Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 93. Aktivitas Baru 78-79


__ADS_3

Alfian beranjak dari kursi segera mengambil kunci yang ada nakas kamarnya. Ia tak memperhatikan penampilannya saat ini setelah dilihatnya jam yang menggantung di dinding sudah sangat mepet.


Kepergian laki-laki itu tanpa pamit membuat Mentari hanya diam memandang punggungnya. Tidak ada kesempatan pula bertanya karena dengan cepat Alfian langsung pergi dari tempat itu.


"Ayo." Ajak Alfian dengan berlari kecil menuju pintu keluar rumah.


"Kemana?" Tanya Mentari.


"Mau tetap di sini?" Tanya Alfian dengan senyumnya yang begitu menggoda.


"Gimana? hem hem hem?" Tanyanya lanjut sambil menaik turunkan alisnya.


Melihat penampilan laki-laki yang saat ini bersamanya sekarang, Mentari hanya diam pematung. Pakaian rumahan yang ia kenakan sekarang tidak meyakinkan untuk bepergian. Sebab tidak biasanya ia mengenakan pakaian seperti itu saat diluar.


Sebuah tangan besar pun mulai menarik tangan gadis itu karena Sang Gadis tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri. Terkejut dengan perlakuan itu Mentari menatapnya tajam hingga beberapa menit.


Mobil yang sudah terparkir berada di depan pintu utama itu memang sudah di siapkan sejak tadi pagi. Dibukakan pintu bagian samping kemudi hingga gadis itu duduk kemudian ditutupnya kembali.


Alfian mengitari mobil itu lewat depan. Setelah masuk dan duduk dengan memasangkan sabuk pengamannya ia mulai menjalankan mobil itu.


Mobil melaju memecah keramaian jalan di setiap sudut kota. Termasuk gang semut pun tidak pernah sepi dengan kendaraan atau orang yang lalu lalu lalang untuk memulai aktivitas mereka.


Mobil itu kini menempuh perjalanan yang lumayan dekat akan tetapi terasa jauh. Berbagai macam kendaraan saling kebut kebutan membuat Alfian lebih sering menginjakkan remnya.


Chiiiiiit.


Suara Ban mobil bergesekan dengan jalan depan rumah mewah yang sangat besar. Suara itu terdengar sangat melengking di telinga hingga memancing perhatian banyak orang sekitar.


Penjaga pintu gerbang rumah itu pun penasaran. Dilihatnya sebuah mobil sport keluaran terbaru dan barangnya pun Limitit edision.


Mobil ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Orang-orang tersebut pun hanya memiliki koneksi pada pencipta mobil tersebut.


"Maaf Pak bisa buka gerbang sekarang?" Tanya Seorang Pemuda yang bergaya Cool menyesuaikan bawa'annya itu dengan sopan.


"Oh ternyata aden. Baik Den." Balas seorang penjaga.


"Silahkan Den." Lanjutnya Lagi.


Pemuda itu mulai menancapkan pedal gasnya perlahan menuju tempat yang seharusnya. Penghuni rumah yang tinggi dua insan hendak berangkat ke kantor pun tidak mendengar ada deru mobil sudah terparkir di depan rumahnya.


Ya... Karena memang suaranya yang sangat halus. Bahkan untuk perawatan mobil itu pun tidak membutuhkan biaya yang cukup sedikit.


"Yah, sudah sampai." Keluh seorang pemuda mulai melepas sabuk pengamannya.


"Mau lu?" Tanya Gadis itu.


"Masih ingin bersama mu." Lanjut Sang Pemuda sangat lirih tapi masih bisa didengar oleh gadis yang ada di sampingnya.


Gadis itu hanya menatap lurus ke depan berpura-pura tidak mendengar apapun. Pemuda yang ada di sampingnya turun pun Tari tidak mendengar pintu mobil dibuka.


Masih sangat halus memang suaranya karena perawatan yang cukup mahal. Pintu dari samping mobil kemudi pun tiba-tiba terbuka.


"Cepat turun." Titah Putra Mahkota pada calon istri dengan memegang erat jari jemari lentik itu dengan jari-jarinya yang besar karena selalu latihan otot.


