Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 100. Salah Paham:81


__ADS_3

Deddy yang pergi ke lantai atas menuju ke kamar Alfian. Ia tidak mendengar suara apapun ketika hendak membuka pintu kamar itu.


Mammy setelah sampai di rumah malah kembali seperti dahulu kala. Ia hanya bisa beristirahat di kamar anak laki-lakinya.


Pemilik kamar memakluminya hingga membiarkan mammy melakukan aktivitasnya di kamar Alfian. Hal itu menjadi pertimbangan Sang suami karena sesuatu hal.


Mammy tertidur dengan nyenyaknya hingga ia tak menyadari kedatangan suaminya. Biasanya selalu peka dengan suara apapun biarpun sangat kecil, akan tetapi tidak untuk kali ini.


Deddy pun keluar dari kamar tempat dimana Sang Istri tertidur pulas. Ia berjalan mengendap-endap seperti pencuri karena takut membangunkan istri tercintanya.


Deddy mengerti Sang Istri sangat capek karena hampir semalam ia tidak tidur. Saat berada di rumah sakit ia tidak mau istirahat karena ada teman berbincang sedangkan saat di rumah ia tidak ada teman untuk melakukan itu.


Keluar dari kamar pintu pun segera ditutup kembali dan Deddy terlihat berjalan menuruni anak tangga. Ia segera berjalan menuju ruang makan kembali duduk di tempat semula.


"Kenapa belum dihabiskan?" Tanya Deddy setelah duduk di kursinya.


"Maaf Om saya sudah kenyang." Jawab Ziko.


"Benar sudah kenyang?" Tanya Deddy sekali lagi.


"Baiklah saya gak mau bertanggung jawab jika diantara kalian nanti ada yang tidak kuat bahkan sampai pingsan." Kata Deddy mengingatkan.


"Saya tanya sekali lagi, kalian sudah ini yang makan?" Tanya Deddy berulang kali.


"Hem.... " Jawab ketiga orang dalam ruangan itu secara bersamaan.


"Apalagi kamu Ziko, kamu lebih membutuhkan enegi yang lebih." Sambungnya.


"Baiklah kalau begitu, kita ke ruang kerja saja." Ajak Deddy.


Ketiga orang yang merasa di beri teka teki silang itu kini hatinya sudah dak dik duk der. Serasa kini seperti memasuki ruang penyiksaan.


Deddy meminta mereka duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja itu. Suasana menjadi lebih tegang tatkala Deddy sudah mulai ikut duduk.


Deddy mulai memberikan sebuah pencerahan dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Awalnya mereka sangat takut akan menerima penataran yang sangat menakutkan tapi lebih dari ekspetasi mereka.


Penjelasan yang telah diberikan kepada mereka lebih berat. Hal tersebut membuat mereka membuat sebuah penyusunan rencana yang lebih matang.


Penyusunan rencana ini mengenai pernikahan seorang Pemuda yang sangat berarti dalam keluarga itu. Setiap langkah yang jatuh bangun pemuda itu ikut merasakannya hingga ia berhak atas hadiah pernikahan yang sangat megah.


Hadiah dari Deddy sebuah pesta pernikahan yang sangat megah itu akan membuat iri semua orang. Memungkinkan sebuah tindakan kriminal bisa saja terjadi.


Banyak alasan terjadinya tindak kriminal pada acara resepsi yang akan diadakan oleh keluarga mempelai pria maupun mempelai wanita. Mereka hanya bisa mencegah ataupun meminimalisir semua kejadian yang tidak diinginkan.


Asisten Alfian ini merasakan sebuah tanggung jawab yang begitu besar. Sebelum berawal bahkan sampai sesudah acara.


Deddy yang tak merasakan mereka sudah sangat lama berada di ruang kerja. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Braaaaak


Suara daun pintu yang dibuka dengan kasar karena terburu-buru. Mengingat Sang istri yang belum makan ia merasa sangat khawatir karena dalam perutnya masih ada makhluk bernyawa.


Sang istri membutuhkan nutrisi yang lebih sebab semua makanan yang ia masukkan ke mulut masih sering dimuntahkan sampai sekarang. Badan terlihat tidak memiliki energi setelahnya.


