
Ziko menghampiri Alfian yang masih menunggu jemputan. Mereka saling bertukar pandang. Alfian merasa akan ada banyak pertanyaan yang akan diberikan oleh sahabatnya ini. Banyaknya pertanyaan melebihi guru kelas mereka yang harus segera dijawab.
Adrean kembali ke rumah lamanya bersama Sinta. Ia takut Mentari tidak betah tinggal di Rumah Adrean.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan pulang keduanya membisu. Adrean ingin gadis kecilnya kembali ceria seperti dulu. Ia tahu kalau adiknya masih terpukul dengan kejadian itu.
Kediaman Tuan Richat sekarang menjadi sangat ramai. Maaf ya sekarang kediaman anaknya Mentari. Soalnya Ruan Richatnya sudah tenang di alam sana.
Kediaman Mentari sekarang sangat ramai. Karena penghuninya bertambah banyak. Sebelum ini terasa sunyi.
Sampai Di rumah Adrean dan Mentari langsung membersihkan diri. Mereka berdua langsung menuju kamar ketiga bayi itu.
Sinta sejak pulang dari rumah sakit masih harus menhalani perawatan akibat kecelakaan yang dialaminya. Ibu juga ikut merawat Sinta dan ketiga bayinya. Mereka juga meminta seorang perawat untuk Istri dan ketiga anaknya.
Ketiga bayi itu ditidurkan di kamar yang sama dengan Sinta. So Sang ibu gak mau jauh-jauh dari ketiga anaknya. Biarpun belum sehat total tapi sang ibu tetap menyusui ketiga anaknya. Ia tidak ingin memberikan susu formula kepada ketiganya.
Handl pintu terbuka. Ia melihat ketiga adiknya. Saat Mentari masuk ketiganya langsung menangis. Setiap kali memang seperti itu.
"Assalamualaikum. Kata Sinta ya, ia mewakili ketiga babynya.
"Adik-adik mu selalu kalau kau yang masuk selalu seperti itu." Lanjutnya.
Mentari pun juga merasa seperti itu. Tatkala salam belum dijawab mereka akan terlihat seperti menangis. Kalau sudah dijawab mereka berhenti menangis.
"Wa'alaikumsalam" jawab Mentari.
Mentari tersipu malu karena lupa mengucapkan salam. Jadi kebalik deh yang ngucapin salam.
Suasana hati Mentari semakin hari semakin membaik. Apalagi terlihat saat ia sedang bermain bersama ketiga adiknya.
Tiba-tiba ia teringat dengan mimpinya yang dulu. Ia mulai berbicara dengan mamanya. (ya sekarang Adrean dan Sinta menjadi sosok orang tua baginya).
Mentari: "Ma inget gak dulu aku cerita bermimpi yang sama dengan Mama."
Mama: "E....... Iya aku ingat.
Mentari: "Sepertinya hal ini gak akan sampai disini."
Mama: "Berdoa saja apa yang terbaik untuk keluarga kita Sayang."
Mentari hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Nenek sedang di dapur membantu para bibi menyiapkan makan siang. Sinta selalu kewalahan dibuat ketiga babynya itu. Ia meminta ibunya tinggal bersama mereka.
Adrean ada di ruang kerja. Ia tidak bisa ke kantor saat ini melihat kondisi keluarganya. Ia hanya bisa bekerja dari rumah.
Adrean meminta Briyan datang ke rumah. Laki-laki yang begitu dingin itu pun segera menemuinya. Di ruang depan ia berpapasan dengan Mentari yang baru saja mengambil minuman dingin di dapur.
Briyan: "Pagi Nona."
Mentari: "Pagi Kak."
Mendengar sapaan yang dilontarkan olehnya Ia jadi mematung. Sapaan yang luar biasa sepertinya. Jarang sekali laki-laki itu menyapanya.
Ketiga bayi di kamar Sinta mulai lapar dan kehausan. ketiganya selalu menangis bersamaan. Saat sang kakak masuk ia langsung nyeletuk "Seperti paduan suara aja."
Kelima orang dalam ruangan itu langsung tertawa. Pada saat Tari nyeletuk Adrean, Briyan, dan nenek langsung ke kamar Sinta saat mendengar ke tiga bayi itu menangis.
