Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 86. Briyan masih duduk


__ADS_3

Briyan masih duduk dalam kursi kemudi sambil bersandar. Ia mengirimkan pesan pada seorang wanita yang sangat ia cintai.


Briyan masih duduk dalam kursi kemudi sambil bersandar. Ia mengirimkan pesan pada seorang wanita yang sangat ia cintai.


Pesan WA


Awas ya!~ ancam Briyan.


Kasian deh ya diusir sama calon mertu~ Dita.


Gak kangen sama calon suami apa? ~ Briyan.


Gak ~ Balas Dita singkat.


Ya udah aku balik aja.😭😭😭. ~ Pamit Briyan.


Jadi Cowok jangan cengeng dong sayang. ~ Cerca Dita.


Nyebelin ~ Kata Briyan.


Gelap malam yang dingin Briyan melajukan mobilnya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sang kekasih.


Seorang wanita tua hendak menyebrang jalan. Briyan yang saat itu melihat wanita yang kesulitan untuk menyebrang akhirnya menepikan mobilnya.


Briyan turun dari mobilnya itu hendak membantu wanita tersebut. Wanita itu terkejut dengan kehadiran laki-laki tampan yang sedang menyapanya.


"Ibu mau kemana? Biar saya antar." Kata Briyan.


"Saya mau pulang ke rumah." Kata Wanita itu.


"Rumah Ibu dimana?" Tanya Briyan.


"Di jalan X no. X." Balas Wanita itu.


"Itu alamat rumahnya masih lumayan jauh kata Briyan. Biar saya antar." Kata Briyan.


"Tidak usah, nanti merepotkan anda." Jelas Wanita itu.


"Tidak Bu." Kata Briyan.


"Mari." Ajak Briyan lagi.


Briyan dan Wanita itu berjalan menuju tempat Briyan menaruh mobilnya tadi. Mereka masuk dalam mobil kemudian mengenakan sabuk pengamannya.


Ke duanya duduk dalam diam. Mobil dijalankan dengan perlahan. Sang sopir memiliki tujuan sendiri. Ia ingin menghabiskan waktunya di jalan karena kecewa tidak bertemu dengan calon istrinya.


"Masih ada aja yang berhati baik seperti mu Nak. Mau mengantarkan ku pulang saat aku kesulitan menyebrang jalan." Batin Wanita setengah baya itu.


Wanita itu menunjukkan jalan menuju rumahnya. Tepat di depan rumah mobil itu berhenti.


Rumah yang sederhana terlihat oleh Briyan. Halaman yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman hias memperindah lingkungan rumah.


Shiiit


Suara gesekan ban dengan jalan terdengar cukup halus. Ya karena Briyan tadi mengendarainya dengan perlahan.


Wanita itu mulai membuka sabuk pengamannya. Ia ingin meminta Briyan untuk mampir ke rumah tapi agak sungkan. Setelah keluar baru Wanita itu menawarkannya.


"Terimakasih Nak." Ucap Wanita itu sambil menutup pintu mobil.


"Sama-sama Bu." Balas Briyan.


"Tidak mampir dulu." Tawar Wanita itu.


"Baiklah Bu." Kata Briyan sambil melihat jam tangannya yang memang belum terlalu larut malam.


Briyan keluar dan mengikuti Wanita itu dari belakang. Ia yang berniat hanya mengantarkan wanita itu dan tidak ingin tahu kehidupan wanita itu kini malah sebaliknya.


Ceklek


Suara pintu dibuka oleh seorang laki-laki yang sangat sederhana. Umurnya kira-kira sama dengan Briyan.


"Masuklah Nak." Perintah Wanita itu pada Briyan.


"Duduklah, maaf rumah saya berantakan." Ucapnya lagi.


Briyan akhirnya duduk di ruang keluarga. Ia melihat sekeliling rumah itu banyak mainan anak-anak. Ia pun memakluminya.


Wanita itu pun masuk ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan makanan ringan ke ruang tamu. Saat itu laki-laki yang membukakan pintu tadi mengikutinya.


"Bu siapa dia?" Tanya laki-laki itu.


"Dia yang menolong ibu tadi saat di jalan." Jawab Wanita itu.


"Jangan bilang tadi ibu hampir kece... " Kata laki-laki itu terpotong karena sudah dihentikan dengan jari telunjuk sang ibu ditempel pada mulut laki-laki itu.


"Tidak." Jelas Wanita itu sambil menggeleng-gelengkan perlahan.


"Temanilah ia Nak, berbincanglah dengannya." Perintah sang Ibu.


Briyan mendengar percakapan sang pemilik rumah. Ia merasa hangat dalam hatinya. Terasa kasih sayang diantara keduanya.


Laki-laki itu pun akhirnya keluar dari dalam sebuah ruangan. Senyum simpul terukir di wajahnya.


"Maaf membuat anda menunggu." Kata laki-laki itu.


"Terimakasih sudah mengantar ibu saya pulang." Sambungnya.


