Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 140. Tak Terduga


__ADS_3

"Sakit ini." Keluh Tari lirih.


"Sebentar lagi." Jawab Alfian.


"Aku gak bisa bergerak, ampek dadaku." Kata Tari.


"Biar aku beri napas buatan kalau ampek." Balas Alfian.


Saat mulut Alfian sudah mulai mendekat pada bibir yang ramum itu. Kejadian tak terduga mulai terjadi lagi.


💕💕💕💕


Tap


Tap


Tap


Sebuah derap langkah yang semakin mendekat tak terdengar oleh mereka berdua. Mungkin karena asyiknya mereka berduaan.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya seorang laki-laki paruhbaya.


"Oh Bapak." Ucap Alfian tersentak membenarkan posisi yang saat itu sedang mengukung tubuh gadisnya.


"Tumben Bapak siang kesini?" Tanya Alfian dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa setelah ketahuan.


"Itu saya kesini mau lihat tanah kosong yang mau dipakai besuk untuk pemakaman besuk." Jawab penjaga makam agak sungkan.


"Ya sudah Pak selamat bertugas." Kata Alfian singkat.


"Terimakasih Mas saya permisi dulu." Pamit penjaga makam dengan hormat.


Biasanya penjaga makam itu tidak jarang menemui sepasang pemuda di tempat sepi seperti itu. Sering kali juga sang penjaga makam mengatai mereka dengan embel-embel anak muda sekarang atau sekarang memang jamannya jaman edan.


Tidak untuk Pemuda yang satu ini. Penjaga makam sudah sangat mengenalnya karena Alfian memang sering berziarah ke makam adik perempuannya.


Gadis yang ada di samping Alfian sudah merasa malu karena kepergok atas kejadian yang tak terduga berusan. Alfian membukakan pintu gerobak cintanya itu saat pikiran Sang Gadis entah kemana karena malu.


"Mau disini sampai kapan?" Tanya Alfian melihat Sang Gadis masih tak bergerak sama sekali.


"Tidak mau pulang?" Pertanyaan ulang Alfian saat mendekat kan mulutnya pada telinga Sang Gadis.


Tersadar Sang gadis pun menoleh pada sumber suara. Kejadian tak terduga pun kembali lagi. Entah disengaja atau tidak yang pasti membuat Mentari semakin merasa malu.


Cup


(Apa-an itu tadi ya?)

__ADS_1


Tanpa sengaja kembali lagi sebuah bibir yang tidak sengaja nakal mengenai bibir ranum merah muda gadis yang ia berikan sebuah bisikan. Jangan bilang itu adalah sebuah bisikan setan karena tadi sempat ada penjaga makam alias orang ke tiga yang memergoki mereka dalam posisi yang membuatnya malu.


"Bukan salah ku." Elak Alfian.


"Lalu salah siapa?" Tanya Sang Gadis.


"Salah Kuntilanak?" Lanjutnya sambil mendorong tubuh Alfian hingga menyingkir dari pintu gerobaknya.


Braaaaak


Tidak terdengar ya itu suara pintu gerobak Limitid edition yang cukup-cukup sangat mahal. Duduklah Mentari kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di samping Pak Kusir.


Alfian sendiri masih berdiri di samping gerobaknya itu. Tepatnya Ia menyandarkan tubuhnya di pintu gerobaknya agak lama.


"Mas Al masih di sini?" Tanya Bapak Penjaga Makam.


"Trus tadi ceweknya kemana? Marah?" Tanyanya lagi beruntun.


"Bapak itu bertanya seperti kereta. Panjang sekali." Kata Alfian tanpa menjawab pertanyaan Sang Bapak.


"Iya Bapak minta maaf." Kata Sang Bapak.


"Itu sudah di dalam gerobak." Jelas Alfian.


"Mas Alfian ini, mobil bagus kayak gini dibilang gerobak." Jelas Sang Bapak.


"Ini juga bisa rusak Pak, dan kalau parah bisa jadi barang rongsokan mending juga gerobak masih bisa dipakai." Jelas Alfian yang memang sejak dahulu tak pernah ada rasa sombong pada dirinya.


"Itu tadi calon istri Pak. InsyaAllah minggu ini akan menikah." Jelas Alfian agar Sang Penjaga makam tidak salah sangka.