Ceklek


Pintu kamar Alfian dibuka perlahan oleh Deddy, takut membangunkan sang istri tercinta. Dilihatnya Mammy sudah duduk menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


Saat pintu itu terbuka Mammy melihat pada daun pintu yang telah dibuka. Bukan hanya kedatangan Deddy yang dirasakan saat sampai di depan pintu tetapi aroma tubuh tubuh dan langkah kaki sang suami yang perlahan masih bisa dirasakan.


Semenjak kehamilan kali ini semua alat indra Mammy sangat sensitif sekali. Apa saja di rasakan terlebih dahulu olehnya.


"Makan ya Mam?" Tanya Deddy pada sang istri tercinta.


"Mammy ingin makan apa?" Tanyanya lanjut.


"Mammy gak laper Ded." Jawab Mammy dengan mengerjap ngerjabkan matanya beberapa kali.


"Sedikit saja ya Mam." Pinta Deddy.


"Ingat Mammy sekarang Mammy tidak sendiri di dalam sini masih ada makhluk kecil yang membutuhkan makanan." Kata Deddy memperingatkan Sang Istri sambil mengelus-elus perutnya yang masih lumayan datar.


"*Memang benar apa kata Deddy." Batin Mammy.


"Apalagi sekarang usia ku untuk mengandung sangat rentan kalau tidak di kasih nutrisi*."


Perut wanita paruh baya ini memang belum bisa terisi. Setiap mencium bau masakan seringkali ia merasakan mual.


Jika sampai ia mengeluarkan makanannya itu justru badannya akan terasa sangat lemas. Pada akhirnya ia hanya akan rebahan di tempat tidur.


Saat mengandung kali ini Mammy hanya mengingat sebuah nama dan wajah mungil nan cantik. Wajah itu selalu ada dalam pikirannya bahkan sering kali ia merasa kalau gadis kecil itu selalu menemaninya.


158


Mendengar penjelasan Sang Suami, Mammy berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa makanan bisa masuk ke perutnya. Nutrisi yang dibutuhkan ia dan bayi yang ada di dalam perutnya bisa terpenuhi.


"Mammy akan mencoba Ded." Kata Mammy.


"Tunggu sebentar Mam, Deddy ambilkan makanan untuk Mammy, Ok." Kata Deddy.


Deddy pergi dari kamar Alfian dengan segera. Ia menuju dapur kemudian ke ruang makan.


Di dapur Deddy mengambil nampan kemudian menuju ruang makan mengambil beberapa jenis makanan yang ada di meja itu. Makanan yang ada di atas meja masih sedikit hangat jadi tidak perlu dipanaskan kembali.


Beberapa orang keluar dari dalam ruang kerja setelah mereka memikirkan beberapa hal untuk pernikahan Alfian. Mereka bertemu dengan Deddy yang sedang membawa nampan berisi berbagai macam makanan diatasnya.


"Wuih kenapa jadi sekarang jadi Om yang ngabisin itu makanan?" Kata Ziko keceplosan.


"Iya tu biasanya bawanya berkas sekarang kenapa jadi bawa beras?" Ledek Alfian dengan senyum smirknya.


"Dasar kalian ini, anak-anak tak tahu kupat tahunya rapat." Balas Deddy tergesa-gesa menuju lantai atas ke kamar Alfian.


Mammy sudah menunggu makanan yang dibawakan oleh Sang Suami. Aroma makanan sudah menyebar masuk ke kamar itu terlebih dahulu.


Aroma makanan yang masuk terlebih dahulu sudah membuat mual perut sang Mammy. Ia berusaha menahannya, akan tetapi perut itu tak bisa diajak berkompromi.


Mammy langsung berlari menuju kamar mandi saat suaminya sudah berada di ambang pintu. Rasa lemas setelah ia mengeluarkan seluruh isi perutnya membuatnya tak bisa berbuat apapun di sana.


"Mammy." Panggil Deddy saat melihat sang istri berlari menuju kamar mandi memuntahkan semua yang ada di perutnya.


