
Saat menuju hotel dan hotel pun sudah dijaga dengan ketatnya. Semua orang memberikan selamat atas pernikahannya. Kini giliran Briyan naik ke altar memberikan selamat pada Kedua mempelai.
Briyan yang begitu dingin dan cuek pada setiap wanita melihat Sinta tanpa berkedip. Adrean melihat itu merasa agak sedikit cemburu. Tanpa sadar "Cantik sekali istri mu" kata Briyan
Adrean: "Bang sadar woe itu istri gue, ngeliatinnya jangan kayak gitu. Bisa-bisa keluar tu bola mata."
Briyan: "Maaf teman tak ku sangka bini lu cantik banget."
Adrean: "Ya Suami kan juga ganteng."
Briyan: "Percaya diri amat."
Adrean: "Cari istri biar ada yang ngurus."
Briyan: "Gak ada yang buang anak gadisnya."
Tidak lama saat mereka ngobrol Aldo dan Erika datang. Mereka mengucapkan selamat pada dua mempelai.
Aldo sama halnya dengan Briyan yang menatap Sinta dengan sangat kagumnya.
Briyan: "Pleboy lu datang tu. Hati-hati bini lu diembat."
Aldo: "Apa lo bilang? Se pleboynya aku tu gak bakalan bini orang sahabat gue embat."
Semua akhirnya tertawa melihat bercandaan mereka. Terkecuali Erika yang memang sangat membenci Sinta. Saat mengucapkan selamat ia sempat merendahkan Sinta.
Erika hanya tahu kalau Sinta hanya bekerja di hotel dulu. Ia tidak tahu bahwa Ia adalah pewaris tunggal perusahaan besar setelah Tuan Richat.
"Kau pikir kau pantas untuk Adrean kau cuma pegawai hotel." kata Erika.
Adrean yang mendengar perkataan Erika langsung memandangnya dengan tatapan dingin. Ia hanya menerima orang yang menerima istrinya.
Semua tamu yang datang memandang kedua mempelai dengan takjub. Mempelai pria tampan sekali seperti seorang pangeran. Semua gadis memandangnya tanpa berkedip.
Sinta adalah gadis yang sangat cantik dan menawan semua pria pun memandangnya seperti seorang putri.
Pesta pernikahan telah usai. Semua tamu undangan sudah pulang. Tersisa hanya keluarga dan teman dekat Adrean.
Ibu pulang ke rumah dengan diantarkan sopir pribadi Tuan Richat. Tuan Richat, Nyonya Devi dan Mentari pulang ke rumahnya. Kedua mempelai juga sudah pulang ke rumahnya sendiri.
Adrean sebelum menikah sudah mempersiapkan semuanya. Mereka ingin mandiri. Walaupun kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan mereka akan bertempat tinggal, tapi mereka juga berpikir pasti ada kecanggungan.
Rumah mewah yang sama mewahnya dengan milik Tuan Richat dengan pengamanan yang sama. Pesta malam ini adalah pesta yang paling mewah dari pesta pernikahan di negara ini.
Malam ini malam pertama buat mereka. Rembulan menyinari dengan sinarnya yang indah. Sepasang suami istri merasa canggung. Mereka hanya duduk-duduk di balkon memandang indahnya rembulan.
Adrean akhirnya menarik Sinta ke dalam kamar. Sinta merasa takut untuk melakukannya malam pertamanya.
Adrean memeluk sambil mencium bibir Sinta. Ia tidak menolaknya. Tapi ketika Ia meminta lebih Sinta mencoba menolak. Ia berkata Ia belum siap.
Adrean menuju kamar mandi kemudian mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tak menunggu lama Ia keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur.
Sinta sudah terlelap saat Suaminya mandi. Adrean memandang wajah Sinta yang menawan saat tidur bagaikan anak kecil.
Adrean menyusul tidur Sinta hanya memeluknya dari belakang. Adrean merasa nyaman tidur walau hanya memeluknya saja.
Pagi hari Sinta sudah terbangun terlebih dahulu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Rumah yang Ia tempati sekarang terasa asing.
