
"Selamat!!! Deddy punya pikiran gak Sih? Mammy sampai seperti itu juga, gak ada tenaga sama sekali." Bentak Alfian.
"Ya, ucapin selamat sama kita." Kata Mammy menengahi perdebatan keduanya dengan suara yang sudah sangat lemah.
"Ayo sebaiknya kita pulang saja. Waktu sudah sangat larut." Kata seorang gadis yang ada di dekat mereka.
"Kasian Mammy sudah sangat pucat." Lanjutnya.
Mereka semua berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tujuan akhir mereka adalah rumah untuk dapat istirahat.
Alfian mengambil mobil di tempat parkir dengan sigap. Lainnya menunggu di lobi rumah sakit.
Melihat mobil sudah siap, mereka segera masuk dalam mobil. Semua sudah masuk tapi terlihat seorang gadis masih berdiri mematung di luar pintu mobil.
"*Duduk di depan atau di belakang?" Batinnya.
"Duduk di depan dikira aku yang keburu ngejar itu laki bisa besar kepala, duduk di belakang Mammy kayaknya lagi sensi." Lanjutnya*.
"Hai pangeran itu." Kata Mammy dengan melirik gadis yang masih berdiri di luar mobil.
"Bener tu bocah gak ada tanggung jawabnya sama sekali." Sindir Deddy pada Sang Anak Laki-laki nya.
"Tanggung jawab apa'an?" Tanya Alfian.
"Tanggung jawab kalau udah halal." Lanjutnya lagi.
"Duduk depan aja sayang. Kita juga pernah muda kali. Dulu juga ngrasain jarang banget ketemu." Jelas Mammy.
"Oh, jadi begitu bukan karena Mammy gak suka lagi sama aku. Jadi semua yang aku pikirkan adalah salah paham" Batin Tari.
Alfian keluar dari mobil dan mengitari mobil seraya membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Akan tetapi kejadian tak terduga pun terjadi.
"Silahkan Tuan Putri." Kata Alfian dengan senyum terbaiknya.
Gadis itu akhir duduk di samping Pak Kusir. Bener ya kan Sang Pangeran naik kuda putih.
Alfian membantu gadis itu memakai sabuk pengamannya. Sabuk pengaman itu terselip di samping kursi hingga sulit untuk di tarik dan dicadangkan di depan badan gadis cantik dan mungil itu.
"Empuk ini si gunung kembar." Batin Alfian saat menyentuh sesuatu yang menonjol di dada gadis itu tanpa sengaja.
"Maaf gak sengaja." Kata Alfian sambil nyengir kuda.
"Alah bilang aja cari kesempatan." Kata Tari dengan sewotnya.
Alfian pun segera duduk di kursi kemudi. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Hauf." Sebuah suara dari samping kemudi.
"Hauf." Lagi dan lagi hingga beberapa kali.
Alfian dari kejadian tadi pikirannya sudah travelling kemana-mana. Otaknya sudah bener-bener OMES. Mungkin karena ia memang laki-laki dewasa ya hingga seperti itu.
Mendengar suara dari samping Alfian melirik sang gadis. Ia tahu kalau gadis yang ada di sampingnya itu sudah sangat mengantuk.
Tidak butuh waktu lama, gadis itu pun terlelap dalam mimpi indahnya. Pak kusir yang melihat gadisnya tertidur tersenyum hingga sudut bibirnya sedikit tertarik.
"Jangan dilihatin terus!" Kata Deddy.
"Iya tuh sampai air liurnya mau netes." Ledek Mammy.
"Gak ada bahasan lain?" Tanya Alfian.
"Sampai harus ngeledekin anak sendiri." Lanjutnya.
"Emang Deddy mu gak tahu kejadian barusan?" Kata Deddy melihat muka sang anak dari kaca depan.
"Pengalaman banget ya Mam, Deddy masalah kayak gitu?" Tanya Alfian pada Mammy yang masih lemas ingin tidur tapi tidak bisa.
"Banget." Jawab Mammy.
"Kalau mau belajar sama Deddy." Canda Mammy.
"Wajib kah?" Tanya Alfian.
