Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 13. Baru Mengenal Tuan Muda


__ADS_3

Pemuda ini merasa sangat menyenangkan dalam menempuh perjalanan ini, hingga tanpa terasa Dia sudah sampai di depan perusahaan. Identitas diberikan pada penjaga keamanan yang bertugas hingga Dia diijinkan masuk oleh mereka.


Masuk ke dalam perusahaan ini tidak mudah, mereka harus memberikan laporan dahulu kepada petugas yang kemudian mereka memberitahukan pada atasan mereka. Pemuda ini tidak sulit untuk masuk karena sudah diberitahukan oleh asisten kepercayaan Tuan Richat secara langsung.


Banyak karyawan yang menatap kagum dengan keindahan ciptaan-Nya. Di meja resepsionis Pemuda ini mengalami sedikit kesulitan walaupun dia terlihat tampan.


"Maaf Nona, saya mau bertemu dengan Tuan Richat." Tanya Pemuda itu.


"Tuan sudah ada janji?" Tanya seorang wanita yang ada di meja resepsionis.


"Sudah." Jawab Adrean singkat.


"Tunggu sebentar, saya akan menanyakan dulu." Kata petugas resepsionis.


"Nama Anda?" Lanjutnya.


"Adrean." Jawab Pemuda itu singkat.


"Tuan anda jangan mengaku sebagai ahli waris dari perusahaan ini." Kata salah seorang petugas resepsionis.


"Kami saja belum pernah melihat anak dari Tuan Richat, anda malah mengaku sebagai Putra beliau." Kata petugas resepsionis yang lain dengan ketus.


"Jangan mentang-mentang Anda memiliki wajah tampan hingga Anda bisa mengaku sebagai beliau." Lanjutnya lagi.


"Maaf Nona saya tidak mengaku sebagai Putra beliau Anda sendiri tadi yang menyebarkannya." Balas Adrean menjelaskan.


"Ada masalah Tuan Muda?" Tanya Pak Narendra sopir pribadi Tuan Richat yang kebetulan melihat perdebatan itu.


"Tidak." Jawab Adrean pada Pak Narendra.


"Mari saya antar ke ruangan Beliau." Tawar Pak Narendra.


"Terimakasih Pak." Jawab Pemuda itu sopan.

__ADS_1


Pemuda itu pergi menuju ke ruangan Tuan Richat diantar oleh Pak Narendra. Semua petugas yang ada di resepsionis tidak ada yang berani berkomentar sedikitpun.


Sopir pribadi beliau sudah menjadi orang yang paling dipercaya oleh Tuan Richat. Mereka juga tidak menyangka kalau itu adalah Tuan Muda dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Mereka takut dipecat jika perusahaan diserahkan pada Pemuda itu. Jika sampai di pecat gaji yang lumayan besar itu akan hilang dalam sekejap mata.


Thing


Pintu lift khusus terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam lift itu. Di dalam lift yang hanya ada mereka berdua itu sunyi tanpa ada percakapan.


Pak Narendra berdiri di belakang Pemuda itu. Dia sangat menghormatinya, karena dia adalah keponakan yang sudah diangkat oleh Tuan Richat sebagai anaknya.


Laki-laki paruh baya itu juga banyak berhutang budi pada Almarhum kakaknya yaitu Bapak dari Adrean. Dia bisa bekerja di tempat yang tepat seperti sekarang ini juga karena Almarhum kakaknya.


Pemuda itu tetap menghormati Sang ibu dan Pamannya. Dia tidak pernah bersikap angkuh pada mereka walaupun sudah naik pangkat secara tidak langsung.


Thiiing


Pintu lift terbuka mereka berdua berjalan keluar dari dalam lift itu. Menuju ruang kerja Tuan Richat tidak ditemui seorang pun yang berlalu lalang kecuali asisten maupun sekretaris jika dipanggil ke ruangan beliau.


"Silahkan Tuan mengikuti jalan ini saja." Kata laki-laki paruh baya itu ketika sudah sampai di sebuah jalan menuju ruang kerja Tuan Richat.


"Terimakasih Pak." Kata Adrean singkat.


Pak Narendra tidak berani melangkah lebih jauh mengantar pemuda itu. Pemuda itu melangkahkan kaki lebarnya sendiri menuju ruang kerja Tuan Richat.


Sreeeet


Suara Pintu terbuka secara otomatis sebelum dia menyalakan tombol atau mengetuk pintu. Ruangan itu memang didisain dengan teknologi modern. (Maaf pintu terbuka secara halus seharusnya tidak ada suaranya itu hanya melambangkan saja).


"Duduklah." Pinta seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu dan menunjuk sofa yang ada di ruangan itu.


"Bagaimana dengan kuliah mu?" Tanya Tuan Richat pada Adrean setelah menutup pekerjaannya.

__ADS_1


"Kuliah saya baru selesai kemarin, dan saya berharap bisa wisuda di bulan ini juga." Jawab Pemuda itu.


"Bagus-bagus-bagus." Puji laki-laki paruh baya itu sambil menepuk punggung Adrean perlahan dengan penuh kasih sayang.


"Saya memanggil mu kesini karena ada yang ingin saya bicarakan pada mu." Kata Tuan Richat sudah mulai serius.


"Baiklah Tuan saya akan mendengarkan." Balas Adrean.


"Bukankah tadi malam kita sudah sepakat!" Kata Tuan Richat.


"Kamu akan memanggil ku Ayah." Lanjutnya.


Mereka berdua berbincang di dalam ruangan Tuan Richat yang sangat privasi itu. Perbincangan mereka layaknya Orang tua dan anak.


Ayah menyampaikan semua yang menjadi buatannya itu sebelum terjadi sesuatu padanya ataupun keluarganya. Mimpi itu terlihat sangat nyata dan masih menjadi beban pikiran laki-laki paruh baya itu sampai saat ini.


Waktu semakin beranjak siang hingga mereka berdua melupakan waktu makan siang karena asiknya mereka berbincang. Ayah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menggeleng perlahan dan merasa bersalah.


"Maaf melupakan makan siang mu." Kata Ayah pada anak barunya.


"Ayo keluar makan siang menjelang sore." Lanjutnya sambil berdiri.


Keduanya berjalan meninggalkan ruang kantor itu hendak makan siang. Pikiran Laki-laki paruh baya itu terasa ada yang aneh, seperti ada yang mengikuti.


Kedua laki-laki ini terlihat sangat gagah dan tampan, Tuan Richat bahkan terlihat lebih muda seumuran dengan Pemuda yang ada di belakangnya sekarang. Mereka tidak bisa membedakan usia keduanya jika melihat.


"Mengapa berjalan di belakang ku?" Tanya Ayah.


"Aku bukan seorang raja jadi tidak memiliki seorang pengawal tampan seperti mu." Lanjutnya.


"Berjalan di samping ku dan jangan pernah menundukkan kepala kepada siapa pun." Nasehat Ayah.


"Tatap lurus ke depan tunjukkan wibawa mu." Kata Ayah lagi.

__ADS_1


Pemuda itu akhirnya mempercepat langkahnya menuju lobi perusahaan berjalan disamping Ayah angkat barunya. Hal ini disaksikan oleh semua karyawan yang sedang bekerja.


Rasa takjub muncul kembali melihat kedua laki-laki ini berjalan. Mereka baru melihat Adrean sebagai Tuan Muda anak dari Tuan Richat pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


__ADS_2