Memasak ya mungkin bisa ia lakukan. Tapi sampai di dapur tak ada sesuatu yang bisa untuk dimasak.
Adrean yang baru saja terbangun mencari-cari keberadaan sang permaisurinya. Ia menuju kamar mandi tapi ternyata kosong.
Sinta yang baru saja naik menuju kamar memasang wajah cemberut. Tak disengaja di depan pintu mereka bertabrakan. Sinta yang hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan badan ditangkap oleh Suaminya dengan memeluk pinggang sang istri.
Tatapan mata Adrean dan Sinta bertemu. Dari sana mereka mendapatkan rasa kasih sayang pada pasangannya.
Adrean: "Sayang kamu dari mana?"
Sinta: " Dari dapur."
Adrean: "Kamu lapar?"
Sinta: "Aku gak lapar. Aku tu cuma bingung harus ngapain di rumah sebesar ini cuma ada kita."
Adrean: "Kalau kamu bingung layanin aku aja, biar rumahnya nanti rame."
Adrean saat bersama istrinya selalu tanpa rem. Sinta hanya sambil lalu menuju kamar. Ia membersihkan diri dan mengganti pakaian santainya.
Adrean pun menyusul Istrinya. Ia mandi kemudian mengganti pakaian yang telah disiapkan Sinta.
Adrean sangat menyayangi Istrinya. Ia tidak mau istrinya menderita lagi. Sang istri harus ke kantor dan mengurus rumah rasanya tidak mungkin. Pasti Ia akan kelelahan. Ia meminta Ibu dan Bundanya mencarikan Asisten Rumah Tangga. Paling tidak dua atau tiga orang.
Pagi ini Adrean mengajak Sinta sarapan di luar. Berjalan kaki rasanya terlihat menyenangkan. Taman komplek tempat tinggal mereka terasa indah. Banyak bunga dan pepohonan sehingga terasa sejuk.
Bubur Ayam memang enak. Adrean memanggil tukang bubur itu. Ia memesan dua mangkuk bubur. Enak rasanya makan di tempat terbuka seperti ini. Mereka menikmati sarapan mereka dengan lahap.
Waktu menunjukkan sudah hampir tengah hari. Sepasang suami istri muda berjalan menuju rumah mereka. Dalam perjalanan mereka berbincang banyak hal.
Terdengar lirih tapi jelas "I LOVE YOU". kata Adrean. Sinta hanya tersenyum manis sambil melihat mata Suaminya yang indah.
Menuju tokoh utama.
Mentari yang terbiasa bangun pagi hari ini pun sama. Berbeda hari-hari biasa ia yang selalu di temani kakak tersayangnya. Perasaan sedih dalam hati mulai ia rasakan.
Pintu kamar Mentari masih tertutup. Ia enggan bangun. Ia masih bermalas-malasan dalam selimut. Biasanya yang datang ke kamar adalah Sinta. Hari ini Bunda yang menyambutnya.
Pintu kamarpun diketuk. Tok-tok-tok
Bunda: "Tari kamu sudah bangun nak?"
Mentari: "Sudah, Bun. Masuk saja."
Bunda masuk dalam kamar anaknya. Mentari tetap saja masih bermalas-malasan. Bunda menanyakan keadaan anaknya itu.
"Tari kamu kangen ya sama kak Sinta?" Tanya aja Bunda
"Iya." Jawab Tari singkat.
__ADS_1
Bunda akhirnya mengajak Mentari berkunjung ke rumah Adrean.
Adrean dan Sinta memang libur beberapa hari setelah menikah. Sinta memanh diminta libur oleh Tantenya untuk sementara waktu. Mentari merasa kehilangan kakaknya. Walaupun baru semalam.
Hari ini Mentari tidak ingin masuk sekolah. Ia pergi bersama Sang Bunda ke rumah kak Adrean. Bunda sengaja mampir ke restoran untuk membelikan Adrean dan Sinta sarapan. Ia tahu di rumah itu belum ada pembantu.