"Iya wajib pakai masker kalau keluar rumah." Kata Mammy.
"Iya - iya yang gak kalah penting juga jangan cuci tangan sesudahnya." Sahut Alfian dengan senyum smirknya takut mengganggu yang baru tidur.
Mereka pulang dengan memecah keheningan malam. Suasana cerah secerah hati mereka, ya..... Karena kabar baik yang selama ini Deddy dan Mammy tunggu.
Akhirnya sampai juga di rumah utama milik keluarga Alfian. Deddy menggendong sang Mammy menuju kamar mereka sedangkan seorang gadis belia yang sedang tertidur pulas sedang diamati oleh calon pemilik.
"*Aku antar pulang malam ini atau aku biarkan dia tidur di rumah ini?" Batin Alfian.
"Tidur di sini pun gak masalah lagian masih banyak kamar kosong." Lanjutnya ketika masih berada dalam mobil yang berhenti di depan rumah utama*.
Plak
Sebuah tepukan di punggung Alfian membuyarkan pikirannya barusan. Terkejut sudah laki-laki ini hingga ia hampir berteriak hingga bisa membangunkan gadis yang ada di sampingnya kini.
Alfian hanya berharap bukan hanya kini tapi seumur hidup. Biarlah maut yang memisahkan mereka.
"Mau di sini sampai kapan?" Tanya Deddy.
"Sampai puas." Jawab Alfian.
"Kalau berpikir sampai puas, kamu nanti gak ada puas-puasnya." Jawab Deddy.
"Kasian tu kalau tidur di situ." Kata Deddy.
"Bisa-bisa itu badan sudah remuk sebelum waktunya." Lanjut Deddy.
Alfian menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan Sang Deddy yang sedikit fulgar itu. Ia akhirnya turun dan menggendong Gadis itu menuju kamarnya.
Kunci mobil yang masih bergelantung ditempatnya di ambil Deddy. Ia memberikan pada salah satu pekerja yang bekerja di rumah itu untuk ditaruh di garasi.
Saat digendong Gadis itu tetap saja tak ada reaksi. Naik lantai atas dengan menggendong seorang gadis dipikirnya terasa ringan. Tubuh yang kecil itu.
"Huuuf." Keluhnya dengan membuang nafas.
Ceklek
Suara pintu di buka perlahan. Diletakkannya gadis itu di tempat tidur yang cukup luas. Alfian pun tak lupa menutup kembali pintu kamarnya.
"Berat juga itu tubuh, walaupun kecil begitu." Keluh Alfian dalam hati.
Alfian berjalan menuju balkon samping kamarnya. Ia mengambil benda pipih yang ada di saku jasnya mengirim pesan singkat.
Pesan singkat ke sebuah nomor yang sangat penting bagi gadis yang ada bersamanya kini. Takutlah dipikir tidak bertanggung jawab.
Laki-laki ini tadi sudah berjanji untuk mengantarkan pulang tapi apalah daya karena sesuatu hal yang tak bisa dihindari. Apalah daya kalau diantar malam-malam juga akan mengganggu yang punya rumah harus bangun malam untuk menyambutnya.
♥️♥️♥️♥️
134
Di dalam rumah Adrean sudah sangat sepi sekali. Sesampainya di rumah mereka langsung menuju kamar masing-masing.
Pesan yang dikirim Alfian pun belum sempat dibaca. Ya karena pemilik ponsel yang ada di seberang sudah terlelap dengan memeluk guling bernyawanya.
Ketiga jagoan itu pun sudah memiliki mata yang tinggal 1 watt untuk melihat. Apalagi Si Daffa anak bungsu ini yang tak pernah peduli dengan apapun ketika ia sudah sangat mengantuk di manapun ia berhenti di situlah ia akan merebahkan tubuhnya.
Axel sangatlah berhati-hati dalam segala hal. Ia bagaikan Srigala yang selalu siap dalam setiap kondisi. Sifat dingin yang ada padanya sangatlah susah untuk dirubah.
Garda adalah seorang laki-laki yang sangatlah bijaksana. Ia tidak terlalu kaku juga tidak begitu ceroboh dalam segala tindakannya.
