Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 96. Penasaran 79


__ADS_3

Pemuda yang sudah selesai berganti menggunakan pakaian yang semula dan tak lupa kaca mata yang sudah bertengger di hidungnya yang mancung terlihat sangat keren. Sekarang tak ada seorang pun yang mencela keduanya setelah adanya Peringatan darinya sebagai pemilik.


Banyak mata memandang takjub dengan pasangan yang serasi ini. Pemuda yang tampan dan gadis yang cantik.


Pemuda itu berjalan beriringan dan meletakkan tangannya di bahu Tari. Pada saat melewati sebuah toko pakaian dalam Gadis ini ditarik masuk oleh Alfian.


"Toko kaca matanya kan masih di sana." Kata Sang Gadis.


"Tapi aku maunya kaca mata yang ada di sini." Kata Alfian tersenyum smirk sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Dasar genit!" Kata Tari sedikit marah.


"Mau aku pilihkan atau pilih sendiri itu kaca mata di situ." Kata Alfian menunjuk BRA yang tergantung pada hanjer dengan dagunya.


Wajah gadis itu kini memerah melihat gantungan Bra dengan berbagai warna dan disain. Harganya pun tidak murah jika dilihat sekilas pun semua tahu bahan untuk membuatnya sangat berkualitas.


Mata tajam kini mengarah pada seorang pemuda tampan. Hal itu membuktikan ia sedang sangat marah.


Gadis ini baru sadar dengan kaca mata yang dimaksut waktu berada di gerobak cinta menuju mall. Itu adalah Bra untuk kedua buah dada.


Marah akibat ulah Alfian ia meninggalkannya dengan langkah yang cepat. Pemuda itu mengejar dengan langkahnya yang lebar.


Gadis ini berlari kecil menuju taman yang ada di kawasan Mall itu karena ia tahu kalau Alfian sedang mengejarnya. Tanpa menoleh ia terus saja berlari hingga sebuah tangan kekar menangkapnya.


Sang gadis berusaha melepaskan tangan yang kini melingkarkan di pinggangnya dengan erat. Ia marah karena merasa dipermainkan.


Lepas dari tangan kekar itu Tari menyebrang jalan dengan tergesa-gesa. Hingga sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya.


Secepat kilat Pemuda yang mengejarnya tadi mendorong gadis itu hingga keduanya jatuh di tepi jalan. Butir bening kembali lolos dari matanya untuk kedua kali pada hari yang sama.


"Sakit kah?" Tanya Alfian pada pada gadis yang ditolongnya tadi karena melihatnya menangis kembali.


"Tidak." Jawabnya dengan melihat luka-luka yang ada di badan Alfian.


"Kita ke rumah sakit saja ya?"Pinta Tari.


"Tidak separah itu kali." Kata Alfian.


"Calon suami mu ini kuat dimanapun tidak akan ada luka serius kali ini." Kata Alfian terjeda.


"Termasuk kuat di..... " Lanjutnya dengan senyum smirk yang membuat gadis yang bersamanya kini mengerutkan keningnya.


Gadis itu sangat khawatir dengan keadaan Pemuda yang bersamanya saat ini. Banyak luka yang ada di tubuh Alfian saat ini akibat menyelamatkan nyawanya.


Banyak orang kini berkerumun melihat kecelakaan yang baru saja terjadi. Korban tabrak lari banyak dikatakan seperti itu.


Gadis ini memapah Alfian hingga gerobak cinta yang terparkir di sebrang jalan. Menunggu ambulan datang pastilah sangat lama pikir Tari.


Ceklek


Pintu depan gerobak cinta itu dibuka secara perlahan. Alfian di dudukkan di sebelah kursi kemudi yang tadinya dipakai duduk oleh gadis yang sekarang akan mengantarnya ke rumah sakit.


Pintu gerobak cinta itu ditutup perlahan dan gadis ini memutar mengitari gerobak cinta itu lewat depan gerobak untuk menggantikan Alfian menjadi kusir. Kemampuan menyetir Tari sudah tidak perlu ditanyakan lagi.


