Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 23. Makan Malam Perpisahan Mendadak


__ADS_3

Mereka segera melahap makanan yang ada di atas meja depan mereka. Melihat lingkungan disekitar mereka yang sungguh sangat menyejukkan dengan angin malam yang berhembus menerpa kulit terasa dingin pasutri ini memberanikan diri untuk menceritakan tujuan mereka mengajaknya makan malam.


Situasi semacam itu diharapkan oleh pasutri itu mampu untuk meredam perasaan yang tidak enak setelah mendengar penjelasan mereka. Perasaan sedikit kecewa walaupun beberapa hari paling lama satu bulan ditinggal Abang gantengnya Sang Putri.


"Sudah selesai makannya?" Tanya Ayah.


"Atau Tari mau nambah lagi kan sekarang ini kamu sedang dalam masa pertumbuhan." Jelas Sang Bunda.


"Besuk Abang kamu mau balik ke luar negri...." Jelas Sang Ayah setelah menarik napas dan menghembuskan perlahan untuk menguatkan tekatnya mengatakan yang sebenarnya tentang tujuannya malam ini mereka makan malam di restoran.


”Jadi benerkan sejak tadi kalian diam-diaman untuk mengatakan ini semua." Kata seorang gadis kecil memotong perkataan Sang Ayah.


”Dengarkan dulu kata Ayah dong, jangan cemberut gitu." Nasehat Bunda dengan sabar meyakinkan Sang Putri.


"Betul sekali kata mu sayang, makan malam ini supaya kamu tidak sedih ditinggalkan oleh Abang mu." Kata Ayah.


"Makan malam ini ada niat terselubung ternyata.” Keluh seorang gadis kecil dengan menundukkan kepalanya tidak ingin orang lain melihat kesedihan diraut wajahnya itu.


"Abang disana tidak lama kok." Kata Seorang Pemuda tampan tepat ditelinga Mentari dengan berbisik hingga dibuat merinding.


"Tadi itu bisikan apa ya?" Tanya Seorang Gadis Kecil dengan menggosok leher belakangnya.


"Bisikan hantu gentayangan." Canda Abang ganteng.


"Abang." Kata Mentari sedikit berteriak dan memikul lengan Pemuda yang ada di sampingnya itu.


"Sakit." Keluh Abang Adrean berpura-pura kesakitan dan mengelus-elus lengan yang di pukul seorang gadis kecil.


"Bo'ong." Kata Mentari mengerucutkan bibirnya yang mungil itu.


Suasana pun menjadi hangat kembali tatkala seseorang yang mereka sayangi menjadi ceria kembali. Mereka bercanda tertawa seperti sedia kala.


Pemuda itu baru tahu kalau acara makan malam perpisahan sementara ini memang sengaja di rencanakan oleh Pasutri itu. Mereka berharap Sang Putri tidak begitu sedih ketika ditinggalnya besuk sore.


Makan malampun kali ini pada akhirnya berjalan dengan baik. Mereka memutuskan pergi ke Taman Kota saat pulang dari restoran.

__ADS_1


Seorang Pemuda berjalan dengan cepat dan langkah lebar menuju tempat parkir hendak mengambil mobilnya tadi. Dia segera menginjak pedal gas mengemudikan mobilnya menuju pintu masuk dimana keluarganya sudah menunggunya.


Ibu kota dengan gemerlapnya lampu hingga menciptakan sebuah keindahan tersendiri bagi penduduknya. Keindahan itu membuat saya tarik tersendiri bagi orang desa sehingga mereka ingin merantau ke kota.


Perjuangan yang harus didapatkan setelah mereka sampai di ibu kota. Membanting tulang dan memeras keringat harus dijalani karena persaingan yang sungguh sangat berat yang terkadang tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.


Adrean mengemudikan mobil menuju sebuah taman kota yang terlihat sangat indah. Dia ingin menghabiskan malam ini bersama adik perempuannya disana sebelum berangkat besuk sore.


Sebuah taman kota dengan rerumputan seperti permadani hijau sudah menanti mereka. Adrean segera mencari tempat parkir untuk mobilnya.


"Ayo, kita nikmati malam ini disini sebentar.” Kata Seorang Pemuda tampan setelah memarkirkan mobilnya.


Klek


Tanpa menunggu sebuah perintah dari komandan Mentari melepaskan sabuk pengamannya. Dia segera keluar dari mobil itu dan berlari menuju tempat yang paling nyaman.