Pintu gerbang terbuka, Bunda melajukan mobil menuju tempat parkir. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh sekuriti. Mereka tahu yang datang adalah Nyonya besar.
Adrean dan Sinta yang baru pulang dari jalan-jalan dan sudah selesai membersihkan diri langsung menemui Bundanya. Mereka sangat senang Bunda mengunjunginya.
Adrean: "Bunda."
Mentari: " Kakak jahat, kau menculik kak Sinta ." (Sambil berlari ke dalam pelukan Adrean).
Sinta: " Tante."
Bunda: "Jangan panggil tante, sekarang panggilnya Bunda."
Tante ingin di panggil Bunda, karena sudah menikah dengan anaknya Adrean. Bunda nenceritakan semua tentang Tari yang hari ini tidak bersemangat karena merasa kehilangan sosok kakak sekaligus sahabat.
Meraka menghabiskan waktu bersama hingga lupa waktu. Ayah sebentar lagi akan sampai di rumah. Bunda mengajak Tari pulang tapi, Tari menolak. Bujuk rayu ke dua kakaknya pun tak dihiraukan.
Ayah akhirnya menjemput mereka. Mentari akhirnya mengikuti keinginan Ayahnya.
Di rumah, Ia kembali murung. Sampai di sana ia langsung naik ke atas dan mandi. Setelah itu ia tidur.
Malam hari telah datang. Rembulan bersinar dengan indahnya. Mentari terbangun tapi masih malas untuk beranjak dari tempatnya.
Malam itu Sinta mengambil ponselnya dan menghubungi Mentari. Ia minta padanya untuk segera makan malam dan belajar. Besuk ia akan diantar kak Sinta ke Sekolah.
Walau perkataan yang sederhana tapi bisa membuatnya segera berakrivitas seperti biasa.
Mentari belajar ditemani sang Bunda. Ia harus terbiasa kembali dengan Bundanya.
Selesai belajar ia langsung beranjak tidur. Ia tidak ingin terlambat sekolah.
Biasanya sebelum tidur Bunda atau pun kak Sinta selalu membacakan dongeng untuknya. Sekarang sudah beda, Bunda sedang hamil dan sering mual maka dari itu Ia harus terbiasa tidur tanpa dongeng itu.
Mentari juga harus bisa dewasa. Sebentar lagi ia akan memiliki adik dari Sang Bunda. Mas Adrean juga pasti akan punya anak ia harus bisa jadi contoh buat adik- adiknya begitu pikirnya.
Adrean sedang mencari cara untuk bisa bermalam pengantin. Sinta yang masih takut melakukan malam pertama selalu saja mencari alasan.
Adrean memang bisa menahan untuk bisa menjamah istrinya. Tetapi ia tetap laki-laki biasa yang bisa tergoda dengan wanita lain.
Teman-temannya Adrean masih berada di negara A. Erika punya rencana akan mengundang Adrean di sebuah cafe untuk minta maaf.
Aldo yang menghubungi Adrean mengajak bertemu di cafe X. Adrean pub langsung menyanggupinya karena memang ia libur.
Tepat pukul 7 malam Adrean sampai di cafe yang di maksud. Ia tidak hanya melihat Aldo tetapi juga Erika. Adrean acuh pada Erika karena perlakuannya pada Istrinya.
Erika mulai minta maaf atas perlakuannya pada Sinta. Adrean akhirnya memaafkannya.
Mereka memesan minuman. kebetulan minuman yang dipesan Adrean berbeda. Saat Aldo dan Adrean asik membicarakan sesuatu, Erika bilang mau ke kamar mandi, tapi sebenarnya ia menemui pelayan cafe untuk memberikan sebuah obat pada minuman y\ng dipesan Adrean.
Erika akhirnya kembali. Setelah semua minum tiba-tiba tubuhnya terasa panas. Ia bilang ingin pergi ke toilet. Sampai di sana Ia mengirim pesan singkat pada Briyan agar menjemputnya di cafe X. Tanpa menunggu lama Adrean minta diantar pulang.
