Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 65. Ketiganya kaget


__ADS_3

Ketiganya pun kaget dan membelalakkan mata. Mereka mengira Papa menyakiti Mama mereka.


"Mama gak papa?" Teriak Axel sambil mendorong tubuh papanya yang menempel ke mama mereka dalam upaya menyelamatkan sang Mama.


"Lindungi mama!!!" Lanjut kata-kata Axel pada kedua saudaranya.


Daffa dan Garda pun mendekati Mamanya dan berada di depan Mama menatap tajam pada Papanya.


"Yang bener tu ya, Mama tadi punggungnya sedikit pegel sayang, jadi dipijitin sama Papa." Jelas Mama (Sang Mama lagi bohong ☺☺☺)


"Axel, Daffa dan Garda anak-anak Papa ini bukan film Action sayang. Masak Papa mau nyakitin Mama. Kalian kan tahu Papa sayang banget sama Mama." Penjelasan Sang Papa yang panjang kali lebar.


Mama yang berada di belakang ketiga anaknya itu pun hanya tersenyum manis melihat Papa frustasi.


Mentari berjalan menuju kamarnya setelah ketiga adiknya pergi menuju ruang kerja Papanya. Ia hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Ponsel di nakas berbunyi tanda pesan masuk. Alfian ngapain malam-malam kirim pesan batinnya. Ia pun tidak membalas pesan itu. Kalau dibalas tak akan ada titik hentinya.


Pulas Mentari tidur, tak berapa lama Daffa dan Garda masuk ke dalam kamar Mentari setelah bersama Mamanya. Mereka ingin tidur bersama Kakak perempuannya.


Axel ingin tidur bersama Mama dan Papanya. Saat masuk kamar Adrean melihat Axel yang sedang tidur di pangkuan istrinya. Melihat itu Adrean mengacak rambutnya karena frustasi tidak bisa bermesraan dengan sang istri.


Memang sejak ketiga kurcaci itu tumbuh dewasa mereka tidak punya kesempatan untuk bermesraan.


Pagi hari telah tiba saatnya mereka bangun. Mentari sudah siap dengan sragam sekolahnya. Papa siap pergi ke kantor. Axel, Daffa dan Garda sudah siap menunggu sarapan mereka.


"Wuiiih rajin amat udah siap di meja makan duluan, kayaknya udah pada kelaparan nih ya?" Ledek Mentari.


Axel, Garda dan Daffa mengangguk bersamaan.


Mereka akhirnya sarapan bersama dan tidak lupa berdoa sebelum makan dan sesudah makan.


"Kaki Papa sepertinya menginjak sesuatu?" kata Adrean.


(Kira-kira apa ya coba tebak kakak-kakak yang baca novel ini)


Satu- dua- tiga mereka yang ikut makan di meja makan itu terkejut. Karena sangat terkejutnya mereka semua tertawa lebar.


"Axel doa mu terkabulkan." Ledek Garda.


"Bakso mu ketemu di injak Papa tu." Lanjut Daffa.


"Iya bener." kata Axel


Kebenaran mengenai hilangnya sebuah bakso akhirnya terungkap. Semua tertawa kembali mendengar perkataan Garda dan Daffa. Axel sangat malu mengingat kejadian tadi malam.


Mentari pamit berangkat sekolah dengan diantar sopirnya begitulah kesehariannya. Sampai di depan sekolah Alfian sudah menghadangnya.


Alfian: "Tar, tadi malem kenapa gak buka pesan ku."


Mentari: "Maaf tadi pagi aku lupa." sambil berjalan dengan cepat.


Alfian pun mengejar dan berusaha menghadangnya. Mentari berusaha menghindarinya.


Ziko memanggil Alfian yang saat itu berusaha menghentikan Mentari.


Penyelamatku datang hatinya berkata seperti itu. Mentari pun merasa aneh jika harus menghindar. Mungkin Ia takut karena sebentar lagi mereka tidak satu sekolah.


Alfian yang begitu tampan pasti banyak wanita yang menyukainya pikir Mentari. Perasaannya jadi tak menentu.


