
Karena tolakan Sinta berkali-kali, Dodi ledek oleh temen-temennya. Biasanya jadi incaran cewek, ditolak sama Sinta.
"Berapa sih harga lo?" Tanya Dodi.
Sinta hanya tersenyum meninggalkan Dodi. Dodi pun menarik tangan Sinta hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Dita yang baru datang dari toilet kaget melihat Sinta dan Dodi. Sinta mengalami pendarahan yang hampir membuat calon babynya meninggal. Dita langsung berlari menghampiri Sinta dan mencoba menolongnya.
Dodi: "Ternyata elu hamil gak ada tu bapaknya."
Dita: "Jaga mulut lu Dodi!"
Dodi: "Wanita murahan tapi dengan ku sok jual mahal."
Dita: "Sinta sabar. No. Suami elu berapa?"
Sinta: "XXXXXX"
Sambil menahan sakit Sinta menyebutkan nomor ponsel suaminya.
Sinta kaget saat tahu kalau Dita sudah tahu ia bersuami. Dita sambil marah mengancam Dodi "Elu akan nyesel kalau tahu siapa suaminya!" Kata Dita
Adrean yang berada di kantor langsung menuju kampus Sinta. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ia takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon anaknya.
Sinta sudah sangat kesakitan dan wajahnya sangat pucat. Adrean sampai di kampus langsung menggendong Sinta masuk mobil. Ia meminta Dita mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Adrean tahu Dita pandai mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Adrean.
"Maaf Tuan tadi nona saya tinggal ke toilet." Jawab Dita.
Sampai di Rumah Sakit mereka langsung disambut oleh semua dokter, perawat dan petugas yang ada di Rumah Sakit itu. Karena itu adalah Rumah Sakit milik Adrean.
Kamar VIP pun telah disiapkan. Kamar yang begitu besar dengan corak yang begitu elegan. Sinta pun langsung ditangani oleh dokter terbaik.
Sinta tidak sadarkan diri sudah beberapa jam. Adrean menjadi sangat khawatir. Ia akhirnya memeluk Sinta yang sedang tidak sadarkan diri.
Rasa takut akan kehilangan orang yang sangat dia cintai membuat kristal bening dari matanya jatuh mengenai wajah cantik istrinya. Akhirnya Sinta sadar dari pingsan. Ia mengusap air mata suaminya. Sinta tidak ingin melihat air mata suaminya.
Sinta: "Masak Sang Pangeran menangis."
Adrean: "Siapa bilang pangeran mu ini menangis."
Sinta: "Kalau menangis siapa nanti yang akan melindungi Permaisurimu ini?"
Adrean: "🙂🙂🙂" hanya tersenyum tipis
Sinta: "Berjanjilah jangan pernah menangis di depan orang lain."
Dita yang menunggu di luar merasa khawatir dengan keadaan Sinta. Sahabat terbaiknya selama ini. Ia sudah menganggapnya sebagai orang saudara.
Briyan dihubungi oleh Adrean untuk segera menyelesaikan masalah yang baru saja terjadi. Briyan pun segera melaksanakan tugad itu.
*** *** ***
Dodi ketakutan karena perbuatannya baru saja. Ia ingat siapa orang yang menolong Sinta baru saja. Ia melihat pandangan Adrean yang sangat tajam padanya.
"Mampus gue membangunkan singa tidur." Kata Dodi.
Dodi tahu kekejamannya di dunia bisnis. Adrean sangat berpengaruh. Bahkan di bawah kendalinya.
*** *** ***
Mentari selama beberapa bulan ini merasa semakin dekat dengan Alfian. Sejak Kak Adrean mengantarnya pulang mereka sering bertemu. Sering kali mereka pergi ke perpustakaan bersama. Terkecuali ke kantin mereka tidak pernah makan di sana. (Boros nanti.😊😊😊)
Ada teman yang tidak suka dengan kedekatan Mentari dengan Alfian. Ia hanya menunggu waktu saja untuk merubah persahabatan mereka.
Setelah Sinta sadar, Adrean baru memberikan kabar pada Ayah dan Bundanya. Mereka sangat terkejut. Ayah langsung pulang ke rumah menjemput Bunda.