Briyan langsung pergi setelah mengantar Adrean sampai rumah. Ia masih harus mengurus kepindahannya ke negara ini.
Sinta membukakan pintu ruang tamu. Ia melihat sosok suaminya yang penuh dengan keringat. Adrean tak ambil pusing. Ia langsung mengajak Sinta ke kamar dengan paksa.
Adrean berpikir daripada ia nelakukannya dengan wanita lain, lebih baik ia sedikit memaksa istrinya untuk melayaninya malam ini. Istri sahnya, istri yang sangat ia cintai.
Kamar yang sangat luas, kamar utama pemilik rumah. Adrean segera melepaskan pakaiannya dan terlihat banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Ia yakin pasti terjadi sesuatu pada suaminya. Selama ini memang Adrean tidak pernah memaksa melakukan hubungan suami istri walaupun ia sangat menginginkannya.
Pikiran Sinta ingin menolak tapi kondisi suaminya yang seperti orang kerasukan membuatnya tak bisa berkata apapun.
Adrean ingin istrinya melayaninya tanpa paksaan tapi ternyata semuanya hanyalah angan.
Malam ini Adrean sedikit memaksa Sinta. Pakaian yang Adrean kenakan sudah dilepaskannya. Ia melu***at bibir Sinta sampai Sinta kehabisan napas.
Sinta berusaha mempertahankan pakaiannya tapi percuma.
Adrean berhasil melepas semua pakaian Sinta. Sinta mulai tak berdaya untuk melawan. Ia akhirnya pasrah apa yang dilakukan terhadapnya. Sinta tak mungkin berteriak kan. Lagian di rumah itu cuma ada mereka berdua.
Adrean mulai meraba setiap bagian tubuh istrinya. Sinta mulai mendesah, ******* yang semakin lama terdengar semakin keras membuat Adrean ingin segera melepaskan bisanya.
Nafas Adrean yang semakin memburu. Ia melakukannya perlahan tapi pasti. Sinta merasakan kesakitan di area sensitifnya.
Adrean akhirnya tumbang di sebelah Sinta. Mereka tidur terlelap tanpa seutas benang di tubuh.
Tengah malam Adrean terbangun. Ia mencium kening Istrinya dengan sangat lembut. " Terimakasih Sayang kau sudah memberikan sesuatu yang sanfat berharga mu." ucap Adrean.
Adrean akhirnya kembali tidur dengan memeluk sang Istri.
Pagi hari Sinta bangun terlebih dahulu. Ia masih merasakan sakit di bagian sensitifnya. Ia menuju kamar mandi dengan menahan rasa sakit.
Di dalam kamar mandi Sinta merintih kesakitan. Adrean yang baru bangun melihat istrinya sudah tidak ada di sampingnya.
Adrean yang mendengar suara rintihan dari kamar mandi segera menuju ke kamar mandi. Ia langsung membuka kamar mandi itu tanpa mengetuk pintu. Betapa kagetnya dia mendapati Istrinya sedang menangis menahan sakit.
Adrean merasa bersalah. Ia tidak tega melihat istrinya yang kesakitan. Ia akhirnya memeluk Sinta dan minta maaf atas kejadian semalam.
Adrean membantu Sinta membersihkan diri. Ia menggendong Istrinya sampai tempat tidur. Membantu memakai pakaiannya. Ia tahu hari ini ada janji untuk menjemput Mentari.
Adrean akhirnya mandi pakaiannya sudah disiapkan oleh Istrinya. Adrean keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan dipinggang. Ia menatap Sinta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia heran melihat istrinya. Masih sakit saja sempat menyiapkan kebutuhan suaminya.
Pengantin baru itu selesai bersiap langsung menuju rumah Ayahnya. Mentari di rumah sudah menunggu. Walaupun ke dua kakaknya terlambat tapi ia tahu mereka pasti datang.
💗💗💗💗💗💗💗
Mentari sudah hampir putus asa. Saat Ia membalikkan badannya tiba-tiba muncul sebuah mobil menuju arahnya. Jendela kaca mobil dibuka, Mentari berteriak senang.