"Pengen terlambat ke kampus?" Tanyanya lanjut.


Bergegas Tari pun turun dengan jari jemari yang masih bertautan dengan Sang Pemuda. Hal itu tanpa di sadari karena ia memang terburu-buru ada jadwal kuliah.


Mereka di sambut oleh Papa dan Mama yang hendak berangkat ke kantor. Merekapun sebenarnya juga kesiangan karena menunggu anak gadisnya itu.


"Memang kalau sudah jatuh cinta itu dunia serasa milik berdua." Kata Mama melirik tautan tangan keduanya.


"Pagi Om, Tante." Sapa Alfian sopan.


"Pagi juga Al." Jawab Papa.


"Kamu kapan dateng? Tante kok tidak dengar suara mobil masuk?" Tanya Mama menyelidik.


"Kamu beneran itu Al pakai pakaian kayak gitu?" Tanya Papa ikut menyelidik.


"Jangan-jangan kamu sudah ajak anak Om olahraga." Lanjutnya.


"Belum Om. Nanti paling cepet sekitar satu minggu-an." Jawab Alfian tegas.


"Baguslah kalau masih tersegel." Kata Papa.


Alfian memang tidak ingin bermain-main dengan hal itu. Hal yang mempermainkan kehidupan orang lain.


♥️♥️♥️


137


Alfian memang tidak ingin bermain-main dengan hal itu. Hal yang mempermainkan kehidupan orang lain.


KONCO TURU


Hal yang tidak Ia suka adalah mempermainkan perasaan seseorang. Ia tahu bagaimana sakitnya jika dipermainkan walaupun ia sendiri belum pernah dipermainkan.


Ia tahu sakitnya kehilangan seseorang yang ia sayangi saat Alfian masih sangat kecil. Rasa kehilangan gadis kecil yang selalu mewarnai kehidupannya saat itu.


Mendengar penuturan Alfian yang akan melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat seorang gadis tersipu malu. Gadis itu pun pamit bersiap pergi ke kampus.


"Aku permisi dulu Pa, Ma." Pamit gadis itu.


"Mau bersiap berangkat kuliah." Lanjutnya.


"Gak usah terburu-buru nanti ada yang anterin dengan kecepatan super." Kata Papa.


Semua yang ada di ruang tamu itu menatap punggu gadis itu yang semakin menjauh.


"Semalam memang kenapa gak jadi antar pulang?" Tanya Papa menuntut sebuah penjelasan.


"Semalam ada kejadian yang memang bisa dibilang hal diharapkan bisa juga tidak?" Jawabnya.


"Kalau jawab yang pasti." Kata Papa tegas.


"Semalam kami ke rumah sakit." Jelas Alfian terputus.


"Mammy mual-mual sampai tak punya tenaga." Lanjutnya.


"Sepertinya ada hal baik." Kata Mama munyela pembicaraan kedua laki-laki dewasa itu.


"Betul Tante." Sambung Alfian.


"Berbuah juga akhirnya." Celetuk Mama Sinta.


"Memangnya pohon Tante?" Canda Alfian.


"Emang pohon kan. Tiap malem dipanjati." Jelas Mama Sinta.


"Mama tu ada-ada saja. Gak diada-ada aja pinginnya minggu depan udah punya konco turu." Celetuk Papa Adrean.


"Ya udah kalau keputusan kalian seperti. Kalian persiapkan saja." Kata Papa Adrean tegas.


"Persiapkan apa?" Tanya seorang gadis yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


"Sudah nanti biar aku jelasin ke kamu." Kata Alfian.


"Pa, Ma berangkat dulu." Pamit Gadis itu setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya tanpa memperhatikan Alfian.


"Om, Tante saya pamit dulu." Pamit Alfian pada kedua orang tua Tari setelah mencium punggung tangan keduanya.


Alfian sedikit berlari mengikuti gadis itu dari belakang. Mengekor seperti anak kucing mengikuti induknya.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Alfian melihat gadisnya menuju garasi.


"Kampuslah." Jawab Tari mengambil penutup kepala karena setiap pergi ke kampus ia naik motor kesayangannya.


"Aku antar." Titah Alfian menyahut penutup kepala yang hampir sama dikenakan gadis itu.