Bunda kaget saat suaminya pulang. Katanya hari ini ada beberapa rapat penting. Ayah pun menjelaskan kalau Sinta masuk Rumah Sakit. Bunda segera bersiap-siap ikut pergi ke rumah sakit menjenguk Sinta.
*** *** *** ***
Sinta yang sedang berbaring di rumah sakit menanyakan tentang sahabatnya Dita. Dita kemudian diminta masuk oleh Adrean.
Sinta: "Maaf ya Dit merepotkan mu?
Dita: "Tidak apa-apa Sin, kita kan sahabat."(Ia berharap agar Sinta tidak mengingat percakapannya dengan Adrean)."
Sinta: "Dari mana kamu tahu aku sudah punya suami Dit? Aku kan tidak pernah cerita sama kamu."
Adrean sudah merancang berbagai macam alasan untuk membeladiri. Ia tahu Istrinya tidak mau diperlakukan istimewa. Kalau ketahuan pasti ia akan marah.
Dita: "Beberapa hari ini aku perhatikan di jari kamu memakai cincin kawin."
Sinta: "Tapi tadi sempat aku dengar kamu panggil suamiku dengan sebutan Tuan."
Dita: "Sinta, aku harus panggil dia apa? Masak aku harus panggil suamimu dengan namanya. Kan ya gak sopan banget gitu, dengan pakaiannya yang serba Waaah."
Sinta: "Makasih ya udah nolongin aku."
Dita: Sama-sama. Kita kan sahabat. Ya udah aku pulang dulu. Kalau aku di sini terus kamu kapan istirahatnya.
Adrean merasa aman dengan jawaban Dita. Tidak lama ponsel Dita berbunyi tanda ada pesan masuk. Pesan dari Tuan Adrean yang akan menambah gajinya karena dengan baik menutupi semuanya.
Dita sudah menganggap Sinta sebagai adiknya sejak mereka berkenalan. Ia menolak kenaikan gajinya karena ia menganggap Sinta sebagai sahabatnya kalau tahu ia suruhan Tuan maka Saya juga kena imbasnya. Hubungan dengan Nona pasti akan semakin jauh kata Dita.
Adrean jadi merasa beruntung istrinya punya sahabat yang sangat baik seperti Dita.
Setelah kepergian Dita, Briyan datang menjenguk Sinta. Tapi di sana ia juga mencari sesosok Dita.
Adrean: "Cari siapa lho Bry?"
Briyan: "Ya cari orang yang mau gue jenguk lah." (sangkalnya).
Adrean: "Sinta ada di situ tu, ngapa mata lo cari kemana-mana."
Briyan: "Tahu sendiri lah Yan." (sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal)
Sinta akhirnya tahu Briyan sedang mencari Dita. Ia mendukung hubungan mereka toh Dita juga baik orangnya.
Ayah dan Bunda yang datang dengan hebohnya. Seluruh ruangan dipenuhi dengan suara Ayah dan bundanya karena sangat khawatir dengan Sinta yang sedang mengandung.
Beberapa jam mereka berbincang, sepertinya ada yang melupakan Tuan Putrinya. Adrean Menghubungi nomor Mentari tapi tidak tersambung. Akhirnya ia menghubungi Alfian, Mentari sedang bersamanya menunggu jemputan. Ia berpesan agar Mentari menunggu sebentar, tapi Alfian tanpa sadar menanyakan sebab keterlambatannya menjemput Tari.
Alfian memutuskan untuk mengantar Mentari sampai di Rumah Sakit setelah mengetahui alasan Kakaknya Tari. Sekalian menjenguk Kak Sinta.
Mentari dan Alfian sampai di rumah sakit. Ayah dan Bunda merasa heran melihat anaknya membawa teman.
Adrean melihat reaksi kedua orang tuanya. Mereka mencemaskan segala sesuatu kemungkinan.
Adrean hanya memberikan kode pada kedua orang tuanya. Mereka sudah tahu dan paham maksut anaknya.
__ADS_1
Bunda: "Sayang itu temen mu?"
Tari: "Iy... iya Bun. Maaf."
Ayah: "Anak ku sekarang sudah punya temen ni." (ledeknya)
Adrean berterimakasih pada Alfian karena telah mengantar Tuan Putrinya. Adrean meminta Tari untuk mempersilahkan Alfian duduk karena sejak tadi dia hanya berdiri.
