
Sayur dan lauk itu hanya perlu dipanaskan. Bunda hanya menambahkan sedikit menu yang dirasa kurang untuk menu makanan mereka.
Makanan yang dimasak di rumah itu sebenarnya bukan hanya untuk ketiga anggota keluarga saja. Masih ada juga keamanan, tukang kebun dan juga seorang asisten rumah tangga.
Semua pekerja bebas mau makan dan minum apa saja yang disediakan oleh orang yang punya rumah. Bahkan jika makanan itu mereka bawa untuk anggota keluarga mereka tangi rumah.
Mommy pergi memanggil sang suami yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya. Setelah sang Mommy sambil Alfian juga yang berada di kamar untuk makan bersama.
Mereka makan dengan lahapnya. Perut terasa sangat lapar karena memang aktivitas mereka hari ini sangat nikmat.
Usai makan siang mereka lanjutkan dengan sedikit obrolan ringan. Hal itu selalu menjadi suatu kebiasaan mereka jika memiliki waktu senggang.
"Gimana Ded, udah nunggang?" Tanya Alfian saat Mommynya membereskan meja makan.
"Belum sempet." Jawab sang Deddy dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mendengar jawaban Deddy tawa Alfian pecah. Mengingat ekspresi wajah Deddynya tadi saat meledeknya.
"Ngobrolin apa sih kalian?" Tanya Mommy tiba-tiba datang duduk di sebelah Deddy.
"Anu Mom. Ngomongin keris yang tidak jadi di asah." Jawab Alfian dengan santainya.
Mendengar pernyataan anaknya itu Mommy melihat ekspresi wajah suaminya. Melihat tatapan sang istri Deddy yang semula menatap Alfian sampai membulatkan matanya kini beralih menatap sang istri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Mommy tengah berjalan menuju kamar setelah perbincangan singkat itu. Sang Deddy berjalan mengekor di belakangnya.
"Mommy pelan-pelan dong jalannya." Pinta Deddy.
"Apa mau Mommy siang ini juga kita kikuk-kikuk." Lanjut Deddy.
Mendengar penuturan suaminya Mommy menghentikan langkahnya secara mendadak.
Bugh
Anggaplah suara Deddy menabrak badan Mommy yang mendadak berhenti.
"Mantab." Tutur Deddy.
Ceklek
Suara pintu kamar dibuka oleh Mommy. Tanpa menunggu lama Ia langsung menutupnya kembali.
"Au." Pekik Deddy.
"Mommy tega amat sih. Sudah berapa kali Mommy menjadikan hidung mancung Deddy korban." Teriak Deddy dari depan pintu kamar sambil mengelus-elus hidungnya yang terasa sakit.
"Untung gak sampai berdarah." Batin Deddy.
Tanpa banyak bicara Mommy segera menuju kamar mandi setelah menutup pintu. Mommy memang tidak mau mendengar jika mereka berbicara hal yang absurd. Untuk menghindarinya ia selalu mengalihkan Deddy ke tempat lain.
__ADS_1
Mammy menonton drama korea kesukaannya siang ini. Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa depan TV.
Deddy menghampiri sang Mommy yang baru serius melihat drama itu. Ia menyapa istrinya dengan lembut.
"Mom, tidak capek apa jadi juri?" Tanya Deddy.
"Mendingan kita tidur aja yuk, nanti malam kan masih ada pesta." Pinta Deddy dengan penuh perhatian.
Mommy hanya diam tanpa menanggapi perkataan suaminya itu. Setelah menunggu lama jawaban yang tak kunjung datang ia duduk di samping istrinya itu.
"Ternyata sudah terlelap istri cantik ku ini." Batin Deddy.
Deddy memindahkan tubuh kecil istrinya di atas tempat tidur. Perlahan ia meletakkannya dengan hati-hati.
Ditatap wajah istrinya itu dengan penuh rasa cinta. Ia merapikan anak rambut yang menutup wajah istrinya secara perlahan agar tidak terbangun.
Deddy segera membersihkan dirinya. Ia segera menyusul sang istri tidur untuk mengurangi rasa capek.
