
Pintu ruangan lama tak berpenghuni terbuka sangat lebar hanya dengan sensor sebuah kartu. Ia berjalan menuju ruang pribadinya untuk mengganti kostum yang ia kenakan saat ini dengan jas yang tersedia di lemari bajunya.
Di dalam kantor itu tersedia berbagai macam kebutuhan yang setiap saat dibutuhkan oleh pemiliknya. Tidak seorang pun diijinkan masuk ke ruangan itu kecuali atas amanat Sang Pemilik.
"Ambil rekaman CCTV hari ini di setiap sudut ruangan." Titah Alfian dengan nada dingin berjalan menuju ruangan VIP dalam kantor miliknya.
"Baik." Balas Ziko yang tidak banyak bertanya pada atasannya.
Tirai yang menutupi ruang kerja itu di disibakkan sehingga sinar matahari leluasa menembus ruangan itu. Ruangan itu kini terlihat sangat terang tanpa adanya sinar lampu untuk menerangi ruangan tersebut.
Dengan sikap Ziko itu selalu terlihat sangat profesional walaupun dia adalah seorang casanova tapi bisa membedakan tempat dan waktu. Hal itulah yang membuatnya mudah dalam mencapai sebuah kesuksesan.
Seorang pemuda yang gagah dengan setelan jasnya kini keluar dari dalam ruang kantor. Tidak lupa ia membawa kaca mata hitam yang ia kenakan tadi.
Kaca mata yang tadinya bertengger dihidungnya yang cukup panjang alias mancung kini sudah bertengger di saku jas yang ia kenakan saat ini.
Ia segera menuju ruang rapat tapi sebelum menuju ke ruang tersebut ia menemui Bos-nya itu. Berjalan mengekor dibelakang Alfian membuat semua staf membelalakkan mata tak percaya.
Banyak karyawan yang tak percaya kalau Sang Atasan tertinggi mereka sudah ada di sana. Akan tetapi sejak kapan mereka tidak mengetahuinya.
💗💗💗💗💗💗💗
**Tap
Tap
Tap**
Suara derap langkah yang begitu cepat menuju sebuah ruang sidang. Berjalan dengan begitu angkuhnya kedua orang laki-laki ini.
Gaya yang seperti itu sering kali membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka mati kutu. Sikap kepemimpinan yang begitu tegas membuat mereka menjadi sangat disegani.
Ceklek
Pintu ruang sidang pun terbuka sangat lebar. Banyak staf yang memiliki jabatan kepala bagian semua harus harus hadir tepat waktu.
Tidak ada kata terlambat jika pemilik tertinggi hadir untuk mengadakan rapat. Kini mereka sudah duduk pada kursi masing-masing.
Tatapan yang sungguh membuat jantung mereka bocor setelah melihat penampilan Pemilik mall tersebut. Apalagi dengan Manajer yang tadi sempat beradu mulut dengannya.
Bencana akan segera dimulai dengan kemarahan atasan mereka karena sebuah kesalahan yang bisa dibilang fatal. Merendahkan orang lain bukan lah sifat dari calan pemimpin yang baik jika tidak mau ditikung oleh saingan bisnisnya.
Bahasa isyarat kepada asistennya sebagai sebuah pertanda bahwa ia harus melakukan sesuai perintah atasannya itu. Hafal dengan bahasa itu isyarat itu Ziko segera memperlihatkan semua rekaman CCTV mulai dari awal atasannya itu memarkirkan gerobaknya.
Sebelumnya Sang Asisten tidak tahu tujuan dari atasannya itu memintanya mengambil rekaman CCTV hari ini. Akan tetapi setelah Ziko mengamati dengan seksama ia pun paham atas kesalahan yang akan menjadi bencana.
Memang kedua pemuda sukses ini memiliki pemahaman yang sama. Bilang saja lah ya satu hati sampai mati.
Ziko yang menyadari kesalahan staf mereka, hingga akhirnya dijelaskan hingga pada akar-akarnya pada semua staf. Hari ini memang sungguh peringatan untuk mereka semua.
