Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 22. Meja Keramat


__ADS_3

Pemuda yang ada dalam sebuah kamar sedang sibuk dengan dunianya sendiri. PR yang tadi pagi lupa begitu saja.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Pintu kamar terdengar seseorang mengutuknya beberapa kali. Adrean yang berada di balkon kamarnya itu segera beranjak membukakan pintu.


Ceklek


Pintu kamar itu pun terbuka setelah knop pintu diputar dari dalam oleh Sang Empunya kamar. Dia melihat seorang laki-laki paruh baya berdiri di depan kamarnya.


"Ayah mau masuk dulu?" Tawar Seorang Pemuda dengan menunjukkan dalam kamar dengan jari jempol kanan mengarah kebelakang di atas bahu kanan.


"Baiklah aku juga ingin melihat bagaimana kondisi kamar seorang pemuda yang belajar hingga ke negri entah berantah." Kata Sang Ayah melihat ke berbagai sudut ruangan yang terlihat sangat bersih.


"Bersih sekali." Puji Sang Ayah merasa kagum dengan Anak Angkatnya itu hingga mengingatkan masa mudanya dulu yang selalu diingatkan oleh orang tuanya.


"Bersiaplah, kita akan makan malam di luar." Ajak Sang Ayah.


"Lupakan PR mu dulu." Lanjutnya menepuk pundak Adrean.


Sang Ayah meninggalkan Adrean yang masih berdiri di tempatnya. Tuan Richat merasakan banyak manfaat dari apa yang diajarkan oleh kedua orang tuanya dulu.


Seluruh anggota keluarga mulai bersiap untuk pergi makan malam di sebuah restoran. Restoran milik Sang Bunda yang kemarin mereka sempat makan siang di tempat itu.


Sesudah shalat Isa' mereka sudah siap dengan kostum masing-masing. Mereka tidak memakai pakaian ataupun barang yang berlebihan walaupun memiliki barang tersebut.


Bunda mengenakan pakaian yang cukup sederhana tetapi terlihat sangat elegan begitu juga putrinya. Ayah dan Adrean mengenakan kaos dan celana panjang sehingga tidak menampilkan kesan formal seperti saat ke kantor.


Breeem

__ADS_1


Breeem


Breeem


Suara mesin mobil dinyalakan oleh seorang Pemuda di garasi. Mobil itu dipanasi mesinnya terlebih dahulu sebab memang seharian tidak keluar dari sarangnya.


Pedal gas akhirnya diinjak hingga sebuah mobil berjalan dengan pelan menuju pintu utama. Ketiga orang sudah menunggu disana dengan sabar.


Chiiiiiit


Suara gesekan ban dengan tanah terdengar sangat pelan menang karena sopirnya mengendarai perlahan. Pemuda itu turun dari dalamnya dan membukakan pintu untuk seorang gadis kecil yang sangat cantik.


Gadis kecil itu ingin duduk di samping pak kusir ternyata dan hal itu membuat sebuah kesempatan dalam kelonggaran untuk pasutri yang duduk di kursi penumpang. Ayah membukakan pintu mobil untuk Sang Istri.


"Silahkan permaisuri ku." Kata Ayah sedikit membungkuk dan mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil dengan tangan kanannya yang membuat Sang Kusir menggelengkan kepala perlahan.


"Terimakasih Ayah." Ucap Sang Bunda tetapi dengan mata yang seakan akan membunuh laki-laki Paruh Baya yang ada di depannya itu.


Seorang gadis kecil merasa sangat senang kali ini bisa makan malam bersama di luar. Rasa senang itu bukan karena di restoran mewah tetapi keluar makan bersama dengan orang-orang yang disayanginya.


"Atau memang ada acara khusus?" Lanjutnya yang semakin penasaran karena tidak segera dijawab oleh yang bersangkutan.


Pedal gas akhirnya diinjak perlahan oleh pak kusir hingga pintu gerbang. Penjaga gerbang tanpa perintah langsung membukakan pintu itu.


Melewati pintu gerbang dan mereka sudah memasuki jalan raya atau jalan utama Adrean semakin menambah kecepatannya. Pemuda itu dengan hati-hati mengendarai mobil itu maupun dengan kecepatan yang sedang tapi agak kencang juga.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil itu terasa sangat tenang. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


Awas ada anak dibawah umur yang keingintahuannya sangat tinggi. Pasutri itu tidak bisa menjelaskannya saat ini takut akan merusak suasana hatinya.


Pemuda yang sedang fokus pada jalan ibu kota yang sangat ramai karena sedang mengemudikan mobilnya itu tidak tahu apapun tentang acara makan malam ini. Dia pun tidak berkomentar apapun.


Meraka tiba di restoran tapi sedikit rasa bersalah dihati pasutri itu yang tidak bisa menjelaskan apapun pada putri kesangannya. Terlihat wajah yang lesu di mukanya itu tidak seceria biasanya.


Mereka disambut dengan baik dan ramah ketika sampai di depan pintu masuk. Mata mereka memindai di segala penjuru tempat duduk.


Keluarga ini belum memesan meja untuk makan di restoran itu. Acara makan malam ini memang bisa dibilang mendadak.


"Kita duduk di meja no. X saja sepertinya lebih nyaman." Kata Ayah meminta pendapat anggota keluarga yang lain.


"Bagaimana?" Lanjutnya.


"Boleh juga." Kata Bunda.


"Bagaimana dengan mu cantik?" Tanya Ayah pada putrinya.


"Baiklah, tidak masalah." Jawabnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawan restoran.


"Tidak." Jawab Tuan Richat dengan wajah datarnya.


"Sudahkah anda memesan meja?" Tanya Karyawan itu lagi.


"Belum." Jawab Tuan Richat.


"Kami biasanya di meja no.X." Lanjutnya lagi.


Mereka ber-empat berjalan santainya menuju meja yang disebutkan tadi. Karyawan yang menyambutnya tadi hanya diam terpaku pada tempatnya.


"Itu kan meja keramat, hanya pemiliknya saja yang boleh duduk di sana, bahkan mereka belum memesan meja." Batin Karyawan baru itu melihat ke empat punggung orang yang baru saja melangkahkan kaki meninggalkannya itu.

__ADS_1


Tuan Richat beserta keluarganya segera memesan makanan setelah mereka duduk di tempat yang mereka maksut. Seorang pelayan membawakan buku menu makan untuk mereka dengan sangat sopan.


Beberapa menu makanan yang dipesan segera dibuatkan oleh koki andalan di restoran itu. Seorang karyawan yang membawakan buku menu itu sudah bekerja sangat lama di restoran itu sehingga Dia tahu siapa saat ini yang dihadapinya.


__ADS_2