Briyan yang saat itu juga ingin menjenguk ketiga keponakannya merasa ketiga bayi laki-laki itu sangat lucu. Ia memandangnya dengan kekaguman yang sangat.
Adrean: "Kenapa Bro, makanya cepet nikah biar cepet dapat baby yang mungil."
Briyan: "Nikah sama tiang listrik." jawabnya singkat.
Semua yang ada dalam ruangan itu kembali tartawa. Tanpa mereka sadari Dita sahabatnya Sinta sudah mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sudah berada di luar ruangan sejak tadi.
Dita: "Assalamualaikum."
Semua yang ada dalam ruangan itu pun menjawab: "Wa'alaikumsalam." Termasuk ketiga bayi itu lho ya yang jawab mereka langsung menangis seperti paham dengan semuanya.
Sinta: "Wah, yang dibicarain dateng tuh. Umur panjang berarti."
Dita langsung memerah mukanya karena malu.
Briyan yang memang selalu dingin dan bermuka datar, cuek menanggapi perkataan mereka. Tapi tak bisa dipungkiri sejak mendapat tugas menjaga Sinta ia semakin dekat dengan laki-laki itu.
*** *** *** ***
Alfian yang sehari ini gak bicara sama sekali dengan Mentari hatinya seakan sepi. Wajah yang dinginnya minta ampun bisa menutupinya dengan rapi.
Perasaan padanya semakin hari semakin dalam. Rasa ingin melindungi gadis kecil itu entah dari mana dan sejak kapan ia tak tahu.
Siang itu ia tidak langsung pulang, ia menuju toko buku yang tak jauh dari sekolahannya. Ziko sahabatnya itu seperti ekor yang selalu membuntutinya. Kemanapun ia melangkah selalu ada dia.
Ziko: "Al mau kemana?"
Alfian: "Ke toko buku seberang."
Ziko: "Ikut lah ya?"
Alfian: "Boleh."
Ziko: "Jalan kaki?"
Alfian: "Gak naik onta."
Ziko: "Iya, kan ini hari panas banget kayak di ladang pasir." (Protesnya).
Alfian: "Elu jadi ikut apa cuma mau protes mulu?"
Ziko: "Iya gue ngikut." (Sambil mengepalkan tinju ke lengannya Alfian pelan).
Sepanjang jalan Ziko tak bisa diam. Ia terus saja mengoceh. Ada-ada saja yang dibicarain. Alfian hanya selalu saja menjawabnya dengan bahasa isyarat.
Toko buku yang menjadi tempat tujuan Alfian adalah toko buku yang terlengkap. Harga juga belum sedikit lebih mahal sebanding dengan kualitasnya.
Ziko memang memiliki fisik yang sedikit lemah dibandingkan dengan Alfian. Ia sudah kehausan sejak tadi. Alfian sejak tadi juga sudah melihat ekspresinya itu.
Ziko: "Al beli minum dulu yuk? Haus ni, jalan panas kayak gini lagi."
Alfian: "Ok. Lagian gak ada yang nyuruh elu ikut kok."
Ziko: "kampret lo. Ditemeni bukannya berterimakasih malah nyalahin gue."
Alfian: "Iya-iya. Makasih."
Ziko melihat sekilas anak gadis yang dinilainya sangat cantik saat membeli minumaan botol di warung. Gadis itu memang anak pindahan dari kota lain.
Ziko memberikan minuman pada Alfian sambil melirik anak gadis itu. Ia berbisik pada Alfian.
Ziko: "Al lihat tu gadis cantik."
Alfian: "Oh..... "
Ziko: "Kok cuma oh doang. Datar amat sih ekspresi lo."
Alfian: "Trus gue harus bilang apa curut." (sambil mengusap muka Ziko)
Alfian melakukannya agar Ziko segera mengalihkan pandangannya. Dalam hati Alfian sebenarnya sudah merasa jenuh gak bicara sama Mentari.
Masuk ke toko buku ia mulai mencari buku yang ia cari. Saat itu pula ia merasa perasaan yang tidak enak. Buku yang dicari sudah didapatkan. Ia membayar buku itu kemudian langsung mengajak Ziko pulang. Mereka pulang menggunakan Taxi.