Alfian tahu alasan gadis itu sampai sekarang lebih memilih menggunakan motornya. Ketiga adiknya pun lebih memilih menggunalan motor.


Masih di depan pintu utama Papa dan Mama mengamati mereka secara intens. Mereka percaya kalau anak gadis mereka akan dihujani dengan kasih sayang dari pasangan hidupnya.


"Apa-apa kamu?" Tanya Tari dengan nada yang agak tinggi.


"Aku sudah terlambat ini, serahkan helm itu." Lanjutnya.


Gadis itu mencoba merebut kembali helm yang hendak dibawanya. Percuma saja Ia merebutnya, toh kalah gesit.


Helm yang ada ditangan Alfian dimainkannya hingga sesuatu pun terjadi. Benda itu berada di belakang tubuh kekarnya.


GREEP


Pelukan yang tak bisa dihindari datang dari tubuh gadis itu. Benda kenyal itu hingga menyentuh tubuh kekar yang ada di depannya.


Perasaan tidak enak karena sang adik mulai memberontak membuatnya kalang kabut. Walau bagaimanapun Ia adalah laki-laki dewasa yang sudah saatnya punya konco turu.


Ada banyak helm di lemari segera Alfian meraih salah satu helm yang ada di lemari. Ia tahu pasti bahwa gadisnya itu akan ngebut dengan kecepatan yang lumayan tinggi buat seorang wanita.


Tanpa berpikir panjang karena menahan sesuatu yang membuatnya tak nyaman segera dirampas kunci dari tangan Mentari. Gadis itu otomatis merasa terkejut karena tanpa persiapan.


Alfian segera naik pada motor yang biasa dipakai gadisnya itu. Mesin segera dinyalakan hingga membuat gadis yang ada disebelahnya bengong.


"Cepat naik." Katanya dengan nada agak tinggi.


"Gak salah?" Tanya Mentari.


"Kalau gak mau terlambat cepat naik, gak usah banyak bengong." Jelasnya.


Gadis itu pun membonceng tanpa pikir panjang lagi. Tidak ingin ia terlambat dalam segala urusan.


Dalam hati gadis ini pun tertawa. Ia menertawakan penampilan pemuda yang saat ini mengantarnya.


Kecepatan Alfian tidaklah sembarangan, hingga membuat gadis ini berpegangan pada pinggang orang yang memboncengkan dia.


Takut


Takut


Takut


Sedikit takut dengan kecepatan seperti itu. Kemungkinan karena gadis ini sering juga mengendarainya dengan kecepatan yang lumayan kencang.


Antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tetaplah beda. Biar dikatakan kuat tetap saja laki-laki lah yang memiliki kekuatan lebih. Begitu juga ini kali, tetap saja seorang wanita biarpun dikatakan cepat pasti masih kalah.


"Apa ini, kalau kenapa malah begini, empuk." Kata Pemuda itu dalam hati saat dalam perjalanan.


Memasuki gerbang kampus banyak sekali mata yang memandang mereka dengan penasaran. Banyak tanda tanya yang merasuki pikiran kaum adam dan hawa.


Di gedung tempat gadis itu akan ada kuliah, Alfian menghentikan motornya. Lama sekali Ia berada di sana, tapi yang dibonceng tak ada pergerakan sama sekali.


"Mau terus memeluk ku seperti ini?" Tanya Alfian dengan gaya coolnya tanpa melepas helm yang Ia kenakan.


"Nyaman kali ya kalau seperti ini terus?" Tanyanya lanjut.


Sadar dengan yang gadis itu lakukan, Ia pun mendorong tubuh pemuda itu yang ada di depannya saat ini. Mendengar candaan itu ada rasa jengkel dalam hatinya.


"Uhhhh, enak aja. Nyaman apa'an aku hampir mati jantungan tahu!" Kata Mentari dengan jengkel.


"Ya udah hari ini gak usah masuk aja, aku antar ke dokter jantung." Pinta Alfian.


"Palingan juga ada surat rujukan dari dokter jantung ke dokter hati." Lanjutnya.


Tanpa menunggu lama mesin motor itu dinyalakan kembali. Ia hendak membawa motor itu pergi.


