
Tuan Richat berjalan menuju kamar utama untuk segera mandi agar badannya terasa lebih segar. Ayah tahu Sang Istri pasti sedang berada di dapur untuk memasak makan malam.
Bunda segera menuju kamar utama untuk segera mandi selesai memasak yang dibantu oleh Asisten Rumah Tangga mereka. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi sudah pasti Sang Suami sedang membersihkan dirinya.
Istrinya itu segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya yang sudah merupakan kebiasaan. Sang Suami sebenarnya bisa melakukan itu sendiri tetapi karena Sang Istri merasa itu kewajibannya dia pun selalu menyiapkan pakaian ganti untuk Sang Suami.
Waktu berlalu begitu cepat hingga makan malam telah tiba. Kini keluarga kecil itu melaksanakan ritual seperti biasanya.
Tuan Richat selalu makan malam di rumah, jarang sekali makan di luar bersama klien. Meeting di malam hari atau pun makan malam dengan klien selalu diserahkan pada asisten kepercayaannya.
Seorang pemuda tampan kini sedang bersiap menemui Tuan Richat. Dia bersiap-siap setelah tadi diberitahu oleh ibunya.
Tuan Richat menuju ke ruang kerja setelah makan malam. Dia menunggu kedatangan seseorang sambil mempelajari semua file yang dikirimkan oleh asistennya melalui e-mail.
Sang Bunda bersama seorang gadis kecil berada di ruang belajar. Ruangan dimana terdapat banyak buku yang bisa dibaca dan dipelajari.
Bunda mengajari Sang Putri belajar membaca dan berhitung saat ini. Apa yang diajarkan begitu cepat gadis ini memahami dan bisa melakukannya sendiri.
Tok tok tok
Di ruang lain yaitu ruang kerja Sang Ayah sedang mengotak-atik laptop membuka e-mail yang masuk. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya sekarang.
"Masuk." Titah Tuan Richat tanpa mengalihkan pandangan dari benda yang ada di depannya.
"Selamat malam Tuan." Sapa Seorang Pemuda yang baru saja masuk.
"Anda meminta saya kemari?" Tanya Pemuda itu.
"Heeem." Jawab Tuan Richat singkat yang diikuti dengan Dia menutup laptopnya.
"Apa kamu tahu kenapa kamu aku minta datang ke sini?" Tanya Tuan Richat.
"Maaf Tuan, apakah saya telah melakukan kesalahan?" Tanya Adrean sopan.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu kamu menganggap ku apa dan saya juga tidak tahu apa yang ada di dalam hati mu." Kata Tuan Richat setelah menggelengkan kepala perlahan.
"Maaf telah membuat mu menjadi anak yatim." Kata Laki-laki paruh baya itu dengan menepuk pundak kanan Adrean kemudian mempersilahkan Pemuda itu duduk di sofa.
"Mulai sekarang jangan panggil saya Tuan lagi tapi panggil saya seperti putri saya memanggil saya." Kata Tuan Richat setelah bercerita panjang lebar dengan Adrean.
"Sudahlah Tuan itu sudah lama terjadi, kenapa masih diungkit kembali." Kata Pemuda itu yang merasakan sebuah ketulusan yang terpancar dari laki-laki paruh baya itu.
Kedua laki-laki dewasa ini pada akhirnya bercerita layaknya orang tua dan anak. Ada yang masih mengganjal di dalam pikiran Pemuda itu.
Pemuda itu masih memikirkan tentang persetujuan dari Sang Ibu, tetapi Tuan Richat telah meyakinkannya. Adrean tetap masih canggung dengan situasinya yang baru itu, dia masih tetap berusaha menghormati Tuan Richat seperti sebelumnya.
Waktu sudah begitu larut Sang Bunda mengantar putrinya pergi ke kamar untuk tidur seperti biasanya. Sudah banyak dongeng yang diceritakan kepada Sang Putri hingga dia terlelap.
