
Adrean selama beberapa hari mengikuti Sang Ayah bekerja di perusahaan. Mereka yang bekerja di sana termasuk Para Ceo di perusahaan itu baru melihat wajah dari ahli waris dari Tuan Richat.
Adrean bekerja sangat cekatan dan kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Banyak orang yang merasa iri dengan kemampuannya itu.
Pemuda itu juga memenangkan banyak tender hanya dalam waktu singkat. Waktu yang dimilikinya tidak disia-siakan begitu saja.
Seminggu waktu berlalu begitu cepat, hingga seorang gadis kecil harus mengurungkan niatnya dulu. Wajahnya semakin hari semakin kusut.
"Abang kapan ajak aku jalan-jalan?" Tanya gadis kecil itu saat saat melihat Adrean sedang memainkan benda pipih di tangannya.
"Kamu maunya kapan?" Tanya Pemuda itu pada Sang Adik setelah memangkunya.
"Terserah Abang aja." Kata Mentari manja.
"Setiap hari Abang selalu sibuk dengan Ayah jadi aku tidak tahu kamu waktunya buat aku." Keluhnya.
"Ok Ok. Nanti Abang coba minta ijin dulu sama Ayah dan Bunda." Kata Abang.
"Kamunya juga harus sabar, karena sabar itu disayang Allah." Lanjutnya.
"Maunya juga disayangi sama......." Kata Seorang gadis.
"Kamu kecil-kecil sudah genit ya?" Kata Abang Adrean mengejar seorang gadis yang baru saja turun dari pangkuannya dan berlari menjauh.
Mereka bermain seperti anak kecil yang saling kejar atau enaknya sekarang kekasih yang sedang bermain kejar-kejaran ya? Biarpun badan gadis ini kecil tetapi dia berlari sangat kencang.
Hari ini memang akhir pekan sehingga semua anggota keluarga berkumpul di kediaman utama. Waktu makan siang mereka dapat berkumpul bersama.
Sang Bunda sejak tadi memperhatikan interaksi kedua anaknya itu hanya ikut merasa senang. Sebuah senyuman terbit di wajahnya yang cantik.
"Sayang ayo makan dulu." Ajak Bunda pada kedua anaknya.
"Iya Bun sebentar lagi." Kata Mentari.
Gadis kecil dengan nafas yang cepat menyudahi permainan itu. Mereka langsung membersihkan diri dan menuju ruang makan.
Kedua orang tua mereka sudah menunggu untuk menyantap makanan tetapi yang ditunggu baru muncul batang hidungnya. Berarti badannya gak datang dong, kalau mulutnya gak dateng trus yang digunakan untuk makan apa dong? (Authornya agak Kongslet ini).
__ADS_1
Mereka berempat makan siang dengan lahap tanpa adanya suara yang berbicara hingga selesai. Seminggu ini tidak ada yang berani untuk memberikan sebuah komentar apapun mengenai perlakuan spesial terhadap Adrean.
"Sepertinya kalian berdua memang menghabiskan waktu bersama dengan senang ya?" Tanya Ayah pada kedua orang balita setelah mereka menghabiskan makanannya.
Seorang gadis kecil berusia di bawah lima tahun hanya tersenyum, sedangkan seorang laki-laki dewasa di bawah lima puluh tahun memandang seseorang gadis kecil yang tadi bersamanya.
Mereka bertiga berbincang seperti biasanya setelah makan sedangkan Bunda membersihkan meja makan dan mencuci semua peralatan yang digunakan untuk makan dan masak tadi. Perbincangan itu selalu dilakukan agar mereka lebih dekat satu sama lain.
"Ayah boleh aku mengajak gadis kecilku jalan?" Tanya Adrean dengan sangat sopan.
"Mau kemana?" Tanya Ayah singkat.
"Cuma sekedar di Mall dan taman." Jawab Seorang Pemuda.
"Baiklah." Kata Ayah.
"Yei......." Teriak Mentari senang dan berlompat-lompat sambil memutar badannya.
"Jagalah dia. Dia belum mengerti apapun." Pesan Sang Ayah menepuk pundak Adrean sambil berjalan menuju taman.
Adrean dan Mentari pergi ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap. Apalagi gadis kecil itu langsung berlari kecil sambil bersenandung.
"Ayah, Bunda kami berangkat dulu." Pamit Adrean sambil mencium punggung tangan Sang Ayah dan Bunda.
"Hati-hatilah." Pesan Ayah.
Pemuda itu langsung pergi ke garasi mengambil mobil yang baru seminggu kemarin dibelinya. Perlahan tapi pasti kali ini dia mengemudikannya.
Sepanjang perjalanan menuju Mall gadis ini hanya bersenandung ria. Sesekali saja Pemuda tampan yang ada di sampingnya itu diajak berbicara.
Chiiiiiit
Suara gerakan ban mobil dengan aspal hampir tidak terdengar ditelinga. Mereka kini telah sampai ditempat tujuan.
Mall yang sangat megah dengan banyak barang brended yang terpajang didalamnya. Mall milik keluarga Tuan Richat satu-satu mall paling mewah diseluruh dunia.
Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam mall tersebut setelah memarkirkan mobilnya. Tepat di depan pintu masuk mereka sudah disambut dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan." Ucap seorang pegawai yang ada di pintu masuk sambil menundukkan badan sedikit.
Pemuda itu terus berjalan dengan wajah dinginnya tidak dihiraukannya wanita itu. Dia hanya bersikap hangat pada gadis kecil yang ada bersamanya saat ini.
"Bosan aku disini Bang." Keluh Mentari.
"Kenapa hem?" Tanya Abang Adrean.
"Kamu gak ingin beli sesuatu di sini?" Tanya Adrean lagi.
"Gak semua yang ada disini aku punya." Jelas gadis kecil itu.
"Aku maunya yang ada di pasar aja." Lanjutnya.
"Apa level mu di pasar?" Tanya Sang Abang.
"Bilang aja gak sanggup beli." Kata seorang pembeli yang berada tidak jauh dari mereka.
"Lihat pakaian kalian saja itu keluaran model tahun berapa?" Lanjutnya sambil memilih barang yang akan dibelinya.
"Hallo.... hallo, jaga mulut Anda Nona." Kata gadis kecil itu dengan berani.
Tak Tak Tak
Suara langkah kaki seorang pemuda tampan mendekati seorang gadis yang sombong secara perlahan. Pemuda itu mengitari wanita itu, berhenti di depannya dan melihat penampilan dari atas sampai bawah dengan tatapan mata setajam elang.
"Apa usaha keluarga Anda?" Tanya Adrean dengan sopan.
"Perusahaan X milik keluarga saya." Jawab Wanita itu dengan sombong.
"Beli semua saham Perusahaan X." Kata Adrean dingin setelah mengambil benda pipih yang ada di saku celananya dan menghubungi seseorang yang ada disebrang.
"Kita lihat dalam beberapa menit bagaimana dengan kondisi anda." Kata Adrean setelah berjalan menghampiri gadis kecilnya.
Pemuda itu meraih tangan kecil Mentari menggenggamnya dengan erat. Pemuda itu mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu.
Adrean tidak mau dan tidak terima jika gadis kecilnya direndahkan walau sekecil apapun. Apapun akan dia lakukan untuk adiknya yang sangat dia sayang walaupun bukan saudara kandung.
__ADS_1