Deddy mengikuti istrinya sedikit berlari setelah meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas. Ia memijat tengkuk sang istri agar terasa lebih enak.


Mammy sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri apalagi melangkahkan kaki. Akhirnya Mammy pun ditatih menuju tempat tidur Alfian.


Di atas tempat tidur itu Mammy mulai berbaring tapi ia berusaha menahan rasa mual akibat mencium aroma masakan yang dibawa oleh sang suami.

__ADS_1


"Bawa semua makanan ini keluar Ded!" Pinta Sang Istri yang sudah sangat lemah tubuhnya.


"Biarkan semua makanan ini di sini saja nanti sedikit-sedikit kan bisa kamu makan Mammy." Kata Deddy penuh perhatian.


"Aku gak tahan Ded dengan bau makanan ini." Jelas Mammy.


"Baiklah kalau begitu Mammy." Kata Deddy dengan membawa nampan yang berisi makanan.


Laki-laki paruh baya itu terlihat sangat khawatir dengan kondisi Sang Istri saat kehamilannya kali ini. Kehamilan dengan usianya yang sekarang sangatlah rentan.


Kondisi yang seperti ini jika terus berlanjut bukan hanya kesehatan Sang Istri saja tetapi calon bayi pun akan berpengaruh. Bagaimana bayi yang ada dalam kandungan itu bisa sehat jika sang ibu tidak makan sehingga tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup.


Deddy pun langsung membawa makanan itu ke dapur. Di dekat tangga ia bertemu dengan ketiga orang anak muda tadi.


"Gak mau makan lagi Mammy?" Tanya Alfian.


"Biasa Om kalau hamil muda kayak gitu." Kata Seorang gadis.


"Sok tahu." Kata Ziko sang asisten.


"Memang kamu pernah hamil?" Goda Alfian.


"Gila lo ngatain cewek gue kayak gitu." Kata Ziko.


"Emang kapan elu jadian sama sekretaris gue." Sahut Alfian.


"Bener juga ya." Kata Ziko mengakui kalimatnya yang bodoh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ngomong-ngomong elu belum keramas ya?" Tanya Alfian.


"Atau mungkin..... Banyak kutunya." Lanjutnya.


"Emang elu, mandi aja model bebek berenang di kali." Ledek Ziko.


Deddy merasa sedikit terhibur dengan kelakuan kedua pemuda itu. Kelakuan mereka yang seperti kekanak-kanakan saat ini berbeda sekali dengan saat di kantor.


Deddy pun tanpa ada komentar menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sebelum meninggalkan mereka bertiga. Gadis yang ada di dekat mereka pun sama halnya merasa kedua masih kekanak-kanakan.


Deddy sekarang sedang duduk di ruang makan setelah meletakkan semua makanan di dapur. Makanan yang dibawa oleh Sang Suami sebenarnya adalah makanan kesukaan istrinya.


Bagaimana mungkin terjadi hanya dengan mencium aroma makanan kesukaannya bisa sesensitif itu. Itupun dengan jarak yang relatif masih jauh.


Melihat ekspresi Sang Ayah yang duduk dengan menopang dagunya di meja makan dengan kedua tangannya, Alfian merasa sungguh sangat iba. Seketika itu juga dengan kata adik ia jadi teringat dengan gadis kecil yang pernah mengisi hati dan kehidupannya.


Muncul ide dalam pikirannya untuk membuat menu makanan kesukaan almarhumah adiknya itu. Ia pun menuju dapur tanpa berkata apa-apa.


Gadis kecilnya itu dulu selalu dibuatkan masakan oleh Alfian. Ia tahu makanan kesukaan adik perempuannya itu.


Lama tidak masak di dapur sekarang memasuki dan menggunakannya ingatan masa kecil itu berputar kembali. Hatinya serasa sakit mengingat waktu itu ketidakmampuannya melindungi orang yang sangat disayangi.


Pemuda itu berusaha menguatkan hatinya. Semua bahan yang dibutuhkan mulai dipersiapkan kemudian ia mulai proses memasaknya.


