Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 19. Arti Kencan


__ADS_3

Seorang Pemuda sama halnya tidak butuh waktu lama untuk mandi. Dia segera menuju ruang makan karena merasa sudah ditunggu oleh keluarganya.


Mereka berempat makan malam bersama di ruang makan seperti biasa tidak terdengar sebuah kata dari mereka. Bunda membersihkan meja makan beserta peralatannya yang mereka gunakan untuk makan malam sedangkan anggota keluarga lain menuju ruang keluarga.


Mereka berbincang-bincang ringan untuk menciptakan kedekatan antar anggota keluarga. Adrean apalagi anggota baru pasti sedikit agak canggung.


"Tadi jalan-jalan kemana saja Sayang?" Tanya Bunda dengan membawa makanan ringan dan beberapa gelas jus setelah selesai membersihkan semua peralatan dapur.


"Pergi ke mall dan taman Bun." Jawab Seorang gadis kecil yang sedang bergelayut manja dengan Sang Ayah.


"Wah pasti senang banget dong?" Tanya Bunda.


"Ya iya lah Bun." Jawab Mentari.


"Tadi ke mall cuma sebentar doang." Lanjutnya.


"Terus kemana lagi?" Tanya Bunda.


"Kenapa sampai sedikit kemalaman?" Lanjutnya.


"Kita tadi pergi ke taman pusat kota.” Jawab Tari.


”Bermain di sana sangat menyenangkan sekali jadi lupa waktu deh.” Lanjutnya dengan manja.


”Lain kali ingat waktu, jangan membuat kami khawatir.” Pinta Sang Bunda.


"Sejak dari awal sampai akhir Abang dan aku selalu bergandengan tangan, seperti orang kencan.” Kata Mentari mampu menarik pandangan semua orang yang ada di sana.


”Kencan itu apa sih Bun?" Tanya gadis kecil itu lagi menampilkan wajah paling imutnya.


“Dari mana kamu tahu kata-kata itu?” Tanya Ayah penuh selidik.


"Aku dengarnya dari kalian berdua.” Jawab Tari dengan memandang wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


Pasutri itu tidak tahu harus berkata apa pada anak kecil itu. Pada akhirnya pandangan keduanya jatuh pada seorang pemuda yang sekarang sedang berkumpul bersama mereka.


Adrean kebingungan juga untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Mau dijawab dengan alanya orang dewasa atau ala anak kecil.


"Tahu begitu tadi kita jalan sendiri-sendiri saja." Celetuk Abang Adrean lirih tapi masih bisa di dengar oleh orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Tega melihat aku yang sekecil ini berjalan sendirian?" Tanya Gadis kecil itu terdengar sedih.


"Baiklah Abang tidak tega melihat gadis kecil yang cantik seperti mu ini sendirian. Abang akan jelasin. Ok." Kata Abang setelah berpindah duduk di samping Mentari dan memeluk gadis kecil itu dari samping.


"Kencan itu artinya pergi bersama dengan seseorang. Bukan hanya satu orang tapi pergi dengan sekelompok orang pun bisa dibilang kencan.”


"Huuuh." Suara Pasutri itu membuang napas lega sambil mengelus dada mereka.


"Harus lebih hati-hati lagi kalau ngomong." Batin Sang Ayah.


Mereka berbincang hingga waktu tidak terasa sudah sangat larut. Seorang gadis kecil itu berusaha menyembunyikan rasa ngantuknya.


Sang Bunda pada akhirnya mengetahui kalau putrinya sudah melewati batas waktu dan harus segera tidur. Bunda mengantar putrinya ke kamar.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat dikening seorang gadis kecil. Sang Bunda mulai menaikkan selimut pada putri kesayangannya itu hingga sebatas leher.


"Selamat tidur putri kecil ku yang cantik.” Ucap Sang Bunda melihat wajah anaknya yang imut dengan rasa sayang.


"Mimpi lah yang indah.” Lanjut Bunda dengan membelai rambut Sang Putri perlahan.


"Aku takut." Kata Sang Putri dengan memegang tangan Bunda dengan sangat erat setelah menariknya.