Sinta merasa lebih baik saat bertemu dengan adiknya. Semua rasa sakit semalam hilang seketika. Akhirnya mereka berdua mengantar Mentari sekolah.
Mentari duduk di depan bersama ke dua kakaknya. Ia terlihat sangat bahagia. Sampai di Sekolah Mentari langsung menuju kelasnya. Di sana Ia sudah ditunggu ke tiga sahabatnya.
Sinta mengajak Adrean menunggu Mentari di Taman biasa Ia menunggunya dulu. Adrean pun tidak mungkin mengajak Sinta jalan-jalan dengan kondisi seperti itu.
__ADS_1
Adrean mulai cerita kejadian semalam hingga ia berbuat berlebihan padanya. Sinta yang mendengar hal itu, matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa tidak bisa menjadi istri yang baik.
Adrean berencana akan menghubungi dokter keluarga. Dokter itu adalah teman Adrean waktu masih SMP. Ia pun sempat jatuh cinta pada Adrean.
Bel pulang sekolah pun terdengar. Sinta dan Adrean segera menuju pintu gerbang. Dilihatnya Mentari sedang berjalan keluar menuju gerbang bersama ketiga temannya.
Mereka langsung menuju rumah. Mentari langsung menuju kamar dan berganti pakaian. Tak berapa lama Ia turun dan mengajak makan siang kedua kakaknya.
Selesai makan mereka bermain di taman rumah. Waktu sudah menunjukkan siang hari. Waktunya Tari istitahat. Mentaripun masih saja banyak alasan.
Bunda yang selama hamil ini merasa kurang enak badan. Jadi lebih banyak istirahat, perhatiannya pada tuan putrinya itu jadi banyak berkurang. Mentari pun tahu yang dialami Bundanya. Ia jadi anak yang lebih dewasa.
Bunda berharap Sinta juga segera mengandung. Sinta dan Adrean hanya tersenyum tipis. Sinta janji jika ada waktu akan bermain lagi dengannya. Akhirnya Tari mengalah. Ia pergi ke kamar dan istirahat. Adrean dan Sinta pulang ke rumah.
Dokter Mawar namanya. Ia akan mengambil sempel darah Adrean. Adrean yang saat itu baru sampai rumah bersama istrinya segera menghubunginya.
Dokter Mawar dengan semangatnya langsung ke rumah baru Adrean. Alamat baru diberikan Adrean padanya. Beli rumah baru dia. dalam hatinya berkata. "Inikan alamat rumah yang berada di komplek paling elit." lirihnya.
Apa yang dipikirkan oleh Dokter Mawar semuanya benar. Bahkan rumah sakit tempat kerja dokter itu adalah milik Adrean. Bagaimana mungkin Adrean yang dikenalnya tidak sekaya teman-temannya yang lain bisa membeli rumah elit itu.
Rumah ini di jaga oleh orang penting komandan, ajudan dan kepala polisi. Dokter Mawar dibukakan pintu gerbang dengan pengawalan dan pemeriksaan yang begitu ketat membuatnya ragu dengan alamat yang diberikan. Melihat keraguan itu Kepala polosi mempersilahkannya dengan menyebut nama pemilik rumah. "Silahkan Nona, Tuan Adrean sudah menunggu Anda."
Mobil dilajukan ke bagasi mobil dan motor yang cukup luas.
Bel rumah berbunyi, Sinta yang sangat Cantik dan Elegan tapi terlihat sederhana itu pun membukakan pintu. Ia dipersilahkan masuk menuju ruang tamu.
Dokter Mawar melihat Sinta dengan tatapan yang merendahkannya. Setelah Dokter itu dipersilahkan duduk. Sinta menawarinya miniman. Dokter itu berpikir bahwa ia adalah pembantu. Waktu pernikahan itu Dokter itu memang tidak bisa hadir karena ada jadwal operasi.
Dokter akhirnya mengeluarkan peralatan medis. Darah mulai di ambil, setelah selesai Ia pun mengucapkan terima kasih. Adrean dan Dokter itu berbincang dan canda layaknya teman yang sekian lamanya baru bertemu.