Mereka naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Na'as kamar yang paling dekat adalah kamar Axel.
Papa dan Mama sudah masuk ke kamar mereka yang terletak di lantai atas tepat di sebelah kanan tangga yaitu kamar utama. Kamar ke empat anak mereka terletak di sebelah kiri dari tangga.
Urutan kamar dari kakak paling tua yaitu Kak Tari, Axel, Garda, barulah kamar Daffa. Kamar yang selalu terkunci adalah satu kamar milik sang Kakak perempuan mereka. Ia selalu mengunci kamarnya disaat tak ia pergi ke luar rumah.
"Selamat malam Pa, Ma." Kata ketiga anak laki-laki itu sebelum orang tua mereka masuk kamar.
__ADS_1
Melihat kedua orang tuanya sudah masuk ke kamar mereka. Ketiganya pun langsung menuju kamar masing-masing.
"Malam semuanya, selamat tidur." Kata ketiga laki-laki itu secara bersamaan.
Ceklek
Dua pintu kamar pun terbuka mereka bertiga mulai masuk ke kamar. Entah kamar siapa ya yang tidak dihuni malam ini? (Ayo tebak berdasarkan karakter mereka, pembaca pasti tahu ada yang selingkuh).
Axel langsung saja merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang memang sudah sangat capek. Ia sudah terlelap dalam mimpinya yang sangat indah.
Bluuk
Sebuah badan besar yang mulai berotot alias badan yang suspeck mulai terbentuk jatuh di tempat tidur yang sama dengan Axel. Karena terlalu mengantuk dan susah atau malas untuk membuka matanya Sang pemilik kamar tak peduli dengan gerakan itu baru saja.
Besarnya tempat tidur tidak menghalangi pergerakan mereka saat tidur. Pemilik kamar dan tamu tak diundang itu pun tanpa sadar membuat gerakan yang tanpa mereka sadari.
Mendekat
Mendekat
Mendekat
Keduanya saling mendekat dan tepat berada di tengah saling berpelukan seperti teletabies. Guling bernyawa mereka tapi jeruk makan jeruk.
"Aaaaah." Teriak Daffa saat mengetahui dirinya memeluk seorang anak laki-laki ketika bangun saat pagi menyambutnya.
"Keluar dari kamar ku!" Teriaknya lagi hingga membuat semua penghuni rumah berlari menuju kamar Axel.
Axel yang merasa terganggu dengan suara teriakan itu pun mulai membuka mata perlahan. Ia melihat sekeliling ruang kamar tak ada satu benda pun yang luput dari pandangan matanya.
"Ini saudara ku, sadarlah ini kamar siapa?" Tanya Axel.
"Kenapa kau mengusir ku dari kamar ku sendiri?" Lanjutnya lagi.
"Trus kenapa kau memeluk ku?" Tanya Daffa tanpa sadar kalau dia sendiri yang memeluk kakaknya itu.
"Aku ini masih normal, aku gak mau ya dikatain jeruk makan jeruk." Lanjutnya.
"What?" Tanya Axel.
"Sadar gak sih, lihat siapa juga yang main peluk?" Kata Axel dengan nada tinggi.
Brak
Suara pintu kamar dibuka paksa oleh Sang Papa. Khawatirlah karena mendengar keributan dengan suara yang ekstra keras.
Bisa dimaklumi semua penghuni di rumah itu hampir semua laki-laki. Suara keras sudah menjadi dominan apalagi untuk basic seorang pemimpin tambahlah tegas.
"Apa-apa an dengan kalian ini?" Tanya Mama yang sudah sangat khawatir jika terjadi pertengkaran dengan anggota keluarganya.
Semua yang ada di kamar Kak Axel terdiam mendengar Sang Ibu Negara sudah bersuara dengan lantang sambil berkacak pinggang.
"Ayo jawab!" Perintah Sang Ibu Negara.
"Anu Ma ...... Jawab Axel yang terpotong sekilas melirik Adiknya Daffa.
"Apa jelasin?" Tanya Mama yang sudah menunggu jawaban dari kedua anaknya.
" E....... " Sahut Daffa.
