Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 98. Duet : 80


__ADS_3

Gadis itu masih dalam posisi yang sama tidak berubah tempat ataupun berubah posisi karena masih marah. Sesekali ia melirik Ziko yang telah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu.


Seperti tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Ziko terbiasa sesantai mungkin menghadapi berbagai situasi.


"Aden sudah ditunggu sama Bibi?" Kata salah satu penjaga rumah itu setelah Ziko keluar dari sarangnya. (Authornya biar mengacaukan pikiran kalian sedikit).


"Oh. Baiklah Pak saya akan segera mengambil barangnya." Kata Pemuda itu sopan biarpun dia hanya seorang pembantu.


"Silahkan Aden." Kata penjaga rumah itu sedikit mencuri pandang pada gadis yang ada di dalam sarang warna merah cerah itu.


"Sombong sekali gadis yang bersama tuan Ziko." Batin Sang Penjaga Rumah.


Penjaga rumah berpikir kalau gadis yang ada dalam mobil itu mungkin terlihat sombong dengan gayanya yang seperti itu. Pada kenyataannya ia marah karena ada yang mencuri peluk dan ciumnya.


Keduanya memang bukan yang pertama kali melakukan hal itu. Kejadian seperti itu terjadi pada orang yang sama dan yang pertama tidaklah disengaja.


"Gak mau turun dulu?" Tanya seorang pemuda dari luar mobil dengan membungkukkan badannya agar kepalanya bisa terlihat oleh gadis yang ada di dalam.


"Gak." Jawab gadis itu singkat masih dengan nada amarah yang membuncah.


Pemuda itu tidak segera masuk ke dalam rumah utama milik Alfian. Ia hanya menyandarkan tubuhnya tepat pada sisi luar pintu mobil terlihat begitu santai.


Niatan menunggu gadis yang ada di dalam mobil ikut keluar dari dalam malah ia terkena sengatan matahari yang cukup panas. Keringat pun mengalir seperti layaknya air sungai.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Hal itu bersamaan dengan suara seorang gadis yang ada di dalam mobil.


"Gak segera bergerak mengambil barang." Kata Sang Gadis itu dengan nada yang sedikit sadis.


"Mau kamu gak dapat gaji sama bonus bulan ini." Lanjutnya dengan ketus.


Pemuda itu hanya mendengarkan gadis yang ada di dalam mobil. Ia hanya menganggap peringatan gadis itu sebagai suara merdu walaupun sadis di dengar.


Pemuda yang masih menyandarkan badannya itu dengan tangan bersilang di depan dada kini mengambil ponsel yang baru saja bergetar di saku celananya. Ia membelalakkan mata saat melihat Id yang tertera di layar ponsel.


Isi pesan tidak lah berbeda dari biasanya berupa ancaman. Alfian hanya mengancam pada Asistennya itu saja tidak berlaku untuk karyawan lain.


Berupa sebuah ucapan tidak lebih. Ancaman hanya sebuah kata-kata tapi tidak pernah ia lakukan.


Pemuda itu pun mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah besar itu. Ia mengambil koper yang berisi beberapa pakaian pemilik rumah.


"Ini Den semua pesan yang harus dibawa ke rumah sakit." Kata seorang wanita paruh baya yang sudah menjadi ART di tempat ini puluhan tahun lamanya.


"Tadi pagi Tuan sudah menghubungi saya untuk membawakan semua pakaian ini." Lanjutnya lagi.


Tanpa berpikir panjang Asisten Ziko membawa koper itu tanpa mengecek ulang apa saja yang harus dibawanya. Ia tidak ingin mengobrak-abrik lagi isi koper yang sudah ditata oleh asisten rumah tangga itu karena waktu memang sudah sangat mengejarnya.


Waktu memang tidak mengejarnya tapi pemilik koper itu lah yang selalu menyuruhnya untuk segera mengantarkan barang tersebut. Ia berjalan dengan langkah yang lebar dan sedikit berlari sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di mobil merah itu merona itu.