138


Tanpa menunggu lama mesin motor itu dinyalakan kembali. Ia hendak membawa motor itu pergi.


"Mau kemana?" Tanya Tari.


"Pulang." Jawab Alfian singkat.


"Enak aja. Nanti aku pulangnya gimana dodol?" Tanya Tari.


"Gue jemput." Jawab Alfian sambil berlalu.


Penampilan acak-acakan karena membonceng motor dengan kecepatan yang tidaklah pelan membuat perhatian semua mahasiswa di sana. Tari pergi menuju ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya.


Gadis ini memang mahasiswa baru di kampus ini. Ia belum memiliki teman apalagi sahabat.


Mentari mendaftar dikampus ini pun sendirian waktu itu. Ia hanya berbekal oleh surat-surat dari sekolah asalnya karena memang sangat pintar dan cerdas.


Teman Alfian yang lah yang ia kenal. Seorang laki-laki yang terkenal dengan sifat casanofanya.


Ceklek


Pintu kamar mandi dibuka perlahan. Seorang gadis yang berpenampilan cantik dan kini sudah rapi kini berjalan dengan memeriksa tas yang ia bawa sekarang membuatnya tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang dikenal Primadona kampus.


Hal itulah yang membuat gadis itu sombong apalagi ia dikenal kaya membuatnya semakin sok berkuasa di kampus ini. Kata-kata pedas selalu keluar dari mulutnya pada seseorang yang tidak ia sukai.


Mahasiswa yang dianggapnya berulah selalu kena teguran dari pihak kampus biarpun mereka tidak bersalah. Paling parah harus DO dari kampus itu.


Sungguh disayangkan kalau harus DO dari kampus itu. Masuk kampus itu saja buat mereka sangatlah susah.


Bruuk


Suara Gadis itu menabrak gadis yang ditakuti di kampus itu.


"Mata elu kamu taruh di mana?" Tanya salah satu mahasiswi di kampus itu.


"Sial! Berani cuek dengan aku." Kata Mahasiswi itu menghentakkan kakinya selepas kepergian gadis itu.


Mahasiswi itu memang sengaja mencari-mencari kesalahan Tari sejak melihat Alfian dekat dengannya sejak pendaftaran dulu. Tari tidak mempedulikan semua mahasiswa itu.


Gadis itu menganggap semua perkataan Mahasiswi itu angin lalu. Terus saja Ia berjalan menuju fakultas tempatnya ada kuliah pagi ini.


Kecantikan gadis ini membuat semua mahasiswa di kampus ini ingin dekat dan kenal dengannya. Apalagi Ia sangat ramah pada semua orang tanpa memandang status orang itu.


💕💕💕💕💕💕💕


Seorang pemuda dalam perjalanan menuju rumah gadisnya sedang menaiki motor dalam keramaian kota. Ia mengendarai motor itu dengan kecepatan sedang membelah ramainya jalanan kota.


Thin Thin Thin


Suara klakson dari sebuah motor metic yang kini dikendarai pemuda itu. Akhirnya penjaga keamanan membukakan pintu mobil gerbang rumah yang Sang Gadis sekarang.


Alfian tanpa ragu-ragu langsung menuju tempat parkir dimana biasanya motor itu berada. Ia meninggalkan motor itu beserta helm yang mereka kenakan tadi.


"Tuan & Nyonya sudah berangkat?" Tanya Pemuda itu saat berjalan menuju taman samping rumah yang letaknya tidak jauh dari tempatnya memarkirkan mobilnya pada salah satu ART yang sempat mengekor di belakangnya dengan menundukkan kepala.


"Mereka berdua sudah berangkat." Jawab ART itu dengan sopan.


"Tuan mau minum apa?" Tanya ART yang masih muda itu lagi.


"Gak usah repot-repot. nanti kalau aku butuh apa-apa aku akan panggil." Jawab Alfian cuek.

__ADS_1


Begitulah pemuda itu, hanya pada orang wanitanya saja ia bisa ramah. Padahal ART tadi memiliki paras yang cantik.