Perlahan-lahan Deddy naik di atas tempat tidur yang berukuran sangat besar. Dengan hati-hati ia memeluk tubuh istrinya agar tidak terbangun.
Alfian yang masih berada di meja makan pun segera beranjak menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Ia tak menyangka kalau kemampuan sang Deddy dalam bermain basket tidak berkurang walaupun usianya semakin bertambah.
Alfian segera membersihkan dirinya. Sama seperti Sang Deddy yang kelelahan akibat pertandingan tadi pagi melawan sang Deddy. Segera ia naik ke atas tempat tidurnya, tak lama matanya pun sudah terpejam.
Senja pun sudah tiba. Semua orang bersiap untuk pesta malam ini. Acara pesta yang sangat mewah.
Suara pintu kamar Alfian diketuk oleh seseorang. Setelah bangun tidur masih waktu Dhuhur Alfian segera mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan Sholat.
Mendengar suara ketukan pintu Alfian tidak mendengarkannya. Ia sangat khusus melakukan sholat.
Setelah sholat Alfian segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke acara kondangan. Ia tidak mendengar ketukan pintu saat shalat tadi. Saat shalat ia selalu malakukannya dengan khusuk.
Alfian pun turun menuju dapur untuk mengambil air dingin. Rasa tenggorokan kan sudah mengering karena tidur yang panjangnya.
Plak
Tepukan mendarat di punggung Alfian. Ia pun terlonjak kaget karenanya.
"Ada apa sih ngagetin aja." Teriak Alfian.
"Tadi kamu lagi mendengkur ya?" Tanya Deddy merampas minuman dingin dari tangan anaknya.
"Siapa juga yang mendengkur?" Tanya Alfian.
"Dasar anak tajir melintir, belum juga pertanyaan dijawab udah balik tanya." Kata Sang Deddy.
"Kapan juga Deddy ke kamar ku?" Tanya Alfian.
"Baru saja Deddy ketuk itu pintu kamar tapi yang punya kamar kayaknya emang gak punya daun." Jelas Deddy.
__ADS_1
"Daun?" Tanya Alfian tidak mengerti.
"Bukannya daunnya udah dibikin rok buat menutup badan Deddy bagian pinggang ke bawah?" Lanjut Alfian.
"Emangnya Deddy orang Papua dijaman kuno?" Elak Deddy.
"Iya gitu deh." Tutur Alfian.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan. Mereka menikmati minuman dingin yang baru saja mereka ambil dari kolkas.
"Kamu juga dapet undangan nanti malem kan?" Tanya Deddy.
"Heeem." Jawab Alfian.
"Gak ada jawaban yang lebih singkat lagi?" Tanya Deddy.
"Kalau aku jawabnya panjang banget nanti gak ada ujungnya Deddy." Kata Alfian.
"Lagian jawaban singkat aja kalau udah sama Deddy gak ada habisnya." Lanjut Alfian.
"Betul itu Al." Kata Mommy tiba-tiba datang menuju ruang makan.
"Kalau bisa habis ntar Mommy mu bisa lari dari Deddy, cari yang baru." Jelas Deddy yang mulai dengan kata-kata absurbnya.
"Mulai lagi ini ternodai sudah alat indraku." Kata Lirih Alfian dengan menggelengkan kepala perlahan.
"Al pasar Deddy denger lho ini." Kata Deddy.
"Emang kenapa kalau dengar?" Tanya Alfian.
"Saran aja nih Al, segera lepasin itu masa lajang mu." Kata Deddy.
"Udah Aku ke kamar dulu, mau mandi air kembang." Kata Alfian sambil lalu.
Alfian menuju kamar untuk mandi. Ia sengaja berendam dibacktub dengan aroma terapi untuk mengurangi rasa lelahnya seharian.
*** *** *** *** ***
Buat yang menjalankan ibadah puasa, segera disiapin untuk berbuka ya.
Selamat Berbuka Puasa untuk yang menjalankannya.
Semoga Episode ini bisa menemani kakak-kakak berbuka puasa.
Salam hangat dari Authornya.
Dukung terus Novel "Ketulusan Cinta Mentari."
Jangan lupa Like, komen dan Votenya.
__ADS_1