Saat Alfian masuk dengan menenggerkan kacamata pada saku jasnya semua staf sudah menyadari akan ada bencana peringatan kalau mereka sudah diminta untuk datang pada ruang rapat tak terkecuali. Apalagi menejer yang sempat beradu mulut dengan Alfian sudah hafal betul dengan kacamata yang ia bawa.
Pemilik mall hanya diam menyaksikan asistennya mengoceh seperti biasa mewakili dirinya berbicara. Sudah sangat kompeten seperti kesehariannya tidak perlu diajari lagi.
Semua staf hanya menundukkan wajah mereka karena malu dan tahu akan kesalahan yang mereka lakukan. Untuk kali ini mereka hanya diberikan peringatan tapi tidak untuk lain kali.
Sang Pemilik langsung berdiri dari kursi kebesarannya, dengan gagahnya ia melangkahkan kaki keluar dari ruang sidang itu. Asisten yang selalu siap mengikutinya kini sudah berjalan mengekor dibelakang Alfian dengan tak kalah gagahnya.
Sepasang pemuda sukses ini kembali berjalan menuju ruang kantornya untuk membahas perkembangan Mall milik Alfian. Mereka duduk di kursi yang biasa untuk menyambut tamu.
Seorang gadis kini sudah sudah menghabiskan banyak cemilan dan minuman. Menunggu membuatnya lapar hingga menghabiskan semua itu.
Pelayan yang melayani gadis ini hanya geleng-gekeng kepala. Ia tak menyangka bahwa gadis ini memiliki nafsu makan yang banyak.
Benda pipih yang dipegangnya juga selalu menemaninya sejak ia berada di Stand itu sendirian. Setia menanti abang kusir.
Seorang Pemuda yang tadinya hanya memakai kaos dan celana pendek dengan mengenakan kaca mata hitam kini sudah berubah dengan kostum baru sedang berjalan menghampiri seorang gadis yang sedang asik dengan benda yang ada di tangannya. Tangannya yang sejak tadi tanpa henti bergerak dengan diselingi makan dan minuman yang sudah tak terhitung jumlahnya.
"Beneran?" Tanya sang abang kusir yang kini berubah menjadi seorang pangeran.
"Apanya?" Tanya balik gadis itu.
"Itu." Jawab Sang Pangeran dengan menggunakan dagunya.
"Salah." Jawab gadis itu sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Katanya cuma sebentar sudah berapa jam aku nunggu di sini?" Lanjutnya sang gadis.
"Itu juga dapat dari mana itu kostum." Lanjutnya lagi.
"Ngutil itu di sana banyak kemeja dan jas bermerk." Jawab Alfian.
"Udah bayar sana!" Perintah Sang Gadis.
"Tadi kan udah dibayar." Kata Alfian.
" Itu makanan yang tadi, yang ini mah belum." Kata Tari.
"Haduh." Keluh Alfian.
Bukan karena disuruh bayar Alfian mengeluh tapi kalah berdebat. Dari pada panjang urusannya Alfian memanggil pelayan untuk meminta tagihan yang baru.
Menunggu tagihan itu Alfian masih sempat duduk di dekat Gadis yang bersamanya kini. Ia ingin menjahilinya setiap bersamanya.
"Rasa enak ni kalau punya istri yang doyan makan kayak gini." Kata Alfian.
Gadis itu tak perduli dengan apa yang dikatakan Alfian barusan. Setelah tagihan datang Alfian menyerahkan salah satu kartu yang ada di dompetnya itu.
Selesai pembayaran Alfian telah menerima kartunya kembali. Ia mengajak Tari untuk jalan-jalan karena masih belum puas dengan semua kejadian hari ini.
Alfian yang masih menggunakan kemeja dan jasnya merasa risi. Ia mengajak gadis itu menuju ruang kantornya untuk mengganti kemeja dengan kaos yang sebelumnya ia kenakan.
Kemeja yang Alfian baru saja pakai dimasukkan ke dalam peperbag untuk dibawa pulang dan dicuci. Mentari yang ikut masuk ke dalam ruang kantor itu pun hanya manggut-manggut.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" Tanya Alfian yang hendak membuka jasnya.
