. Ia juga diantar oleh sopir pribadi Ziko.


Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir juga. Keluarga Alfian dan kedua temannya sampai di Villa sekitar pukul 10.00.


Suara mobil terdengar sudah terparkir di halaman depan villa. Alfian merasakan semakin sesak dadanya, begitu pula dengan Mentari. Mereka belum tahu akan bertunangan dengan siapa.


"Assalamualaikum." kata Alfian dan rombongannya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Adrean.


 


**Deg**


 


Alfian mendengar suara itu. Seperti tidak asing baginya. Ia pun segera keluar dari mobil ingin mengetahui suara siapa.


"Om." Teriaknya Alfian


"Hai Boy apa kabar?" Tanya Alfian.


Fix jelas sekarang ia akan bertemu dan bertunangan dengan siapa. Hatinya sekarang sudah lega.


"Tuan rumah belum mempersilahkan kita masuk. Kenapa kau nyelonong duluan." Cerocos Deddy Alfian.


"Kemarin aja wajah gak ada manis-manisnya." Lanjutnya.


Begitulah Sang Deddy bisa humoris dengan keluarganya. Alfian tahu ini kejutan yang dibuat sang Deddy yang selalu mengerjainya sejak kecil.


"Maaf ya Tuan tolong suara spikernya dikecilin sedikit, nanti bisa membangunkan Tuan Putri." Kata Adrean.


"Salah Tuan Adrean yang membangunkan Tuan Putri bukan suara spiker yang keras ini, tapi ciumannya." Kata Deddy.


Mommy yang mendengar candaan suaminya itu mencubit perut suaminya. Sebab suaminya itu selalu berpikiran mesum padanya dari awal menikah sampai sekarang.


Axel, Garda, dan Daffa pun yang biasanya berteriak saat Kak Alfian datang kali ini pun mereka menyambut dengan mengurangi sedikit suaranya. Ia sudah diberitahu oleh Sang Papa semuanya tadi pagi kalau ini adalah kejutan buat sang kakak.


Mama menggandeng putrinya itu menuju lantai bawah. Semua mata tertuju padanya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun yang berwarna abu-abu lengan pendek, sedikit belahan di depan dada dan panjang rok sampai sedikit diatas lutut membalut badannya.


Begitu juga Alfian yang membawa kemeja dengan jas berwarna abu-abu. Sepadan dengan pasangannya. Memang ini sudah direncanakan sebelumnya.


Mentari hanya berjalan menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap ke depan. Ia takut menghadapi mereka yang belum dikenalnya.


"Sayang, putri Papa dan Mama maafkan kami ya?" Kata Mama sebelum sampai tangga ke bawah.


Mama menangkap wajah anak gadisnya yang sangat cantik itu.


"Ini demi kebaikanmu, lihatlah kedepan. Jangan menunduk seperti itu." Kata Mama.


"Di bawah gak ada uang jatuh lho." Lanjut canda mama yang berusaha membuat anaknya tersenyum walau sedikit.


Saat turun dari tangga sungguh sangat terkejut mendapati keluarga Alfian di sana. Berbagai pertanyaan sudah mengisi otaknya.


Alfian menatap gadis yang akan turun dari lantai atas itu. Rasa kagum terlintas di kepalanya.


Monik menyenggol lengan Ziko memberikan kode untuk melihat ekspresi Alfian. Kedua teman yang ikut bersamanya sampai menyeletuk.


"Ati-ati itu mata nanti bisa lompat Bro." Peringatan Ziko.


"Emang katak bisa lompat?" Kata Alfian.


"Iya sebentar lagi juga lompat." Balas Ziko.


"Dasar Mesum." Kata Alfian.


"Elu gak salah sepertinya mencintainya." Celetuk Monic yang sangat mengagumi adik kelasnya itu.


"Emang bener-bener cantik luar dalam." Lanjut Monic.


Sampai di bawah ketiga adiknya langsung menghampiri sang Kakak yang hari ini menjadi tokoh utama. Mereka berlarian menghampirinya.


Axel berada tepat di depan kakaknya seolah membimbing sang kakak menuju tempat di samping Alfian. Garda dan Daffa berada di samping agak di depan kakaknya sambil mengucapkan " Silahkan Tuan Putri." Ucap mereka bersama.


Mentari yang diperlakukan seperti itu menjadi sangat malu sampai wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Mentari pun melangkah secara perlahan menuju ruang tengah yang diikuti oleh kedua keluarga yang akan bersatu. Mereka terlihat sangat bahagia.


Di ruang tengah semua makanan seperti kue dan puding sudah disediakan dengan jus jeruk sudah tersedia. Mereka berbincang layaknya keluarga, tidak seperti waktu mereka makan malam untuk membicarakan pertunangan hari ini.


"Enak banget ini kue." Celetuk Ziko.


" Iya itu yang buat anak kami." Jawab Mama.


Mentari hanya tersenyum smirk menanggapi semua kata-kata mereka. Ia sangat senang hingga tidak bisa berkata apa-apa.


Tiba saatnya Daddy mulai bicara serius. Ia menyatakan maksut kedatangannya bersama keluarga.


Papa dan Mama hanya bisa menyerahkan keputusannya pada anak gadisnya itu. Mentari pun menyetujui untuk bertunangan pada hari itu juga.


Acara tukar cincin pun berlangsung. Alfian hanya bersikap dingin seperti biasanya dengan berbagai ledekan Ziko dan Monik.


"Cie-cie yang baru setengah peresmian senyumnya menggoda hati." Kata Monic.


"Iya bener, habis ini jangan main sosor-sosor terus ntar kalau udah bener- bener jadian baru sosor-sosor." Kata Ziko


" Emang bebek curut main sosor." Balas Alfian.


Ziko hanya mengingatkan agar tidak kebablasan, karena Mentari masih harus mengejar sekolahnya 2 tahun lamanya. Mentari yang mendengar itu pun malu dibuatnya.


Kedua keluarga ini ada saja perbincangan sampai mereka lupa waktu. Waktu sudah Dhuhur mereka melaksanakan shalat bersama. Selesai shalat dhuhur keluarga Alfian pun berpamitan pulang.

__ADS_1


Adrean menawarkan mereka untuk menginap di villa. Bukannya tidak mau akan tetapi masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk pengusaha muda baru seperti Alfian.


Saat pulang Alfian sangat senang. Sangat terlihat dalam wajahnya yang sangat tampan itu. Deddy terus saja meledeknya habis-habisan. Mommy ikut-ikutan mengerjainya.


__ADS_2