
Makanan yang disediakan cukup bervariasi hingga membuat semua yang hadir cukup tergiur dengan menunya. Sambil menikmati makanan tersebut kedua keluarga besar tersebut saling berkenalan.
"Hi, how are are you?" Sapanya.
"I'm fine." Jawab Tari dengan memicingkan matanya menggingat-ingat sesuatu.
"Maaf saya gak begitu fasih dengan bahasa ini. Bisakah pakai bahasa kita saja." Pinta Tari dengan merendah.
"Ok." Jawabnya.
"Sepertinya aku pernah lihat ini orang tapi siapa ya? aku kok lupa." Batin Tari.
Mentari yang saat itu akan mengambil beberapa kue tiba-tiba mendengar sebuah panggilan dari Mamanya. Mereka sekeluarga telah memesan kamar VIP selama menunggu datangnya waktu pesta.
"Maaf saya permisi dulu. Orang tua saya memanggil." Pamitnya.
Orang itu hanya menganggukkan kepala saat gadis itu berpamitan. Ia pun memahami situasi saat itu.
Belum sempat berbincang dengan orang itu Tari sudah mendapat panggilan dari orang tuanya. Mereka hendak menuju kamar pesanannya.
Adrean dan keluarganya berpamitan pada kedua mempelai untuk beristirahat di kamar mereka. Sebab nanti malam masih ada pesta yang akan lebih membuat badan lelah.
Kedua pengantin pun menuju kamar mereka ketika hampir semua keluarga mereka istirahat siang. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
Ibu sudah berada di depan pintu kamar mereka. Ia ingin memberikan sebuah serangkaian kata-kata pada anaknya.
"Sudah siap?" Tanya sang ibu.
"Siap dong Bu?" Tanya Briyan tanpa canggung lagi.
"Ini masih siang Kak." Jelas Adik Briyan.
"Lha emang kenapa? Yang penting udah halal." Sahut Briyan.
"Ini anak gak ada malunya ya, ada orang tua juga bahasnya kayak gitu." Cerca Sang Bapak yang baru datang menghampiri mereka.
"Tapi gak papa biar cepet dapat cucu." Lanjut Bapak.
Dita yang mendengar itu jadi malu sendiri. Wajahnya susah sangat merah bak kepiting rebus.
"Tapi gak apalah ya siang-siang nyicil." Kata sang adik.
__ADS_1
"Nyicil emang angsuran pinjaman." Kata Briyan.
"Ini udah tunai bukan kredit." Lanjut Briyan.
"Sudah-sudah kalian berdua istirahat saja, nanti malam masih ada acara kan." Lerai Bapak.
Bapak selalu menjadi penengah antara kakak beradik itu saat terjadi adu mulut yang pastinya tidak akan ada habisnya. Biarpun seperti itu tapi sang adik selalu menghormati kakaknya.
"Minggir." Perintah Briyan pada sang adik sambil menggeser adiknya ke samping.
"Selamat ya Kak, akhirnya ada seseorang yang bisa berbagi denganmu." Ucap sang adik sambil memeluk Briyan dengan erat sebelum Briyan masuk dalam kamarnya.
Rasa aneh seketika saat ia memeluk sang kakak. Rasanya sang kakak akan pergi dalam waktu yang lama.
Air mata adik Briyan hampir saja lolos. Ia tidak ingin menitikkan air mata di hari bahagia kakaknya itu.
"Buat kan aku keponakan yang pintar dan lucu yang banyak ya kak." Pinta sang adik.
"Dasar anak kecil, jaga itu mulut. Malu ada orang yang lebih tua." Kata Briyan.
Mendengar semua harapan menganai cucu dan keponakan seketika Dita hanya menundukkan kepalanya karena malu.
"Tenang aja kak pintu kamar pasti beres." Kata sang adik.
"Kamu sekarang jadi paranormal ya? Tanya Briyan.
" Kenapa tahu semua isi kepalaku." Lanjut Briyan.
