
Mereka berdua menaiki motor itu perlahan memecah jalanan kota. Udara kota yang panas dan penuh dengan debu yang beterbangan itu tidak membuat jera wanita paruh baya yang tengah hamil muda itu.
Wanita itu justru sangat menikmati suasana sekarang ini dengan rasa senang di hatinya. Seseorang dengan status sosial seperti dia mungkin takut hitam dan selalu melakukan perawatan.
"Mammy pegangan dong." Teriak Deddy saat sang istri mulai mengendorkan pegangan tangan yang melingkar di pinggang suaminya.
"Kalau terlalu erat aku gak bisa napas Deddy." Kata Mammy membuat sebuah alasan.
Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra. Itu mungkin lagu tembang kenangan. Hujan yang rintik-rintik diawal bulan ini. Ini memang musim penghujan.
Laki-laki itu sangat khawatir dengan keselamatan istrinya hingga harus mengurangi kecepatan motor yang ditumpangi mereka. Sang istri tahu kalau Deddy belum tahu tempat lapaknya Abang gondrong hingga sepanjang jalan dia memberikan arah petunjuk.
Mereka berdua sudah sampai pada tempat tujuannya walaupun jantung Laki-laki itu seperti ingin melompat dari dalam badannya takut akan terjadi sesuatu pada sang istri. Motor itu diparkirkan di dekat sebuah taman tidak jauh dari tempat mangkal penjual penthol Abang Gondrong.
"Mammy kenapa harus makan ditempat ini?" Batin Deddy yang melihat tempatnya sangat terbuka sudah jelas banyak debu beterbangan hingga mengenai makanan yang ada di sana.
"Gak sehat makan di tempat seperti ini." Lanjutnya.
Banyak pasang mata memperhatikan sepasang suami istri yang sangat asing. Mereka berdua memang belum pernah datang ke tempat ini.
"Bang aku mau pentholnya dong." Pinta Mammy pada Bang Gondrong.
"Berapa porsi Bu?" Tanya Bang Gondrong.
"Seporsi aja deh Bang." Jawab Mammy yang sudah melihat raut wajah suaminya yang tidak berselera makan di sana.
"Bang....." Panggil Mammy.
"Iya Bu." Jawab Bang Gondrong.
"Aku maunya mienya dibanyakin ya?" Pinta Bunda.
"Beres." Jawab Abang Gondrong.
"Ini orang baru dari mana sih? Penampilannya terlihat banget kalau mereka orang kaya, tapi kenapa makan beginian?" Batin Abang Gondrong.
Menunggu pesanan istrinya yang baru dibuat Deddy berkutat dalam pikirannya sendiri. Rasa tidak nyaman makan di tempat terbuka ia sudah terbayang akan muncul berbagai macam penyakit muncul.
"Pantes yang jual penthol aja rambutnya *ikal dan panjang tebel pula gak salah lapaknya dikasih nama Penthol Abang Gondrong." Batin Deddy.
"Tapi sepertinya enak nih." Lanjut Deddy setelah mencium aroma makanan itu*.
Deddy jadi teringat masa kecilnya dulu saat istirahat yang ingin makan jajanan seperti yang dipesan oleh istrinya itu membutuhkan sebuah perjuangan. Setiap anak tidak tidak mudah untuk mendapatkan jajanan seperti itu.
Keadaan ekonomi terutama yang sangat susah. Antrian panjang pun harus karena belum semua orang bisa membuat secara enak.
__ADS_1
Deddy yang mencium aroma makanan sang istri menjadi ingin mencicipi tapi apalah daya rasa gengsi sejak dari rumah membuatnya hanya menelan air liur sendiri. Pada akhirnya ia dia hanya memperhatikan sang istri secara makan secara lahap.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Benda pipih yang ada di saku celana itu bergetar beberapa kali tanpa pemiliknya rasakan. Pemiliknya sedang berkonsentrasi pada sang istri takut terjadi sesuatu karena mereka saat ini sedang makan di pinggir jalan. (Kalau di tengah jalan bisa ketabrak angkot).
Thing
Daun telinga Wanita paruh baya itu sedang menangkap suara notifikasi ponsel miliknya. Dilihat Id pengirim pesan yang ingin juga dibawakan untuknya.
Isi pesan:
Mammy aku juga mau dibawakan pentholnya. ~ Alfian.
Ok. ~ Mammy.
"Ini anak Raja bisa nambah selera makan." Kata Mammy.