Tampan juga pikir sang Ayah dan Bunda. Selama ini memang tidak ada sahabat yang diajak bertemu dengan mereka.
Alfian merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak ia rasakan. Sendau gurau dalam ruangan itu membuat sinta tidak bisa istirahat. Namun hatinya terlihat sangat senang.
Waktu yang menunjuk pukul 8 malam membuat kedua orang tua Alfian cemas. Tidak ada kabar dari anak semata wayangnya itu. Mereka terus menghubungi ponselnya namun tidak dijawab. Ponsel selalu berada dalam tasnya.
Alfian merasa nyaman berada diantara keluarga itu. Mereka tidak menyinggung apapun tentang jati dirinya.
Alfian berpamitan, ia merasa tidak enak karena sudah larut malam. Keluar dari ruangan itu ia langsung melihat ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab. 😞😞😞
Lupa deh gue memberi kabar.
Alfian bergegas menuju mobilnya. Sopir segera mengantarnnya pulang. Sesampainya di rumah Ia langsung menemui orang tuanya yang sangat cemas.
Alfian: "Deddy, Mammy maaf tadi aku lupa memberi kabar."
Daddy: "Sudah lah, yang penting jagoan daddy gak kenapa napa. Lain kali kasih kabar ya?"
Mammy: "Memangnya Sang Jagoan Mammy ini dari mana sampai lupa memberi kabar?"
Alfian: "Dari nganter temen jenguk Kakaknya yang baru kena musibah."
Kedua orang tua Alfian berpikir pasti temannya ini sangat istimewa. Tidak biasanya ia merelakan waktunya untuk orang lain tanpa memberi kabar.
Daddy Alfian sebenarnya sudah tahu dari anak buahnya. Sengaja ia menyembunyikan dari Mammy.
Keluarga Tuan Richat juga pamit pulang tidak lama setelah Alfian pergi. Dalam perjalanan pulang Mentari digoda oleh kedua orang tuanya.
Mentari bilang pada mereka kalau ia dan Alfian sering bertengkar masalah sepele. Kedua orang tuanya hanya tersenyum.
*** *** *** ***
Hanya satu ruangan yang paling besar di Rumah Sakit. Ruangan khusus untuk keluarga demi pemilik Rumah Sakit. Mereka sekarang tinggal hanya berdua di ruangan itu. Tempat tidur sebenarnya juga tidak hanya satu. Tempat tidur yang paling besar itu ditempati oleh Sinta.
Adrean: "Say, aku rasa tempat tidurnya cukup luas buat kita berdua."
Sinta: "Ya memang besar Sih. Kenapa memang?"
Adrean: Ya aku maunya tidur satu ranjang lah sama kamu."
Sinta: "Dasar mesum."
Sinta langsung melihat Adrean dengan tajam. Ia masih di pasangi infus.
Adrean naik ke atas tempat tidur itu. Sinta hanya menatapnya saja. Ia tahu suaminya sekarang tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya.
Pintu kamar Sinta akhirnya di kunci dengan remot oleh Adrean. Sang istri tidur dengan posisi miring. Suaminya pun mengeluh.
Adrean: "Haduh, gak ada kecupan selamat malam nih."
Sinta: "Ini rumah sakit sayang."
Adrean: "Ayo lah gak ada yang ngintip kali."
Adrean sudah menghubungi dokter sebelum melakukannya. Tidak ada masalah kata dokter itu. Akhirnya ia sendiri yang melepaskannya. Sang istri merasa kaget dengan perlakuan suaminya. Tapi Sinta percaya pada sang suami.
Setelah dilepaskan Adrean sedikit memaksa Sinta mel***at bibirnya. Istrinya juga sangat menikmati itu. Adrean kecil mulai bereaksi tapi Adrean harus menahannya. Mereka tidak boleh melakukannya selama beberapa waktu karena pendarahan itu.
Pagi ini Sinta sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Sinta untuk sementara waktu harus banyak istirahat. Mereka berkemas pulang.
Briyan sedang mengurus Dodi. Ia dijebloskan ke penjara atas dasar pelecehan. Untuk menjebloskan ke jeruji besi bukan lah hal yang sulit baginya.