Alfian yang terlihat meringis kesakitan membuat gadis di sampingnya merasa semakin khawatir. Kecapatan makin ditingkatkan hingga tak butuh waktu lama sampai di rumah sakit.


Chiiiiiit


Suara gesekan ban mobil dengan aspal nyaring ditelinga. Segera Tari memanggil perawat untuk membantunya memapah Pemuda yang sedang kesakitan sekarang.


Menahan rasa sakit seperti ini sebenarnya tidak masalah bagi Pemuda ini. Pemuda ini bahkan pernah mengalami masa yang lebih sulit dari ini saat masih kecil hingga mengakibatkan adik perempuannya meninggal dunia. (Masih ingat dong dengan cerita awalnya).


"Aku hanya butuh kamu untuk menopang tubuh ku." Kata seorang Pemuda yang baru saja mengalami kecelakaan tabrak lari.


"Bukan hanya tubuh ku tapi juga hidup ku." Lanjutnya sambil mendorong perawat yang hendak membantunya.


Pemuda ini sengaja mengatakan hal ini supaya didengar oleh perawat yang hendak membantunya agar tidak menyentuhnya. Alfian melihat sesuatu perasaan yang aneh pada perawat itu.


Perawat itu seperti menyimpan perasaan suka padanya hingga ia harus menolaknya saat itu juga. Terlihat sekali bukanlah sebuah cinta tapi sebuah ambisi.


♥️♥️♥️146


Rumah sakit tidak lepas dengan masa lalunya. Sang adik juga tak bisa tertolong saat itu karena telat dalam penanganan.


Ruang VIP memang sungguh sangat nyaman. Semua fasilitas ada dan pelayanannya pun juga ekstra. Hal itu juga tidak lepas dari pembayaran yang ekstra kan.


🏢🏢🏢🏢🏢🏢🏢


Selepas kepergian Anak gadisnya itu bersama dengan Alfian yang menyusulnya Papa mengantar Nyonya besar terlebih dahulu ke kantor. Banyak karyawan yang menyambutnya karena memang waktu sudah agak siang sehingga banyak juga yang sudah hadir.


Menurut Nyonya besar hari ini memang dia kesiangan karena setiap kali sampai di kantor belum banyak karyawan yang datang. Hal itu memang sengaja dilakukan juga untuk menghindari kemacetan di jalan saat-saat jam dimulainya kesibukan ibu kota.


Menuju kantornya sendiri Papa terjebak kemacetan hingga ia terlambat sampai di sana. Beruntung hari ini Tuan dan Nyonya besar tidak ada meeting.


Mereka berdua menjalani aktifitas seperti biasanya akan tetapi mereka juga tidak tahu apa yang terjadi di rumah dan rumah sakit.


🏡🏡🏡🏡🏡


Ketiga anak laki-laki yang beranjak remaja ini sekarang berada di rumah. Mereka tidak masuk sekolah.


Ketiganya tersadar saat sudah menjelang malam kalau kakak perempuan satu-satunya belum pulang. Rasa khawatir mulai muncul di dalam hati mereka.


"Kak Al tadi bukannya bilang mau njemput kakak?" Tanya Axel pada kedua saudaranya.


"Apa sebaiknya kita hubungi Papa sama Mama?" Tanya Garda yang dari tadi mondar mandir.


"Jangan kita tunggu saja dulu kabarnya." Kata Axel.


"Ya mungkin saja mereka sedang berkencan, jadi lupa deh ngasih ngabar." Kata Daffa yang orangnya sedikit santai.


"Lagian kan belum juga 1x24jam laporan juga gak diterima." Lanjut Daffa.


"Orang hilang kali nunggu 1x24jam." Kata Axel.


"Papa, Mama juga biasanya udah pulang kenapa hari ini belum sampai rumah?" Tanya Axel.


"Ke hotel bikinin elu semua adik." Jawab Daffa sambil tersenyum renyah.


"Kalau buatnya di rumah ntar elu semua pada tahu." Canda Garda.


"Kakak aja belum pulang, kalian ini masih aja bisa bercanda." Tegur Axel.