152


Pasangan muda mudi yang kini diharapkan kehadirannya segera sampai di rumah sakit kini sedang memarkirkan mobilnya. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi.


Pasangan serasi karena mereka bekerja di suatu perusahaan yang sama yaitu Asisten dan sekretaris satu orang. Setiap kali membutuhkan sebuah kerja sama tidaklah sulit bagi mereka untuk kompak dalam segala hal.


Mereka berdua berjalan menuju kamar pasien tempat dimana atasan mereka dirawat setelah memarkirkan mobil yang mereka tumpangi. Berjalan melewati koridor rumah sakit dengan langkah panjang agar cepat sampai takut kena poin.


Gadis yang berjalan melewati koridor rumah sakit itu semakin lama semakin lambat jalannya. Ziko yang saat ini bersamanya hal itu tidak lepas dari pengamatannya itu.


"Aku harus sabar dengan kondisiku saat ini." Batin Monik menahan rasa sakitnya saat ini.


"Ini juga kesalahan ku pakai high hills yang agak tinggi dari biasanya." Lanjutnya.


Pemuda yang berjalan dengan cepat itu kini berhenti mendadak sedangkan Monik yang terus melangkah itu pun terhenti dan berbalik. Menatap pemuda itu dengan intens


"Kenapa berhenti?" Tanya gadis itu dengan mengerutkan keningnya.


"Ada yang aneh dengan mu." Jawab Pemuda itu.


"Apa?" Tanya Monik sambil mencari tempat duduk yang terdekat hingga ia mendaratkan pantatnya pada kursi itu untuk sedikit mengurangi rasa sakit.


"Lalu kenapa sekarang kamu malah duduk?" Tanya Ziko menyusul gadis itu berdiri di depannya.


Pemuda itu pun akhirnya membungkuk dan membuka high hils yang dikenakan Monik saat ini. Ia menggelengkan gelengkan kepalanya.


Sakit dipergelangan kakinya itu berawal saat tadi di kantor hendak menaiki lift. Terjadi kecelakaan karena kehilangan keseimbangan itu tadi awal dari pergelamgannya yang terasa nyeri.


"Sakit kan?" Tanya pemuda itu membelai perlahan pergelangan kaki yang terlihat kemerahan.


"Jangan bilang tidak." Lanjutnya saat gadis yang ada dihadapannya menggelengkan kepala.


Sadar atau tidak sejak tadi banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Dokter, perawat dan semua pasien melihat mereka pasangan yang serasi.


"So sweet banget." Kata salah seorang Dokter wanita yang mengenal Ziko berhenti untuk mengucapkan itu.


"Pengantin baru atau baru pacaran?" Lanjutnya Dokter itu.


"Eh Dokter, kami akan segera menikah." Jawab Ziko setelah berdiri tegak dihadapan dokter itu.


Gadis yang sedang duduk itu membulatkan mata sempurna melihat wajah seorang pemuda yang memegang pundaknya sekarang. Ia tak percaya kalau akan membongkar hubungan mereka berdua secepat itu.


Deg


Sebuah hati kini dihancurkan dengan sebuah pernyataan langsung dari orang yang dicintainya sudah sangat lama. Setiap kali Pemuda itu datang mengurus suatu berkas ke rumah sakit ini dokter wanita muda ini selalu mencari sebuah kesempatan agar bisa dekat dengannya.


Semua yang dilakukan dokter wanita ini bertujuan untuk membantu Ziko akan tetapi yang dibantu malah merasa risi. Cinta bertepuk sebelah tangan memang tidak enak dirasa.


"Aku tunggu undangan mu saja Tuan Ziko." Kata dokter wanita muda itu menatap gadis yang baru saja diakui oleh Ziko sebagai calon istrinya dengan tatapan menghina.


"Sabar saja undangan pasti akan aku kirim karena selama ini dokter selalu membantu ku di rumah sakit ini." Kata Ziko dengan tersenyum smirk.


"Kalau begitu saya permisi dulu, karena sebentar lagi ada jadwal operasi." Pamit Sang Dokter.