Dodi yang mendekam di penjara itu masih menginginkan Sinta. Hingga akhirnya Erika mendapatkan informasi tentang Dodi.
Waktu terus berjalan kini usia kandungan Bunda sudah sembilan bulan. Sudah waktunya untuk melahirkan.
Sinta yang kandungannya masih tujuh bulan sudah terlihat sangat besar. Bahkan melebihi besar perut Bundanya.
Mentari sangat senang karena akan memiliki seorang adik. Eh salah lebih dari satu.
Saat berkunjung ke dua Bumil ini dikatai akan melakukan drum band. Mayoretnya Mentari aja lah ya.
Setiap waktu libur Alfian sering mengunjungi rumah Mentari. Mereka tetap menjalankan sistem keamanan seperti biasa. Semakin hari Mentari dan Alfian semakin dekat.
Mentari yang kelasnya sudah makin melesat kurang dua tahun lagi akan lulus. Alfian bulan ini sudah ujian kelulusan.
**** ****
Erika menemui Dodi dipenjara. Ia melakukan penawaran. Dodi akan dibebaskan kalau mau membantunya. Dodi menyetujui hal itu.
Sinta yang sedang hamil tua tetap ingin melanjutkan kuliahnya. Saat berangkat ia hanya melihat sekilas Erika dan Dodi dalam satu mobil. Salah lihat pikir Sinta.
Bunda tiba-tiba menghubunginya. Ia ingin mengajaknya membeli perlengkapan bayi mulai dari karakter bayi laki-laki sampai perempuan.
Semua dibeli karena Bunda dan Sinta tidak tahu jenis kelamin anak-anak mereka. Setiap kali jadwal kontrol mereka tidak pernah melakukan USG.
Sopir sudah siap mengantar Bunda dan Sinta. Sopir mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang.
Na'as dijalan memang sengaja Dodi mengendarai motor dengan cepat, sedangkan Erika dari arah lain tepar menuju mobil Bunda dan Sinta.
Sopir Bunda mencoba menghindari mobil dan motor yang dikendarai Erika dan Dodi. Sayangnya Sopir itu menghindar tidak tepat sehingga menabrak sesuatu yang mengakibatkan benturan keras. Kedua wanita hamil ini mengalami pendarahan yang sangat. Sopir pun terluka parah.
Warga mencoba menghubungi ponsel Adrean dan Ayah. Meraka sangat syok dengan kejadian ini.
Sinta dan Bunda segera dilarikan ke rumah sakit. Ayah dan Adrean sangat khawatir.
Dokter keluar dari ruang UGD. Kedua suami ini langsung menanyakan keadaan istri-istri mereka.
Dokter mengatakan kalau keduanya harus operasi cesar. Adrean dan Ayah langsung menyetujui tindakan dokter itu.
Golongan darah yang sama harus segera disiapkan, sedangkan golongan darah untuk kedua wanita hamil ini diberbagai rumah sakit dan PMI sedang kosong. Memang golongan darah mereka sangat langka.
Rasanya Adrean ingin sekali menangis. Akan tetapi ia masih ingat dengan kata-kata Istrinya.
Mentari yang saat itu sedang berada di sekolah merasa tidak bisa konsentrasi. Waktu istirahat pun ia jadi teringan dengan kedua orang yang sangat disayangi. Alfian datang menghampirinya tidak ia pedulikan sama sekali.
Ayah mengendarai mobil sendiri menuju sekolah Mentari. Ia ingin mengabarkan berita itu sendiri pada Mentari. Ia tahu anaknya tidak akan sanggup mendengar berita kecelakaan itu. Tapi na'as di tengah jalan kecelakaan itupun tak dapat dihindarkan.
Tuan Richat mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia melewati jalan pintas yang sepi. Saat mengandarai ada seekor kucing yang melompat di depan mobilnya. Karena kaget Ia membanting stir mobil ke kiri jalan hingga menabrak tiang listrik.
Benturan keras mengakibatkan tiang litrik itu menimpa mobil milik Tuan Richat. Seketika Tuan Richat meninggal di tempat.
*** *** ***
Perasaan Mentari semakin campur aduk. Pikirannya entah kemana. Rasanya ia ingin cepat pulang menemui keluarganya.
