
"Kak Monik menangis." Tanya Mentari yang melihat air mata itu jatuh.
"Gak, hanya tadi gak sengaja jari aku mengenai mata." Bantahnya.
Semua orang jadi melihat ke arah Monik. Ziko sangat mengerti keadaan Monik saat itu. Ia memutuskan untuk mengantarnya kembali ke kamar.
"Zik, ngapain buru-buru pergi? Kayak pedagang kaki lima yang mau ditangkep satpol PP." Kata Alfian.
"Biasa tahu sendiri lah." Jawab Ziko.
"Halalin dulu atuh Zik, kalau mau berdua-duaan." Kata Alfian.
Papa dan Mama tercengang mendengar perkataan Alfian. Mereka semakin yakin kalau Alfian bisa menjaga dan menghormati anaknya perempuannya itu.
"Tar, tahu gak sih disini tuh yang paling khawatir tu siapa?" Tanya Papa
"Papa dan Mama pasti. Iya kan?" Jawab Mentari.
"Ada lagi kok. Coba tebak?" Sahut Mama.
Mendengar percakapan itu Alfian langsung berpamitan pulang. Ia tahu arah pembicaraan kedua orang tua Mentari. Ia tidak ingin membuat kecanggungaan diantara mereka.
Belum tidur kan kakak-kakak?
Buat yang udah bikin pulau nih aku bilang sama kalian:
"Maaf - maaf membangun kan kakak-kakak tengah malam Up. 🙏🙏
Mentari minta agar ponselnya dikembalikan. Mereka tidak mau mengembalikannya pada yang punya. Malah diangkat itu panggilan oleh Papa.
"Hallo, Assalamualaikum." Kata Papa
"Wa'alaikumsalam. Maaf benar ini nomor Mentari ya?" Balas Alfian.
"Iya, betul. Maaf ini Om Adrean ya?" Tanya Alfian dengan suara yang agak canggung.
"Mentarinya ada Om?" Tanya Alfian lagi.
"Waduh lagi nangis." Jawab Papa sambil tersenyum jahil.
"Lho kenapa Om?" tanya Alfian penasaran.
"Pengen lolipop katanya." Jawab Papa sambil tertawa karena berhasil menjahili anaknya dan Alfian.
Papa kemudian memberikan ponselnya pada Mentari. Saat Mentari ingin bicara keburu telpon Alfian dimatikan.
"Oh pantes gak dikasih nama, pasti udah hafal ya Pah nomernya." Ledek Mama.
"Iya ya Ma, hapal sampai diluar kelapa." Balas Papa.
"Kok kelapa Pa? bukannya itu nama pohon." Bantah Axel.
"Iya sayang." Jawab Mama sambil mencubit pipi gembul Axel.
"Kakak Cantik kok jadi merah itu pipi kayak tomat masak."
Mentari pun segera berbaring membelakangi mereka untuk menutupi malunya. Selimut ditarik sampai menutupi leher.
"Makan dulu, tadi siang kan belum makan." Perintah Mama.
"Apa memang lagi pengen permen loly kalau gak mau makan? Nanti biar dibawain sama Alfian." Kata Papa
"Papa tu jangan ngajari anak pikiran mesum Pa!" kata mama dengan nada yang sedikit galak.
"Iya Ma." kata Papa.
Mama akhirnya turun menuju dapur membawakan makanan untuk Mentari. Ia mengantarkan makanan sampai ke kamar.
Ketiga adiknya itu masih bermain di kamar Mentari. Saat Mama datang membawa makanan bukannya Mentari yang makan malah adik-adiknya yang makan.
Waktu tak terasa sudah sore. Mereka yang berada di kamar Mentari berpamitan untuk membersihkan diri. Mentari yang merasa sudah aman segera duduk karena merasa capek kalau harus berbaring terus.
Mama seusai memasak untuk makan malam segera membersihkan diri. Sedangkan Papa dan ke tiga anak laki-lakinya bermain sepak bola di belakang rumah.
Mama membawakan jus jeruk untuk mereka. Mereka pun berlari menhampiri sang mama yang sudah sangat cantik.