Aroma harum dari dalam dapur mulai menyeruak ke semua ruangan. Semua orang yang ada di ruang makan saling pandang saat mencium aroma itu.


"Bukankah makan siang sudah lewat dan makan malam masih lama." Kata Ziko spontan.


"Benar, lalu siapa yang memasak?" Tanya Monik sambil mengedarkan pandangan pada semua orang yang semula ada di ruang makan.


"Aroma masakan ini sepertinya tidak asing." Celetuk Deddy.


"Benar, kemana dia bos yang suka ngancam-ngancam?" Tanya Ziko kemudian saat menyadari ada yang kurang anggotanya.


"Jangan-jangan punya ilmu hitam bisa ngilang." Lanjut Ziko.


"Oh My god." Katanya lagi tak percaya.


Pasalnya di kediaman utama itu tidak sembarangan orang dan waktu untuk dapat bekerja. Deddy yang dari tadi duduk dengan wajah memelasnya kini bangkit berjalan ke arah dapur.


Asisten dan sekretaris Alfian ini melihat Deddy pergi ke dapur tanpa berkata apapun. Keduanya mengikuti Deddy dari belakang seperti seorang raja.


Kedua orang yang mengikuti Deddy pun tak tahu kenapa Deddy pergi ke dapur. Di saat yang sama pula sebuah langkah kaki terdengar berjalan perlahan menuju dimana arah aroma masakan itu berasal.


Mammy dengan semangat 45 nya keluar dari kamar setelah mencium aroma masakan baru saja. Sudah lama tidak mencium aroma masakan seperti ini hingga ia sangat antusias sekali.


Wanita yang tengah hamil muda itu seperti anak kecil yang akan mendapatkan permen maupun coklat. Lupa ia sedang mengandung dari lantai atas berlari ke bawah menuju ruang makan.


Ketiga orang yang sedang asik mengintip seorang Ceo di perusahaan terbesar sedang asik memasak di dapur tersentak mendapati seorang wanita tengah hamil itu sudah duduk di ruang makan dengan sebuah piring di depannya. Kedua tangannya bersedakap di atas meja menunggu makanan siap di sajikan.


"Mammy!" Kata Deddy keheranan melihat sang istri sudah duduk di ruang makan.


"Laper." Kata Mammy manja.


"Bukannya tadi mammy muntah-muntah?" Tanya Deddy.


"Ini kayaknya enak bau makanannya Ded." Kata Mammy memuji masakan sang anak walaupun hanya baru aromanya.


"Cepet Al itu mammy sudah menunggu masakan mu." Kata Deddy saat berjalan mendekat ke meja makan yang diikuti oleh Asisten dan sekretaris Alfian.


Saat Deddy duduk keduanya juga mengikutinya seperti orang tak bertujuan. Mereka benar-benar melihat pada wanita itu yang tak percaya begitu antusias makan saat ini setelah memuntahkan semua isi perut saat di kamar atas.


Sang anak pun segera menyajikan makanan untuk Mammynya agar segera mendapat nutrisi. Pemuda ini sebenarnya juga kurang yakin dengan rasanya.


Mammy memakan banyak sekali yang dimasakkan oleh Alfian. Semua orang yang melihat pasti akan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya bahwa makanan sebanyak itu akan habis dalam waktu singkat.


Wanita yang tengah hamil ini seperti bertahun-tahun tak pernah makan, apalagi makanan enak.


"Biasanya juga pegangnya berkas sekarang ternyata para pemimpin bos besar yang dibawa lain." Kata Ziko terputus setelah Mammy berhasil menghabiskan semua makanan yang dibuatkan Alfian.


"Seperti kata ku tadi bos besar sudah bosan memegang berkas sekarang pegangnya beras." Lanjutnya.


Semua yang ada di ruangan itu menatap pada satu sumber suara. Mereka tidak memperdulikan dengan ucapan baru saja Ziko katakan barusan.


Mammy yang terlihat biasa sangat modis kini seperti anak kecil yang barusan makan dengan berbagai jejak di sekitar mulutnya. Sang suami ber-inisiatif mengambil tisu dan membersihkannya.