Belum sampai rumah Alfian sudah turun. Ziko turun tepat di depan rumahnya. Notifikasi pesan masuk dari Ziko.
"Gak capek lu jalan terus."😄😄😄
Pesan hanya dibaca oleh Alfian.
__ADS_1
Buat babynya Adrean dan Sinta belum dikasih nama tu. Bantu dong kasih nama.🙏
♥️♥️♥️♥️
Hari ini sudah seminggu masuk sekolah. Mentari mulai merasa hatinya sudah bisa sedikit menerima kepergian kedua orang tuanya. Sayang hal sudah seminggu pula ada orang yang mamata-matainya. Mereka mengamati kondisi tempat itu.
Sasaran mereka adalah gadis kecil bernama Mentari. Ia orang terakhir yang menjadi sasaran mereka.
Sebuah mobil yang asing selama seminggu terparkir di halaman depan gerbang sekolah. Karena itu adalah tempat umum tak ada seorang pun yang curiga. Temasuk bodigart Adrean.
Sekolah sudah aktif seperti biasa. Masuk, ia maupun pulang sudah kembali pada jadwal semula. Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhambur keluar kelas. Mereka ingin segera sampai rumah.
Seperti biasa kepulangan mereka hampir menjelang sore. Sehingga badan mereka juga sudah sangat lelah.
Hari ini entah mengapa Mentari pulang terakhir yang meninggalkan ruang kelas. Ia pun berjalan seperti tidak memiliki semangat sama sekali.
Alfian sudah berada di depan gerbang menunggu Ziko yang baru membeli air mineral. Alfian melihat Ziko yang sedang berbincang lama dengan seorang gadis. Rasanya ingin sekali ia marah.
Mentari berlari kecil mendekati Alfian. Alfian terlihat gusar yang seakan menunggu Ziko sampai mati kutu rasanya.
Saat akan mendekati Alfian betapa terkejutnya ia melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman sekolah membawa sebuah pistol yang diarahkan pada Mentari. Dalam jarak sekitar tiga meter Ziko berlari sambil berteriak melemparkan minuman yang ia beli.
Alfian dan Mentari sontak kaget mendengar teriakan Ziko "Awas". Peluru pun melesat mengenai Ziko. Alfian dengan tenang pada situasi ini. Ia melihat dan menghafal nomor plat mobil tersebut. Mentari sudah berteriak histeris.
Ambulan yang harus Alfian hubungi sebagai pertama. Polisi akhirnya datang ke lokasi kejadian.
Alfian yang melihat Mentari ketakutan langsung memeluknya dan menenangkannya. Setelah Mentari tenang Alfian langsung menghubungi Adrean.
Adrean langsung memindahkan Ziko ke rumah sakit yang dimilikinya. Ia meminta penanganan semua dokter yang terbaik.
Alfian yang mulanya sangat marah kini malah sangat khawatir. Ia menunggu sahabatnya di rumah sakit itu bersama Mentari dan Adrean.
Adrean yang semula memeluk adiknya kini mendekati Alfian. Ia menepuk punggung Alfian penuh kasih sayang.
Tak butuh waktu lama operasi pun berlangsung. Alfian sampai lupa memberi kabar pada orang tua Ziko.
Dokter keluar dari ruang operasi. Ia mengatakan kalau Ziko tidak apa-apa. Ia akan segera sadar.
Ziko dipindahkan ke ruang perawatan. Mereka menunggu Ziko sampai sadar.
Ketika sadar Ziko masih saja membuat lelucon.
Ziko: "Disurga kah gue?"
Alfian: "Iya. emang. Mau secepat itu ninggalin aku."
Ziko: "Ya iya lah masak mau sama elu terus, ntar gue dikira homo kali."
Alfian: Oh ya, orang tua elu belum gue kasih tahu. Maaf ya?"
Ziko: "Gak usah, gue gak mau mereka khawatir."
Orang tua Ziko memang di luar negeri. Ziko disini sendiri. Ia tidak mau pindah karena merasa sudah nyaman dan ketemu sahabat yang selalu ngedengerinnya. Walaupun Sahabatnya itu berbeda karakter.
Alfian: "Bodoh amat sih lo, ngorbanin diri elu sendiri?"