Pasutri yang duduk di kursi penumpang hanya menggelengkan kepala perlahan melihat Sang Putri seperti seorang anak ayam yang baru keluar dari kandangnya. Tuan Richat hanya bisa berharap kehidupan Sang Putri akan lebih bahagia dari sekarang ini.


"Kami akan pulang ke rumah dulu, kamu tolong jaga anak kami." Pesan Ayah pada Adrean sebelum pemuda itu menyusul Tari yang sudah berlari menjauh.


Wk wk wk wk


Keduanya tertawa lepas yang jarang sekali mereka lakukan di taman ini. Ayah kemudian menghubungi sopirnya untuk menjemputnya di taman kota itu.


Pemuda itu segera menyusul Mentari yang sudah duduk di rerumputan itu. Dia terlihat sangat menikmati malam yang begitu cerah malam ini, tetapi mungkin tidak secerah hatinya saat ini.


Keduanya duduk bersebelahan kemudian merebahkan badan di atas rerumputan Mereka menikmati dinginnya malam itu menatap rembulan dan bintang-bintang yang bertaburan di langit yang cerah.


Waktu tidak terasa semakin larut malam. Mereka memutuskan untuk pulang menuju kediaman utama setelah Adrean melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Sudah sangat malam rupanya, badan mu sudah terasa dingin sekali. Sebaiknya kita pulang." Ajak Adrean pada orang yang bersamanya saat ini.


"Baiklah, tapi janji ya kita ke sini lagi kapan-kapan?” Tanya Mentari.


Pemuda itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Mereka pun berdiri berjalan menginjakkan kaki di atas rerumputan.

__ADS_1


Mereka menuju tempat dimana mobil mereka terparkir. Adrean langsung menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman utama.


Pasutri itu sudah menunggu di lama di kediaman utama. Mereka memang memberikan kesempatan pada keduanya untuk saling mengenal sebagai kakak beradik.


Kakak beradik itu sudah sampai di kediaman utama setelah menempuh jalanan yang cukup padat. Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga setelah menempatkan mobil itu di garasi.


"Sudah malam kalian langsung istirahat saja." Kata Sang Ayah saat mereka baru saja duduk di sofa.


"Selamat malam Ayah." Kata Mentari langsung berdiri tanpa membantah lagi karena memang badannya juga sudah sangat lelah.


Bunda mengantar sang putri menuju kamar untuk istirahat. Wanita paruh baya itu membantu putrinya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum tidur seperti biasanya.


Sang Ayah dan Adrean masih berbincang di ruang keluarga tetapi itu tidak berlangsung lama. Laki-laki paruh baya itu kemudian menyuruh Anak Angkatnya itu untuk ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya karena besuk sore dia akan melakukan perjalanan jauh. (Sejauh apapun kalau naik pesawat juga cepat sampainya: Maaf Authornya ngehalu dulu ya).


Laki-laki paruh baya itu langsung menuju ke kamar setelah Adrean pergi. Dia juga ingin istirahat lebih awal.


Ayah segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang besar itu setelah membersihkan badan. Dia menyandarkan badan di kepala ranjang menunggu Sang Istri kembali dari kamar putrinya.


Sang Bunda telah kembali dari kamar Mentari dan segera membersihkan diri. Dia menyusul suaminya yang sedang menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dengan memejamkan mata.


Wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam selimut. Bunda menyandarkan kepalanya pada bahu Sang Suami.


"Sayang." Kata Sang Suami terkejut ketika merasakan seseorang menyandarkan kepala di bahunya.


"Bagaimana dengan rencana kita beberapa hari yang lalu?" Tanya Ayah.


"Maksut Ayah?" Tanya Bunda balik berpura-pura lupa.


"Anak." Jawab Sang Suami singkat hingga Bunda melihat wajah suaminya yang tampan itu.


"Bagaimana kalau Bunda mengikuti program kehamilan." Ucap Ayah memberikan saran pada Sang Istri.


"Baiklah kita coba besuk saja temui dokter." Jawab Sang Bunda dengan Bijak.


Keduanya sudah mulai diserang rasa ngantuk hingga mereka memutuskan untuk segera tidur. Laki-laki paruh baya itu tidak lupa memberikan kecupan selamat tidur pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2