Sinta datang dan membawakan minuman. Adrean memang ingin membuatnya terkejut karena pandangan Dokter yang sejak tadi merendahkan istrinya.
Dokter Mawar: "Yan, mana Istrimu? Maaf aku kemarin tidak bisa datang di acara pernikahan Mu."
Adrean: "Sayang, sini duduk."
Sinta: "Ok."
Adrean: " Ini istri ku yang paling cantik, dan baik juga pengertian."
Dokter itu tersedak, mendengar perkataan Adrean. Adrean selalu menunjukkan kepada kerabat dan saudara tentang hubungannya dengan Sinta. Adrean mendekatkan tubuh Sinta agar dekat dengannya dan memeluk bahu Sinta.
Dokter itu pamit, dengan alasan masih ada pasien di rumah sakit. Adrean menahannya, tapi sepertinya gak berhasil. Akhirnya Adrean menjabarkan semua Nama-nama dokter yang piket hari ini selama 24 jam.
Adrean meminta Dokter Mawar membuka album foto yang ada di meja kecil sebelahnya. Ia tahu Dokter itu masih penasaran. Semakin penasaran lagi saat disebutnya semua Dokter yang ada di rumah sakitnya bekerja.
Saat melihat semua foto-foto itu dilihatnya beberapa orang yang tak asing baginya. Adrean menyebutkan dan menceritaka keluarganya. Akhirnya cerita berakhir saat Ia menyebutkan bahwa rumah sakit tempatnya bekerja adalah miliknya.
Dokter itu paham betul ia berhadapan dengan orang yang sangat berkuasa. Anak dari Pengusaha Terkaya di dunia sedangkan kekayaan anaknya sepadan dengan Tuan Richat di dapat dari hasil keringatnya sendiri.
✌✌✌✌✌
Pikiran Mawar dari pada dulu saat sekolah adalah Adrean anak orang biasa. Ia memang menjaga privasi keluarga demi keamanan keluarga. Pada waktu sekolah Adrean di sukai banyak wanita karena kepandaiannya.
Adrean tidak memperdulikan gadis-gadis itu. Walaupun Ia sangat tampan tapi ia orang yang sangat dingin. Termasuk Mawar yang mencintainya tapi ia tahu orang tuanya tak akan setuju karena yang ia tahu Adrean dari kelas ekonomi di bawah.
Dokter itu akhirnya undur diri setelah ia mendengar cerita Adrean. Adrean berpesan pada dokter itu hasilnya ditunggu secepat mungkin. Hati Dokter Mawar agak menyesal atas perasaannya yang dulu memandang rendah orang lain. Sampai sekarang pun masih ia lakukan.
Waktu menjelang Sore Adrean dan Sinta segera membersihkan diri. Rencananya memang mereka akan pergi makan malam di luar. Di rumah memang belum ada pembantu dan bahan mentah untuk di masak.
Adrean melihat Sinta keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi. Hasratnya mulai muncul. Ia langsung meraih pinggang Sinta dan melu***at bibirnya.
Pikiran Mawar dari pada dulu saat sekolah adalah Adrean anak orang biasa. Ia memang menjaga privasi keluarga demi keamanan keluarga. Pada waktu sekolah Adrean di sukai banyak wanita karena kepandaiannya.
Adrean tidak memperdulikan gadis-gadis itu. Walaupun Ia sangat tampan tapi ia orang yang sangat dingin. Termasuk Mawar yang mencintainya tapi ia tahu orang tuanya tak akan setuju karena yang ia tahu Adrean dari kelas ekonomi di bawah.
Dokter itu akhirnya undur diri setelah ia mendengar cerita Adrean. Adrean berpesan pada dokter itu hasilnya ditunggu secepat mungkin. Hati Dokter Mawar agak menyesal atas perasaannya yang dulu memandang rendah orang lain. Sampai sekarang pun masih ia lakukan.