"Kalian laki-laki atau perempuan?" Tanya Mama.
"Kami minta maaf pagi-pagi sudah membuat keributan." Kata Axel kemudian merangkul pundak sang adik Daffa.
Mereka memang laki-laki akan tetapi kalau Sang Ibu Negara sudah berkata dan bertindak tidak seorang pun yang akan membantah. Bukan karena takut akan tetapi mereka sangat menghormati semua yang seorang wanita itu lakukan.
Berkat doa Sang Ibu mereka bisa sampai sukses. Karena mereka juga lah sebenarnya yang paling bekerja keras. Bekerja, mengurusi rumah dan ada setiap mereka semua membutuhkan.
"Tolol atau bodoh kalian ini?" Ledek Garda merangkul pundak kakak dan adiknya itu yang memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.
"Brengsek lu sebagai kakak bukannya ngebela adiknya malah ngatain." Kata Daffa yang disambung dengan sebuah bogem ringan di perutnya.
"Ni buat loh yang seneng melihat saudaranya menderita." Kata Daffa.
"Kayaknya kurang, ni dari gue." Sambung Axel.
Bugh
"Dasar kalian kurang di kurung kasarung suka meluapkan kekesalan pada orang lain." Teriak Garda dengan melihat kepergian kedua saudaranya.
Papa sejak tadi juga hanya menyaksikan adegan demi adegan antara istri dan anak-anaknya.
♥️♥️♥️
135
Pertengkaran pun telah selesai. Mereka akan melaksanakan kegiatannya masing-masing.
Mama menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga sesudah memberikan peringatan untuk anak-anaknya. Papa mengekor di belakang sang istri.
"Dasar bucin." Kata Daffa yang di dengar oleh ke dua kakaknya.
"Begitu-begitu juga bokap lu kan?" Tanya Axel.
Garda langsung nyelonong dengan menuju kamar hingga menyenggol badan kedua saudaranya yang saat itu sedang berdiri bersebelahan. Mereka berdua hampir terjatuh karenanya.
"Inget sudah siang, mau kalian pada telat ke sekolah?" Tanya Garda setelah masuk kamar berbalik hanya menampakkan kepala saja.
"Oh my Good." Kata Axel dan Daffa bersamaan setelah melihat jam yang tergantung di dinding.
Axel dan Daffa akhirnya terburu-buru menuju kamar masing-masing. Mereka segera bergegas mandi bersiap untuk sekolah.
Mereka segera berlari berebutan menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia roti dengan berbagai macam selai dan susu tidak lupa.
Ketiga anak laki-laki itu melihat kedua orang tuanya secara bergantian. Pasalnya hari ini tidak ada rencana mereka untuk libur dari pekerjaan.
"Papa dan Mama gak ngantor?" Tanya Garda.
"Berangkatlah." Jawab Mama.
"Kayaknya ada yang kurang ya?" Lanjut Mama tampak berpikir melihat jumlah piring masih sisa.
"Papa naik dulu mau mandi udah gerah." Kata Papa santui.
"Papa." Teriak Mama
"Anak gadis kita Pa?" Lanjut Mama.
"Santui aja lah Ma. Gak akan terjadi sesuatu." Jawab Papa santai sambil menaiki tangga tanpa menghadap orang yang diajak bicara.
Tujuan Papa segera pergi adalah ingin menghindari introgasi Sang Istri. Mama berlari mengejar Sang Suami menuju kamar.
"Mama nyusul Papa mau ikut mandi bareng hem... hem." Tanya Papa dengan menaik turunkan kedua alis matanya hingga terlihat genit.
"Huih ogah." Jawab Mama sinis dan mengunci pintu kamarnya.
Mama sudah menatap tajam Sang Suami. Papa bergidik ngeri melihat tatapan Sang Istri sudah bagaikan harimau kelaparan.
"Kenapa anak kita gak pulang?" Tanya Mama.
"Santui Mah? Kata Papa.
"Bentar lagi kan jadi milik orang." Lanjutnya lagi.
"Dia itu perempuan jadi harus bisa jaga diri. Kenapa juga gak ngasih kabar ke kita?" Cerocos Mama.