Alfian sampai pulang sekolah masih bertanya-tanya mengenai perubahan sikap Tari. Akhirnya ia menunggu sampai sekolah lumayan sepi. Ia tahu pasti Tari akan pulang terakhir.


Agak jauh dari pintu gerbang akhirnya Mentari lewat. Alfian menarik tangannya dengan pelan. Mentari pun terhenti, walaupun tidak begitu kuat menurut Alfian tapi membuat Mentari tidak bisa melangkah lagi.


Diam dan saling tatap, tanpa kata diantara mereka.


Beberapa menit berjalan.....


Alfian menatap mata indah Mentari dengan tajam. Mentari sampai melihat Alfian dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Lama keduanya terdiam. Hingga akhirnya Alfian mengatakan sesuatu yang membuatnya selama ini ingin menghindarinya. Takut dengan perasaannya.


"Aku akan selalu menjaga hatiku untuk mu." kata Alfian


Yakin dan Yakin


Sebuah kebenaran yang selama ini sulit untuk Alfian ucapkan sekarang sudah sangat jelas. Mereka akan saling berjauhan karena beda sekolah. Alfian pun takut akan kehilangan gadis sebaik dan secantik gadis dihadapannya.


Mentari mendengar pernyataan Alfian hanya diam terpaku. Ia tak dapat bicara, ia melihat dalam ke dalam mata Alfian. Ingin mengetahui sebuah kebenaran.


Luluh sudah hatinya. Ia percaya dengan sosok laki-laki dingin dihadapannya. Ia juga tahu kalau Alfian tidak mudah mengucap kata cinta pada seorang gadis.


Mentari akhirnya mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Alfian sendiri. Ia tidak ingin ada yang melihat hubungan mereka berdua.


Mentari tersenyum seperti mendapatkan kemenangan dalam kompetisi. Hatinya berbunga-bunga sampai mobil jemputannya yang sudah menunggunya tidak terlihat oleh matanya.


Alfian mematung melihat kepergian Mentari gadisnya yang sekarang sampai kapanpun. Ia berjanji akan menjaga anak singanya.


Mentari masuk ke mobil jemputannya. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang seperti biasanya. Sampai di rumah ia sudah disambut oleh ketiga kurcacinya.


Daffa melihat senyum sang kakak yang lebih dari biasanya.


Daffa: "Kakak menang lotre ya?"


Mentari: "Gak, emang kenapa Fa?"


Daffa: Senyumnya kok gitu banget sih?"


Axel: "Iya bener. Ini pasti ni ada udang di balik senyum kakak.


Mereka berempat tertawa geli.


"Masak apa nih Mama? Perut kakak udah laper." kata Mentari untuk mengalihkan pembicaraan.


Karena tidak ada jawaban Mentari akhirnya menuju lemari pendingin mengambil buah yang ada di dalamnya


Buah dimakan oleh Mentari untuk mengganjal perutnya. Ia berjalan menuju kamar hendak membersihkan diri. Capek hari ini tergantikan dengan kebahagiannya sekarang.


Axel, Daffa dan Garda menuju kamar kakak perempuannya. Mereka langsung berlari menghambur ke dalam pelukannya. Begitulah ketiga kurcaci itu tidak akan mengetuk pintu kalau mau masuk.


Ketiga saudara laki-laki Mentari ingin berlibur ke rumah nenek. Mereka mengutarakan maksudnya pada Mentari.


"Kak libulan ke lumah nenek yak?" Ajak Daffa


Axel dan Garda hanya menganggukkan kepala.


"It's ok." Jawab Mentari


"Yes." Balas ketiga Kurcaci


Mama baru masak di dapur. Mentari baru selesai mandi. Ia langsung menuju dapur membantu mamanya yang sedang masak.


Axel, Garda dan Daffa bermain di taman belakang. Mereka memanjat pohon mangga yang lumayan tinggi.


Dari kaca jendela dapur terlihat sekilas oleh mama mereka.


Deg


Mama berlari menghampiri mereka penuh rasa cemas. Ia berteriak meminta mereka untuk turun.


Mentari ikut berlari mengejar mamanya.


"Mah tenang mah, tenang." Pinta Mentari.