Ziko: "Ya gue kan gak mau aja ya kehilangan sahabat sepandai elu."
Alfian: "Emang elu punya nyawa berapa?"
Ziko: "Banyaklah, nyatanya aku masih hidup."
Alfian: "Iya-iya.
Alfian yang berada di samping tempat tidur Ziko tanpa sengaja menyenggol lukanya. Ziko berteriak kesakitan. Alfian minta maaf akan hal itu.
Ziko: "Kampret lu!" Pekiknya.
Alfian: "Masih punya nyawa lu?"
Ziko: "Iya lah, gue kan masih pingin punya tambatan hati.
Dalam pikiran Ziko terlihat senang akhirnya bisa lihat sahabat karibnya itu buanyak sekali bicara padanya. Alfian memang selalu bicara hal-hal penting saja.
Pandangan mata Gadis kecil itu sangatlah tidak dikenal oleh Alfian dan Ziko. Mungkin ada rasa takut, dan dendam jadi satu.
Alfian sungguh beruntung punya sahabat yang rela mengorbankan nyawanya itu. Untuk menghindari salah kata Alfian selalu memilih untuk diam. Kata pepatah memang "Tong Kosong Berbunyi Nyaring."
Lama sekali mereka berada di rumah sakit. Karena Ziko memang sendirian Alfian memutuskan untuk tidur di rumah sakit menemani sahabatnya itu.
Adrean dan Mentari pamit pulang. Alfian tahu kalau kak Adrean semakin sibuk dengan urusan kantor setelah kepergian orang tua tari. Selain itu juga ada tiga bayi di rumah besar itu.
Beda dengan Ziko yang belum tahu apa yang menimpa Mentari. Ia berpikir kalau ia adalah gadis yang memang harus selalu berada di kandang. ( Maaf bukan hewan peliharaan ya.😊😊😊 🙏)
Kejadian penembakan itu sudah direncanakan tapi salah sasaran. Pikir Alfian yang memang harus lebih waspada. Ia harus menjaga gadis kecil itu.
Pelaku belum ditemukan mobil pelaku dengan plat nomor yang dimaksut Alfian sepertinya disembunyikan. Sudah beberapa hari dalam pencarian tapi belum ada tanda-tanda terlihat mobil pelaku.
Gadis kecil yang cantik dan pintar itu dalam pikirannya sudah kalut. Tatapannya kosong, hanya ketiga bayi kembar itu lah yang bisa suasana hatinya.
Ziko berada di rumah sakit sudah beberapa hari. Alfian selalu setia menemaninya.
"Andai saja cewek yang menemaniku" celetuk Ziko.
"Dasar, sudah kayak gitu aja pikiran lu masih aja kemana-mana." Balas Alfian.
Hari ini hari terakhirnya di Rumah Sakit. Alfian meminta Ziko untuk bermalam di rumah Alfian agar ada yang memperhatikannya.
Penembakan waktu itu pasti ada kaitannya dengan Alfian atau Mentari yang dulu mereka sama-sama tidak masuk sekolah.
Memasuki pekarangan rumah Alfian saja Ziko sudah sangat terpana pada pandangan pertama. Rasa kagum tak lepas dari pikirannya.
"Pantesan rumah elu dijaga oleh banyak penjaga keamanan." Celetuk Ziko.
Alfian hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Deddy dan Mammynya juga ramah. Sekilas ia melihat Alfian.
Ziko: "Elu mirip siapa ya? Orang tua elu mirip banget bintang film korea Bro." Candanya.
Alfian: "Ya mirip merekalah."
Ziko: "Percaya diri amat."
Luka Ziko yang masih belum pulih terasa nyeri saat ia tertawa ringan meledek Alfian.
Mentari sejak kejadian itu jadi semakin malas pergi ke sekolah. Alfian yang tahu beberapa hari ini gadis kecil itu tidak masuk sekolah berencana menjenguknya.
Alfian menjenguk Mentari menggunakan motornya. Sampai di depan gerbang ia mengatakan bahwa ia teman pemilik rumah. Penjaga gerbang memberikan laporan pada tuannya. Akhirnya ia dipersilahkan masuk.
Sama ribetnya pikirnya.