💕💕💕💕💕💕


Bagaimana kabar dengan gerobak cinta yang terparkir di dekat mall? Biarkanlah si gerobak cinta di sana dahulu tak seorangpun berani untuk mengusiknya


159


Semua yang ada di ruangan itu menatap pada satu sumber suara. Mereka tidak memperdulikan dengan ucapan baru saja Ziko katakan barusan.


Mammy yang terlihat biasanya sangat modis kini seperti anak kecil yang barusan makan dengan berbagai jejak di sekitar mulutnya. Sang suami ber-inisiatif mengambil tisu dan membersihkannya makanan yang tersisa di sekitar mulut dan wajahnya.


Makanan yang cukup banyak habis dalam waktu sekejap. Benar-benar kelakuan mammy seperti anak kecil.

__ADS_1


"Enak ya Mam?" Tanya Deddy menatap lekat pada sang istri.


"He'em." Jawab Mammy.


"Kalau masih ada aku mau lagi Deddy, rasanya sangat enak memang tidak ada duanya." Lanjut Mammy sangat antusias.


Mammy mengedarkan pandangan pada setiap menu makanan yang ada di meja makan ternyata memang benar-benar sudah habis. Mata Mammy seakan ingin menitihkan air mata.


"Mammy ingin makan apa lagi biar Deddy yang belikan." Kata Deddy saat melihat mata sang istri hampir basah.


"Bener Deddy mau belikan sendiri?" Tanya Sang Istri.


"Mammy pingin penthol yang ada yang di jual abang gendong." Pinta Mammy terputus.


"Abang gendrong?" Tanya Deddy penasaran yang memang belum tahu siapa abang gendrong.


"Baiklah tapi Mammy di rumah aja ya?" Pinta Deddy takut sang istri kecapean.


"Tapi Mammy pinginnya ikut Deddy." Pinta Mammy sambil merengek layaknya anak kecil.


Melihat ekspresi wajah Suaminya itu, mammy sangat yakin kalau ia tidak tahu dimana lapaknya Abang Gendrong yang jual penthol. Mammy ingin makan langsung penthol di tempat mangkal penthol itu dijual.


Mammy langsung berdiri berjalan meninggalkan mereka semua menuju kamar yang sekarang menjadi tempat persemediannya. Di sana wanita paruh baya itu menangis hingga terisak.


Sang suami melihat tingkah istrinya kini berubah sangat drastis. Wanita karier yang sangat mandiri sejak kehamilannya kali ini menjadi seorang wanita yang kekanak-kanakan.


Deddy hanya menggeleng-gelengkan kepala perlahan melihat tingkah sang istri. Dia pun menyusul ke kamar tempat sang istri sekarang berada.


Deddy menghampiri istrinya menyentuh pundak sang istri yang sedang berbaring membelakangi tempat suaminya itu duduk. Dia berusaha menenangkan wanita itu agar berhenti untuk menangis.


"Mammy ingin ikut?" Tanya Sang Suami.


"He'em." Jawab Mammy tanpa membalikkan badan dengan suara yang masih bergetar karena menangis.


"Baiklah mammy boleh ikut tapi.... ada syaratnya." Kata Deddy yang ingin memancing sang istri agar mulai membiasakan diri kembali tidur di kamar utama lagi.


"Apa syaratnya Ded?" Tanya mammy sangat antusias yang akhirnya membalikkan badan dan duduk di atas tempat tidur itu menghadap wajah suaminya.


"Mammy harus belajar kembali tidur di kamar utama." Pinta Deddy penuh harap sang mammy menyetujuinya.


"Baiklah. Mammy akan berusaha." Kata Mammy yang sebenarnya masih menggantung.


"Tapi jika mammy tidak bisa?" Lanjutnya dengan menarik tangan sang suami ketika Deddy sudah berdiri dari sisi tempat tidur milik Alfian.


Deddy saat ini tidak memiliki sebuah pilihan lainnya hingga ia hanya mengangkat sedikit bahunya ke atas secara bersamaan. Mammy juga sudah tahu jawabannya walaupun sang suami tidak berkata apapun.