"Wah wah anak mama hebat semuanya." Puji Mama.
"Iya hebat yang main sepak bola." Kata Papa sambil melempar senyum ke arah Mama.
"Kapan kita berdua bisa bermain sepak bola bersama di kamar Ma?" Lanjut Papa.
"Apa'an sih Pa?" kata Mama lirih sambil mencubit perut Papa yang datar.
"Kalau ngomong pakai filter. Ada anak-anak tahu?" Lanjut Mama.
Papa hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Mama.
"Anak-anak buruan mandi ya!" Kata Papa
Anak-anak pun berlari menuju kamarnya masing-masing. Mereka bergegas mandi.
Papa dan Mama berjalan memasuki rumah. Entah apa yang mereka bicarakan.
Papa mandi kemudian memakai pakaian yang disiapkan oleh istri tercintanya. Kemudian Ia melangkahkan kaki menuju ruang kerja.
Ruang kerja yang selalu tertutup, Adrean mulai memeriksa semua dokumen di atas meja.
Mama menuju dapur membuatkan secangkir teh hangat untuk suaminya. Papa yang sedang bergulat dengan pekerjaannya pun kaget pintu ada yang membukanya.
Mama melenggang menuju meja kerja itu. Ia meletakkan secangkir teh itu di meja. Kemudian duduk menghadap suaminya. Ia melihat suaminya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
Mama: "Teh nya Pa mumpung masih hangat."
Papa: "Makasih Ma, tapi Papa lagi pingin minum susu." Sambil mengadipkan mata kanannya.
Mama: "Mesum ah Papa."
Mama berdiri dan hendak meninggalkan ruang kerja Papa. Sebelum pintu terbuka Papa berdiri dan mencegahnya. Ia malah mengunci pintunya.
Papa mendekap tubuh istrinya yang sangat cantik. Mama pun memberontak dan akan mengatakan sesuatu. Sebelum sempat berkata-kata Papa sudah ******* bibir merah istrinya, hingga ia terdiam. Sejujurnya istrinya pun sangat menginginkan sentuhan suaminya itu.
Lama mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Setiap kali mereka akan melakukan aksinya ada tiga kurcaci yang siap siaga. 😔😔😔😔
Ciuman itu hingga menggairahkan keduanya. Hingga akhirnya turun ke leher dan sedikit memanas. ******* keduanya membuat gairah keduanya semakin meningkat.
Tok-tok-tok
Suara pintu diketuk dari luar. Mama membukakan pintu sedang Papa sudah duduk di kursi kebesarannya.
Axel langsung nyelonong masuk. Mama sontak mundur ke belakang. Mama tersenyum kecut melihat wajah siaminya yang ditekuk seperti baju yang belum diseterika.
Tak berapa lama kedua saudaranya menyusul masuk tanpa permisi. Mereka membawa peralatan untuk membuka paksa agar pintu bisa dibuka. Mereka bertiga selalu bermain bersama. Sifat mereka juga tidak berbeda seperti Papanya.
Mama turun ke bawah menuju ruang makan. Ia menyiapkan semua makan malam di meja makan. Setelah siap kamar pertama yang dikunjungi adalah kamar anak gadisnya. Ia bertanya mau makan bersama atau mau makan di kamar saja. Mentari tidak ingin terus menerus di kamar ia lebih memilih makan di ruang makan.
Mama lanjut pergi ke ruang kerja Papa. Ketiga kurcaci pun masih di sana. Mereka memang senang juga bermain di sana. Walaupun agak berisik tapi Papa tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka yang seringkali minta diajari dengan berbagai macam hal.
Mereka belajar tentang cara mengelola perusahaan. Anggap saja itu adalah permainan. Entah mengapa ketiganya seringkali memberikan ide yang berhasil memenangkan tender. Sepertinya bakat Papa dan Mamanya sudah menurun.
Mama meminta mereka turun untuk makan. Mentari sudah menunggu di sana.
"Wah telepon si cakep ternyata seperti obat." Sindir Papa.
__ADS_1
"Iya dong bahkan lebih manjur dari yang diresepkan dokter." Goda Mama.