Annisa nama ART yang bekerja di rumah itu. Kehidupan kesehariannya sama seperti Sang Tuan Rumah hanya saja ia tidak seberuntung Mentari.


Alfian kini duduk-duduk di bawah pohon mangga yang dulu pernah ada sebuah memori bersama ketiga kurcaci kecil di keluarga ini. Hanya sendiri ia menikmati segarnya udara pagi. Waktu memang masih pagi menjelang siang.


Dreeeeet dreeeeet dreeeeet


Benda pipih yang ditaruh di meja tepat di depannya kini bergetar saat sang pemilik memejamkan mata. Ia menutup matanya bukan karena tidur akan tetapi merasakan kedamaian pada dirinya saat ini.


Mata itu kini telah terbuka dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk menjemput pujaan hatinya. Mobil yang ia parkir tadi pagi masih ditempat yang sama.


Tap-tap-tap


Terdengar derap langkah yang begitu terburu-buru menuju depan rumah dimana mobil itu terparkir manis di sana. Ketiga anak laki-laki beberapa menit yang lalu mengamati mobil itu penuh dengan rasa kagum.


Braak


Salah satu dari laki-laki itu menabrak Alfian dengan kerasnya. Ya itu karena ia terlalu memperhatikan mobil yang terparkir di depan rumah mereka.


Aaaah


Keluhnya saat itu karena merasakan sakit. Kebenarannya ia tidak merasakan sakit itu karena memang tubuh mereka selalu dilatih dengan berbagai macam olah raga yang bisa meningkatkan ketahanan tubuh.


"Maaf." Kata Alfian.


"Aku kali Kak yang minta maaf." Balas Daffa sambil cengar cengir dengan mengamati mobil calon kakak ipar.


"Lho kalian bolos?" Tanya Alfian yang memang hari ini memang jam sekolah belum usai.


"Gak mungkin kali Bang, kita kan anak baik lebih baik lagi anak sholeh." Jawab ketiga anak laki-laki itu bersamaan sambil tertawa renyah.


"Abang sendirian?" Tanya Axel penasaran.


"Hem." Jawab Alfian singkat.


"Kakak ku mana? Tanya Garda.


"Aduh dasar kakak durhaka sama calon suami. Masak lakinya ditinggalin sendirian." Cerocos Axel sebelum Alfian menjawab pertanyaan Garda.


"Itu mobil Abang?" Tanya Daffa yang sejak tadi memperhatikan mobil itu dengan penuh kekaguman."


"He'em." Jawab Alfian sejak tadi yang sebenarnya sejak tadi ingin melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.


"Wah, pinter dong kakak ku cari laki. Masih muda udah sukses lagi udah punya mobil mewah." Puji Daffa.


"Limited edition." Kata ketiganya bersamaan.


"Bukan itu gerobak." Sanggah Sang pemilik merendahkan diri.


"Iya Gerobak Cinta." Jawab ketiganya bersamaan.


"Setahu aku sih mobil abang ini gak pernah dipakai atau pun orang lain naik ke mobil itu tu." Jelas Axel dengan menunjuk gerobak cinta itu dengan dagunya.


"Hanya kakak ku seorang yang pernah naik itu mobil." kata Garda menjelaskan.


"Udah abang mau cabut dulu. Ok." Kata Alfian dengan tergesa-gesa sedikit berlari meninggalkan ketiganya.


"Lho kok tergesa-gesa? kakak ku kan belum pulang." Tanya Daffa.


"Ini mau jemput." Jawab Alfian sambil lalu.


Bukannya tidak mau berbincang dengan mereka tapi jika lama-lama Alfian bersama mereka bertiga bisa bikin frustasi dengan kegilaan mereka. Tingkah mereka yang selalu bikin ulah untuk ngerjain dirinya.


Pemuda itu pun langsung menyalakan mesin gerobak cintanya. Gerobak itu pun melaju dalam keramaian jalanan kota.


Banyak diantara pengguna jalan yang memperhatikan gerobak itu karena terpesona. Mobil yang hanya dimiliki oleh para miliuner.


Saat ini memang waktu padatnya aktivitas jalan tidak jarang mengalami kemacetan. Entahlah hari ini jalan terasa lancar-lancar saja.


