Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 158. Berkas Jadi Beras


__ADS_3

Mendengar penjelasan Sang Suami, Mammy berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa makanan bisa masuk ke perutnya. Nutrisi yang dibutuhkan ia dan bayi yang ada di dalam perutnya bisa terpenuhi.


"Mammy akan mencoba Ded." Kata Mammy.


"Tunggu sebentar Mam, Deddy ambilkan makanan untuk Mammy, Ok." Kata Deddy.


Deddy pergi dari kamar Alfian dengan segera. Ia menuju dapur kemudian ke ruang makan.


Di dapur Deddy mengambil nampan kemudian menuju ruang makan mengambil beberapa jenis makanan yang ada di meja itu. Makanan yang ada di atas meja masih sedikit hangat jadi tidak perlu dipanaskan kembali.


Beberapa orang keluar dari dalam ruang kerja setelah mereka memikirkan beberapa hal untuk pernikahan Alfian. Mereka bertemu dengan Deddy yang sedang membawa nampan berisi berbagai macam makanan diatasnya.


"Wuih kenapa jadi sekarang jadi Om yang ngabisin itu makanan?" Kata Ziko keceplosan.


"Iya tu biasanya bawanya berkas sekarang kenapa jadi bawa beras?" Ledek Alfian dengan senyum smirknya.


"Dasar kalian ini, anak-anak tak tahu kupat tahunya rapat." Balas Deddy tergesa-gesa menuju lantai atas ke kamar Alfian.


Mammy sudah menunggu makanan yang dibawakan oleh Sang Suami. Aroma makanan sudah menyebar masuk ke kamar itu terlebih dahulu.


Aroma makanan yang masuk terlebih dahulu sudah membuat mual perut sang Mammy. Ia berusaha menahannya, akan tetapi perut itu tak bisa diajak berkompromi.


Mammy langsung berlari menuju kamar mandi saat suaminya sudah berada di ambang pintu. Rasa lemas setelah ia mengeluarkan seluruh isi perutnya membuatnya tak bisa berbuat apapun di sana.


"Mammy." Panggil Deddy saat melihat sang istri berlari menuju kamar mandi memuntahkan semua yang ada di perutnya.


Deddy mengikuti istrinya sedikit berlari setelah meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas. Ia memijat tengkuk sang istri agar terasa lebih enak.


Mammy sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri apalagi melangkahkan kaki. Akhirnya Mammy pun ditatih menuju tempat tidur Alfian.


Di atas tempat tidur itu Mammy mulai berbaring tapi ia berusaha menahan rasa mual akibat mencium aroma masakan yang dibawa oleh sang suami.


"Bawa semua makanan ini keluar Ded!" Pinta Sang Istri yang sudah sangat lemah tubuhnya.


"Biarkan semua makanan ini di sini saja nanti sedikit-sedikit kan bisa kamu makan Mammy." Kata Deddy penuh perhatian.


"Aku gak tahan Ded dengan bau makanan ini." Jelas Mammy.


"Baiklah kalau begitu Mammy." Kata Deddy dengan membawa nampan yang berisi makanan.


Laki-laki paruh baya itu terlihat sangat khawatir dengan kondisi Sang Istri saat kehamilannya kali ini. Kehamilan dengan usianya yang sekarang sangatlah rentan.


Kondisi yang seperti ini jika terus berlanjut bukan hanya kesehatan Sang Istri saja tetapi calon bayi pun akan berpengaruh. Bagaimana bayi yang ada dalam kandungan itu bisa sehat jika sang ibu tidak makan sehingga tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup.


Deddy pun langsung membawa makanan itu ke dapur. Di dekat tangga ia bertemu dengan ketiga orang anak muda tadi.

__ADS_1


"Gak mau makan lagi Mammy?" Tanya Alfian.


"Biasa Om kalau hamil muda kayak gitu." Kata Seorang gadis.


"Sok tahu." Kata Ziko sang asisten.


"Memang kamu pernah hamil?" Goda Alfian.


"Gila lo ngatain cewek gue kayak gitu." Kata Ziko.


"Emang kapan elu jadian sama sekretaris gue." Sahut Alfian.


"Bener juga ya." Kata Ziko mengakui kalimatnya yang bodoh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ngomong-ngomong elu belum keramas ya?" Tanya Alfian.


"Atau mungkin..... Banyak kutunya." Lanjutnya.


"Emang elu, mandi aja model bebek berenang di kali." Ledek Ziko.


Deddy merasa sedikit terhibur dengan kelakuan kedua pemuda itu. Kelakuan mereka yang seperti kekanak-kanakan saat ini berbeda sekali dengan saat di kantor.


Deddy pun tanpa ada komentar menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sebelum meninggalkan mereka bertiga. Gadis yang ada di dekat mereka pun sama halnya merasa kedua masih kekanak-kanakan.


Deddy sekarang sedang duduk di ruang makan setelah meletakkan semua makanan di dapur. Makanan yang dibawa oleh Sang Suami sebenarnya adalah makanan kesukaan istrinya.


Melihat ekspresi Sang Ayah yang duduk dengan menopang dagunya di meja makan dengan kedua tangannya, Alfian merasa sungguh sangat iba. Seketika itu juga dengan kata adik ia jadi teringat dengan gadis kecil yang pernah mengisi hati dan kehidupannya.