Dokter itu pun pergi menuju ruang kerjanya. Hatinya sungguh teriris mendengar pernyataan yang baru saja didengar.


Selepas kepergian dokter muda itu Monik meluapkan emosinya pada seorang pemuda. Walaupun ia berharap lebih pada hubungan dengannya tetapi ia tidak mau diberi harapan palsu.


"Lepas." Perintah Monik ketika pemuda itu mengambil posisi duduk disampingnya pada kursi yang cukup panjang itu kemudian menaikkan kedua kaki yang masih sedikit memerah.

__ADS_1


"Gak akan ku lepas sampai kapanpun." Kata Pemuda itu dengan mengelus-elus pergelangan kaki gadis itu untuk memberikan rasa nyaman.


Pemuda itu sungguh sabar dan tlaten menghadapi Monik yang sedang marah-marah yang menurutnya tidak jelas. Untuk mengakhiri semua ocehannya Ia pun langsung membopongnya menuju kamar rawat Alfian.


Banyak mata melihat kearahnya saat itu karena Monic terus saja berteriak. Hingga ia merasa sangat malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ziko.


Di Ruang Rawat VIP


Seorang pemuda yang sekarang berbaring di brankar rumah sakit itu sudah tidak tahan menunggu kedatangan Asistennya. Lama sekali Alfian menunggu pesanannya mungkin lamanya berabat-abat.


Tok tok tok


Suara pintu kamar pasien pun diketuk perlahan. Semua mata yang ada di dalam ruangan seketika beralih menatap daun pintu yang tertutup rapat itu.


"Masuk." Titah salah seorang yang ada di dalam ruangan itu.


Seorang pemuda kini masuk ke dalam ruang rawat seorang atasan yang suka mengancamnya. Ia terlihat seperti seorang pemeran dalam sebuah drama hingga semua yang ada di dalam ruangan itu memandangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan satu persatu.


Gadis yang ada di gendongannya kini menyembunyikan wajah di dada Ziko yang datar. Oh tidak kini ia merasa sangat malu diperlakukan seperti itu.


Tanpa menunggu perintah Ziko mendudukkan gadis itu di sofa secara perlahan tanpa memperdulikan orang lain. Wih kalau sudah seperti itu dunia serasa milik berdua.


"Kecelakaan perusahaan." Penjelasan Asisten itu pada Alfian ketika mendapati tatapan tajam dari atasannya itu.


"Mana yang terluka?" Sela Seorang gadis setelah memberikan segelas air mineral pada Artis dari kantor Alfian sebelum pemuda itu menerkam dengan berbagai pertanyaan.


Mentari tidak membutuhkan jawaban dari artis itu. Ia sudah melihat artis papan atas itu tidak mengenakan alas kaki lagi.


Seakan mendapat perlindungan dari seorang gadis, Ziko tersenyum melihat keduanya. Sejenak saja ia merasa aman, tentram dan damai.


Tatapan mata Alfian seakan ingin membunuhnya sekarang juga. Untuk menghindari kontak mata itu dengan tergesa-gesa Asistennya itu langsung ingin rasanya melarikan diri.


"Mana pesanan yang aku minta bawakan?" Tanya Alfian yang duduk bersandar di kepala ranjang itu.


"Mampus gue masih di mobil." Kata Asistennya lirih.


"Kabur." Lanjutnya lagi.


"Tak bertanggung jawab." Kata Mama Sinta setelah Ziko dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.


"Kenapa harus tanggung jawab?" Tanya Papa Adrean.


Memang kamu hamil?" Tanya Papa Adrean lagi berjalan mendekat pada Monik meminta kepastian sekretaris Alfian.


"Kalau memang iya segerakan saja mereka menikah." Lanjut Papa.


"Memangnya menikah harus hamil dulu?" Tanya Mama Sinta.


"Iya..... Enggak lah." Jawab Papa Adrean tersenyum smirk.