♥️♥️♥️


139


Gerobak cinta melaju dengan kecepatan yang agak lebih dari biasanya. Suara yang begitu halus nyaris tak terdengar dikeluarkan dari mobil itu. Belum lagi disainnya baik dari luar ataupun dalam sangatnya luar biasa.


Takut Gadisnya menunggu lama atau sudah terasa kangen berat Alfian ingin segera sampai di kampus. Tepat di depan Gadis itu mobil pun berhenti.


Kaca Mata hitam segera ia kenakan dengan pakaian yang masih sama tadi ia kenakan. Bukan karena sombong tapi ia tidak mau orang banyak tahu tentang kehidupannya.


Saat itu juga banyak mahasiswa dikampus itu yang terpesona dengan apa yang ia bawa saat itu. Dugaan demi dugaan terlontar dari mulut mereka.


"Lama?" Tanya seorang pemuda yang baru saja keluar dari gerobak cinta dengan gagahnya.


"Dah tau nanya!" Balas seorang gadis.


Pemuda itu pun membukakan pintu mobil dengan wajah dinginnya. Di dalam sana hanya tercipta sebuah keheningan setelah keduanya berada dalam gerobak itu.


Seorang gadis yang sejak lama mengagumi sesosok Alfian hingga ia terobsesi melihat pemandangan baru saja merasa badannya panas dingin. Ia adalah teman satu kampus dengannya.


Mulailah ia merencanakan segala sesuatunya untuk menghancurkan setiap gadis yang dekat dengannya. Tatapan membunuh terlihat dimatanya.


"Lihat saja nanti!" Ancamnya walaupun ia belum tahu saat ini yang bersama Tari adalah Pemuda yang menjadi incarannya.


"Kamu tidak akan bisa bersama dengan lelaki ku." Lanjutnya.


Sama halnya di dalam sebuah gerobak kini terasa dalam sebuah atmosfer yang panas. Tidak ada sebuah percakapan sedikit pun.


Sang Sopir menghentikan gerobaknya secara mendadak di sebuah tempat. Tempat yang sangat sepi tetapi cukup terawat.


"Kenapa ke sini?" Tanya Gadis itu penuh selidik.


"Mau memakan mu." Jawab Sang Pemuda.


"Turun atau aku akan benar-benar melahap mu hari ini." Lanjutnya setelah Pemuda itu membukakan gerobak miliknya.


Sang gadis turun tetapi ia tidak segera mengikuti langkah Alfian. Alfian akhirnya berbalik meluhat wajah kusam pada yang kekasih.


"Apa yang kita lakukan di sini." Tanya Tari dengan nada kesal.


"Apa yang dilakukan sepasang kekasih di tempat yang sangat sepi seperti ini?" Tanya Alfian balik.


"Oh.... " Jawab Sang kekasih.


Gadis ini tetap saja diam di tempat tak bergerak sama sekali. Hingga akhirnya Alfian menggandengnya menggenggam erat tangan dengan menautkan kelima jari di sela-sela jari sang kekasih.


"Aku akan mengenalkan mu pada seseorang." Jelas Alfian dengan langkah cepatnya.


"Di tempat seperti ini?" Tanya Tari


"Oh my good." Lanjut Sang Gadis.


Tanpa menghiraukan kata-kata gadis yang saat ini bersamanya terus saja ia berjalan hingga sampai pada suatu batu nisan yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Batu nisan dengan ukiran dan lingkungan yang agak jauh dari makam yang lain dan memang dibuat lebih bagus.


Tangan yang tadi menggandengnya dengan erat kini mulai mengendur dan melepaskan tangan Sang Gadis. Tari merasakan genggaman yang mulai dilepas itu dan melihat sekelilingnya yang berbeda.


"Kenapa berhenti?" Tanya Tari.


"Katanya mau mengenalkan ku pada seseorang?" Lanjutnya.


Gadis itu hanya melihat di depan mereka sebuah batu nisan yang bertuliskan nama seorang gadis. Umur gadis yang tertulis di batu nisan itu terpaut tidak jauh dari Pemuda yang saat ini bersamanya.


Kecewa

__ADS_1


Kecewa


Kecewa


__ADS_2