Muncul ide dalam pikirannya untuk membuat menu makanan kesukaan almarhumah adiknya itu. Ia pun menuju dapur tanpa berkata apa-apa.


Gadis kecilnya itu dulu selalu dibuatkan masakan oleh Alfian. Ia tahu makanan kesukaan adik perempuannya itu.


Lama tidak masak di dapur sekarang memasuki dan menggunakannya ingatan masa kecil itu berputar kembali. Hatinya serasa sakit mengingat waktu itu ketidakmampuannya melindungi orang yang sangat disayangi.


Pemuda itu berusaha menguatkan hatinya. Semua bahan yang dibutuhkan mulai dipersiapkan kemudian ia mulai proses memasaknya.


Aroma harum dari dalam dapur mulai menyeruak ke semua ruangan. Semua orang yang ada di ruang makan saling pandang saat mencium aroma itu.


"Bukankah makan siang sudah lewat dan makan malam masih lama." Kata Ziko spontan.


"Benar, lalu siapa yang memasak?" Tanya Monik sambil mengedarkan pandangan pada semua orang yang semula ada di ruang makan.


"Aroma masakan ini sepertinya tidak asing." Celetuk Deddy.


"Mana Pak Alfian?" Tanya Monik yang tidak melihat sosok bosnya itu.

__ADS_1


"Benar, kemana dia bos yang suka ngancam-ngancam?" Tanya Ziko kemudian saat menyadari ada yang kurang anggotanya.


"Jangan-jangan punya ilmu hitam bisa ngilang." Lanjut Ziko.


"Oh My god." Katanya lagi tak percaya.


Pasalnya di kediaman utama itu tidak sembarangan orang dan waktu untuk dapat bekerja. Deddy yang dari tadi duduk dengan wajah memelasnya kini bangkit berjalan ke arah dapur.


Asisten dan sekretaris Alfian ini melihat Deddy pergi ke dapur tanpa berkata apapun. Keduanya mengikuti Deddy dari belakang seperti seorang raja.


Kedua orang yang mengikuti Deddy pun tak tahu kenapa Deddy pergi ke dapur. Di saat yang sama pula sebuah langkah kaki terdengar berjalan perlahan menuju dimana arah aroma masakan itu berasal.


Mammy dengan semangat 45 nya keluar dari kamar setelah mencium aroma masakan baru saja. Sudah lama tidak mencium aroma masakan seperti ini hingga ia sangat antusias sekali.


Wanita yang tengah hamil muda itu seperti anak kecil yang akan mendapatkan permen maupun coklat. Lupa ia sedang mengandung dari lantai atas berlari ke bawah menuju ruang makan.


Ketiga orang yang sedang asik mengintip seorang Ceo di perusahaan terbesar sedang asik memasak di dapur tersentak mendapati seorang wanita tengah hamil itu sudah duduk di ruang makan dengan sebuah piring di depannya. Kedua tangannya bersedakap di atas meja menunggu makanan siap di sajikan.


"Mammy!" Kata Deddy keheranan melihat sang istri sudah duduk di ruang makan.


"Laper." Kata Mammy manja.


"Bukannya tadi mammy muntah-muntah?" Tanya Deddy.


"Ini kayaknya enak bau makanannya Ded." Kata Mammy memuji masakan sang anak walaupun hanya baru aromanya.


"Cepet Al itu mammy sudah menunggu masakan mu." Kata Deddy saat berjalan mendekat ke meja makan yang diikuti oleh Asisten dan sekretaris Alfian.


Saat Deddy duduk keduanya juga mengikutinya seperti orang tak bertujuan. Mereka benar-benar melihat pada wanita itu yang tak percaya begitu antusias makan saat ini setelah memuntahkan semua isi perut saat di kamar atas.


Sang anak pun segera menyajikan makanan untuk Mammynya agar segera mendapat nutrisi. Pemuda ini sebenarnya juga kurang yakin dengan rasanya.


Mammy memakan banyak sekali yang dimasakkan oleh Alfian. Semua orang yang melihat pasti akan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya bahwa makanan sebanyak itu akan habis dalam waktu singkat.


Wanita yang tengah hamil ini seperti bertahun-tahun tak pernah makan, apalagi makanan enak.


"Biasanya juga pegangnya berkas sekarang ternyata para pemimpin bos besar yang dibawa lain." Kata Ziko terputus setelah Mammy berhasil menghabiskan semua makanan yang dibuatkan Alfian.


"Seperti kata ku tadi bos besar sudah bosan memegang berkas sekarang pegangnya beras." Lanjutnya.


Semua yang ada di ruangan itu menatap pada satu sumber suara. Mereka tidak memperdulikan dengan ucapan baru saja Ziko katakan barusan.


Mammy yang terlihat biasa sangat modis kini seperti anak kecil yang barusan makan dengan berbagai jejak di sekitar mulutnya. Sang suami ber-inisiatif mengambil tisu dan membersihkannya.


💕💕💕💕💕💕

__ADS_1


Bagaimana kabar dengan gerobak cinta yang terparkir di dekat mall? Biarkanlah si gerobak cinta di sana dahulu tak seorangpun berani untuk mengusiknya


__ADS_2