"Bagaimana bisa tenang Tar. Lihat mereka memanjat pohon lumayan tinggi." ucap mama


Mentari mencari cara agar ketiga adiknya itu bisa turun. Ia tahu mereka bisa naik tapi tidak bisa turun. (Apa kata dunia).


Ia akhirnya mencari seutas tali yang sangat kuat. Ia memanjat pohon mangga itu dan menalikan tali tersebut pada ranting yang besar dan kokoh.


Mama yang melihat Tari naik ke atas pohon jadi merasa kuatir, karena ia anak wanita. Tari meminta ketiga adiknya turun menggunakan tali yang diikatkan tadi.


Mentari turun terakhir tanpa menggunakan tali. Karena salah memanjat ia pun terpeleset. Mama berteriak histeris, ia melihat anak gadisnya jatuh. Mentari memang memiliki fisik yanbg cukup kuat hanya merasakan sedikit sakit. Tapi sang mama sudah menggemparkan seisi dunia.


Mama membantu anak gadisnya berjalan menuju kamar. Ia membaringkan tubuh anaknya itu.

__ADS_1


"Tar, mama panggilin dokter ya?" kata mama


"Gak usah ma, Tari gak apa-apa kok." balas Tari.


"Ya udah kamu istirahat aja."kata mama


Axel, Garda dan Daffa selesai mandi langsung ke kamar kakaknya. Mereka minta maaf membuat mama dan kakaknya khawatir.


Waktu makan malam papa baru saja sampai. Ia tidak melihat Tuan Putrinya itu. Rasa khawatir sejak tadi belum terjawab juga. Akhirnya ia bertanya pada istri tercintanya.


Saat baru sampai ketiga putranya langsung menghambur dalam pelukan sang papa. Mereka takut kena marah. Padahal Papa dan Mama mereka tidak pernah memarahi mereka. Hanya suatu nasehat yang selalu didengarnya.


Mama: "Pa cepat ke kamar Tari sana?"


Papa: "Emang ada apa Ma?"


Mama: "Lihat sendiri aja sana."


Papa naik ke lantai dua menuju kamar anak perempuannya.


Tok-tok-tok


Terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Perintah empunya kamar.


Papa melihat Tari yang baru duduk di tepi tempat tidurnya. Tiba-tiba ketiga jagoan mama langsung berlari masuk menuju kamar kakaknya dengan membawakan makan malam untuk sang kakak.


"Apa yang terjadi Tuan Putri?" Tanya Papa


"Gak ada apa-apa Pah." Jawab Tari sambil menyembunyikan sedikit rasa nyeri di pinggangnya.


"Aman kita." Daffa yang tiba-tiba nyeletuk.


Papa melihat ketiga kircacinya itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Papanya pun tahu Mentari selalu menyembunyikan kesalahan adik-adiknya selama tidak membahayak orang lain.


Adik-adik nya itu juga tahu kalau kakaknya sangat menyayangi mereka. Ketulusan sang kakak selalu membuat mereka bertiga merasa bersalah setiap kali mereka membuat ulah dan kakanya selalu melindunginya.


Mentari makan malam di kamarnya, walaupun sebenarnya ia ingin makan bersama di meja makan. Ia ditemani makan di kamar oleh ketiga saudaranya sebagai permintaan maaf mereka.


Papa pergi ke ruang kerjanya. Selesai makan Axel, Daffa dan Garda berjalan menuju ke kamar Papanya. Di sana cuma ada mama yang baru membuka laptopnya


Malam ma."Sapa mereka dengan wajah imutnya.


"Malam sayang." balas mama.


"Maaf ya Ma, tidak bisa menjaga kakak." kata Axel yang penuh penyesalan.


Mama hanya menganggukkan kepala.


Papa mendengar percakapan mereka. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam kamar memeluk ketiga anaknya. Ia memberikan nasehat kepada mereka.


"Ia adalah anak gadis yang layaknya dilindungi. Anak gadis sekuat apapun ia pasti lah rapuh."


Sebagai seorang laki-laki, mereka harus melindungi seorang wanita.


Malam semakin larut. Ketiga bocil itu menuju ke kamar Mentari. Mereka ingin tidur bersama sang kakak.