Mama mengambilkan makanan untuk semua anggota keluarga. Semua menikmati makanannya dengan lahap.
Selesai makan seperti biasa mereka menuju ruang keluarga. Mereka melepaskan lelahnya dengan bersenda gurau bersama keluarga dengan ditemani cemilan.
Papa membuka suara saat bercanda. Tapi terdengar begitu serius.
"Tari acara apa sebaiknya yang akan kamu lakukan sebulan kedepan tanpa abang yang cakep itu?" Tanya ayah.
deg
Jantungnya mulai olah raga mendengar pertanyaan Papa. Ia tahu yang dimaksut.
"Aku akan mulai latihan setiap sore, walaupun masih belum sehat betul. Tapi otot-ototku juga perlu dilatih kan? Kata Mentari
Mentari memang tiap sore ada latihan bela diri. Ia tidak mau menjadi gadis yang lemah sejak kepergian kedua orang tuanya. Ia merasa bukan hal kebetulan mengenai kecelakaan orang tuanya tapi ada pihak yang menyebabkannya.
Mentari tahu kalau Papa menyembunyikan kebenarannya. Ia tidak ingin adiknya memiliki dendam pada orang lain. Ia ingin adiknya tumbuh menjadi gadis yang periang tanpa ada beban dan dendam.
Seminggu sudah sejak Alfian wisuda. Mentari mulai dengan kesibukannya. Pulang sekolah ia selalu mampir ke Kantor Ayahnya mengurus perusahaan yang ditinggalkan untuknya. Walaupun yang berkuasa penuh adalah ia tapi untuk saat ini semua kendali pada Kakak Gantengnya.
Adrean memang memiliki hak penuh atas semua peninggalan Ayah dalam surat wasiat itu sudah tertulis dengan jelas. Hukum pun sudah mengakuinya.
Adrean selaku kakak dan Papa dari Mentari dan Axel memiliki prinsip sendiri. Ia tidak ingin merebut hak mereka. Bahkan semua kebutuhan kedua anak ini ialah yang mencukupinya. Tak sepeserpun ia mengambil pendapatan dari perusahaan Ayah Mentari. Semua hasilnya langsung masuk pada rekening Mentari.
Papa memiliki aturan main sendiri dalam mengurus keluarga dan perusahasnnya. Adrean sangat sibuk bukan hanya pada satu perusahaan miliknya tapi juga milik Ayah dan istrinya.
Ia ingin menyerahkan semua aset dan saham milik orang tua Sinta pada sang istri tapi istrinya sudah mengurus keluarga dengan baik. Bahkan untuk memanjakan dirinya sendiri saja tidak ada waktu.
Untuk kuliah saja ia menunggu anaknya berusia lebih dari dua tahun. Harapannya agar ketiga anaknya tidak terlalu bergantung padanya.
Mentari yang melihat kerja Papanya itu merasa tergugah. Ia sendiri yang mengambil keputusan untuk belajar mengenai perusahasn Almarhum kedua orang tuanya.
Papa belum bisa menyerahkan pada anak gadisnya itu sebab usianya yang masih di bawah dari apa yang tertulis dalam wasiat. Untuk itulah Papa selalu menasehati untuk segera menikah. Walaupun setelah menikah perisahasn tetap dalam pengawasan Adrean.
lanjut perbincangan ya di ruang keluarga Adrean.
Papa: "Gimana Kak dengan Alfian, kayaknya ia cowok yang baik lho."
Axel: "Iya kalau ke sini bawain lolypop."
Papa: "Pastinya dong."
Kakak: " Papa kan tahu aku gak suka lolypop" sanggahnya kakak.
Papa: "Kalau ini mah lolypopnya rasanya beda. Gak akan habis." kata papa sambil tersenyum memandang mama.
Mama: "Pa, fiternya dipasang. Banyak anak-anak. Jangan mesum melulu.
Mama bicara dengan penuh penekanan. Mentari hanya melihat kedua orang tuanya secara bergantian dengan memicingkan matanya. Ia tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Mesum itu apa sih Ma?" Tanya Daffa ingin tahu.
Mama pun kelabakan mau menjawab apa pada ketiga anaknya. Kalau gak segera dijawab mereka akan menceloteh kemana-mana.
