Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 156. Dipotong Terus Kapan Nyusul Nikahnya?


__ADS_3

Pulangnya Papa Adrean dan anggota keluarganya diikuti oleh Deddy bersama sang Istri yang sedang mengandung. Mammy semalam memang kurang istirahat tetapi hatinya sungguh senang ada teman berbincang.


Ziko yang sudah selesai mengurus semua administrasi segera kembali ke ruang rawat Alfian. Ia membantu berkemas dan membawakan semua barang milik atasannya itu menuju tempat parkir.


Ziko berjalan melewati koridor rumah sakit bersama dengan seorang gadis yang datang bersama. Mereka berjalan perlahan seperti siput karena pergelangan kaki sang gadis masih terasa sedikit sakit.


Di tempat parkir pemuda itu membukakan pintu mobil untuk gadisnya kemudian memasukkan semua barang milik Alfian yang tidak jadi digunakan. Ziko pun duduk di kursi kemudi dan segera menjalankan mobil itu menuju pintu keluar rumah sakit.


Seorang pemuda sudah menunggu di pintu keluar rumah sakit. Ia duduk bersebelahan dengan seorang gadis di sana.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia bercanda dan tertawa. Semua orang melihat berapa serasinya pasangan ini.


Di dalam mobil suasana pun semakin mencekam setelah Alfian masuk ke dalamnya. Kedua orang yang duduk di depan hanya diam beribu bahasa, sedangkan mereka yang duduk di kursi belakang berbicara apa saja sesuka mereka.


Mobil telah sampai dihadapan mereka berdua. Alfian membukakan pintu mobil belakang untuk seorang gadis yang saat ini bersamanya kemudian ia pun masuk ke dalam mobil itu.


Asisten tampan itu takut salah bicara, ataupun takut dikatakan memotong pembicaraan Tuannya hingga berakibat fatal. Dipotong terus gaji dan bonus kapan mau nyusul nikahnya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Kondisi jalanan yang macet pun tanpa mereka rasakan.


Hati yang senang kondisi jalan dengan kemacetan tak mereka rasakan. Apalagi tidak kalah dengan hati sang sopir itu sesekali melirik gadis yang ada disampingnya.


Mobil melesat menuju kediaman Mentari dan disambut oleh keluarga mereka. Karena tergesa-gesa mereka hanya mampir sebentar kemudian mengantar Tuan Mudanya pulang.


Banyak hal yang harus dilakukan karena memang beberapa hari adakah hari yang ditunggu Alfian. Keluarga gadis ini pun memaklumi dengan kesibukan Alfian.


Pemuda yang saat ini merangkap sebagai seorang sopir saat ini malah merasa dunianya akan berakhir. Bagaimana tidak ketika misinya selesai ia harus berpisah kembali dengan gadis pujaannya.


Kediaman Alfian semua keluarga juga sudah menunggunya. Ziko kini memarkirkan mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Deddy sudah lama menunggu sang anak untuk makan siang bersama walaupun memang sudah sedikit banyak terlambat. Mereka berdua berdiskusi untuk hari pernikahan anaknya itu.


Asisten itu ikut masuk kedalam kediaman Alfian berjalan di belakangnya. Bukan melupakan gadis yang selalu ada di hatinya tetapi takut ditekan seperti biasanya.


Gaji dan bonus yang seharusnya diberikan lebih besar kalau dipotong terus kapan ia akan menyusul menikah. Perasaannya kini sedang gundah gulana memikirkan gadis yang sedang menunggu di dalam mobilnya itu.

__ADS_1


"Ziko makan siang di sini saja." Deddy mengajak asisten anaknya itu untuk makan siang bersama sebab Deddy tahu pasti mereka belum makan dan waktu makan siang sudah sangat terlewatkan.


"Ziko sih oke-oke saja makan sekarang Om." Kata Pemuda itu kemudian menundukkan kepala kepikiran dengan seorang gadis yang direpotkan alat transportasi.


"Takut sama Alfian?" Tanya Deddy terputus.


"Takut gak dapat gaji sama bonus?" Tanya Deddy lagi.


"He... he... he... Iya Om." Jawab Ziko dengan menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.


"Ini bukan kantor Ziko, jadi gak perlu begitu juga kali." Kata Deddy pada asisten anaknya itu Tat kala mendapati tatapan anaknya yang sudah mulai menajam.