__ADS_1
Alfian yang biasanya bertengkar dengan Mentari hari ini melihat suasana hati Mentari yang tidak enak. Anak gadis yang biasanya meladeni semua candaan Alfian hari ini justru tidak tahu kenapa ia justru mendapat tangis.
*** *** ***
Adrean di rumah sakit sedang menunggu Istri dan Bundanya. Ponsel beberapa kali berdering tidak terjawab.
Berita mengenai musibah keluarga Tuan Richat sudah sampai kemana-mana. Berita kecelakaan Tuan Richat sudah terdengar kemana-mana. Apalagi Erika yang tidak mau ketinggalan informasi keluarga tersebut.
Sasaran berikutnya anak satu-satunya Tuan Richat yaitu Mentari. Mentari tidak suka dengan Erika sehingga ia harus dimusnahkan dari pada menjadi penghalang.
Adrean yang tidak tahu mendapat panggilan dari anak buah Tuan Richat untuk memberitahukan kalau terjadi kecelakaan padanya.
Tuan Richat langsung dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit seorang perawat langsung menuju tempat dimana Adrean berada. Ia memberitahukan bahwa Ayahnya baru saja mengalami kecelakaan.
Adrean sangat marah karena tidak ada yang memberitahukannya. Salah satu orang kepercayaan Tuan Richat mencoba menjelaskan kalau dia sudah berusaha menghubunginya tapi tidak diangkat.
Adrean melihat ponselnya memang benar ada banyak panggilan tak terjawab. Pikiran Adrean sudah sangat bercabang.
Mentari tidak tahu kenapa meneteskan air mata. Itu terlihat oleh Ziko teman Alfian.
Saat itu Ziko dan Alfian sedang latihan P3K. Ziko yang matanya suka lalu lalang melihat teman-temannya ceweknya tanpa sengaja menangkap sosok Mentari.
Ziko: "Al Al lihat cewek lo?" Sambil menyikut tangan Alfian.
Alfian: "Kenapa emang. Fokus latihan kenapa?"
Ziko: "Lihat dulu bentar kenapa?"
Alfian: "Mata lo gak jelalatan dulu kenapa? Lihat cewek mulu." (bentak Alfian)
Ziko: "Yau udah, jangan nyesel lo ya?"
Alfian merasa memang sejak tadi Mentari bersikap aneh. Sesaat ia kemudian melihat Mentari baru menangis di dekat toilet.
Alfian berlari menghampirinya. Baru sampai dan belum sempat bertanya Mentari tidak sadarkan diri.
Sepi tidak ada orang, akhirnya Alfian sendiri yang menggendong Mentari ke UKS. Sampai di UKS Ia ditanya banyak hal oleh petugas UKS.
Petugas UKS: "Al apa yang elu lakuin ke tu cewek?"
Alfian: "Gue gak apa-apa in."
Petugas UKS: "Ngaku aja deh Al."
Alfian: "Udah deh, kalau elu gak segera tanganin, biar gue yang tanganin."(Bentak Alfian)."
Alfian terlihat sangat cemas. Petugas UKS merasa heran pada Alfian yang begitu cemas. Hubungan antara Alfian dan Mentari menjadi tanda tanya mulai hari ini di sekolah.
Alfian memang cowok paling populer di sekolah itu. Tampan dan pintar tapi dingin.
Mentari adalah cewek yang paling cantik, menawan, dan pintar. Ia adalah gadis yang periang.
Ziko akhirnya datang ke UKS. Ia bertanya pada Alfian. Alfian menyalahkan Ziko karena keterlambatannya bilang.
Alfian: "Zik, kenapa elu gak bilang kalau Tari nangis."
Ziko: "Gue udah bilang sama elu, tapi elunya yang gak mau tahu."
Alfian: "Yaudah gue minta tolong sama elu, ambilin ponsel gue di tas."
Ziko: "Ok."
Mentari yang dibaringkan di tempat tidur semua perlengkapan sekolah dikendorkan termasuk ikat pinggang. Alfian mengoleskan minyak angin di badan badan Mentari.
Ziko datang dengan membawa ponsel Alfian. Alfian pun segera menghubungi Adrean, karena hanya no Adrean yang ia punya.