Sang suami juga mulai mengakhiri perbincangan dengan Adrean karena merasa ada janji dengan istri tercintanya. Dia meminta pemuda itu datang ke kantor utama besuk pagi.
Tuan Richat segera meninggalkan ruang kerja setelah Pemuda melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Langkahnya sangat lebar ingin segera sampai di kamar dan memenuhi janjinya pada Sang Istri.
Ceklek
"*Kemana ini istri ku yang cantik?" Batin Sang Suami ketika mengedarkan pandangan di atas tempat tidur yang cukup besar itu.
"Jam segini harusnya dia sudah siap di kamar setelah mengajarinya belajarlah." Lanjutnya.
"Bodohnya aku." Lanjutnya lagi merutuki dirinya sendiri saat melihat Sang Istri sedang duduk di sofa*.
"Ahhh." Teriak Sang Istri terkejut tatkala digendong menuju tempat tidur karena terlalu serius dengan pekerjaannya.
"Lupa dengan janji mu?" Tanya Sang Suami setelah meletakkan istrinya perlahan.
"Tidak." Bohong Sang Istri melihat ke arah yang berada karena malu diingatkan tentang hal tadi siang.
Clik
__ADS_1
Lampu kamar diganti dengan lampu tidur hingga penyinaran pun menjadi remang-ramang. Pertempuran sebagai obat rasa lelah itu terjadi begitu saja.
Matahari kini sudah mulai terbit Bunda sudah melakukan aktivitas seperti biasa dengan dibantu oleh ART. Gadis kecil itu pun juga sudah rapi dengan kostum yang sudah dipilihnya.
Ayah sudah siap dengan semua perlengkapan kantor dan akan segera berangkat. Dia sudah memiliki janji dengan seorang Pemuda tampan.
Setiap hari Tuan Richat diantar oleh sopirnya hingga sampai tujuan. Untungnya Sang Putri belum Sekolah, jika tidak Sang Sopir punya pekerjaan ganda.
(Pekerjaan ganda sih gak masalah jika gaji juga digandakan. Betul tidak? Maaf author lagi nglantur).
Tuan Richat seperti biasa datang lebih awal dari pada karyawan yang lain. Dia segera menuju ruang kantornya dan bekerja semaksimal mungkin.
Seorang pemuda sudah bersiap-siap dengan pakaian formalnya. Dia terlihat sangat tampan dengan pakaian itu.
Orang lain yang melihat tidak akan pernah menyangka kalau dia adalah anak dari seorang ART. Adrean penerus dari seluruh perusahaan Tuan Richat itu yang diketahui oleh semua rekan bisnisnya, tetapi mereka belum pernah melihat wajah asli Pemuda itu.
"Mau kemana Nak?" Tanya Sang Ibu.
"Pergi ke perusahaan Tuan Richat Bu." Jawab Pemuda itu sopan.
"Apa sudah ada janji dengan beliau?" Tanya Sang Ibu memastikan.
"Iya, benar." Jawab Adrean.
"Aku berangkat dulu Bu." Pamit Pemuda itu pada Sang ibu dengan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati ya Nak." Pesan Sang Ibu.
Pemuda itu masih memiliki rasa hormat pada Sang Ibu walaupun sudah diangkat menjadi anak oleh Tuan Richat. Laki-laki paruh baya itu tidak salah dalam menilai Dia.
Pemuda itu segera berangkat dengan menggunakan mobilnya sendiri dengan kecepatan sedang. Adrean melihat kondisi jalanan yang begitu banyak pengandara mobil dan motor dipagi hari hingga terjadi kemacetan.
Pemuda itu masih menikmati kondisi lalu lintas yang begitu macet dengan santainya. Sudah lama tidak berada di kota ini dia ingin tahu perkembangan pusat kota tersebut.
__ADS_1
Kemacetan itu dilalui dengan sabar seperti Tuan Richat saat berada di jalan raya. Dia melihat itu semua saat diajaknya pergi waktu kecil.