Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 47. Berprasangka Buruk Terhadap Sebuah Hubungan


__ADS_3

Pemuda itu tidak berlama-lama di kamar mandi. Merasa hari ini dikejar oleh waktu dia segera menyelesaikan ritualnya itu.


"Sejak kapan gadis itu masuk ke dalam kamar ku?" Tanya Pemuda itu dalam hati.


"Pakaian ku sudah disiapkan rupanya." Lanjutnya lagi.


Adrean segera mengenakan kemeja yang sudah disiapkan oleh gadis itu sejak dia mulai ritualnya. Dia segera turun menuju ruang makan untuk segera memulai sarapannya.


Pemuda itu segera duduk dan matanya melihat semua yang tersaji di meja makan. Melihat gelas itu masih tersisa sedikit kopi Adrean segera menyesapnya perlahan.


"Kemana perginya gadis itu?" Kata Adrean dalam hati.


Pemuda itu menggeser tempat duduknya dan segera berdiri. Dia melihat gadis itu di dapur sedang membersihkan semua peralatan yang digunakannya tadi untuk memasak.


"Temani aku makan." Kata Pemuda sambil mencuci tangan Sinta secara perlahan.


Pemuda itu menggenggam tangan halus milik Sinta menuntunnya perlahan ke ruang makan. Dia menarik kursi itu untuknya dan memintanya untuk duduk di tempat itu.


Gadis itu duduk di kursi yang telah ditunjuk oleh Adrean tetapi tidak lama. Dia berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju tempat dimana seorang pemuda yang sangat baik itu duduk.


Sinta ngambil piring yang ada di meja tepat di depan Pemuda itu. Dia mengambilkan nasi dan sayur yang telah disiapkannya di atas meja tadi.


"Pakai lauk apa?" Tanya Sinta.


"Terserah apa yang kamu ambilkan pasti aku makan." Jawab Adrean.


Gadis itu mengambil beberapa lauk hingga piring itu penuh tidak ada sela sedikit pun. Susu yang ada di depannya juga sudah tersedia tidak lupa dengan air putih.

__ADS_1


"Apa dia mau membalas ku tadi malam?" Kata Pemuda itu dalam hati.


"Tapi tidak apa-apa kali. Biar aku hari ini semangat kerjanya." Lanjutnya.


Benar saja Adrean menghabiskan seluruh isi yang ada di piring itu. Gadis itu tercengang melihat semua itu.


"Itu perut apa karung?" Batin gadis itu tak percaya.


Pemuda itu sudah selesai melahap sarapannya. Dia pergi ke ruang kerja untuk mengambil tas kerja serta ponselnya itu.


Adrean tidak mungkin menunggu gadis itu selesai sarapan karena waktu memang sudah sangat siang. Dia langsung menghampiri gadis yang masih duduk di meja makan itu.


"Aku berangkat dulu." Kata pemuda itu untuk perpamitan.


"Hati-hati." Katanya gadis itu yang baru tersadar dari lamunannya karena rambutnya yang dikuncir kuda diacak perlahan oleh Adrean.


"Hem. Terimakasih." Kata gadis itu singkat.


Pemuda itu segera keluar dari ruang hotel. Sekarang ini banyak karyawan yang sudah tahu posisinya di hotel tempat mereka bekerja hingga semua sangat menghormatinya.


Di depan lobi hotel seorang sahabat sekaligus asisten pemuda itu sudah menunggunya sejak tadi pagi. Dia tidak banyak bicara kali ini.


"Gadis itu adalah seseorang yang ada dalam kehidupan ku sejak dulu." Jelas Adrean sebelum Aldo bertanya.


"Entah kejadian seperti apa hingga membuatnya seperti itu." Lanjutnya.


"Dia hidup dalam ketakutan setiap hari tidak seperti dulu." Jelas Adrean yang semakin panjang.

__ADS_1


"Maaf aku tidak bermaksud." Kata Aldo setelah melihat sebuah kesedihan dari setiap kata yang diucapkan sahabatnya itu.


"Aku mengerti dengan pikiran mu saat melihatnya." Kata Adrean dengan menundukkan kepala tidak sanggup membayangkan apapun kejadian yang terjadi pada gadis itu.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil saat berangkat sampai tempat tujuan menjadi sepi. Perbincangan tidak terjadi sedikit pun.


Aldo merasa tidak enak karena berprasangka yang kurang baik pada sahabatnya itu. Dia mengira akan menyembunyikan seorang gadis yang tidak baik di hotel.


Adrean merasa sedih terhadap segala hal yang menimpa gadis yang merupakan sahabat lamanya itu. Ingin segera kembali tetapi dia sudah memutuskan untuk memulihkan kondisi psikologis Sinta.


Chiiiit


Suara gesekan mobil dengan aspal terjadi di jalan menuju Perusahaan. Rem tiba-tiba diinjak oleh Aldo karena ada seseorang yang menghentikannya.


Aldo turun dari mobil itu tanpa mengatakan apapun pada sahabatnya. Dia melihat seseorang yang dikenalnya menghentikan mereka.


"Ada apa?" Tanya Aldo pada seorang gadis.


"Boleh aku numpang?" Tanya Erika yang saat itu ban mobilnya bocor.


"Tidak mungkin, aku sedang tergesa-gesa." Kata Aldo menjelaskan pada gadis itu.

__ADS_1


Pemuda yang ada di dalam mobil itu sejak tadi sudah menerima pesan kalau akan ada gadis yang sengaja menghentikan perjalanannya itu. Montir itu datang tidak lama setelah mobil yang dinaiki kedua pemuda itu dihentikan.


__ADS_2