
Talky Walky
Sesekali Papa melihat sang istri melalui kaca yang terletak di atasnya, terlihat rasa amarah yang teringat sangat.
Mama yang saat itu sangat khawatir dengan sang suaminya hanya melihat keluar mobil melalui kaca jendela. Rasa takut kehilangan orang sangat dicintainya, apalagi dalam beberapa hari kedepan adalah hari yang paling membahagiakan buat mereka.
Pintu gerbang di kediaman utama memang selalu tertutup dengan pagar yang cukup tinggi. Saat sebuah mobil yang tidak asing itu sampai penjaga gerbang segera membukakan pintunya.
"Tidak biasanya Tuan dan Nyonya duduk terpisah seperti itu." Batin penjaga gerbang malam ini yang sedang bertugas saat melihat kedua majikannya seperti seorang yang berjarak dengan ruang.
"Sepertinya akan terjadi perang dunia mungkin sampai kiamat." Lanjutnya.
Penjaga gerbang itu segera menghubungi Tuan mudanya yang sselalu usil dengan menggunakan talky walky. Salah satu Tuan Muda di kediaman Adrean segera menjawabnya, kebetulan tuan muda itu baru merilekskan semua anggota tubuh setelah seharian beraktifitas.
Hanya satu orang Tuan Muda di Kediaman Utama milik Adrean yang sengaja memiliki benda tersebut. Daffa adalah orang yang selalu banyak tingkah hingga dia pun tak pernah menganggur.
"Sepertinya ada masalah besar Tuan." Kata Penjaga gerbang yang sedang bertugas.
"Ada apa?" Balas Daffa yang saat ini sedang berada di kamar merebahkan tubuhnya di sofa.
"Sebentar lagi akan terjadi bencana alam." Kata Penjaga gerbang.
"Gempa bumi?" Tanya Daffa.
"Segera perintahkan semua orang untuk keluar dari dalam rumah dan cari tempat mengungsi." Lanjutnya sebelum ada jawaban dari Penjaga gerbang.
"Apa separah itu?" Tanya penjaga gerbang tak percaya dengan tindakan yang diperintahkan baru saja.
"Lha kok kamu malah tanya saya. Saya kan tahunya laporan dari kamu." Kata Daffa.
"Apa Tuan Besar dan Nyonya belum masuk rumah." Tanya Penjaga gerbang.
"Apa hubungannya dengan Papa & Mama Pak?" Tanya Daffa heran.
"Belum ada piring terbang ya Tuan?" Tanya penjaga gerbang.
__ADS_1
"Kamu kalau ngomong yang jelas piring terbang apaan?" Tanya Daffa.
"Piring kalau gak dilempar ke atas ya gak akan terbang." Lanjutnya.
"Iya maksut saya itu." Kata Penjaga gerbang berusaha menjelaskan pada Tuannya yang satu itu.
"Kalau dalam senetron TV itu yang suka melempar-lempar siapa Tuan? Tanya penjaga gerbang.
"Seorang perempuan melempar piring saat marah maksud mu, Papa sama Mama sedang berantem." Kata Daffa memastikan.
"Sepertinya seperti itu." Kata Penjaga gerbang.
"Ok ok terima kasih Pak informasinya." Kata Daffa.
Daffa tidak sedingin kedua kakaknya yang seperti salju di antartika. Dia lebih memiliki sifat yang santai terhadap segala macam hal tetapi semua hal yang ada dipikiran pemuda itu lebih sulit ditebak dari pada kedua kakak laki-lakinya.
Setiap melihat pertikaian mulai dari yang sepele hingga kelas kakap Daffa lah yang akan berjuang menjadi tombak paling depan untuk mendamaikan mereka. Gaya yang dimilikinya itu tidak mustahil dengan mudah bisa mencairkan suasana.