"Bapak sekeluarga datang ya? Undangan pasti tiba di rumah Bapak." Kata Alfian.


"Iya Mas, kami sekeluarga InsyaAllah akan datang." Jawab Sang Bapak.


"Saya pamit dulu Pak, waktu sudah sangat siang." Pamit Alfian sopan.


"Hati-hati Mas." Pesan Sang Bapak.


"Ia Pak terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Alfian.


Alfian pun berjalan mengitari gerobak cintanya itu. Ia mulai membuka pintu dan duduk di kursi kemudi.


Bapak penjaga makam masih merupakan orang jawa tulen yang masih percaya dengan hal-hal mistis. Pesan yang diberikan kepada Pemuda yang akan menikah dalam waktu dekat ini dianggapnya sebuah pesan keramat, termasuk Alfian.


Alfian memang akan menikah dalam waktu dekat ini. Hal ini membuat Alfian juga harus waspada terhadap segala sesuatu yang akan terjadi.


Hal itu karena Pemuda itu memiliki saingan di dunia bisnis yang sangat kejam. Apa saja dilakukan untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.

__ADS_1


Alfian melihat calon istri dengan wajah yang masih memerah seperti buah tomat masak yang siap dipetik. Hal itu membuat pemuda ini ingin menggodanya.


"Merah amat itu muka." Goda Alfian sambil membenarkan sabuk pengamannya.


"Masak sih?" Tanya Gadis yang ada di samping Pak Kusir.


"Salah lihat kali." Lanjut Tari menoleh ke arah Pak Kusirnya.


"Kalau gitu mata ku bermasalah dong." Kata Alfian.


"Mungkin." Jawab Sang Gadis.


"Kalau begitu temeni aku beli kacamata biar lihat dengan jelas." Pinta Alfian.


"Itu kaca mata juga cuma ditenggerin aja." Tunjuk Sang Gadis dengan menunjukkan jari telunjuk pada kaca mata yang dikaitkan pada kaos Alfian.


"Kalau pakai kaca mata yang ini bukannya semakin baik malah semakin buram hingga tak bisa melihat." Jelas Alfian pada Sang Gadis dengan melepas kaca mata hitam yang bertengger di kaosnya itu dan menyodorkannya.


"Kalau sudah seperti itu jika aku salah pegang gimana?" Tanya Alfian.


"Maksudnya?" Tanya balik Sang Gadis dengan memicingkan matanya belum paham.


"Ya pegang ini, pegang itu kalau gak bisa lihat berarti gak ada fiternya dong." Jelas Alfian.


"Kalau sudah sah sih gak masalah, kalau belum kan bisa berabe." Lanjut Alfian menjelaskan.


"Dasar kamu itu ya pikirannya udah kotor sampai menjalar kemana-mana." Kata Sang Gadis ketus melihat ke depan kaca gerobak.


"Udah jalan." Perintah Sang Gadis.


"Jalan kemana?" Tanya Alfian sambil tersenyum renyah.


"Katanya mau beli kaca mata." Jelas Sang Gadis.


"Ok - Ok." Kata Alfian sambil menyalakan mesin gerobaknya.


Alfian melajukan gerobaknya menuju Mall untuk berbelanja kebutuhan yang harus dibeli saat pernikahan mereka. Mulai keperluan saat ijab kobul sampai pesta hanya mereka berdua yang memutusnya untuk membeli kebutuhan itu hanya mereka berdua.


Gerobak pun melaju membelah keramaian jalan. Banyak pengguna jalan yang merasa iri dengan pemilik gerobak.


"Beruntungnya bisa memiliki mobil mewah itu?" Kata salah seorang pengguna jalan.


"Ya pasti orangnya sangat kaya. Tapi siapa ya pemiliknya?"


Banyak pengguna jalan berkomentar seperti itu. Tidak satu pun tahu pemilik dari mobil itu.


Gerobak diparkirkan ditepi jalan raya yang cukup ramai. Ia tidak pernah khawatir jika terjadi sesuatu dengan gerobaknya itu.

__ADS_1


Alfian sadar itu hanya sebuah titipan jadi Ia tidak pernah mengagungkan setiap barang miliknya. Alfian mengenakan kembali kaca mata hitamnya lagi sebelum keluar dari gerobak itu.


__ADS_2