
Kata-kata yang bukan sebuah rayuan atau gombalan tetapi kata-kata yang mampu membuat seseorang wanita yang kini sedang bersamanya tersipu malu. Tuan Richat memang bukan tipe orang yang pandai merayu wanita dengan sebuah kata-kata.
"Ya sudah apa lagi yang ingin kamu katakan?" Tanya Sang Istri setelah suaminya mengakhiri pembicaraannya.
"Aku tidak ingin sebuah kata-kata tapi sebuah perbuatan." Jawab Sang Suami ingin menggoda istri tercintanya.
"Tapi tadi kamu bilang....." Kata Bunda terputus yang mengingatkan apa yang telah dikatakan tadi setelah mulutnya dibungkam dengan jari telunjuk Sang Suami yang ditempelkan pada mulut istrinya itu.
"Apa hal itu yang kamu mau sekarang?" Tanya Sang Suami mencubit hidung istrinya hingga berteriak kesakitan.
"Auh, sakit tahu!" Teriak Sang Bunda berusaha memukul dada suaminya.
"Akh......" Suara Suaminya mengerang kesakitan berpura-pura merasa sakit dan berusaha memeluk Sang Istri dalam pelukannya.
"Tuan ini namanya KDRT harus segera dilaporkan pada yang berwajib." Cerocos Sang Istri.
"Lihat hidung ini jadi merah sedikit keras lagi pasti berdarah." Lanjutnya merengek manja seperti anak-anak.
"Apa masih bisa berdarah jika lebih keras lagi?" Tanya Sang Suami masih menggoda istrinya yang masih dalam pelukannya itu.
"Baiklah KDRT nanti dilanjutkan di ranjang saja. Ok." Lanjutnya.
Perbincangan Pasutri itu diawali dan diakhiri dengan momen romantis seperti anak muda yang baru jatuh cinta. Semua tempat terasa seperti Dunia Milik Berdua (Memang benar karena di ruang kerja itu hanya ada mereka).
Tuan Richat dan Sang Istri membicarakan masa lalu. Mereka merasa sangat berhutang atas jasa orang itu.
Bunda keluar dari ruang kerja dan menuju ruang belakang menemui seseorang setelah merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah seseorang. Orang yang berani berulah adalah Tuan Besar, Sang Suami yang selalu keluar Omes dari pikirannya bila bersama istri tercinta.
Nyonya Devi menemui seseorang yang sedang berada di ruang belakang. Orang itu adalah seorang wanita yang sudah hampir cukup umur.
"Bibi baru ngapain?" Tanya Nyonya Devi.
"Ini baru buat cemilan." Jawab Bi Inna.
__ADS_1
"Adrean kemana Bi? Tanya Nyonya Devi.
"Ada di kamar sejak pulang tadi." Jawab Bi Inna.
"Tolong sampaikan padanya, nanti setelah makan malam diminta Tuan pergi ke ruang kerjanya." Pinta Nyonya Devi.
"Baik, Nya." Kata Bibi.
Kedua wanita yang ada di dapur itu memasak beberapa cemilan dan hidangan penutup untuk makan malam bersama-sama seperti biasa. Waktu memang sudah sore dan mereka harus memasak untuk makan malam.
Seorang gadis kecil mengerjapkan mata berulang kali untuk memperoleh kesadarannya saat baru saja bangun dari mimpi indahnya. Dia segera mandi setelah melihat jam yang ada di atas nakas.
Mentari mencoba menyiapkan segala keperluannya sendiri. Dia tidak mau merepotkan orang lain walaupun banyak pembantu yang bekerja di kediaman utama miliknya.
Gadis kecil itu mencoba mengambil baju dan semua yang akan dipakainya setelah mandi. Dia berdiri di depan kaca dengan sebuah senyum yang sangat manis ingin melihat dirinya sudah cukup rapi jika keluar dari kamar itu.
Mentari hanya berharap dia rapi bukan cantik karena itu yang sudah dikatakan Sang Bunda. Dia ingat sebuah kalimat yang intinya lebih baik cantik hatinya daripada cantik wajahnya.
"Bunda... Bunda..." Panggil gadis itu.
"Iya sayang ada apa?" Tanya Bunda menghampiri Sang Putri yang tengah berada di ruang tengah.
"Tidak apa-apa, hanya tadi aku mengetuk pintu kamar Bunda tapi tidak ada jawaban." Kata Mentari.
"Oh ya dimana Ayah?" Tanya Tari lanjut
"Di ruang kerja." Jawab Bunda.
"Hari libur gini juga bekerja." Keluh Tari menggelengkan kepala perlahan.
"Sudah jangan mengeluh, itu sudah kewajiban Ayah mu." Jelas Bunda.
"Jika tidak seperti itu Ayah kamu hanya lepas tangan dan terjadi sesuatu dengan perusahaan maka apa yang terjadi?" Lanjut tanya Sang Bunda.
__ADS_1
"Nah, kamu pintar dan cerdas pasti tahu jawabannya." Lanjutnya lagi hingga membentuk luasan.
Gadis kecil ini mengangguk perlahan paham apa yang dijelaskan oleh Sang Bunda. Tari akhirnya pamit ingin menemui ayahnya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu ruang kerja diketuk perlahan dan terdengar sangat kecil. Mentari melakukan ini agar Sang Ayah tidak terkejut.
"Masuk." Perintah seorang laki-laki paruh baya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
Mentari sedikit berlari menuju tempat duduk kebesaran Sang Ayah, Dia melompat ke pangkuannya. Gadis ini melihat semua pekerjaan yang ada di depannya kini.
Sang Ayah tahu waktu sudah sore saat Putri kecilnya itu menyusul ke ruang kerja. Sesaat dia melihat jam yang tergantung di dinding.
"Ayah bisakah aku suatu saat duduk di sini bekerja menggantikan mu?" Tanya gadis kecil itu.
"Suatu saat semua ini akan menjadi milik mu, jadi yang harus kamu lakukan sekarang adalah belajar dengan baik hingga menjadi anak ayah yang pintar dan cerdas." Kata Ayah yang panjang kali lebar hingga menjadi sangat luas.
"Berarti sekarang ini aku bukan anak ayah." Protes gadis kecil itu mencerna dari kalimat yang diucapkan ayahnya baru saja.
"Kamu itu terlalu pintar, seperti Bunda mu." Kata Ayah sambil mencubit kedua pipi menul anak gadisnya.
"Sakit Ayah." Keluh Mentari.
"Maaf, Sayang." Ucap Sang Ayah.
Ayah mulai menutup semua pekerjaan dan mengajak Sang Putri keluar dari ruang kerja. Jika tidak segera diakhiri akan terjadi drama korea yang pastinya memiliki episode yang berkepanjangan.
Sang Putri selalu saja memiliki sesuatu untuk ditanyakan hingga bersamanya tidak akan pernah segera berakhir dialognya.
Sang Ayah menuju kamar hendak mandi agar badannya lebih segar. Sang Putri menuju taman melihat indahnya bunga-bunga yang bermekaran disore hari sendirian tanpa Sang Bunda.
Gadis itu tahu Sang Bunda sedang sibuk memasak mempersiapkan makan malam, jadi dia pergi bermain sendiri. Dia memaklumi kesibukan kedua orang tuanya itu.
__ADS_1