"Kenapa Mam? Setelah baca pesan kok senyum mu semakin lebar saja." Tanya Deddy yang memiliki perasaan yang tidak enak dengan pesan yang membawa berkah itu.
"Bang Pentholnya masih banyak kah?" Tanya Wanita paruh baya pada Bang Gondrong yang baru sibuk melayani pembelinya.
"Boleh, Bang. Semuanya ya?" Kata Mammy yang terputus.
"Laris manis." Teriak Bang Gondrong yang tangannya masih sibuk dengan membuatkan pesanan orang lain.
"*Ini ibu-ibu laper apa kelaparan." Batin Abang Gondrong.
"Penampilan oke seperti itu, masak doyan makanan kayak gini." Lanjutnya*.
"Abang saya ini belum selesai lho yang ngomong masalah nambah pentholnya. Nanti salah lagi pesenannya." Kata Mammy.
Ucapan mammy baru saja semakin membuat suaminya itu semakin kalut dengan apa yang akan diminta sang istri. Khawatirnya juga kalau tidak terwujut anaknya akan ileran.
Suami yang satu ini sudah membayangkan jika hal tersebut sampai terjadi. Jika meminta hal-hal aneh dia pasti dia akan semakin frustasi.
Deddy memasukkan tangan kanannya pada saku celana mengambil benda pipih yang tadi dimasukkannya. Ada sebuah panggilan dari sang anak yang belum sempat tadi dijawab.
"Ini tadi pasti ulah Alfian hingga Mammy-nya minta pesen lagi." Batin Deddy.
Laki-laki ini khawatir dengan apa yang akan diminta oleh istri-nya. Uang bukan masalah tapi tingkat kewajaran atas apa yang diminta.
__ADS_1
"Sudah selesai Mam?" Tanya Deddy yang memang sebenarnya sudah tahu sejak tadi sang istri sudah selesai menikmati makanannya.
"Belum." Jawab Mammy singkat yang memang mau nambah makan di tempat.
"Besuk lagi aja Mammy makan disininya." Saran Deddy.
"Gak mau." Tolak Mammy dengan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang marah.
"Kalau Deddy keburu-buru balik duluan aja." Lanjut Mammy takutnya besuk gak boleh makan disini lagi apalagi nganterin.
"Bang pesenan ku lama amat!" Teriak sang Mammy pada Abang Gondrong.
"Bentar lagi Bu." Balas Abang Gondrong.
"Gak takut gemuk apa Bu makan sebanyak ini?" Tanya Abang Gondrong heran pada wanita yang sedang ada di depannya kini.
"Maaf ya Bu dengan pertanyaan saya. Biasanya mereka pesen satu aja sudah kenyang." Kata Abang Gondrong.
"Gak apa-apa Bang, memang saat ini saya lagi dalam masa pertumbuhan." Jawab Mammy.
"Itu tu biangnya." Lanjut Mammy menunjuk suaminya dengan dagu.
"Oh, begitu ternyata. Selamat ya Bu kalau begitu." Kata Abang Gondrong ikut senang.
"Ternyata ibu-ibu lagi nyidam penthol." Batin Abang Gondrong.
"Deddy harus makan juga ini." Kata Mammy yang sudah melihat sang suami kasak kusuk.
"Setelah Deddy makan ini satu aja kita pulang deh." Kata Mammy lagi dengan menyuapkan satu biji penthol ke mulut suaminya.
"Nah begitu kan cakep." Kata Mammy lagi.
"Berarti selama ini Deddy gak cakep dimata Mammy." Keluhnya Sang Suami.
"Bukan begitu Deddy." Elak Mammy.
"Cakepan tu Abang Gondrong." Lanjutnya.
"Janjinya tadi apa Mam? Ayo sekarang kita pulang." Ajak Deddy yang tidak tahan kalau istrinya memuji laki-laki lain.
"Bentar, kan belum dibayar." Kata Mammy.
"Bang ini semua total berapa? Sisanya ambil aja." Kata Mammy.
"Terus tadi yang aku pesen antar ke alamat ini ya?" Kata Mammy lagi memberikan sebuah kartu nama.
__ADS_1
"Jangan hanya pesenan saya saja, sekalian Segrobak dan penjualnya." Kata Mammy yang sedikit keras hingga diterdengar oleh pengunjung lain.
Deddy menggelengkan kepala perlahan tidak mengerti maksut dan tujuan mammy seperti itu. Dia pun mengajak istrinya pulang dengan penuh tanda tanya di kepalanya atas pesanan istri tercintanya.