Mentari entah kenapa malam ini ia tidak bisa tidur. Ia kemudian berjalan dan duduk di sofa. Ketiga bocil itu sudah terlelap.


dreeeeet...... dreeeeeeet.


Ponsel Mentari bergetar di atas meja. Ia melihat sekilas siapa yang mengirim pesan.


(Coba tebak siapa yang mengirim pesan)


Tanpa membalas pesan yang masuk ke ponselnya, Mentari meneteskan air mata mengingat kenangan bersama ayah dan bundanya.


Pagi ini ia tidak masuk sekolah lagi. Alfian sudah menunggunya di sekolah sejak pagi. Ziko yang melambaikan tangan padanya hingga tidak dipedulikan. Akhirnya Ziko menghampirinya.


Ziko: "Hai, Al kamu kenapa? Muka lu ditekuk gitu."


Alfian: "Masuk cuma sehari


Ziko: "Siapa memangnya? Oh ternyata kamu lagi galau nih? Kirim pesan atuh." sambungnya.


Alfian tidak mempedulikan perkataan Ziko. Ia langsung menuju kelas dengan wajah kusutnya.


Hari ini sekolah memang pulang lebih awal. Alfian langsung menuju rumah Mentari. Dalam perjalanan ke sana Mentari sudah mengirim pesan balik. Tapi karena sudah berada di jalan ia tidak sempat membaca.


Bel pintu pun berbunyi.


Ting-Tong Ting-Tong


Mama membukakan pintu. Ia meminta Alfian masuk dan menunggu di ruang tamu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Mentari.


"Tar, tu ada Alfian di depan" kata mama.


Bukannya Mentari yang segera beranjak menghampiri Alfian malah para kurcaci yang berlarian saling berebut menghampiri si tampan. Segala pertanyaan memberondong dari ketiga kurcaci.


Mentari yang datang dengan berjalan lama dan berusaha menutupi sakit rasa sakitnya itu menghampiri Alfian dengan senyumnya. Begitulah Mentari ia tidak ingin orang lain tahu penderitaan, rasa sakit, dan rasa sedih yang dialaminya.


Alfian: "Tar, kenapa gak masuk lagi?"


Mentari: "Gak papa kok. Cuma kecapean."


Daffa: "Bohong kak Al kemalin kakak tatuh dali pohon."


Mama datang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka. Alfian dan Mentari saling diam untuk sesaat.


"Makasih Tante." kata Alfian


"Sama-sama, itu dimakan seadanya ya Al." Balas Mama


Mama pun meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Sedang ketiga bersaudara itu masih menjadi obat nyamuk untuk Alfian dan Mentari.


Percakapan berlangsung kembali.


Alfian: "Pesan semalam kok gak dibales?"


Tari: "Aku ketiduran. Tadi siang baru inget. Coba deh cek ponselnya."


Buah dimakan oleh Mentari untuk mengganjal perutnya. Ia berjalan menuju kamar hendak membersihkan diri. Capek hari ini tergantikan dengan kebahagiannya sekarang.


Axel, Daffa dan Garda menuju kamar kakak perempuannya. Mereka langsung berlari menghambur ke dalam pelukannya. Begitulah ketiga kurcaci itu tidak akan mengetuk pintu kalau mau masuk.


Ketiga saudara laki-laki Mentari ingin berlibur ke rumah nenek. Mereka mengutarakan maksudnya pada Mentari.


"Kak libulan ke lumah nenek yak?" Ajak Daffa


Axel dan Garda hanya menganggukkan kepala.


"It's ok." Jawab Mentari


"Yes." Balas ketiga Kurcaci


Mama baru masak di dapur. Mentari baru selesai mandi. Ia langsung menuju dapur membantu mamanya yang sedang masak.


Axel, Garda dan Daffa bermain di taman belakang. Mereka memanjat pohon mangga yang lumayan tinggi.


Dari kaca jendela dapur terlihat sekilas oleh mama mereka.


Deg


Mama berlari menghampiri mereka penuh rasa cemas. Ia berteriak meminta mereka untuk turun.


Mentari ikut berlari mengejar mamanya.


"Mah tenang mah, tenang." Pinta Mentari.