Adrean terkejut Alfian menghubunginya. Perasaan Adrean menjadi semakin tidak enak. Alfian memberitahu kalau Mentari pingsan.
Adrean semakin sedih sampai ia tidak bisa menangis. Ia berpesan pada Alfian agar menjaga Mentari untuk sementara waktu.
Suara sedih sangat terdengar jelas di telinga Alfian. Bahkan melarangnya pulang ke rumah untuk sementara waktu.
Alfian menghubungi sang Deddy untuk mencari tahu alasan kenapa Kakaknya Mentari berbuat seperti itu. Tidak butuh lama buat mereka mencari informasi.
Mentari akhirnya sadar. Ia heran kenapa bisa berada di UKS. Ia baru ingat kalau ia tidak sadarkan diri.
Pada waktu yang sama pula Deddy menghubungi Alfian. Ia memberitahukan tentang kabar duka yang dialami oleh keluarga Mentari.
Alfian hanya menduga kalau Mentari belum tahu berita mengenai keluarganya. Sedangkan Mentari sudah merasakan perasaan yang tidak enak.
Alfian bingung Mentari akan dibawanya kemana. Waktu jam sekolah hampir habis. Ia tidak boleh tahu mengenai kejadian yang menimpa keluarganya dahulu.
*** **** ****
Adrean akhirnya mendapatkan donor darah untuk Istri dan Bundanya. Ia langsung menandatangani persetujuan operasi sesar Iatri dan Bundanya. Sambil menunggu operasi selesai Adrean mengurus jenasah Ayahnya.
"Tuan Putri maafin Mas Ganteng mu. Saat ini kamu harus sendirian." Lirih Adrean. Dalam hati ia terus saja berdoa untuk keselamatan Bunda dan istrinya.
Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang operasi. Bunda dan Sinta operasi bersama di ruang berbeda.
Seorang dokter yang mengoperasi Bunda keluar dengan wajah yang sedih.
"Selamat Tuan bayinya laki-laki lahir dengan sehat, tapi sayang ibunya tidak bisa diselamatkan." Kata Dokter.
Adrean langsung lemas tak berdaya mendengarnya.
Tidak menunggu waktu lama terdegar dua bayi menangis di ruang operasi Sinta. Dokter pun keluar dan memberikan ucapan selamat kepada Adrean bayinya kembar laki-laki.
Walaupun usia kandungan Sinta 7 bulan tapi bayinya sehat-sehat. Sinta masih belum sadarkan diri.
Adrean memberikan kabar pada ibunya kalau Sinta sudah melahirkan. Sang ibu terkejut Adrean pun menjelaskan kejadiannya.
Ibu segera berangkat dari kota Bandung. Ia yakin Adrean sangat kesulitan jika harus mengurus Mentari dan istrinya.
Alfian harus mengajak Mentari ke rumah karena itu adalah pilihan satu-satunya. Walaupun sering kali bertengkar tapi hati Alfian sudah terikat pada gadis disampingnya itu. Gak masalah dong. 😊😊😊😊
Alfian: "Tar maaf kamu harus ikut aku ke rumah."
Mentari: "Lho kenapa? Aku gak mau." tolaknya
Alfian: "Kak Adrean yang minta tadi. Meraka gak bisa jemput kamu."
Alfian akhirnya menghubungi nomor Adrean. Mentari ingin bicara sendiri dengan kakaknya. Adrean sebisa mungkin menutupi kesedihannya saat itu.
Adrean memang berkata ia harus ke rumah Alfian dulu. Nanti akan dijemput sendiri oleh kakak sendiri.
Alfian akhirnya mengajak Mentari pulang ke rumahnya. Ziko protes dengan hal itu. Alfian menatap Ziko dengan tatapan yang begitu tajam.
Sopir Alfian datang, Mentari terlihat sangat lemas. Alfian dan Mentari masuk dalam mobil. Ziko hanya diam terpaku.
Alfian: "Lo gak mau bareng pulang?"
Ziko: "Gue takut sama elu."
__ADS_1
Alfian: "Maaf, ya udah masuk."
Ziko akhirnya ikut masuk dalam mobil. Ia melihat Alfian dan Mentari melalui kaca depan mobil. Dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.