Di ruang tengah terlihat Mentari sedang menggendong salah satu adiknya. Ia terlihat sangat bahagia.
Alfian baru kali ini melihat gadis kecilnya sebahagia itu. Mentari melonjak kaget dengan kedatangan Alfian sampai-sampai adiknya terbangun kaget mendengar teriakan kecil Mentari.
*** ****
Bersambung ya.
Jangan lupa like, vote & poinnya. 🙏
Banyak kendala dalam mengetikkan idenya termasuk tugas anak
Mentari yang berada di ruang itu melihat Alfian yang sudah berada di ambang pintu. Segala pertanyaan sudah memenuhi otaknya.
Alfian hanya tersenyum sedikit melihat tatapan seorang gadis kecil yang sangat tajam padanya. Akankah disuruh balik pulang nantinya pikirnya. Selama di sekolah mereka kan selalu bertengkar.
__ADS_1
"Buset gak salah lihat nih gue?" Teriak Mentari sampai kedengaran tamu yang datang.
"Si Cakep beneran gak yah?" Lanjutnya.
Tari akhirnya berjalan mendekatnya. Ia mencubit hidung mancung Alfian sambil berjinjit.
"Aw.. " Pekik Alfian kesakitan.
Sengaja sih ya dimanfaatin Tari buat menganiaya Alfian. 😁😁😁
"Oh my god ternyata bukan mimpi, I'm sorry Cakep." Kata Mentari.
Alfian hanya tersenyum manis padanya.
"Ini mah namanya penganiayaan." Tangannya sudah mau mencubit pipinya Tari. Belum sempat ia sudah lari menuju taman depan.
Mereka kejar-kejaran sangat bahagia. Seakan semua masalah hilang seketika.
Terasa capek mereka beristitahat di bawah pohon mangga yang sangat rindang. Tepat dimana Bundanya dulu minta buah yang masih muda itu di sana.
Mentari ingat betul kejadian itu. Tiba-tiba kristal bening keluar dari pelupuk matanya.
Mentari menoleh ke samping dan segera menghapusnya sebelum terlihat Alfian.
Alfian yang berada disampingnya sambil merebahkan tubuh ke rumput-rumput menyadari hal itu.
Alfian: "Lho Tar kamu nangis ya?"
Mentari: "Gak. Gue bukan cewek cengeng masak nangis. Aku hanya kelilipan."
Alfian: "Sini biar aku tiup kalau kelilipan."
......Bluk.... (ketiban rejeki)
Belum sempat melihat mata Mentari. Alfian memegang kepalanya kesakitan.
Hayo..... tebak kenapa?
Mereka berdua berbincang lumayan lama, hingga waktunya makan siang. Sinta memanggil adiknya itu. (uop salah bukan adik tapi sekarang sudah jadi anaknya).
Sinta sudah hampir sembuh. Ia mulai sering jalan-jalan sendiri saat ketiga anaknya tidur.
Kalau mau digendong atau mau didorong mana mungkin. Mau taruh di mana ketiga bayi itu. 😁😁😁
Sinta menuju taman depan. Ia tidak tahu kalau Mentari sedang bersama temannya. "Sayang ayuk makan dulu udah ditunggu Papa sama nenek di dalam." kata Mama
"O..... Ada temen mu, maaf Mama gak tahu." Sambungnya.
"Iya, tambah personel" kata Tari dengan antusiasnya.
"Siang Tante." Sapa Alfian sambil tersenyum.
"Sebaiknya saya permisi dulu Tante." kata Alfian.
"Makan dulu sebelum pulang." Kata Mama.
"Iya, dari pada kamu nanti mampir- mampir ketemu maklampir. 😄😄😄." Kata Mentari.
"Apa'an Sih." Kata Alfian sambil menendang kaki Mentari.
Mama Sinta hanya tersenyum geli melihat kelakuan kedua orang yang mau beranjak remaja.
Mama berjalan di belakang Alfian dan Tari. Ia melihat Alfian yang sejak tadi mengusap-usap kepalanya.
Mama: "Al, dari tadi kok kamu mengusap-usap usap kepala mu kenapa?
Alfian: "Anu Tan, tadi waktu di bawah pohon mangga kayaknya ada genderuwonya."