"Lumayan." Jawab Tari yang mengamati dekorasi ruang kerja Alfian sambil duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
Karena merasa penat di punggungnya akhirnya ia pun menyandarkan bahunya pada kursi sofa itu hingga terlihat dua buah gundukan besar. Pemuda yang baru saja melepaskan jasnya itu melihat pemandangan itu tersebut hingga ia menelan salivanya.
"Capek?" Tanya Alfian berjalan sambil menggulung lengan kemeja yang ia kenakan.
"Ya." Jawab seorang gadis yang tidak merasa memancing seorang Pemuda dewasa dengan aura kelelakiannya.
Tangan Alfian mulai bergerilya pada bahu seorang gadis. Gadis itu terkejut mendapat sentuhan lembut itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Tari saat sebuah tangan kekar mulai memijatnya hingga membuatnya lebih rileks.
__ADS_1
"Cepat." Lanjutnya saat memejamkan mata.
"Baiklah mumpung di sini gak ada orang." Jawab Alfian bergumam tapi masih dapat didengar oleh gadis yang dipijatnya.
"Apa maksud mu?" Tanya gadis itu.
"Kisingkan." Jawabnya.
"Oh tidak, maksutku cepatlah ganti baju katanya tadi mau ganti itu kemeja." Kata Tari memandang wajah tampan yang sedang memijatnya.
"Kira'in." Jawab santai.
"Kalau bukan kising apa? Kenapa tadi memejamkan mata?" Tanya Alfian iseng tapi memang itu yang diharapkannya.
Gadis itu memejamkan mata karena merasa nyaman dengan pijatan ringan yang dilakukan Alfian. Rasa ngantuk mulai menyerang mungkin karena badannya sudah terasa agak enak rasa capek yang menyerangpun mulai hilang.
Tap
Tap
Tap
Sebuah langkah yang yang lumayan cepat oleh dua orang pemuda menuju ruang kerja Alfian. Keduanya berjalan beriringan.
Pintu ruang kerja itu lupa di tutup dengan rapat alias masih sedikit terbuka. Untung saja ruang kerja Pemilik Mall itu bukan berada diantara keramaian karyawannya, hingga tidak sembarang orang lewat di ruang kerjanya.
Ke dua pemuda itu hendak masuk akan tetapi terhenti oleh adegan dua insan yang membuat keduanya tidak jadi masuk ruangan tersebut. Handle pintu ditarik oleh asisten Alfian hingga pintu itu benar-benar tertutup.
Seorang pemuda yang berada di belakang Ziko heran karena bukannya minta izin masuk akan tetapi malah menutup rapat pintu itu.
"Kenapa Pak?" Tanya petugas keamanan yang ingin mengucapkan terimakasih pada Sang Bos karena bukannya dia dikeluarkan malah direkomendasikan di perusahaan inti dengan gaji yang berkali lipat.
"Mataku jadi panas." Kata Ziko yang sudah melihat kelakuan kedua insan tersebut.
Petugas keamanan itu hanya membelalakkan mata lebar-lebar karena tidak tahu dengan apa yang dimaksut sang Bapak Asisten yang tampan. Mereka berdua akhirnya menunggu di depan ruang kerja Alfian.
Seperti seorang penjaga mereka berdiri di kedua sisi pintu. Menyandarkan punggung mereka pada dinding karena merasa jenuh sudah menunggu keduanya.
Tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam.
Menunggu
Menunggu dan
Menunggu
Sang Asisten tidak pernah menunggu tapi kali ini ia dibuat menunggu oleh Bosnya. Membuang-buang waktu bisa dibilang seperti itu.
Kena marah pastinya jika membuang buang waktu seperti ini biasanya Sang Bos. Alfian sangat disiplin dalam setiap hal, termasuk dalam pekerjaan.
Kali ini entah setan apa yang merasuki Sang Bos hingga di dalam ruang kantornya melakukan sesuatu yang luar biasa seperti itu. Mau ditaruh dimana mukanya jika bos besar ketahuan memijat seorang gadis.