Hamil terlebih dahulu bukankan hal itu terkesan menikah terpaksa karena ada anak. Cinta memang membuat seseorang bodoh ataupun gila bisa berbuat apapun untuk mendapatkannya.


Hukum seperti itu sangatlah berlaku untuk siapa saja. Apa saja bisa dilakukan tanpa pandang bulu.


Kali ini Asisten yang biasanya pintar kini menjadi bodoh. Ziko yang harusnya membawakan sebuah koper entah apa itu isi yang ada di dalamnya itu kini malah hanya membawa seorang gadis dalam gendongannya.


Sabar sudah yang harus ada dalam diri mereka semua menghadapi orang yang lagi jatuh cinta. Bisa-bisa dibikin gila oleh orang yang sedang mengalaminya.


153


Gadis yang merasakan sakit pada pergelangan kakinya itu wajahnya kini sudah merah karena malu karena menjadi bahan perbincangan mereka yang ada di ruangan itu. Pasalnya sudah lama mereka semua tahu hubungan antara Asisten dan sekretaris Alfian tidaklah sesederhana itu.


Hubungan antara keduanya sudah sangat dekat bukan hanya rekan kerja tetapi mereka adalah sepasang kekasih. Hubungan yang disembunyikan pada publik yang pada akhirnya akan banyak hati yang terluka.


Bagaimanapun juga Asisten yang satu ini memiliki banyak sekali keunggulan. Tampan iya, pitar dan cerdas iya dan tak kalah penting gaji juga besar belum lagi bonus yang didapatkan dari atasannya yang suka mengancamnya itu sangat banyak.


(Ini sang author lagi matre banyak).


Jangan ditanya lagi soal hati jika Asisten ini sudah menyukai seseorang ia akan selalu setia & penuh kasih sayang. Bagaimana tidak senang jika menjadi pendamping hidupnya.


Asisten Alfian berlari sangat cepat seperti orang kesetanan keluar dari ruang rawat atasan. Ia segera menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya Monik tadi.


Setelah mendapatkan barang pesanan Alfian ia pun segera kembali ke kamar rawat Atasannya. Apa isinya pun Ia tak tahu sebab ia cuma diminta mengantarkan pesanannya saja.


Ceklek


Pintu bangsal tempat Alfian pun terbuka perlahan. Mereka melihat seorang perawat masuk.


Perawat itu ketika masuk melihat sekelilingnya. Senyum merekah di bibirnya mencoba memberikan kesan pada semua orang yang ada di dalam kamar itu.


"Maaf Tuan sekarang sudah saatnya pemeriksaan lanjutan." Kata Perawat yang mendekati Alfian dengan senyum yang semakin manis.


"Tidak perlu." Kata Alfian dingin saat Perawat itu mencoba membantu Alfian bersiap.


"Kemari sebentar, tolong bantu aku." Kata Alfian pada gadis cantik yang berada di samping brakarnya.


"Lha itu, mau dibantuin sama suster gitu kok." Kata Tari mencoba menahan rasa sedikit panas dihatinya.


"Jadi gak ada balas budinya nih?" Tanya Alfian.


"Atau mau balas dengan yang lain?" Tanya Alfian dengan tersenyum jahil.


"Baiklah." Jawab Mentari singkat.


Gadis itu tahu ada sesuatu yang tidak biasa dari perawat itu. Perasaan gadis itu sangat peka.


Perawat itu memang bisa tersenyum pada semua orang tapi tidak dengan dirinya. Kejadian ini terjadi sejak kedatangan mereka.


Kini pemuda itu duduk di samping brankar tiba- tiba ia pun menarik sebuah tangan kecil tapi memiliki sebuah tenaga yang cukup lumayan untuk menahan sebuah tarikan. Mentari pun karena kurang kesiapan ia ikut jatuh pada sebuah paha yang sangat nyaman.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Alfian.


"Apa bermaksut menggoda ku?" Lanjutnya.


"Siapa yang bermaksut menggoda mu?" Jawab Gadis itu dengan membelalakkan matanya.