"Kamu itu Kak yang kelewat khawatir orang juga perginya Kak Tari sama Kak Al pasti dijagain." Celetuk Daffa.


"Sebenarnya Aku juga belum rela kakak ku yang paling cantik mau menikah sekarang." Jelas Garda.


"Hancur deh hati ku berkeping-keping." Kata Daffa dengan memegang dadanya.


"Kalian ini terlalu possesif sama kakak kalian." Sebuah suara yang tak asing di telinga ketiga Tuan Muda di rumah ini.


"Papa, Mama." Teriak Ketiga anak laki-laki itu sambil melempar pandang.


Mereka bertiga langsung menghampiri orang tua mereka yang masih terlihat sangat muda. Mereka pun langsung mencium punggung tangan ke dua orang tuanya.

__ADS_1


Flesh Off


Chiiiiiit


Suara ban mobil bergesekan dengan jalan tepat di depan rumah utama. Tidak seorang pun mendengar kedatangan mereka berdua.


Mobil itu langsung diparkirkan di garasi oleh Papa sedangkan Mama turun di depan pintu masuk utama. Mendengar ada obrolan diantara anak-anaknya Mama sengaja menghentikan langkahnya.


Mereka berdua mendengar semua obrolan yang baru terjadi. Bangga sekali diantara anak-anak mereka saling memperhatikan satu sama lain.


Flesh On


Semua anggota keluarga berjalan menuju ruang tengah kecuali anak perempuan mereka yang kini sedang menemani Alfian di rumah sakit. Mereka duduk melepaskan lelah setelah seharian melakukan aktivitasnya masing-masing.


Bermanja pada orang tua mereka masih menjadi kebiasaan ketiga anak laki-laki itu. Bukanlah menjadi masalah buat Adrean dan juga sang istri, bahkan mereka adalah pelepas lelah setelah seharian mereka bekerja.


Anak laki-laki paling tua apalagi. Ia sering berkeluh kesah pada Sang Mama. Semua itu sering disembunyikan dari saudara-saudaranya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel Papa yang diletakkan di atas meja di depannya pun bergetar. Dilihat Id pemanggil yang muncul di layar ponsel itu.


"Pucuk dicinta ulampun tiba." Kata Papa lirih.


"Siapa Pa?" Tanya Mama.


"Anak kita yang paling cantik." Jawab Papa sambil menggeser icon hijau.


Semua yang ada di sana diam tanpa suara, tapi benda pipih itu dihidupkan spikernya hingga semua orang bisa mendengar percakapan tersebut.


"Assalamualaikum." Sapa orang yang ada di sebrang.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Papa Adrean.


"Pa, sekarang aku berada di rumah sakit." Kata gadis di sebrang.


"Rumah sakit mana?" Tanya Papa berusaha tenang.


"Rumah sakit X." Jawab gadis yang ada di sebrang.


Telpon pun ditutup tanpa salam karena ada rasa khawatir yang sangat besar. Mereka segera pergi ke rumah sakit tersebut tanpa membersihkan badan mereka terlebih dahulu.


Mobil melaju membelah jalan kota yang cukup ramai dengan kecepatan lumayan tinggi. Mereka tidak perduli jika sampai terkena tilang, itu urusan belakang.


Rasa cemas mereka mengalahkan segalanya. Putri satu-satunya itu adalah amanat yang harus dijaga oleh Papa Adrean dari Almarhum Tuan Richat.


🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥


Di Rumah Sakit


Mereka langsung memarkirkan mobil mereka dan berjalan menuju tempat pendaftaran. Di tempat pendaftaran Papa langsung menanyakan nama anaknya.


"Maaf Sus, mau tanya Mentari dirawat di ruang apa ya?" Tanya Mama yang masih sedikit tenang.


"Sebentar saya cek dulu." Jawab Seorang Perawat


"Maaf Nyonya tidak ada pasien dengan nama tersebut." Kata Perawat kemudian.


"Terimakasih Suster." Kata Mama.


"Sayang, sekarang ini kamu dirawat dimana?" Tanya Papa yang sudah sangat cemas.


