Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 137. Konco Turu


__ADS_3

Alfian memang tidak ingin bermain-main dengan hal itu. Hal yang mempermainkan kehidupan orang lain.


KONCO TURU


Hal yang tidak Ia suka adalah mempermainkan perasaan seseorang. Ia tahu bagaimana sakitnya jika dipermainkan walaupun ia sendiri belum pernah dipermainkan.


Ia tahu sakitnya kehilangan seseorang yang ia sayangi saat Alfian masih sangat kecil. Rasa kehilangan gadis kecil yang selalu mewarnai kehidupannya saat itu.


Mendengar penuturan Alfian yang akan melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat seorang gadis tersipu malu. Gadis itu pun pamit bersiap pergi ke kampus.


"Aku permisi dulu Pa, Ma." Pamit gadis itu.


"Mau bersiap berangkat kuliah." Lanjutnya.


"Gak usah terburu-buru nanti ada yang anterin dengan kecepatan super." Kata Papa.


Semua yang ada di ruang tamu itu menatap punggu gadis itu yang semakin menjauh.


"Semalam memang kenapa gak jadi antar pulang?" Tanya Papa menuntut sebuah penjelasan.


"Semalam ada kejadian yang memang bisa dibilang hal diharapkan bisa juga tidak?" Jawabnya.


"Kalau jawab yang pasti." Kata Papa tegas.


"Semalam kami ke rumah sakit." Jelas Alfian terputus.


"Mammy mual-mual sampai tak punya tenaga." Lanjutnya.


"Sepertinya ada hal baik." Kata Mama munyela pembicaraan kedua laki-laki dewasa itu.


"Betul Tante." Sambung Alfian.


"Berbuah juga akhirnya." Celetuk Mama Sinta.


"Memangnya pohon Tante?" Canda Alfian.


"Emang pohon kan. Tiap malem dipanjati." Jelas Mama Sinta.


"Mama tu ada-ada saja. Gak diada-ada aja pinginnya minggu depan udah punya konco turu." Celetuk Papa Adrean.

__ADS_1


"Ya udah kalau keputusan kalian seperti. Kalian persiapkan saja." Kata Papa Adrean tegas.


"Persiapkan apa?" Tanya seorang gadis yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Sudah nanti biar aku jelasin ke kamu." Kata Alfian.


"Pa, Ma berangkat dulu." Pamit Gadis itu setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya tanpa memperhatikan Alfian.


"Om, Tante saya pamit dulu." Pamit Alfian pada kedua orang tua Tari setelah mencium punggung tangan keduanya.


Alfian sedikit berlari mengikuti gadis itu dari belakang. Mengekor seperti anak kucing mengikuti induknya.


"Mau kemana?" Tanya Alfian melihat gadisnya menuju garasi.


"Kampuslah." Jawab Tari mengambil penutup kepala karena setiap pergi ke kampus ia naik motor kesayangannya.


"Aku antar." Titah Alfian menyahut penutup kepala yang hampir sama dikenakan gadis itu.


Alfian tahu alasan gadis itu sampai sekarang lebih memilih menggunakan motornya. Ketiga adiknya pun lebih memilih menggunalan motor.


Masih di depan pintu utama Papa dan Mama mengamati mereka secara intens. Mereka percaya kalau anak gadis mereka akan dihujani dengan kasih sayang dari pasangan hidupnya.


"Aku sudah terlambat ini, serahkan helm itu." Lanjutnya.


Gadis itu mencoba merebut kembali helm yang hendak dibawanya. Percuma saja Ia merebutnya, toh kalah gesit.


Helm yang ada ditangan Alfian dimainkannya hingga sesuatu pun terjadi. Benda itu berada di belakang tubuh kekarnya.


GREEP


Pelukan yang tak bisa dihindari datang dari tubuh gadis itu. Benda kenyal itu hingga menyentuh tubuh kekar yang ada di depannya.


Perasaan tidak enak karena sang adik mulai memberontak membuatnya kalang kabut. Walau bagaimanapun Ia adalah laki-laki dewasa yang sudah saatnya punya konco turu.


Ada banyak helm di lemari segera Alfian meraih salah satu helm yang ada di lemari. Ia tahu pasti bahwa gadisnya itu akan ngebut dengan kecepatan yang lumayan tinggi buat seorang wanita.


Tanpa berpikir panjang karena menahan sesuatu yang membuatnya tak nyaman segera dirampas kunci dari tangan Mentari. Gadis itu otomatis merasa terkejut karena tanpa persiapan.


Alfian segera naik pada motor yang biasa dipakai gadisnya itu. Mesin segera dinyalakan hingga membuat gadis yang ada disebelahnya bengong.

__ADS_1


"Cepat naik." Katanya dengan nada agak tinggi.


"Gak salah?" Tanya Mentari.


"Kalau gak mau terlambat cepat naik, gak usah banyak bengong." Jelasnya.


Gadis itu pun membonceng tanpa pikir panjang lagi. Tidak ingin ia terlambat dalam segala urusan.


Dalam hati gadis ini pun tertawa. Ia menertawakan penampilan pemuda yang saat ini mengantarnya.


Kecepatan Alfian tidaklah sembarangan, hingga membuat gadis ini berpegangan pada pinggang orang yang memboncengkan dia.


Takut


Takut


Takut


Sedikit takut dengan kecepatan seperti itu. Kemungkinan karena gadis ini sering juga mengendarainya dengan kecepatan yang lumayan kencang.


Antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tetaplah beda. Biar dikatakan kuat tetap saja laki-laki lah yang memiliki kekuatan lebih. Begitu juga ini kali, tetap saja seorang wanita biarpun dikatakan cepat pasti masih kalah.


"Apa ini, kalau kenapa malah begini, empuk." Kata Pemuda itu dalam hati saat dalam perjalanan.


Memasuki gerbang kampus banyak sekali mata yang memandang mereka dengan penasaran. Banyak tanda tanya yang merasuki pikiran kaum adam dan hawa.


Di gedung tempat gadis itu akan ada kuliah, Alfian menghentikan motornya. Lama sekali Ia berada di sana, tapi yang dibonceng tak ada pergerakan sama sekali.


"Mau terus memeluk ku seperti ini?" Tanya Alfian dengan gaya coolnya tanpa melepas helm yang Ia kenakan.


"Nyaman kali ya kalau seperti ini terus?" Tanyanya lanjut.


Sadar dengan yang gadis itu lakukan, Ia pun mendorong tubuh pemuda itu yang ada di depannya saat ini. Mendengar candaan itu ada rasa jengkel dalam hatinya.


"Uhhhh, enak aja. Nyaman apa'an aku hampir mati jantungan tahu!" Kata Mentari dengan jengkel.


"Ya udah hari ini gak usah masuk aja, aku antar ke dokter jantung." Pinta Alfian.


"Palingan juga ada surat rujukan dari dokter jantung ke dokter hati." Lanjutnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama mesin motor itu dinyalakan kembali. Ia hendak membawa motor itu pergi.


__ADS_2