Buat dia dari pada gaji dipotong karena mengganggu mereka lebih baik menunggu hingga kutuan. Alfian selalu mengancam dengan mengurangi gajinya walaupun itu hanya sekedar candaannya.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Benda pipih yang ada dalam saku ce Ziko pun bergetar. Ia memasukkan tangannya hendak mengambil benda tersebut.
"Mau potong gaji dan hilang bonus!" Ancaman berupa pesan yang baru Bapak Asisten Dapat.
Asisten itu pun membulatkan mata sempurna membaca teks itu. Ia mengetikkan jawaban pada atasannya kemudian mengirimkannya.
Pemilik ruang kantor yang baru saja dijaga oleh kedua orang sahabatnya kini keluar tanpa rasa malu. Ia melihat kebenaran dari ucapan asistennya itu.
Dilihat dua orang sedang menunggunya di luar ruang kantor pribadinya. Sang pemilik akhirnya memutuskan untuk berbicara di ruangan yang lainnya karena takut mengganggu seorang gadis yang tadi bersamanya.
Siiit
Pintu ruang kantor itu tertutup kembali tanpa suara hanya dengan menggesekkan sebuah kartu. Ruang kantor milik Alfian memang disiapin ganda.
♥️♥️♥️144
Pintu ruang kantor itu tertutup kembali tanpa suara hanya dengan menggesekkan sebuah kartu. Ruang kantor milik Alfian memang disiapin ganda.
Mereka bertiga pergi meninggalkan sebuah ruangan yang didalamnya hanya ada seorang gadis cantik. Ketiga pemuda itu menuju ruang rapat yang tadi digunakan untuk mendisiplinkan karyawannya.
Mendisiplinkan dalam banyak arti terhadap masyarakat dimana sekarang mereka berada. Sebuah pendidikan untuk tidak memandang rendah orang lain.
Sang Pemilik berjalan mendahului kedua pemuda lain yaitu asisten dan yang satu lagi adalah petugas keamanan yang juga adalah teman ngegem disalah satu Klub di ibu kota. Bak layaknya seorang raja yang dikawal oleh kedua prajuritnya.
Pintu ruang rapat itu terbuka secara otomatis. Mereka bertiga masuk dalam ruangan itu.
Alfian berbicara dengan keduanya layaknya seorang pemimpin yang memiliki sebuah wibawa tinggi. Berbeda sekali saat mereka berada di luar layaknya seorang sahabat.
"Selamat Anda direkomendasikan di perusahaan lain di tempat saya dengan posisi dan gaji yang sesuai dengan kemampuan Anda." Kata Alfian sambil menjabat tangan petugas keamanan tersebut.
"Terimakasih." Jawab petugas keamanan tersebut dengan hati yang sangat senang.
"Selamat." Kata Ziko selaku asisten Sang Bos bergantian menjabat tangan petugas keamanan tersebut.
"Terimakasih." Jawabnya pada Pak Asisten.
"Asisten saya akan menjelaskan tugas apa saja yang bisa Anda kerjakan di sana." Kata Alfian tegasnya.
"Saya permisi dulu." Lanjutnya.
Pemilik mall itu pun langsung berdiri dari kursi kebesarannya dan beranjak meninggalkan ruang rapat. Ia langsung kembali menuju ruang kantor dimana terdapat seorang gadis yang tadi tertidur.
Di depan pintu ruang kantornya tanpa menggunakan apapun pintu langsung terbuka hanya dengan kode wajah saja. Teringat sebuah kartu untuk membuka ruang itu sengaja tadi ia tinggalkan di dalam sana.
Alfian yang baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan melihat gadisnya masih tertidur seperti seorang putri salju. Kulitnya yang seputih salju itu memang alami dimilikinya.
Pemuda ini menghampirinya gadis yang sedang tertidur di sofa dalam kantornya. Disingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sang gadis.
Merasa terusik Mentari pun membuka mata dan mengerjap beberapa kali. Gadis ini merasa linglung karena ia tidur bukan pada tempat biasanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Mentari dengan nada yang lumayan tinggi.
"Menghilangkan penat mu." Jawab Alfian singkat hingga sang gadis baru sadar posisinya sekarang.