"Di ruang VIP ruang XX." Jawab gadis yang ada di sebrang.


Mereka semua langsung menuju ruang yang disebutkan oleh anak gadisnya itu. Mereka berjalan sedikit berlari.


Di depan kamar ruang rawat terlihat seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan membawa berbagai macam alat medis. Melihat hal itu perasaan khawatir menyeruak pada semua anggota keluarga.


Buat pasangan suami istri ini anak gadis satu-satu itu sangatlah berarti dalam hidup mereka. Bukan karena sebuah amanat tapi karena gadis itu juga sudah dianggapnya sebagai anak kandung.


Ceklek


Pintu pun langsung di dorong dari luar tanpa diketuk terlebih dahulu. Kedua orang yang ada di ruang rawat itu menatap semua anggota keluarga Adrean dengan membulatkan mata sempurna karena terkejut.


Mereka berlima pun sama terkejutnya karena mengira anak gadisnya yang terkena kecelakaan tetapi Alfian lah yang kecelakaan.


Sang Papa mengkroscek keadaan anak gadisnya. Ia ingin mengetahui kondisi anaknya itu apakah ada luka yang cukup serius di badan anaknya itu.


♥️♥️♥️147


Seluruh badan sudah di putar putar berkali-kali tidak ditemukan sebuah luka. Mama yang juga heboh seperti pembawa acara menanyakan semua penyebab kejadian.


Pertanyaan yang diberikan belum sempat dijawab saja sudah ganti dengan pertanyaan lainnya. Hal itu karena rasa khawatir pada diri Sang Mama.


Ketiga saudara laki-lakinya itu malah menggoda kedua kakaknya itu. Ketiganya mengubah bisa mengubah rasa khawatir itu menjadi sebuah lelucon agar suasana tidak terlalu tegang.


"Kakak tidak luka kan?" Tanya Axel pada Kakak Perempuannya itu.


"Tidak." Jawab Kak Tari.


"Ini pasti seperti di film-film kartun di TV." Celetuk Daffa.


"Iya lah. Seperti Sailermoon yang diselamatkan seorang pangeran yaitu Pangeran Bertopeng." Sahut Garda.


"Berapa hari kamu akan di rawat?" Tanya Papa Adrean.


"Kata dokter sih nunggu hasil rongsen." Jawab Alfian.


"Takutnya ada tulang patah atau ada pembekuan darah." Sahut Seorang gadis yang sedang bermanja-manja dengan Sang Papa.


Sejak kecil Gadis yang akan menikah ini sampai sekarang masih senang bermanja-manja dengan Sang Papa, walaupun Adrean bukanlah Ayah kandungnya. Hal itu sudah biasa buat keluarga mereka.


Hanya dengan keluarga kecilnya itulah Mentari ingin dimanja hanya kepadanya lah perhatian diberikan. Berbeda kalau sudah di luar ia akan berubah menjadi sangat galak setiap saat bisa menekam orang yang berniat tidak baik padanya ataupun pada anggota keluarganya.


Malam semakin larut, tetapi kedua orang tua Alfian tak datang menjenguk. Akhirnya hal itu ditanyakan juga okeh calon besarnya itu.


"Al orang tua mu sibuk sekali kah?" Tanya Om Adrean pada Pemuda yang sekarang sedang duduk bersandar di brankar.


"Oh My God. Lupa kasih kabar." Jawab pemuda itu dengan menepuk keningnya yang tidak bersalah.


Pemuda itu mencari-cari saku celana tapi tidak ada.Ia melihat pakaian yang ia kenakan saat ini barulah sadar yang ia kenakan sudah pakaian pasien.


"Cari apa?" Tanya seorang gadis.


"HP ku kemana?" Tanyanya sebab tadi yang membantu mengganti bajunya adalah gadis itu.


"Oh. Itu di meja samping brankar." Jawabnya.


Dilihat banyak sekali panggilan dan pesan masuk pada layar ponsel itu. Panggilan dan pesan dari banyak orang.

__ADS_1


Tidak peduli apa yang dia tuliskan yang jelas hanya sekali pesan itu ditulis kemudian dikirim pada banyak nomor yang menghubunginya. Satu nomor saja yang ia hubungi.