"Kamu aja yang merayuku." Elaknya lagi.


"Kesepakatannya kan kamu membantu ku." Alfian meminta pertanggungjawaban gadis itu hanya agar terjadi sedikit drama untuk menunjukkan pada perawat itu.


"Lepas!" Perintah Mentari dengan mata yang sangat tajam mengarah pada seorang pemuda.


"Malu dilihat itu banyak orang." Lanjutnya.

__ADS_1


"Anggap saja kita semua di dini patung, kalau sudah seperti itu dunia serasa milik berdua." Kata Daffa.


"Betul-betul-betul." Kata Axel.


"Yang lainkan cuma ngontrak." Sambung Garda.


"Mulut kalian bertiga ini masih juga anak kecil gak ada filternya." Kata Mama Sinta menegur ketiga anak laki-laki kembarnya.


Apa perlu Mama lakban mulut kalian?" Lanjut Mama.


"Siapa bilang kita anak kecil ya Pa?" Kata Axel meminta perlindungan kepada Papanya yang selalu saja membela mereka.


Mama sudah mulai memasang taringnya. Disaat seperti itu Sang Jagoan mereka pun sudah tidak berani berkutik.


Takut disuruh tidur diluar oleh sang Mama tatkala melakukan kesalahan. Papa hanya tersenyum getir pada ketiga anaknya itu.


Ceklek


Pintu kamar pasien pun dibuka oleh seorang pemuda. Pandangan matanya langsung tertuju pada Alfian.


"Ada drama apa lagi nih?" Tanya Ziko saat melihat Bosnya sedang melakukan sebuah adegan romantisnya.


"Diam saja lu!" Perintah Alfian pada pemuda yang baru saja masuk dan membawa sebuah koper.


"Maaf Tuan bagaimana bisa sekarang?" Tanya Perawat yang berada di samping Alfian.


"Bisa. Kamu duluan saja!" Perintah Alfian pada perawat itu.


"Aku masih bisa jalan." Jelas Alfian dengan menyingkirkan sebagian anak rambut Tari yang menutupi pipinya.


Alfian mengendurkan kemudian melepaskan pelukannya itu, hingga akhirnya gadis itu pun berdiri.


Sepasang muda mudi ini berjalan terlihat sangat serasi. Banyak orang yang melihat merasa kagum dengan mereka.


Berjalan menuju tempat rontgen berada di belakang perawat tadi. Mereka berdua berjalan sambil bersenda gurau.


Perawat yang sekarang berada di depan mereka merasa iri. Hatinya serasa terbakar sangat panas rasanya.


Seorang dokter yang kini sudah menunggu mereka untuk berkonsultasi berada di ruang praktek menunggu hasil rontgen itu. Hasil pemeriksaan kesehatan Alfian lumayan cepat.


Hasil rontgen menyatakan tidak terjadi masalah serius pada Pemuda itu. Kali ini bukanlah hasil rekayasanya seperti yang telah direncanakan agar Tari menunggunya sepanjang waktu.


Daddy lah yang mengingatkan akan waktu pernikahannya yang tidak lama lagi. Seandainya Ia jadi merekayasa hal kesehatannya kali ini justru ia akan menunda hari bahagianya sendiri.


Pemuda itu tidak ingin dokter pergi keruang rawatnya untuk itu ia ber-inisiatif mengunjungi ruang prakteknya. Seandainya Dokter itu sampai pergi ke ruang rawatnya yang sangat ramai pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan oleh dirinya.


Kekacauan akan terjadi akan semakin besar. Candaan orang dewasa yang pastinya gak ada filternya.


Hubungan antara sahabat lama para orang tua yang pasti akan memojokkan dirinya. Hingga yang muda harus mengalah.


Setelah selesai urusan dengan dokter mereka berdua bersiap kembali ke ruang rawat Alfian. Dilihat sambil lalu perawat itu memasang muka masamnya.


Ceklek


Pintu ruang rawat Alfian dibuka oleh pemiliknya sendiri. Semua mata melihat dengan jelas wajah Pemuda itu.