"Maaf." Pinta Tari.
"Kenapa belum ganti baju?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Menunggu mu menggantikan baju untuk ku." Jawab Alfian.
Mentari membulatkan mata sempurna mendapat pernyataan dari Pemuda yang bersamanya sekarang. Ia tak menyangka Pemuda ini akan mengatakan hal itu.
Alfian berjalan menuju sebuah ruangan yang memang sudah didisain untuk meletakkan semua peralatan pribadinya jika darurat. Diambil kaos yang tadi dia gunakan saat masuk mall ini.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Di ruang sidang Asisten muda ini menjelaskan tugasnya kepada Petugas Keamanan secara detail. Petugas keamanan itu pun segera paham karena ia sangat cerdas.
"Paham?" Tanya Ziko singkat pada Petugas keamanan tersebut.
Petugas keamanan itu hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia sudah mengerti dengan semua yang dijelaskan oleh Asisten tersebut.
Kedua laki-laki itu keluar dari ruang sidang berjalan beriringan. Banyak karyawan yang merasa iri dengan Pemuda yang baru saja mendapat rekomendasi dari atasan mereka.
Keduanya bercakap-cakap saat ini, jika orang melihat mereka bisa berpikir kalau mereka berdua sudah lama kenal. Mereka menuju sebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
Makan siang terlewat kan karena masalah baru saja. Awalnya Pemuda yang bersamanya menolak makan bersama Ziko. Apalah daya Mas Asistennya memaksa.
"Anggap saja ini hadiah buat mu." Kata Ziko setelah mendaratkan pantatnya pada sebuah kursi.
"Terimakasih." Balasnya.
Seorang Pramusaji menghampiri mereka dan menanyakan pesanannya. Setelah Pramusaji itu pergi mereka melanjutkan percakapannya.
"Apa Pak Alfian seperti itu?" Tanya Petugas Keamanan.
"Maksutnya?" Tanya Ziko yang pura-pura tidak tahu maksut orang yang bersamanya saat ini.
"Ya seperti tadi di dalam ruang kantor." Jelas Pemuda yang bersama Ziko.
"Tahu." Jawab Ziko sambil mengendikkan bahunya.
"Ujung-ujungnya juga pasti jadi Bucin." Kata Petugas Keamanan.
"Terlihat sekali dari dalam ruangannya tadi." Lanjutnya.
"Tahu aja." Jawab Ziko.
Pesanan pun datang dan mereka mengakhiri percakapan mereka baru saja. Mereka lebih memilih makan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Di dalam ruang kantor Alfian bersin-bersin saat mengganti baju. Ia tahu pasti ada yang membicarakannya saat ini.
"Sakit ya?" Tanya seorang Gadis yang ada bersamanya saat ini.
"Periksa lah." Pinta Alfian.
"Ini pasti ada yang membicaraksn ku." Batin Alfian.
Gadis ini pun mendekat dan menyuruh Alfian untuk berbaring di sofa yang tadinya digunakan olehnya tadi pijat hingga tertidur. Tari juga tahulah yang namanya berterima kasih.
Pemuda tampan itu menuruti semua perkataan Mentari. Setelah berbaring Gadis itu menempelkan punggung tangannya pada dahi Alfian.
"Tidak demam." Katanya.
"Siapa bilang juga aku sakit." Kata Alfian beranjak dari sofa menuju kamar dalam ruang kantornya untuk menggantikan bajunya.
Berdiri lama berlenggang di depan cermin Pemuda ini sedang menilai penampilannya sendiri. Seperti seorang wanita yang sedang memperhatikan kecantikannya saat akan pergi berkencan.
Saat itu juga ia baru sadar kalau kedua orang bawahannya tadi melihatnya sedang memijat Tari. Malu bila ia harus dikarakan Bucin.
Ketahuan kalau Bos Besar mereka yang dingin dan selalu dengan ekspresi datar adalah seorang Bucin. Jika hal ini diketahui oleh lawan bisnisnya pastinya bisa digunakan untuk menjatuhkan Alfian.