"Bagaimana bisa tenang Tar. Lihat mereka memanjat pohon lumayan tinggi." ucap mama


Mentari mencari cara agar ketiga adiknya itu bisa turun. Ia tahu mereka bisa naik tapi tidak bisa turun. (Apa kata dunia).


Ia akhirnya mencari seutas tali yang sangat kuat. Ia memanjat pohon mangga itu dan menalikan tali tersebut pada ranting yang besar dan kokoh.

__ADS_1


Mama yang melihat Tari naik ke atas pohon jadi merasa kuatir, karena ia anak wanita. Tari meminta ketiga adiknya turun menggunakan tali yang diikatkan tadi.


Mentari turun terakhir tanpa menggunakan tali. Karena salah memanjat ia pun terpeleset. Mama berteriak histeris, ia melihat anak gadisnya jatuh. Mentari memang memiliki fisik yanbg cukup kuat hanya merasakan sedikit sakit. Tapi sang mama sudah menggemparkan seisi dunia.


Mama membantu anak gadisnya berjalan menuju kamar. Ia membaringkan tubuh anaknya itu.


"Tar, mama panggilin dokter ya?" kata mama


"Gak usah ma, Tari gak apa-apa kok." balas Tari.


"Ya udah kamu istirahat aja."kata mama


Axel, Garda dan Daffa selesai mandi langsung ke kamar kakaknya. Mereka minta maaf membuat mama dan kakaknya khawatir.


Waktu makan malam papa baru saja sampai. Ia tidak melihat Tuan Putrinya itu. Rasa khawatir sejak tadi belum terjawab juga. Akhirnya ia bertanya pada istri tercintanya.


Saat baru sampai ketiga putranya langsung menghambur dalam pelukan sang papa. Mereka takut kena marah. Padahal Papa dan Mama mereka tidak pernah memarahi mereka. Hanya suatu nasehat yang selalu didengarnya.


Mama: "Pa cepat ke kamar Tari sana?"


Papa: "Emang ada apa Ma?"


Mama: "Lihat sendiri aja sana."


Papa naik ke lantai dua menuju kamar anak perempuannya.


Tok-tok-tok


Terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Perintah empunya kamar.


Papa melihat Tari yang baru duduk di tepi tempat tidurnya. Tiba-tiba ketiga jagoan mama langsung berlari masuk menuju kamar kakaknya dengan membawakan makan malam untuk sang kakak.


"Apa yang terjadi Tuan Putri?" Tanya Papa


"Gak ada apa-apa Pah." Jawab Tari sambil menyembunyikan sedikit rasa nyeri di pinggangnya.


"Aman kita." Daffa yang tiba-tiba nyeletuk.


Papa melihat ketiga kircacinya itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Papanya pun tahu Mentari selalu menyembunyikan kesalahan adik-adiknya selama tidak membahayak orang lain.


Adik-adik nya itu juga tahu kalau kakaknya sangat menyayangi mereka. Ketulusan sang kakak selalu membuat mereka bertiga merasa bersalah setiap kali mereka membuat ulah dan kakanya selalu melindunginya.


Mentari makan malam di kamarnya, walaupun sebenarnya ia ingin makan bersama di meja makan. Ia ditemani makan di kamar oleh ketiga saudaranya sebagai permintaan maaf mereka.


Papa pergi ke ruang kerjanya. Selesai makan Axel, Daffa dan Garda berjalan menuju ke kamar Papanya. Di sana cuma ada mama yang baru membuka laptopnya.


"Malam ma."Sapa mereka dengan wajah imutnya.


"Malam sayang." balas mama.


"Maaf ya Ma, tidak bisa menjaga kakak." kata Axel yang penuh penyesalan.


Mama hanya menganggukkan kepala.


Papa mendengar percakapan mereka. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam kamar memeluk ketiga anaknya. Ia memberikan nasehat kepada mereka.


"Ia adalah anak gadis yang layaknya dilindungi. Anak gadis sekuat apapun ia pasti lah rapuh."


Sebagai seorang laki-laki, mereka harus melindungi seorang wanita.


Malam semakin larut. Ketiga bocil itu menuju ke kamar Mentari. Mereka ingin tidur bersama sang kakak.