Papa berjalan mendekati nakas. Ia mengambil benda pipih yang ada di nakas.
Berbagai pesan terlihat di benda tersebut. Sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Lihat anak kita ditangan yang tepat." Jelas Papa sambil membaca pesan yang dikirim oleh seorang pemuda tampan.
"Semalam mereka tidak bisa mengantar anak kita karena waktu sudah tengah malam takut mengganggu istirahat kita. Mereka juga dalam kondisi yang tidak bagus. Mammynya Alfian sedang dalam kondisi tidak enak badan jadi mereka pergi ke rumah sakit." Jelas Papa panjang kali lebar.
__ADS_1
"Pa selamat berjuang!" Teriak Garda saat akan berangkat ke sekolah.
"Kami berangkat dulu." Kata ketiga anak laki-laki itu.
"Iya diademin Ibu Negaranya biar perabotan gak dipakai untuk berperang." Celetuk Daffa.
"Kalian ini bukannya membantu Papa dari kemarahan Ibu Negara kita malah mengobarkan api kenikmatan." Balas Papa.
"Dasar kalian ini anak bisa diuntung." Doa Papa.
Papa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mama menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Sang Suami Tercinta.
"Ma.... Mama.... "Rayu Papa saat akan menutup pintu kamar mandi.
"Apa udah sana mandi. Nanti kesiangan ke kantornya." Perintah Nyonya Besar.
"Kan memang udah kesiangan." Balas Papa.
Mama menatap tajam sang suami hingga ia harus bergegas mandi. Mama tidak ingin suaminya memberikan contoh yang buruk pada anak buahnya ataupun anaknya.
Anak gadisnya tak terlihat hingga ia akan berangkat ke kantor dan ketiga anaknya juga sudah berangkat sekolah. Mereka berdua sudah siap berangkat ke kantor.
### ### ### ###
Di kediaman Alfian
Seorang gadis mengerjapkan matanya. Dilihat setiap sudut ruangan tanpa terlewat.
"Ini bukan kamarku." Batin Sang Gadis.
Diingatnya kejadian tadi malam. Rasa bersalah pada kedua orang tuanya muncul dalam hati. Ia tidak pulang bahkan tidak memberi kabar. Pastinya mereka sangat khawatir.
Gadis itu pun langsung turun dari tempat tidur yang sangat besar. Ia menuju kamar mandi hendak membersihkan diri kemudian melaksanakan Sholat.
Dibukanya jendela gorden kamar itu. Matahari pun sudah merasuk ke dalam kamar tersebut.
Tok tok tok tok
Pintu kamar Alfian diketuk oleh penghuninya. Tak butuh waktu lama seseorang membuka pintu tersebut.
Ceklek
"Sudah bangun?" Tanya Seorang Pemuda.
"Belum, masih molor." Jawab Gadis itu.
"Kenapa gak langsung antar aku pulang?" Tanya Sang Gadis.
"Aku masih kangen sama anak singa yang galak ini." Goda Sang Pemuda.
Huek huek huek huek
Terdengar Mammy memuntahkan semua isi perutnya. Padahal pagi ini masih belum sarapan.
Lupa minta penjelasan Pemuda itu menatap mata gadis yang sekarang ada bersamanya. Gadis itu pun meminta penjelasan dengan tatapan tajamnya.
"Ayo." Ajak Alfian menggenggam erat jari jemari gadis itu.
Gadis itu hanya mengikuti langkah kaki pemuda yang menarik dengan genggamannya itu. Merasa sungguh tak nyaman biar pun memang itu yang diharapkan jangan sampai terlepas dari genggaman.
"Mammy sebenarnya kenapa?" Tanya Alfian karena semalam belum mendapat penjelasan dari Sang Deddy dengan jelas.
"Kamu akan jadi Kakak Al." Jawab Deddy saat memijat tengkuk mammy yang sedang muntah-muntah.
"Benarkah?" Tanya Alfian tak percaya.
"Selamat Tante." Kata Mentari ikut senang.
"Terimakasih sayang." Balas Mammy.
Hati Alfian sebenarnya sangat senang. Akan tetapi ada rasa takut akan kejadian masa lalu yang dapat terulang lagi.