Deddy menggunakan syarat seperti itu memiliki sebuah alasan yang tidak hanya menguntungkannya saja. Ada tiga pihak yang diuntungkan juga.


Deddy selama kehamilan sang istri kali ini sangat tidak berdaya. Mammy terlihat lebih ingin dimanja dari pada kehamilan yang sebelumnya.


Mammy berjalan mendahului suaminya sedikit agak berlari seperti anak kecil yang akan diajak pergi membeli permen. Hal itu membuat semua orang yang melihatnya merasa khawatir.


"Mammy jalan pelan sedikit." Kata Deddy agak keras.


"Cepetan Ded, ntar keburu habis!" Balas Mammy.


Ketiga orang pemuda yang berada di bawah menengadahkan kepala melihat kedua orang tua yang sedang bermain kejar-kejaran. Mereka berdua terlihat seperti dua remaja yang baru saja jadian.


"Mammy hati-hati jalannya." Pesan Alfian saat wanita paruhbaya itu lewat di depannya.


"Tante jangan lupakan aku ya." Pinta Ziko yang sebenarnya juga ingin ikut dengan gratisan.


Ziko mendapatkan tatapan tajam dari Deddy sambil lewat. Rasa khawatir pada sang istri yang hamil muda membuat Dia lebih sensitif.


Hamil muda memang sangat riskan dengan keguguran. Untuk itu Deddy sangat khawatir mengejar istrinya.


"Mammy dengerin Deddy dong." Kata Deddy dengan langkah cepatnya menuju mobil yang terparkir di garasi.


"Deddy sayang, aku ini sudah pernah mengandung jadi jangan terlalu khawatir." Pinta sang istri.


Bagaimana tidak khawatir setelah sekian lama yang diharapkan baru muncul. Mereka telah memprogram begitu lama dengan usaha keras baru calon bayi itu ada.


Mammy menghentikan langkah kaki ketika sampai di garasi. Dia ingin menaiki motor dari pada mobil yang ada di sana.


Deddy yang sudah hendak membuka pintu mobil terhenti saat melihat sang istri berjalan menuju sebuah motor yang tak jauh darinya. Pikiran pria paruh baya itu mulai tidak enak.


"*Ini Mammy mau ngapain berjalan ke sana?" Batin Deddy.


"Mengambil helm dan kunci motor lagi." Lanjutnya*.


"Naik motor aja Ded." Pinta sang istri.


"Biar lebih cepat sampainya." Katanya lagi.


"Mam lebih aman pakai mobil gak kepanasan kalau siang dan gak keanginan di jalan." Rayu sang suami.


"Gak mau ah Ded, ntar lama sampainya." Kata Mammy merajuk.


"Sabar lah Mam biar aman." Kata Deddy.


"Pengen aman bawa bodygart aja Ded." Kata Mammy.


"Emang bodygart mau disuruh ngapain?" Tanya Deddy.


"Mau disuruh pegangin Mammy biar gak jatuh saat naik motor?" Lanjutnya.


"Mammy pinginnya naik motor Ded." Kata sang istri yang kekeh.


"Nanti bisa-bisa Mammy kulitnya hitam lho kana panas matahari." Jelas Deddy.


"Deddy kenapa gak ngerti sih, aku inginnya naik motor!" Kata Mammy yang gak mau merubah pendiriannya.


"Mau nanti anak kita gak keturutan jadi ileran." Jelas mammy dengan menunjukkan rasa jijik.


"Enggaklah." Balas Deddy.


"Masa sih anak seorang Ceo terkenal kaya gak bisa nurutin keinginan anaknya alhasil jadi ileran." Jelas Mammy.


Kata-kata sang istri akhirnya berhasil meluluhlantahkan keinginan suaminya yang sejak tadi merasa sangat khawatir. Wanita memang selalu pintar dalam berbicara. (Tapi harus dalam hal positif ya jangan suka ngrumpi apalagi ini bulan puasa).


📒📒📒📒📒📒📒📒📒📒


Author mengucapkan:


Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan semoga segala amal kita diterima oleh Allah.

__ADS_1


Amin.


__ADS_2