"Musium itu tempat dimana benda bersejarah disimpan." Jelas mama
Tadi kamu salah dengar sayang." Lanjut Mama.
Papa yang mendengar penjelasan istrinya itu hanya tersenyum nyengir kuda. Mentari minta waktu untuk itu. Ia berencana mau liburan bersama dengan ketiga kurcacinya.
"Pa kami ingin liburan ke rumah nenek kemudian ke puncak boleh ya Pa? Pinta Mentari
"Iya setelah kamu sembuh." Kata Papa.
"Hore." Teriak ketiga kurcaci itu bersamaan.
*** *** *** *** ***
Di Kediaman Alfian
Seusai acara Alfian memang langsung pulang ke rumah. Ia masih teringat dengan gadis cantik yang sangat pucat. Ia tahu kalau gadis itu menangis dari Papanya tapi lebih tepatnya bukan nangis ya. Ia merasa terharu dengan kasih sanyang yang ia dapatkan selama ini dari orang tuanya yang sekarang.
Sampai di rumah ia cuma bisa berharap gadis pujaannya akan baik-baik saja. Seketika seulas senyum terbit di wajahnya mengingat penjelasan dari Papa gadis pujaannya.
Masa sih Mentari menangis karena pingin lilypop kata hati Alfian yang polos. Akhirnya ia pun terlelap dalam mimpinya.
Waktu sudah semakin sore. Alfian pun terbangun dan langsung membersihkan diri alias mandi. Ia segera membuka leptopnya mencari informasi mengenai universitas yang akan ia tuju untuk mendaftar.
Waktu memang sangat cepat berlalu. Sesudah melaksanakan sholat isa' bersama keluarganya. Ia langsung menuju ke kamarnya. Alfian hanya melihat pesan yang masuk keponselnya sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Tok-tok-tok
Pintu kamar Alfian diketuk oleh Mammy. Mammy mengajak makan malam semua makanan sudah tersedia di meja makan. Yah memang di rumah ini yang jadi koki setiap hari adalah mammynya.
"Al makan malam udah siap, ayo makan" kata mammy
Mammy akan memberitahu Daddy mu dulu, kamu turun duluan aja." Lanjut Mammy.
"Ok Mom." Balas Alfian.
Mammy mengambilkan makanan untuk semuanya. Mereka hanya bertiga dalam rumah itu.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya. Sambil melihat televisi merekapun berbincang. Mammy ke dapur mengambil beberapa cemilan dan minuman dingin.
"Al ada yang Mau Deddy omongin." Kata Deddy
"Serius ini Al bukan main-main." Lanjut Papa.
Deg
Hati Alfian sudah kacau balau dengan semua yang akan disampaikan Deddynya. Walaupun ia belum tahu apa yang akan dibicarakan tapi ia sudah sangat cemas sekali.
Tak lama Mammy datang membawa makanan ringan dan minuman dingin. Setelah Mammy duduk di sebelah Deddy baru Deddy bicara serius.
"Al kamu mau lanjut ke Universitas mana?" Tanya Deddy
"Universitas X." Jawab Alfian dengan mantap.
Ya itu adalah Universitas yang sangat ternama tidak sembarang siswa bisa melanjutkan ke Universitas tersebut.
Deddy dan Mammy hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Tadi Deddy ketemu sama rekan bisnis, Ia menanyakan mu apa kamu sudah punya calon apa belum?" Jelas Deddy
"Tapi aku lihat nih Ded, Alfian belum punya cewek deh Deddy." Jelas Mommy.
"Mendingan kita setujui aja perjodohan ini." Lanjut Mommy
Alfian terlihat berubah ekspresinya. Alfian memang sangat tidak tahu siapa gadis yang akan dijodohkan. Untuk menjaga perasaan orang tuanya Ia hanya bisa pasrah. Walaupun hatinya sudah ada yang dilirik (kaya mata lirik melirik memang benar bisa melirik hati memang memiliki mata namanya mata hati. 😊😊😊😊 maaf pasti semua pembaca sudah tahu dong).