Mama: "Lho emang ada apa?"
Mentari: "kejatuhan duit." (😁😁😁)
Mama: "Tari, temennya kok diketawain."
Alfian: "Iya tadi kejatuhan buah mangga."
Mama: "Oh."
Tidak terasa mereka sampai di ruang makan. Adrean duduk berdampingan dengan Sinta. Mentari yang duduk di sebelah kiri Adrean. Alfian bersebelahan dengan Mentari. Di ruang makan itu hanya ada Adrean, Sinta, Mentari, Alfian dan Nenek.
Adrean: "Al, ayo ikut makan."
Alfian: "Iya Om. Makasih."
Adrean dari jauh sudah memperhatikan kelakuan mereka, yang lain dari biasanya. Adrean sangat senang melihatnya. Anak perempuan satu-satunya itu terlihat ceria.
Mama: "Pohon mangganya itu lho Pa nakal sama Alfian."
Papa: "Kenapa emang?"
Mentari: "Ada genderuonya."
Adrean dan nenek jadi ikut tertawa kecil mendengarnya.
Maksudnya tu ada mangga yang jatuh tepat mengenai kepalanya Den Bagus balas Mentari.
Adrean pikir memang sangat sakit sekali. Papa meminta tolong ke Mama setelah makan untuk memeriksa kepala Alfian ternyata benar ada sedikit bengkak.
Papa mementa Alfian untuk tinggal sebentar agar bengkak di kepalanya untuk dikompres untuk menghilangkan sedikit rasa nyerinya.
"Ma tolong ambilkan air hangat buat mengompres itu penthol." Perintah Papa
"Penthol apa an?" itu tu benjolan di kepala kamu." Jelas Adrean.
Saat akan mengompres kepala Alfian Axel memangis karena mungkin sudah haus. Ya kita kan gak tahu bahasa bayi yang baru nangis.
Mama akhirnya meminta Mentari untuk mengompres kepala Alfian yang benjol.
Mama pergi melihat Axel di kamar atas.
Di ruang tengah Mentari mengompres kepala Alfian. Bingung mau mulai dari mana. Lama sekali Alfian menunggu sentuhan tangannya. Akhirnya Ia angkat bicara.
Alfian: "Kok lama amat sih?"
Tari: "Lha aku kan gak tahu caranya."
Alfian: "Haduhhh." Sambil munepuk jidatnya.
Alfian memberitahu caranya. Tapi yang pasti sebenarnya Mentari itu sedang pura-pura gak tahu.
Mentari pun mengambil kain handuk yang sudah disediakan oleh sang Mama. Ia mrncelupkan ke air hangat yang disedikannya pula. Untuk ngerjain Alfian Handuk itu hanya diperas airnya sedikit. Setelah ditempelkan pada kepalanya yang bengkak airpun mengalir membasahi wajah dan bajunya.
"Ups, maaf tuan muda lupa." Kata Mentari sambil tersenyum senang.
Alfian akhirnya mendongok meluhat wajah Mentari.
"Dasar." Pekik Alfian sambil berlari mengejar Mentari, yang dikejar pun lari sambil tertawa mengejak.
Mama yang berada di kamar atas sedang memberi ASI pada Axel. Axel di gendong oleh sang nenek. Tak lama setelah itu ia pun tertidur.
Adrean berada di ruang kerja setelah makan siang. Ia sangat sibuk dengan urusan kantor dan kantor polisi.
Ia harus memegang perusahaan milik Almarhum Ayah dan Bundanya yang akan diberikan pada Adiknya. Perusahaan Sinta juga harus ia juga yang mengurus. Sedangkan perusahaannya sendiri juga harus terus beroperasi.
Sinta berjalan menuju ruang kerja suaminya. Suaminya terlihat sangat serius. Dalam hatinya merasa kasihan dengan sang suami yang harus bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan tak pernah mengeluh sekalipun.
Sang suami juga tahu kalau istrinya sudah kualahan menghadapi ketiga bayinya itu. Ia pun sering memanjakan istrinya tanpa diminta.
__ADS_1
Awan tiba-tiba mendung. Alfian pun segera pamit pulang karena takut kehujanan. Sebenarnya sih ia juga ingin melihat ketiga bayi Om Adrean.