"Bagaimana?" Tanya Deddy yang tahu sebenarnya tak ada masalah. Ia adalah anak laki-laki yang kuat.


"Baik." Jawab Alfian singkat.


"Jadinya masih mau bermalam di sini lagi?" Tanya Mommy.


"Iya gak papa kan Mommy." Kata Alfian.


"Itu kan tadi udah terlanjur minta dibawain pesenan ku oleh Asistenku hingga salah bawa." Lanjut Alfian.


"Tapi harus ditemeni sama?" Lanjut Alfian dengan menaik turunkan alisnya mengkode pada gadisnya itu.


"Ogah banyak kuman penyakit!" Tolak Seorang Gadis.


"Memangnya apa'an isi koper itu Kak?" Tanya Axel pada Alfian yang tidak jauh darinya.


Pemuda yang akan menjadi pengantin ini memang berlagak seperti seorang pasien. Pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.


Alfian menyandarkan badannya di atas brankar. Ia minta dilayani layaknya seorang pasien.


Apa saja minta diambilkan oleh orang terdekatnya. Ia ingin melihat isi koper itu sesuai perintahnya atau tidak setelah mendengar pertanyaan Axel.


154


Gadis yang merasakan sakit pada pergelangan kakinya itu wajahnya kini sudah merah karena malu karena menjadi bahan perbincangan mereka yang ada di ruangan itu. Pasalnya sudah lama mereka semua tahu hubungan antara Asisten dan sekretaris Alfian tidaklah sesederhana itu.


Hubungan antara keduanya sudah sangat dekat bukan hanya rekan kerja tetapi mereka adalah sepasang kekasih. Hubungan yang disembunyikan pada publik yang pada akhirnya akan banyak hati yang terluka.


Bagaimanapun juga Asisten yang satu ini memiliki banyak sekali keunggulan. Tampan iya, pitar dan cerdas iya dan tak kalah penting gaji juga besar belum lagi bonus yang didapatkan dari atasannya yang suka mengancamnya itu sangat banyak.


(Ini sang author lagi matre banyak).


Jangan ditanya lagi soal hati jika Asisten ini sudah menyukai seseorang ia akan selalu setia & penuh kasih sayang. Bagaimana tidak senang jika menjadi pendamping hidupnya.


Asisten Alfian berlari sangat cepat seperti orang kesetanan keluar dari ruang rawat atasan. Ia segera menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya Monik tadi.


Setelah mendapatkan barang pesanan Alfian ia pun segera kembali ke kamar rawat Atasannya. Apa isinya pun Ia tak tahu sebab ia cuma diminta mengantarkan pesanannya saja.


Ceklek


Pintu bangsal tempat Alfian pun terbuka perlahan. Mereka melihat seorang perawat masuk.


Perawat itu ketika masuk melihat sekelilingnya. Senyum merekah di bibirnya mencoba memberikan kesan pada semua orang yang ada di dalam kamar itu.


"Maaf Tuan sekarang sudah saatnya pemeriksaan lanjutan." Kata Perawat yang mendekati Alfian dengan senyum yang semakin manis.


"Tidak perlu." Kata Alfian dingin saat Perawat itu mencoba membantu Alfian bersiap.


"Kemari sebentar, tolong bantu aku." Kata Alfian pada gadis cantik yang berada di samping brakarnya.


"Lha itu, mau dibantuin sama suster gitu kok." Kata Tari mencoba menahan rasa sedikit panas dihatinya.


"Jadi gak ada balas budinya nih?" Tanya Alfian.


"Atau mau balas dengan yang lain?" Tanya Alfian dengan tersenyum jahil.


"Baiklah." Jawab Mentari singkat.

__ADS_1


Gadis itu tahu ada sesuatu yang tidak biasa dari perawat itu. Perasaan gadis itu sangat peka.


Perawat itu memang bisa tersenyum pada semua orang tapi tidak dengan dirinya. Kejadian ini terjadi sejak kedatangan mereka.


__ADS_2