"Kalian sudah sarapan?" Tanya Deddy sambil memapah Sang Istri menuju tempat tidur.
"Sudah siang kalian sarapan dulu gih! Titah Deddy melihat kecanggungan mereka berdua.
"Laper kalian sudah hilang dengan menggenggam tangan pasangan kalian?" Tanya Deddy dengan tertawa renyah.
Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Alfian dengan menahan malu. Sedangkan Alfian malah semakin mendekatkan badannya dan memeluk pinggul ramping milik Sang Gadis.
♥️♥️♥️136
Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Alfian dengan menahan malu. Sedangkan Alfian malah semakin mendekatkan badannya dan memeluk pinggul ramping milik Sang Gadis.
"Makan yuk?" Ajak Alfian yang semakin mempererat pelukannya.
"Lepas, malu tahu." Kata Gadis itu.
"Yang penting gak malu-maluin." Jawab Alfian.
"Anggap saja rumah sendiri, yang lain biar ngontrak." Kata Deddy lirih duduk di tepi tempat tidur.
"Namanya juga lagi kasmaran." Sambung Mamny yang masih lemas.
"Udah ayo kita makan dulu." Ajak Mammy tahu kalau gadis yang ada di rumahnya saat ini masih canggung.
Mereka semua akhirnya menuju ruang makan dan menikmati makanan yang tersedia di atas meja makan. Saat ini hanya satu orang yang tidak bisa menikmati karena rasa mual yang masih menyerang.
Mammy tiba-tiba berdiri tanpa pamit menuju kamar mandi yang dekat. Deddy menyusulnya merasa kasihan dengan kondisi Sang Istri, tapi apalah daya memang itulah proses yang harus dilalui seorang ibu hamil muda.
Deddy mengantar Mammy kembali ke kamar mereka. Mammy pun menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidurnya.
"Maaf begitulah kalau baru hamil muda morning sicknes banyak dari semua wanita mengalaminya." Jelas Deddy saat turun dari tangga.
"Wah, jadi Mammy hamil lagi." Kata Mentari sangat senang.
"Selamat ya Om, selamat ya Al." Sambungnya lagi.
"Terimakasih ya sayang." Jawab Alfian.
"Trus kapan juga kita punya baby." Lanjut Alfian.
"Uhuk Uhuk Uhuk."
Suara Deddy tersedak karena ucapan sang anak. Sedangkan Gadis yang diajak bicara Alfian sudah menundukkan kepalanya karena malu.
"Apa'an sih Ded, kalau makan itu pelan-pelan. Jangan tergesa-gesa." Ledek Alfian.
"Haduh anak yang satu ini, ingat jaga itu status." Kata Deddy.
Mereka pun menyelesaikan sarapannya dengan cepat karena waktu memang sudah beranjak siang. Banyak Aktivitas yang harus mereka selesaikan hari ini.
"Al segera lah menikah." Titah Deddy tegas karena tidak ingin melihat anaknya anaknya yang memang sudah usianya.
"Santai aja kenapa Ded." Jawab Alfian.
"Nggak pingin nyoba resep mujarab Deddy hingga jadi kecebong?" Kata Deddy pelan setelah berjalan mendekat ke arah Sang anak dengan menepuk bahu anaknya pelan yang sedang duduk sedang menyesap kopinya perlahan.
"Gak perlu kali Ded, udah pinter." Balas Alfian.
"Udah gak usah di dengerin kata Deddy." Kata Alfian pada gadis yang sekarang bersamanya menikmati sarapan.
Gadis ini dari tadi hanya menjadi pendengar setia percakapan antara Orang tua dan anak. Ia ingin minta diantar pulang tapi melihat situasi yang kurang semuanya diurungkan saja. Disisi lain Alfian memang sengaja mengulur waktu agar gadis ini selalu ada bersamanya.
"Ada mata kuliah hari ini?" Tanya Alfian membuyarkan pikiran Tari.
"Ada." Jawabnya singkat.
"Jam berapa?" Tanya Alfian.
"10.00." Jawab gadis itu.
"Oh." Jawabnya Alfian.
__ADS_1