Nomor Sang Ayah tertera kemudian terlihat Alfian menekan aikon hijau pada layar ponsel itu. Tidak butuh waktu lama telepon pun tersambung.


"Assalamualaikum." Sapa Alfian.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah yang ada disebrang telepon.


"Kemana aja dari pagi dihubungi tidak diangkat. Di kantor juga katanya gak nongol batang hidungnya." Kata Sang Ayah dengan nada tingginya karena rasa khawatir terhadap anak laki-lakinya itu.


"Sabar Pak Kiayi." Kata Alfian terjeda.


"Sekarang Ananda dirawat di rumah sakit XX." Lanjut Alfian.


"Perasaan kamu sehat-sehat aja." Kata Ayah.


"Kamu di rumah sakit ngapain? Sakit atau pacaran?" Tanya Ayah kemudian.


"Keduanya lah." Jawab Alfian.


"Masak aku yang anak muda kalah sama Ayah." Lanjut Alfian.


"Ya sudah Ayah ke sana sama Bunda mu." Kata Ayah.


"Kalau Bunda masih gak enak badan biar di rumah aja, gak usah diajak. Kasian Bunda." Kata Alfian penuh perhatian.


"Sudah dulu ya, Ayah mau bersiap ke sana." Kata Sang Ayah yang ada di seberang telepon.


"Kalau perlu berdandan sekalian biar ada perawat yang kesengsem sama Ayah." Lanjut Sang Ayah lagi yang diiringi dengan tawa renyah.


"Ayah, ingat itu usia. Bunda juga lagi berbadan dua." Kata Alfian memperingatkan walaupun ia tahu itu hanya candaan sang Ayah.


"Assalamualaikum." Salam penutup Ayah yang ada di sebrang telepon.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Alfian.


Setelah telepon itu ditutup semua yang ada di ruang rawat Pemuda itu tertawa renyah, bahkan ketiga jagoan mereka ikut meramaikan suasana kamar.


Bukankah orang sakit atau orang yang dirawat di rumah sakit itu harus istirahat, tetapi tidak untuk pasien di kamar ini. Pasien di kamar ini malah bercakap-cakap dan bercanda hingga waktu kunjung habis.


Tidak seorangpun yang berani menegur semua yang ada di ruangan ini. Ruang rawat ini khusus VIP tidak akan mengganggu makhluk yang ada di sekitar mereka.


Alfian kini satu-satunya anak di keluarganya hingga sang Ayah sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Sedangkan yang satunya masih dalam tahap calon anak.


Alfian tidak malu jika dalam usianya kini masih dikaruniai seorang adik. Ia juga merasa kesepian jika tidak ada saudara saat di rumah.


Sama halnya hubungan antara anggota keluarga yang sangat harmonis serta rasa perhatian yang berlebih pasti ada. Ketegangan dalam hubungan kekeluargaan mereka seperti sebuah persahabatan dengan anak-anak muda tidak pernah ada ketegangan.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara kamar rawat seorang Pemuda yang penghuninya sangat ramai itu diketuk oleh seorang perawat. Perawat itu memberitahukan tentang jadwal pasien itu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Masuk." Perintah salah seorang yang ada di dalam ruang rawat itu.


"Permisi." Balas Seorang perawat yang masih sangat muda dan cantik.


"Maaf Tuan besuk baru bisa anda melakukan rongsen." Kata Perawat itu pada Alfian.


"Baiklah." Jawab Pemuda itu tanpa melihat perawat tersebut.


"Terimakasih Sus." Kata Seorang Gadis yang sedang duduk di sofa terlihat sedang bermanja dengan laki-laki paruh baya.


"Sama-sama Non." Jawab Suster itu tapi terdengar angkuh di telinga Alfian.


Alfian memang sudah merencanakan untuk menginap di rumah sakit malam ini dengan ditemani seorang gadis cantik calon istrinya itu. Ia sudah menghubungi pihak rumah sakit saat dalam perjalanan tanpa sepengetahuan gadis yang tadi diselamatkannya.