Kedua temannya itu bisa dipercaya untuk menjaga rahasia Alfian. Ia tidak ingin sahabatnya itu memiliki masalah karena memang selama ini Alfian banyak membantu orang lain.
Mentari dengan sabar menunggu pemuda yang kini sedang mengganti pakaiannya di dalam kamar pribadi. Sambil menunggu ia berjalan-jalan di dalam ruang kantor Alfian.
Gadis ini akhirnya mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran Alfian. Ia penasaran dengan apa saja yang disimpan di dalam laci seorang laki-laki.
Jarang pergi ke kantor ini membuatnya penasaran dengan segala hal yang ada di sana. Wajar bagi seorang calon istri ingin mengetahui segala sesuatu tentang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Ceklek
Laci meja terbuka terbuka setelah beberapa saat Gadis ini mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran milik Alfian. Dilihat di dalam laci foto keluarga beberapa lembar dan beberapa arsip yang sangat penting.
Foto keluarga yang terlihat sangat bahagia. Foto itu mengingatkan tentang orang tua kandungnya ketika beliau masih hidup.
Butir bening mengalir tanpa disadarinya seiring dengan tangan yang mengambil foto itu. Dadanya terasa sesak mengingat hidupnya sendiri.
Seseorang tiba-tiba berjongkok di samping kanan mendongokkan kepalanya menatap wajah cantik yang sudah berlinang dengar air mata. Alfian mengusap pipi yang sudah sangat basah itu dengan tangannya.
♥️♥️♥️145
Pemuda itu sedang menunggu gadis yang ada bersamanya kini tenang hatinya. Lama sekali hingga tisu yang ada di atas meja kerja Alfian habis untuk membersihkan ingus yang keluar saat ia menangis.
"Kamu telah menghabiskan tisu ku!" Kata Alfian sambil meraba tisu yang ada di atas meja hanya tinggal wadahnya.
"Apa kamu bilang?" Tanya Tari dengan mengedarkan pandangan pada seluruh ruang kerja Seorang Pemuda yang saat ini bersamanya.
"Kamu harus menggantinya!" Titah Alfian.
"Baiklah hanya sekitar tisukan?" Tanya Gadis yang bersama Alfian saat ini tidak percaya atas yang diucapkannya barusan.
"Perhitungan sekali." Gerutunya yang masih bisa didengar oleh seorang Alfian.
"Wanita yang menjadi istrimu pasti akan menjadi kurus." Kata Tari ketus.
"Biarin aja kurus malah terlihat langsing." Balas Alfian.
"Bukannya terlihat langsing tapi terlihat gak keurus." Kata Tari.
"Gak mungkin orang percaya kalau istriku nanti gak keurus. Adanya kamu itu tambah melar itu body." Celetuk Alfian.
"Apa kamu bilang?" Tanya Tari dengan emosi yang sudah meletup-letup.
"Ya Iyalah tadi aja gue liat elu cantik-cantik makannya nambah banyak banget." Kata Alfian.
"Kalau porsi segitu mah body langsing bisa bikin gemuk. Gemuknya malah kayak bola." Lanjutnya.
Kedua insan yang berbeda jenis kelamin ini beradu mulut sangat sengit hingga mereka lupa waktu. Pertengkaran yang tiada habisnya membuat Tari yang tadinya sedih mengenang masa lalunya kini berubah menjadi anak singa yang super galak.
Merasa jenuh dengan adu mulut itu Tari mengambil tas yang tergeletak di sofa begitu saja. Ia berjalan keluar ruangan tapi hanya sampai di depan daun pintunya saja.
Kendali di ruangan itu semua yang tahu hanya pemiliknya saja, jadi gadis ini tak bisa melangkah lebih jauh. Ingat dengan semua itu Tari memutar badannya dengan cekatan.
"Buka pintunya." Pinta Tari sedikit keras.
__ADS_1
"Ok. Tapi dengan syarat patuh pada ku setelah keluar dari sini." Kata Alfian dengan senyumnya yang tidak jelas.
Pikiran pemuda ini sudah ingat dengan tujuannya awal datang ke mall ini. Membeli kaca mata tapi kaca mata untuk ditempatkan di tempat yang istimewa.