”Kenapa?" Tanya Bunda penuh perhatian dan kasih sayang saat mendengar suara Sang Putri yang terdengar ketakutan.


”Tidurlah tidak akan terjadi apapun.” Kata Sang Bunda meyakinkan putrinya.


”Bun, temani aku ya.” Pinta Mentari.


”Katanya sudah besar, masak sih tidur masih mau ditemani." Kata Sang Bunda saat duduk di tepi tempat tidur putrinya.


”Baiklah sayang, Bunda akan menemanimu di sini.” Lanjutnya setelah melihat Sang Putri tidak segera memejamkan matanya.


Wanita paruh baya itu pada akhirnya menaikkan kedua kakinya di atas tempat tidur. Dia membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.


Wajah kecil itu ditatapnya secara intens cukup lama. Bunda selama ini tidak pernah melihat wajah putrinya seperti sekarang.


Saat ini terlihat wajah Sang Putri yang penuh dengan rasa khawatir. Tidurpun terlihat tidak nyenyak tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


Gadis kecil itu sekarang sudah terlelap walaupun tidak senyenyak biasanya. Sang Bunda turun dari ranjang dan dengan berat hati mulai berjalan keluar dari kamar Sang Putri.


Tuan Richat dan Adrean yang berada di ruang keluarga sekarang berjalan menuju ruang kerja setelah Sang Putri pergi tidur. Mereka berdua akan membicarakan sesuatu hal.


Kedua laki-laki dewasa itu harus berbicara empat mata, apalagi setelah Sang Ayah Angkat bermimpi buruk. Mimpi itu sangat mengganggu pikirannya karena terlihat sangat nyata.


”Bagaimana dengan kuliah mu?” Tanya Ayah pada Adrean setelah duduk di sofa yang ada di ruang kerja dengan tangannya yang mengisyaratkan pada pemuda itu untuk duduk juga.


”Beberapa hari lagi aku akan kembali untuk mengurus wisuda ku.” Jawab Adrean sopan.


”Kenapa tidak kamu serahkan saja urusan mudah itu pada salah satu asisten mu?” Tanya Ayah.


”Maaf Ayah, kalau masalah keluarga atau kehidupan ku atau masa depan keluarga aku tidak bisa menyerahkannya pada orang lain." Jawab Adrean.


Sang Ayah mengangguk perlahan tidak ingin bertanya jauh lagi. Dia bisa menghargai keputusan Anak Angkatnya itu.


Sang Istri setelah keluar dari kamar putrinya menuju dapur untuk membuat teh untuk kedua laki-laki yang sekarang berada di ruang kerja. Hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan membuat minuman hangat untuk Suaminya.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki seseorang menuju ruang kerja secara perlahan. Aroma teh yang dibawa Sang Istri menyeruak di dalam ruangan itu.


Empat mata dari dua laki-laki yang ada dalam ruangan itu menoleh ke arah asal aroma tersebut. Terlihat seorang wanita paruh baya membawa nampan yang terdapat air teh dan makanan ringan diatasnya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Sebuah benda pipih yang berada di saku celana seorang pemuda itu bergetar. Getaran benda itu bisa dirasakan oleh laki-laki paruh baya yang duduk di dekatnya.


”Kenapa tidak dilihat siapa pengirimnya?" Tanya Ayah ketika melihat Adrean merasa canggung untuk mengambil ponselnya.


"Siapa tahu penting." Kata Bunda setelah menaruh nampan yang dibawanya di atas meja.


Pemuda itu mengambil benda pipih dari saku celana dan melihat Id pengirimnya. Adrean masih saja merasa canggung untuk membuka pesan itu walaupun sudah mendapatkan ijin dari Sang Ayah.


Pesan itu berasal dari asistennya yang memberitahukan tentang jadwal penerbangan keberangkatannya menuju negara X tempat dia menempuh studi. Tiket itu sudah dipesan oleh asistennya itu agar Adrean tidak terlambat dalam mengurus wisudanya.

__ADS_1


__ADS_2