Kedua orang yang baru tiba di rumah utama Adrean tidak menarik perhatian banyak orang. Semua orang bahkan sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Kejadian ini terlihat jelas di mata Daffa yang sejak tadi menatap keduanya dari lantai atas. Talky Walky yang masih berada ditangannya sekarang disembunyikan di dalam sebuah laci.
"Berguna juga ini benda." Batin Daffa.
Daffa dengan mata kepalanya sendiri melihat kedua orang tuanya saling terdiam tanpa ada sebuah percakapan. Papa langsung pergi ke ruang kerja sedangkan Mama menuju kamar.
Biasanya setiap kali Mama marah, suaminya itu akan merayunya begitu juga sebaliknya tapi tidak untuk kali ini. Daffa hanya menggelengkan kepala perlahan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat.
Cleek
Sebuah pintu kamar terbuka hingga kedua orang terlonjak kaget. Mereka seperti melihat sama-sama melihat sebuah penampakan.
"Kenapa kamu berdiri di sini?" Tanya pemilik kamar.
"Emang urusan mu?" Tanya Daffa.
__ADS_1
"Ya urusan ku lah ini kan depan kamar ku." Jawab pemilik kamar.
"Jangan-jangan kamu mau ngintip?" Tebak pemilik kamar.
"Gila apa gue masak ujung tombak bertemu ujung tombak." Kata Daffa.
"Mana tahu kamu begitu." Kata Pemilik kamar ketus.
"Gak tertarik lah gue kalau sama." Kata Daffa.
"Biarpun dunia terbalik pun aku akan tetap menjaga harga diri ku terhadap sejenis." Lanjut Daffa.
Daffa berjalan mendekat pada orang yang berada di depannya. Dia mendorongnya hingga masuk ke kamar kemudian menutup pintu kamar itu.
Pemilik kamar itu terdorong hingga dia jatuh di atas tempat tidur. Dia berusaha memberontak tapi percuma saja kakaknya itu tak akan menang dari Daffa yang pandai dalam hal mengunci tubuh sebagai pertahanan diri.
"Insting ku cuma mengatakan kalau aku malam ini akan sangat panas biarpun ada AC di sebuah kamar." Kata Daffa di telinga Axel hingga membuat semua bulu kuduknya berdiri.
"Lepas, ini tidak benar. Kalau mau melakukan praktikum dengan orang lain jangan dengan ku. Aku masih normal." Cerocos Axel.
"Apa yang ada di otak mu saat ini? Aku berbuat yang tidak seharusnya kan? Tanya Daffa.
"Baiklah. Aku justru akan melakukannya dengan mu." Sambung Daffa dengan matanya yang sayu membuat saudaranya itu yakin dengan apa yang ada dipikirannya.
"Aku tidak segila itu tahu. Kak kamu pasti berpikir kalau aku akan menerkam mu kan? Jangan berpikir aku ini seorang gay karena hal yang baru aku lakukan baru saja." Kata Daffa mulai bangkit dari badan kekar Sang Kakak.
Daffa si jail dan suka membuat semua saudaranya itu selalu membuat penasaran. Akhirnya semua kejadian yang dilihatnya itu diceritakan pada kakaknya.
Cerita yang sangat runtut membuat semua yang mendengarkannya pasti langsung percaya. Pantang baginya juga untuk berbohong, Daffa akan mengatakan yang sebenarnya walaupun dia harus menanggung hukuman.
Talky walky diminta Daffa pada penjaga tadi siang saat pergi mengambil pesanan untuk surprase sang kakak. Tujuan awal sebenarnya hanyalah untuk mainan tapi malam ini ternyata malah berguna untuk mengetahui kondisi orang tuanya yang tidak bagus.
Axel jadi tertarik dengan Talky walky yang diceritakan oleh Daffa. Dia ingin meminjam benda tersebut tetapi tidak diijinkan oleh sang adik.
Axel jadi melupakan tujuannya semula setelah kejadian baru saja akibat ulah Adiknya Daffa. Mereka tidak menyangka akan mendapati kedua orang tuanya yang sedang bertengkar melalui sebuah mainan.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