Mentari entah kenapa malam ini ia tidak bisa tidur. Ia kemudian berjalan dan duduk di sofa. Ketiga bocil itu sudah terlelap.


dreeeeet...... dreeeeeeet.


Ponsel Mentari bergetar di atas meja. Ia melihat sekilas siapa yang mengirim pesan.


(Coba tebak siapa yang mengirim pesan)


Tanpa membalas pesan yang masuk ke ponselnya, Mentari meneteskan air mata mengingat kenangan bersama ayah dan bundanya.


Pagi ini ia tidak masuk sekolah lagi. Alfian sudah menunggunya di sekolah sejak pagi. Ziko yang melambaikan tangan padanya hingga tidak dipedulikan. Akhirnya Ziko menghampirinya.


Ziko: "Hai, Al kamu kenapa? Muka lu ditekuk gitu."


Alfian: "Masuk cuma sehari


Ziko: "Siapa memangnya? Oh ternyata kamu lagi galau nih? Kirim pesan atuh." sambungnya.


Alfian tidak mempedulikan perkataan Ziko. Ia langsung menuju kelas dengan wajah kusutnya.


Hari ini sekolah memang pulang lebih awal. Alfian langsung menuju rumah Mentari. Dalam perjalanan ke sana Mentari sudah mengirim pesan balik. Tapi karena sudah berada di jalan ia tidak sempat membaca.


Bel pintu pun berbunyi.


Ting-Tong Ting-Tong


Mama membukakan pintu. Ia meminta Alfian masuk dan menunggu di ruang tamu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Mentari.


"Tar, tu ada Alfian di depan" kata mama.


Bukannya Mentari yang segera beranjak menghampiri Alfian malah para kurcaci yang berlarian saling berebut menghampiri si tampan. Segala pertanyaan memberondong dari ketiga kurcaci.


Mentari yang datang dengan berjalan lama dan berusaha menutupi sakit rasa sakitnya itu menghampiri Alfian dengan senyumnya. Begitulah Mentari ia tidak ingin orang lain tahu penderitaan, rasa sakit, dan rasa sedih yang dialaminya.


Alfian: "Tar, kenapa gak masuk lagi?"


Mentari: "Gak papa kok. Cuma kecapean."


Daffa: "Bohong kak Al kemalin kakak tatuh dali pohon."


Mama datang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka. Alfian dan Mentari saling diam untuk sesaat.


"Makasih Tante." kata Alfian


"Sama-sama, itu dimakan seadanya ya Al." Balas Mama


Mama pun meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Sedang ketiga bersaudara itu masih menjadi obat nyamuk untuk Alfian dan Mentari.


Percakapan berlangsung kembali.


Alfian: "Pesan semalam kok gak dibales?"


Tari: "Aku ketiduran. Tadi siang baru inget. Coba deh cek ponselnya."


Alfian walaupun tidak melihat ponselnya ia percaya sepenuhnya pada Tari.


Mentari terpaksa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Alfian. Ya karena tadi adiknya juga ngapain keceplosan.


(Kejawabkan sekarang yang mengirim pesan tadi malem pada tokoh utama.)


Terdengar sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Papa pulang awal banget karena rapat di ditanda besuk. Hari ini pula di kantor tidak ada jadwal penting.


"Siang Om" sapa Alfian


"Siang Al, lho kok udah sampai sini? Sekolah emang sekarang pulang awal ya?" Tanya Papa


"Hari ini ada rapat guru jadi anak-anak pulang lebih awal."jawab Alfian.


"Lama gak kesini Al?" tanya Papa


"Iya Om baru ngurus wisuda dan cari Universitas."Jawab Alfian


Alfian mengutarakan maksut kedatangannya. Ia merasa khawatir pada Mentari karena cuma sekali ia masuk sekolah.


Saat semua sedang asik berbincang termasuk mama, Axel berlari keluar menuju taman. Tepat di bawah pohon mangga. Entah apa yang menarik di sana.


Di taman itu memang terawat sangat baik. Rumput yang sangat dipangkas rapi, banyak pohon rindang, bunga-bunga yang indah. Nyaman untuk bersantai.


Daffa: "Pa, kak Exel mana?"


Papa: "Bermain di luar kali."

__ADS_1


__ADS_2