
Ting
Pintu lift terbuka setelah Seorang pemuda menekan tombol angka dimana tujuan dia. Adrean juga tergesa-gesa saat ini, karena jadwalnya yang begitu padat.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Adrean dalam hati saat menemukan gadis yang ditunggunya itu pingsan di dalam lift.
"Makanya dia tidak datang jadi ini penyebabnya." Lanjutnya merasa sangat khawatir dengan gadis itu.
Pemuda itu tanpa banyak berpikir langsung menggendong gadis itu masuk ke dalam ruang kantornya yang sangat luas. Dia melupakan semua tujuannya semula.
"Periksa CCTV kirimkan aku rekamannya." Perintah Adrean dengan tegas pada Briyan yang selalu mengontrol keamanan di kantor itu.
"Memangnya apa yang terjadi Tuan?" Tanya Briyan penasaran saat sahabatnya itu memegang kendalinya sendiri.
Pemuda itu langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum menjawab pertanyaan Briyan. Dia menghubungi seorang Dokter yang sangat pintar yang merupakan sahabatnya sejak mereka bersama-sama belajar di negeri ini.
Dokter itu langsung datang dan menuju ruangan Adrean. Kasak kusuk tetangga sesama karyawan mulai terdengar.
"Memang apa yang terjadi hingga dokter itu datang ke sini?" Tanya seorang karyawan penasaran.
"Betul sejak pemilik perusahaan ini datang dan gadis muda itu melamar kerja di sini banyak kejadian yang terjadi." Sambung Karyawan lain.
"Kalian di pecat." Kata Briyan tegas dengan wajah sangarnya.
"Apa salah kami?" Tanya Salah satu karyawan.
Briyan tidak memberikan penjelasan apapun dan langsung pergi ke ruangan atasannya itu. Briyan sangat tegas apalagi dengan wajahnya yang melampaui dinginnya kutub Utara hingga semua karyawan tidak berani berbicara macam-macam.
Dokter Marco bisa langsung masuk ke ruang kantor pimpinan perusahaan karena dikawal oleh Briyan yang dikenal sebagai asisten Pimpinan pemilik perusahaan. Berbeda dengan Adrean yang tidak pernah menampakkan dirinya hingga hampir tidak ada yang mengenalinya sebagai pemilik perusahaan itu.
__ADS_1
Beberapa karyawan wanita yang melihat Adrean membopong seorang gadis merasa heran. Atasan mereka dengan mudahnya memberikan perhatian pada pegawai baru itu.
Karyawan itu hanya diam tidak memberikan komentar apapun. Mereka takut diberhentikan dari pekerjaan yang mereka dapatkan dengan susah payah bahkan gaji yang tidak sedikit.
Tok tok tok
Suara ruang pintu kantor yang sangat besar diketuk oleh dua orang pemuda yang merupakan sahabatnya. Mereka lupa kalau pintu akan terbuka secara otomatis karena takut akan ada singa mengamuk karena keterlambatan mereka.
Pimpinan mereka kalau sudah marah besar apapun bisa terjadi. Adrean merupakan sahabat terbaik untuk mereka karena dia rela memberikan apa saja untuk sahabatnya.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Dokter Marco sebelum memeriksanya.
"Kamu tidak berbuat macam-macam padanya kan?" Lanjutnya saat mendekati gadis yang pingsan dan terbaring di tempat tidur dalam ruang kantor milik Adrean.
"Jangan sentuh Dia." Katanya dengan intonasi tinggi.
"Bos Mu posesif sekali." Kata Dokter Marco dengan berbisik pada asisten pribadi Adrean.
"Kalau dia dengar bisa dipenggal kepala mu." Kata Briyan memperingatkan Sang Dokter.
Adrean terus mengawasi Dokter itu selama proses pemeriksaan. Dia tidak mau Dokter itu memeriksanya terlalu lama.
"Apa sebenarnya hubungan mu dengan dia hingga kamu sangat posesif sekali?" Tanya Sang Dokter penasaran sebab jarang sekali gadis yang dekat dengan Adrean.
"Tugas mu hanya memeriksa pasien, bukan untuk mengintrogasi ku seperti polisi." Kata Pemuda itu tegas.
"Baik ini resep yang harus ditebus." Kata Sang Dokter dengan memberikan secarik kertas pada Brian.
Adrean langsung menyambar resep itu dan menyimpannya dalam dompet. Dokter itu yakin kalau gadis itu bukan hanya sekedar pekerja biasa.
__ADS_1
"Kamu tidak menyiksanya kan, hingga dia kecapean dan kekurangan gizi?" Tanya Sang Dokter dengan tersenyum smirk.
"Kamu yakin dia hingga seperti itu?" Tanya Adrean memastikan.
"Hem." Jawab Dokter itu menundukkan kepala.
Pemuda itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja. Dia selama ini memberikan gaji yang tidak rendah pada karyawannya.
"Kenapa harus ada masalah seperti ini saat aku akan kembali." Batin Adrean menatap intens gadis yang ada di depannya.
Dokter Marko diantar oleh asisten Adrean sampai lobi. Mereka berdua tidak banyak berbincang.
Plak
Seorang sahabat yang sedang menepuk pundak Bosnya yang sedang menatap seorang gadis hingga membuyarkan lamunannya. Adrean menoleh sesaat pada orang yang baru saja menyentuhkan sedikit keras.
"Jika kamu masih ingin melanjutkan perjalanan mu, teruskan saja." Kata Briyan sebagai seorang sahabat.
"Aku akan menanganinya, dan menjaganya untuk mu." Lanjutnya.
"Terimakasih." Ucap Adrean.
"Itu tidak sebanding dengan pengorbanan mu saat itu." Kata Briyan.
"Jangan dilihat terus, bisa-bisa jadi benar-benar dari mata turun ke hati." Kata Briyan mengingatkan.
"Hem." Kata Adrean berbalik meninggalkan gadis itu pergi untuk menebus resep yang baru saja diterimanya.
Adrean saat ini memang merasa kasihan pada gadis itu, tetapi ada sedikit rasa sejak mereka bertemu walau dalam situasi yang tidak mendukung.
__ADS_1