
Pemuda itu mengambil segelas air untuk minum vitamin Sinta. Gadis itu menolak air minum yang disodorkan padanya.
"Apa kamu tidak bisa menyayangi dirimu sendiri?" Tanya Adrean pada gadis itu sedikit kecewa atas apa yang dilakukannya sepertinya tidak ada gunanya bagi dia.
"Aku akan meninggalkan mu sendiri terserah padamu." Kata Adrean dingin pergi meninggalkan kamar itu karena dia juga harus mempersiapkan kepergiannya.
"Terimakasih." Ucap gadis itu singkat dengan suara yang masih lemah ketika Adrean hendak pergi melangkahkan keluar dari ruang kantornya itu.
Pemuda itu hanya menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Dia tersenyum dengan menarik sudut bibirnya sedikit ke atas.
Pemuda itu kembali ke ruang kerja setelah meninggalkan ruang kamar dimana gadis yang bersama Sinta itu istirahat. Di sana Adrean sudah ditunggu oleh asistennya menunggu perintah selanjutnya.
"Aku harus pergi menemui ibu ku." Kata Adrean.
"Aku tidak mau menjadi anak yang lama-lama durhaka pada orang tua." Lanjutnya.
"Pesawat ku akan berangkat sore ini, aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik." Lanjutnya lagi.
Dreeeeet Dreeeeet Dreeeeet
Benda pipih yang berada di atas meja kantor Adrean bergetar. Sang pemilik menyambar benda yang tergeletak di depannya.
__ADS_1
Pemuda itu segera membaca pesan yang masuk. Hatinya sedikit lebih senang dengan berita tersebut.
"Ada apa Tuan?" Tanya Sang Asisten.
"Sepertinya Anda senang?" Lanjutnya.
"Pindahkan gadis itu ke hotel jangan apartemen." Titah Adrean.
"Siapkan kamar yang sama dengan ruangan ku." Lanjutnya dengan menyambar dua buah kunci yang ada di atas meja kerjanya.
"Maksut Tuan?" Tanya Briyan yang berpikiran entah kemana.
"Aku tunggu hasil kerja mu." Kata Seorang pemuda sambil menunjuk pada Sang Asisten.
Seorang gadis yang berada di sebuah kamar ruang kantor Adrean berusaha untuk bangkit. Dia ingin meninggalkan ruangan itu lebih tepatnya tidak ingin lebih merepotkan orang yang baru saja menolongnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Sang Asisten yang ditugaskan untuk menjaga gadis itu.
"Aku mau pergi dari sini, aku tidak mau merepotkan dan membawa kalian dalam masalah ku." Jelas Sinta.
"Apa yang kamu maksut?" Tanya Briyan setelah mendengar perkataan gadis itu yang dirasanya ada yang disembunyikan.
__ADS_1
"Tidak aku cuma mau pergi dari sini, tidak ada yang lain." Jelas Sinta merasa mulutnya kali ini tidak ada filternya.
"Baiklah aku akan membantu mu pergi dari sini." Kata Briyan.
"Benarkah?" Tanya Gadis itu yang sudah sangat senang mendengar perkataan Pemuda yang ada bersamanya saat ini.
"Tapi dengan catatan." Kata Briyan terputus.
"Kamu harus ikuti dimanapun aku akan mengantar mu." Lanjutnya.
"Percayalah semua akan baik-baik saja." Lanjutnya untuk meyakinkan gadis itu.
"Sekarang minumlah obat yang ada di atas brankas itu." Kata Briyan yang semakin panjang saja. (Seperti cewek banyak ya ngomongnya Asisten Adrean).
Gadis itu melirik sekilas beberapa macam obat yang ada di atas brankas. Obat yang tadi diberikan oleh Adrean yang tidak bisa diminumnya.
"Kenapa?" Tanya Sang Asisten melihat raut wajah Sinta yang sepertinya jijik melihat obat itu.
"Takut itu obat yang luar biasa?" Tanya Briyan lagi.
"Tidak, aku hanya tidak bisa minum pakai air putih." Jawab Sinta tersenyum menampilkan barisan gigi depannya yang putih. .
__ADS_1
"Aku bisa muntah jika pakai air." Lanjutnya
Mendengar jawaban gadis itu, Briyan baru tahu kalau dia menolaknya karena sebuah alasan. Pemuda itu akhirnya keluar dari kamar dan memesan pisang untuk gadis itu.