Wajah lesu ini segera kembali ke kamar karena memang waktu sudah larut. Ia besuk pun harus ikut Deddynya pergi ke kantor. Tiap waktu liburan Alfian habiskan di kantor sang Deddy.
Belajar mengenai perusahaan tidaklah salah walaupun keinginannya tidak untuk menjadi pengusaha.
Alfian berusaha memejamkan matanya setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Matanya itu tak bisa diajak berkompromi. Menyerah juga itu Alfian dengan kata-kata Deddynya.
Angin yang berhembus ringan membelai seluruh tubuhnya. Dinginnya malam sampai tidak terasa menyapa kulitnya. Teringat dengan gadis kecilnya ia mengacak kasar rambutnya. Pusing dibuatnya oleh hati kecilnya.
Semalaman Ia berada di balkon. Baru pukul 02.00 matanya merasa kantuk. Ia masuk ke dalam kamar dan memejamkan matanya.
Azan subuh menggema, mata yang masih terasa berat harus segera terbangun. Alfian mandi langsung sholat berjamaah bersama keluarganya. Mata pandanya sungguh sangat terlihat.
__ADS_1
Seusai sholat berjamaah ada sedikit tegur sapa diantara anggota keluarga.
"Al kamu gak tidur semalam?" Tanya Mommy
"Tidur kok Mom." Balas Alfian.
"Itu hitam di sekeliling matamu alias mata panda mu kelihatan banget lho Al." Jelas Mommy.
"Biasa lah Mom, mikirin tunangannya." Ledek Deddy.
Dua minggu sudah berlalu sejak wisuda Alfian. Kesehatan Mentari sudah sangat semakin baik. Sesuai janjinya mereka akan liburan ke rumah neneknya.
Alfian sengaja tidak menghubungi anak singanya. Ia tidak ingin membuat gadis itu tergantung padanya. Akan sangat menyakitkan sekali jika itu sampai terjadi.
Alfian pun sadar jika ia terus menghubungi gadis kecil itu perasaannya pun akan semakin dalam. Untuk itu ia jarang sekali menghubunginya.
Mobil berjalan menembus keramaian kota. Mereka bersenda gurau dalam mobil itu. Jarang sekali mereka keluar rumah. Tapi satu hati dalam mobil itu merasa bimbang. 🙂🙂🙂 senyum yang dipaksakan.
Jauhnya perjalanan membuat mereka sangat lelah. Akhirnya mereka terlelap dalam mimpi masing-masing.
dreeeet dreeeet dreeeet
Ponsel Mentari pun bergetar. Dilihat pesan dari orang yang dinantikan.
Message:
Maaf aku sibuk tidak bisa selalu menghubungimu ~ Alfian
Gak apa-apa ~ Mentari
Aku bersalah pada mu~Alfian
Menunggu balasan
Menunggu
Menunggu
Aku akan jaga hati ku untuk mu, tapi aku akan ditunangkan ~ Lanjut walaupun tanpa ada balasan Alfian
Mentari pun membaca pesan Alfian sampai akhir. Air matanya hampir luruh, sebelum itu terjadi ia pun mendongokkan kepalanya. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun.
Selama ini ia memang memendam semuanya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain. Sejak orang tuanya mengalami kecelakaan itu membuat sifatnya banyak yang berubah.
Adrean dan Sinta tahu hal itu. Mereka merasa tidak bisa menjadi orang tua yang sepenuhnya untuk Mentari dan Axel walaupun mereka dicurahkan banyak sekali kasih sayang. Mereka tetap akan berusaha yang terbaik untuk mereka.
Mereka akhirnya sampai di tujuan mereka. Nenek sudah menunggu kedatangsn mereka.
Waktu sudah sore, sesampainya di sana mereka langsung mandi. Sopir yang mengantar mereka pun tetap tinggal di situ.
Mentari dan Nenek memasak untuk makan malam. Axel, Garda, dan Daffa bermain di halaman rumah.
Seusai sholat isa' berjamaah di masjid mereka pulang dan makan malam. Selesai makan malam Nenek membersihkan meja makan kemudian bergabung dengan mereka yang ada di meja makan.