Kenapa bisa? Pemilik rumah sakit ini adalah milik keluarganya sehingga dengan mudahnya Alfian mendapat kamar VIP ini.


Kamar ini sangat mahal, maka dari itu perawat tadi bisa melihat kalau Pemuda yang baru datang itu memiliki harta yang berlimpah. Akan tetapi perawat itu tidak tahu bahwa pemuda yang menempati kamar VIP sekarang adalah anak dari pemilik rumah sakit.


🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠


Di kediaman utama keluarga Alfian seorang Ayah sedang heboh mendapat kabar kalau anak laki-lakinya sedang mengalami kecelakaan. Ia sedang berhati-hati mencari kata yang tepat untuk memberitahukan kepada istrinya.


Istrinya yang sedang hamil muda yang sangat rentan dengan kabar buruk. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bicara empat mata.


"Bunda." Panggil Ayah dengan duduk di sisi tempat tidur dimana sekarang istrinya itu berbaring.


"Ada apa Yah?" Tanya Bunda yang sedang berbaring di tempat tidur Alfian.


"Mau ikut Ayah pergi ke rumah sakit?" Tanya Ayah pada Istrinya yang sejak hamil alergi dengan rumah sakit.


♥️♥️♥️148


Bunda terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Sang Suami. Ia ingin ikut tapi alergi rumah sakit.


Bunda bangun dari tempat tidurnya itu berjalan menuju kamarnya. Ia mulai membuka lemari pakaian mencari pakaian yang pantas.


Sang Suami sudah tahu kalau istrinya memutuskan untuk ikut menjenguk anak laki-lakinya yang baru saja mengalami kecelakaan walaupun tanpa ada jawaban darinya. Bunda pergi ke dalam ruang ganti baju.


Waktu memang sudah sangat larut malam tapi sepasang suami istri ini memutuskan untuk menjenguk anaknya. Anaknya memang dirawat di rumah sakit miliknya.


Ayah selalu siaga berjalan di belakang sang istri takut terjadi sesuatu. Kehamilan kali ini memang membutuhkan perawatan ekstra.


Begitu sampai di bagasi mobil Ayah memilih mobil warna putih, tetapi Bunda berjalan menuju mobil hitam pekat. Biasanya juga Bunda sebelum hamil lebih sering memakai mobil putih hingga terjadi sedikit perselisihan antara keduanya.


"Bun, gak pakai yang ini aja?" Tanya Ayah mendekati Sang Istri.


"Gak itu terlalu silau." Jawabnya.


"Silau dari mananya, biasanya juga kamu selalu pakai yang putih." Keluhnya sambil berjalan mendekati Sang Istri.


"Ntar kalau aku naik di mobil itu bisa-bisa muntah-muntah lagi." Kata Bunda yang matanya sudah memerah hampir mengeluarkan air mata.


"Ya sudah, kita pakai yang ini aja." Kata Ayah mengalah karena tak tahan kalau melihat Sang Istri menangis.


"Bilang aja takut mobil putih itu kotor kalau kamu mabuk di sana." Batin Ayah.


"Biarlah untuk sementara kaum Adam yang mengalah saat istrinya baru bunting." Tambahnya.


Ayah membukakan pintu mobil perlahan dan membantu sang istri mengenakan sabuk pengamannya. Ayah duduk di kursi kemudi ia selalu mengawasi Sang Istri berjaga-jaga kalau ia mau muntah.


Mobil yang dikendarai orang tua Alfian pun melaju dalam keramaian ibu kota. Beruntungnya jalanan tidak ramai, tidak seramai pada siang hari.


Mereka sampai di rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama. Kurang dari 30 menit mereka sudah sampai di rumah sakit yang dimaksut Alfian.


Pada pintu masuk mereka berdua sudah dihalangi oleh petugas keamanan yang berjaga waktu itu. Apalah daya tidak semua orang tahu pemilik dari rumah sakit itu.


"Assalamualaikum." Sapa Ayah

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Jawab orang yang ada disebrang yaitu dikenal dengan Direktur Rumah Sakit.


__ADS_2