Waktu menjelang Sore Adrean dan Sinta segera membersihkan diri. Rencananya memang mereka akan pergi makan malam di luar. Di rumah memang belum ada pembantu dan bahan mentah untuk di masak.
Adrean melihat Sinta keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi. Hasratnya mulai muncul. Ia langsung meraih pinggang Sinta dan melu***at bibirnya.
Sinta kaget dengan tingkah Suaminya. Tanpa sadar Ia mendorong tubuh suaminya. Sinta minta maaf dengan itu. Sinta pun menanyakan apa yang terjadi dengannya. Adrean tidak bisa menjelaskan.
Tanpa menunggu lama Adrean langsung mendekap Sinta dan melu***at bibirnya. "Sayang apa masih sakit semalam?" Tanya Adrean. Belum sempat menjawab Ia sudah menarik tubuh istrinya ke ranjang. Mengunci badan Sinta menjelajahi seluruh tubuh istrinya. Sinta mencoba menerimanya. Ia mendesah semakin keras. Adrean semakin gila dengan permainannya. Nafasnya semakin memburu. Ia menyelesaikannya dalam satu jam. Akhirnya Ia tumbang di samping di samping Istrinya.
Adrean menccium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia minta maaf atas semuanya. Sinta pun akhirnya membersihkan diri kemudian lagi dan langsung mengenakan pakaiannya.
Adrean segera membersihkan diri. Setelah selesai ia langsung mengenakan pakaian yang disiapkan oleh istrinya.
Adrean mengambil mobilnya digarasi. Sinta menunggu di teras rumah. Selama perjalanan mereka hanya diam. Sinta menatap keluar jendela mobil. Adrean semakin merasa bersalah. Ia hanya bisa menatap wajah istrinya yang murung sejak kejadian malam pertanya.
Mereka sampai juga di Mall. Sinta masih menahan sakitnya. Adrean tahu Istrinya masih menahan sakit. Ia memberanikan diri mengajaknya pulang. Sinta menolak dengan halus.
"Sayang kita makan dulu saya yuk." Ajak Adrean.
"Baiklah." Balas Sinta.
Mereka menuju cafe dan memesan makanan dan minuman yang ada. Mereka menikmati makanannya dalam diam. Seusai makan Adrean menanyakan keadaan istrinya. Sinta menjawab ia tidak apa-apa.
Berbelanja kebutuhan rumah sebenarnya tujuan mereka. Sayuran, lauk dan minuman ringan yang biasa mereka makan sudah mereka dapatkan.
Adrean menawarkan Sinta apa yang ingin dia beli. Tapi Sinta menolak, alasannya semua barangnya masih layak untuk dipakai. Itulah istrinya tidak suka menghambur-hamburkan uang.
Perjalanan pulang sama, mereka hanya membisu. Dalam perjalanan pulang Sinta tertidur pulas. Sampai di rumah Adrean tidak membangunkannya. Ia menggendong Istrinya sampai ke dalam kamar.
Sinta yang terlihat begitu capek di tidurkan di atas ranjang. Adrean menyelimutinya sampai batas dada. Sebelum pergi Ia mencium kening Sinta. "Maaf kan aku sayang." Lirih Adrean berkata.
Adrean pergi ke ruang kerjanya. Ia memeriksa semua e-mail yang masuk. Pekerjaan yang harus Ia selesaikan selama ia tidak masuk kantor.
Pekerjaan selesai ia merasa sangat lelah. Akhirnya Adrean memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya. Ruang kerjanya cukup luas untuk tempat tidur dan sofa juga masih terlihat luas. Ruang tidur di ruang kerja sama dengan ruang lain dipisahkan oleh tembok.
Sinta yang terbangun tengah malam mencari keberadaan suaminya. Sinta merasa ini salahnya yang mendiamkannya sejak semalam kemarin.
Sinta mendapai suaminya di ruang kerja. Ia mendekati suaminya yang sedang terlelap. Sinta sudah memutuskan jika suaminya terbangun dan menginginkannya untuk melayaninya, Ia akan melayaninya dengan baik.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1