"Bukannya menolak Om tapi saya meninggalkan bidadari cantik di mobil." Jelas Ziko untuk meredam kemarahan Alfian.


"Waduh parah, gadis cantik dan baik kok ditinggalin nanti kalau dibawa lari orang Gimana?" Tanya Deddy.


"Uang ku gak jadi berkurang nantinya." Tambahnya.


"Maksut Om?" Tanya Ziko yang memang tidak mengerti maksut dari orang tua Alfian.


"Jadi gak masalah juga tuh kalau gaji sama bonus mu dipotong bahkan sampai gak digaji." Jelas Deddy Alfian.


"Denger tu." Kata Alfian menepuk pundak sahabatnya hingga ia tersadarkan dari rasa ketidakpercayaannya.


Asisten Alfian ini hanya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Laki-laki paruh baya itu baru saja. Menikah gratis bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.


Deddy memang bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya dan berhadapan dengan siapa pun juga ia bisa menempatkan dirinya.


Pemuda itu pun akhirnya meminta ijin untuk mengajak sang gadis masuk dan ikut makan siang bersama mereka. Deddy hanya menganggukkan kepala kemudian menempatkan dirinya di meja makan.


Gadis yang di dalam mobil itu sekarang masih sangat patuh duduk di tempatnya tadi. Seorang pemuda dengan matanya yang besar mengamatinya sejak keluar dari dalam rumah.


Pemuda itu melihat Monik yang terlihat dengan muka yang merah karena marah. Ia menatap ke depan dengan tangan yang menyilang di depan dada begitu juga dengan kakinya yang sedikit masih nyeri dihilangkan di atas pahanya yang satu.


Rasa jengkel karena ditinggal sendirian bahkan tanpa ada kata yang terucap sebelum ia ditinggalkan sudah merasuk dalam dirinya. Gadis ini sadar juga dengan posisinya saat itu karena ia memang sangat pengertian padanya yang setiap kali diancam oleh Alfian dengan sebuah pemotongan gaji.

__ADS_1


Tap Tap Tap


Terdengar sebuah langkah kaki lebar sedikit berlari mendekatinya. Gadis itu pun menoleh tanpa ekspresi wajah yang baik.


"Silahkan Nona Cantik." Kata Ziko dengan membukakan pintu mobil untuk gadisnya.


"Mari kita makan bersama di dalam, Tuan rumah sudah menunggu kita." Lanjut sang pemuda.


Gadis itu pun keluar dari mobilnya tanpa ekspresi senang. Ia berjalan beriringan dengan Ziko dengan wajah yang masih merah karena marah.


Di depan pintu masuk gadis itu berusaha menekan rasa marahnya hingga ia sampai di sebuah ruang makan tersenyum menyapa laki-laki paruh baya yang dikatakan orang tua Alfian. Laki-laki itu sangat ramah meminta mereka semua untuk segera duduk dan menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Laki-laki ini menatap semua yang ada di meja makan menikmati makan siang mereka dengan sangat lahap. Entah karena enak atau kelaparan yang melanda.


"Kalian harus makan banyak." Titah laki-laki paruh baya itu.


"Biar ada tenaga." Lanjutnya.


"Maksud Deddy?" Tanya Alfian.


"Semua makanan ini tidak gratis harus ada gantinya." Jelas Deddy.


"Hah." Kata kedua pemuda itu bersamaan tidak mengerti maksut laki-laki paruh baya itu.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya Laki-laki paruh baya itu lagi.


Sepasang pemuda dan seorang gadis itu menatap laki-laki paruh baya itu secara intens. Ingin mereka mendapatkan sebuah penjelasan dari apa yang dikatakannya tadi.


Mendapatkan tatapan yang mengerikan seolah mengintimidasinya laki-laki itu pun memundurkan kursinya. Ia seakan hendak melarikan diri.


"Sudah segera habiskan." Titahnya sambil pergi dengan melambaikan tangannya menuju lantai atas.


Ketiga orang yang masih menikmati makanan yang tersaji di atas meja itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka memandang arah perginya laki-laki itu.


Seketika mendengar perkataan itu tadi mereka jadi tidak bisa menelan makanan itu lagi. Terasa sulit untuk menelan makanan itu lagi masih terpikir dengan ucapan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2