"Papa dan Mama kenapa gak ikut?" Tanya Nenek.
"Nanti juga Nyusul paling sekitar seminggu lagi." Jawab Mentari
"Kelamaan ya Nek? Tanya Garda
"Ntar Mama keburu diterkam sama Papa." Lanjut Daffa.
Mentari yang mendengar itu pun tertawa terkekeh-kekeh. Jika bersama ketiga adiknya itu semua masalah seakan hilang dengan segala tingkahnya.
Waktu sudah larut malam. Mereka beranjak tidur. Mentari tidak bisa memejamkan matanya. Ia bersandar di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dicarinya. Ia sendiri juga tidak tahu.
Dikediaman Adrean
Rumah utama yang sekarang dihuni oleh Adrean sekarang terasa sunyi. Papa masih sibuk di kantor hingga pukul 20.00. Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya dalam minggu ini.
Pekerjaannya harus selesai secepat mungkin sebab ia juga harus mengurus pertunangan Putri kecilnya. Walaupun ia sudah beranjak remaja tetapi ia tetap menganggap putri kecil yang selalu ingin ia jaga.
Mama menunggu kepulangan Papa. Mama merasa kesepian tanpa keempat buah hatinya.
Sepi
Sepi
Sepi
Begitu sepi saat menunggu kepulangan suaminya. Biasanya ramai dengan teriakan anak-anaknya sekarang sepi.
Thing- thong thing -thong thing -thong
Bel pun berbunyi, Papa pulang dengan raut wajah capeknya. Mama menyambutnya dengan senyum. Kerinduan yang mendalam pada keempat buah hatinya.
Mama mencium punggung tangan suaminya. Adrean membalas kecupan di kening sang istri. Terlihat di wajah sang istri kerinduan yang sangat mendalam pada anak-anaknya.
"Rindu?" Tanya Papa.
Mama dengan sebuah anggukan kecil sebagai jawabnya.
"Kita lanjutkan di kamar saja ya?" Canda Papa
dengan senyum nakalnya.
"Udah makan Pa?" Tanya Mama
"Belum sayang." Jawab Papa
"Maunya makan kamu." Sambungnya
Mereka menuju kamar Papa segera mandi dan Mama menyiapkan pakaian gantinya. Saat keluar kamar mandi Papa hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Mama melihat postur tubuh suaminya yang kekar dengan dada bidangnya membuat ia menelan salivanya. Masih sama sexy kayak dulu dalam pikirnya.
"Kenapa Ma, mau?" Tanya Papa
Mama yang ketahuan mengagumi suaminya itu merasa malu. Ia segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Nanti aja ya Ma? Kita makan dulu. Biar tambah kuat." Kata Papa
"Apa-apa an sih Pa." Balas Mama sambil mencubit perut suaminya.
Tidak lama mereka turun dan makan malam bersama. Selesai makan Mama segera memberaskan meja makan. Sedangkan suaminya masih harus berkutat dengan pekerjaan di ruang kerjanya.
Mama terlihat memainkan ponselnya sambil menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Ia menanyakan kabar kepada Mentari. Mama merasa lega karena mereka baik-baik saja.
Papa selesai mengerjakan pekerjaan sekitar pukul 10.00. Ia langsung menuju kamar melihat sang istri dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Papa mendekatkan bibirnya pada telinga istrinya.
"Kangen Ma." Bisik Papa.
Seketika tubuh Mama pun meremang. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Ia juga merindukan sentuhannya.
Tanpa menunggu lama mereka saling berciuman. Semakin lama semakin dalam dan semakin panas. Adrean membawa istri tercintanya menuju ranjang. Ciuman semakin memanas di sana. Semakin turun pada leher jenjang sang istri.
Akh aaaaakh aaakh Sayaaaang
******* kedua insan lama tidak terdengar malam ini sangat nyaring ditelinga keduanya. Sambil melepaskan pakaian istrinya kini ciuman itu semakin turun ke dada.
Tangan kanan yang mulai lancarkan aksinya meremas squisi milik sang istri. ******* keduanya semakin menjadi diiringi dengan napas yang semakin memburu.
__ADS_1