"Iya kepala mu isinya cacing lipat jadi pinternya melebihi ilmuwan." Kata sang Bapak.
"Udah sana masuk sebelum aku gangguin ini siang kalian." Ucap sang Adik.
"Maaf Bu dan Bapak yang terhormat, saya permisi masuk dulu ya." Ucap Briyan.
"Iya jangan lupa berdoa dulu ya sebelum pemanasan." Ucap Sang Adik mengingatkan.
Briyan dan Dita memasuki salah satu ruang kamar yang memang disiapkan untuk istirahat siang mereka berdua. Tidak lupa mereka menutup pintu kamar tersebut.
Di dalam ruang kamar hotel lain tampak seorang laki-laki muda mempersiapkan sebuah kamar yang yang sangat indah untuk sepasang suami istri muda yang baru saja menikah. Disain interior kamar yang ia harap bisa membuat pasangan suami istri itu memiliki malam pertama yang indah.
Ruangan dengan banyak hiasan bunga yang memperindah ruangan. Lampu kecil yang gemerlap di setiap sudut ruangan. Lilin-lilin yang dibuat bentuk hati. Tempat tidur dengan taburan bunga mawarnya.
__ADS_1
*** *** Ruang Kamar Hotel Adrean *** ***
Adrean dan keluarga masih berada di hotel tempat acara ijab qobul dan resepsi pernikahan berlangsung. Mereka memang sudah dipersiapkan ruangan khusus untuk istirahat oleh yang punya acara.
Mentari terlihat memikirkan sesuatu. Wajahnya tak bisa berbohong dihadapan semua anggota keluarganya.
"Tadi laki-laki itu siapa sih kak? Sampai-sampai membuat pikiran mu melayang bersama wajahnya." Celetuk Axel sang adik kandung Tari.
"Wuih udah berani mendua ya kakak ku sayang." Ucap Daffa.
"Iya tuh baru juga kemarin dilamar. Masak sekarang udah ada yang lain." Kata Garda.
"Bener apa yang mereka bilang Kak?" Tanya Mama.
"Ma, jangan dengeren itu bocah-bocah bayi." Kata Kakak.
"Kalau bocah-bocah bayi cuma bisa nangis kan, ia tapi ini bocah bayi agak gede ya mama dengerin dong." Bela Mama untuk ketiga jagoannya.
"Ternyata oh ternyata anak gadis mama banyak yang naksir." Kata Mama.
"Kalian itu berisik amat, mending kalian tidur aja buat persiapan nanti malam." Protes Papa.
"Kalian itu tiga bersaudara cepet tidur sana. Nanti kalian kecapean lagi." Kata Papa.
"Memang tadi itu siapa sih Kak?" Tanya Papa pada Mentari.
"Aku gak tahu Pa, tiba-tiba aja nyamperin." Jawab Kakak.
Papa jadi waspada dengan laki-laki muda yang merasa kenal dengan anak gadisnya itu. Pasalnya ia tidak mengenal baik dari keluarga kedua mempelai.
"Papa ada urusan sebentar. Kalian tetap di sini jangan kemana-mana." Pinta Papa.
Papa menuju tempat dimana ada rekaman CCTV di hotel itu. Ia minta diperlihatkan rekaman saat di ruangan kejadian dimana anak gadisnya bersama seorang laki-laki.
*** *** *** *** *** **** ***
Maaf Authornya kurang lebih seminggu gak bisa Up date karena sesuatu. (Ada masalah di aplikasi hp Novel Toon tiap kali mau buka kembali ke tampilan depan. Saya minta maaf ya kakak. 🙏🙏🙏). Kemungkinan juga karena ramnya juga kecil jadi sering bermasalah.
Jangan lupa ya Bantu like, untuk novel ini.
Dukung terus Novel Ketulusan Cinta Mentari dengan setia baca novelnya, like, vote dan beri dukungan dengan hadiah poin dan koinnya.
__ADS_1