"Sama-sama." Jawab Briyan dengan singkat.


"Saya Diky anak yang tinggal bersama ibu Siti." Kata Diky memperkenalkan dirinya.


"Kalau boleh tahu anda siapa?" Tanya Diky.


"Briyan." Jawabnya singkat.


Kedua laki-laki yang berada di ruang tamu ini menghentikan pembicaraannya ketika Ibu Siti datang dengan membawa minuman dan makanan untuk mereka.


"Silahkan diminum Nak, maaf seadanya." Kata Bu Siti.


"Terimakasih Bu." Kata Briyan.


"Ibu namanya Bu Siti ya?" Tanya Briyan yang memang tidak memiliki topik pembicaraan.


"Iya maaf tadi belum sempat mengenalkan diri." Kata Bu Siti.


"Kalian hanya tinggal berdua?" Tanya Briyan.


"Huaaaaa huaaaaaaa Huaaaaa." Anggaplah suara tangis anak.


"Maaf sebenar cucu saya menangis." Kata Bu Siti sambil berdiri dan berjalan meninggalkan kedua laki-laki itu menuju kamar cucunya.


Briyan merasa tidak enak. Terlihat dari raut wajahnya itu.


"Minumlah mumpung masih hangat." Kata Diky yang melihat ketidaknyamanan di wajah tamunya.


Briyan menyesap teh hangat itu sedikit demi sedikit. Ia sangat menikmati teh hangat itu.


"Papak." Rengek seorang anak laki-laki dengan suara cedalnya sambil menjulurkan kedua tangannya.


Anak ini ingin bersama Bapaknya. Kedua tangan mungil anak ini mengalung pada leher sang Bapak. Akhirnya ia duduk di pangkuan Bapaknya sambil mengucek kedua matanya.


"Papak capa dia? Apa teman Papak?" Tanya Dito anak laki-laki Diky.


"Ia sayang." Jawab Briyan saat melihat ekspresi seorang ibu dan anak laki-lakinya bingung harus menjawab.


"Oh." Kata Dito sambil bergelayut manja di pangkuan Bapaknya.


"Sepertinya dekat sekali dengan Bapaknya ya Dito?" Tanya Briyan yang mengingat kedekatan dengan Bapaknya dulu.


"Iya, Ibu atu kerja telus gak pelnah pulang." Jawab Dito polos dengan gaya cedalnya.


"Maaf." Kata Briyan lirih merasa bersalah.


"Sayang ikut nenek yuk." Ajak Bu Siti.


"Minum susu dulu. Pasti tadi belum minum susukan? Tanya Nenek.


Dito berpindah ke gendongan Neneknya. Mereka menuju dapur untuk membuat susu untuk Dito.

__ADS_1


Bapak Dito akhirnya bercerita mengenai masa lalunya hingga ia tinggal hanya bersama ibu mertua dan anaknya. Ia sengaja bercerita untuk menghilangkan rasa tidak enak di wajah tamunya itu.


Suka rela ia bercerita juga untuk mengurangi rasa yang mengganjal dihatinya semenjak ditinggalkan oleh istrinya. Istri yang meninggalkan keluarganya hanya untuk karier menjadi seorang model terkenal serta karena pria lain.


Mengingat nasib anaknya Diky hampir meneteskan air matanya. Ia menahan agar air itu tidak jatuh lagi dengan menekan sudut matanya.


"Maaf membuat mu mengingat masa lalu mu." Kata Briyan.


"Tidak harusnya aku yang berterimakasih sudah mendengarkan cerita ku." Kata Diky.


Ibu Siti keluar dari dalam dapur dengan menggendong cucunya. Setelah Ibu Siti duduk Briyan berpamitan karena waktu memang sudah larut malam.


116


Ibu Siti keluar dari dalam dapur dengan menggendong cucunya. Setelah Ibu Siti duduk Briyan berpamitan karena waktu memang sudah larut malam.


"Maaf Bu saya pamit pulang dulu." Pamit Briyan dengan sopan.


"Maaf ya nak Briyan Ibu merepotkanmu." Kata Ibu Siti.


"Biar saya antar ke depan." Tawar Diky.


"Oh Trimakasih."


"Sampaikan salam ku untuk Dito." Pinta Briyan.


"Baiklah." Kata Diky.


Mereka bertiga berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Sebelum menjalankan mobilnya mereka berjabat tangan.


"Jangan sungkan untuk mampir lagi ke gubuk kami." Kata Ibu Siti.


"Terimakasih Bu. Saya permisi." Kata Briyan.


Briyan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia jadi penasaran dengan kehidupan keluarga Bu Siti karena berdasarkan cerita anak menantu serta cara berbicara mereka sudah berbeda kasta.


Memang benar adanya cara bersikap bahkan cara berbicara seseorang sudah bisa menunjukkan kasta mereka. Cuma untuk menutupi kehidupan mereka dengan alasan tertentu mereka harus bisa membawa diri mereka pada dunia lain.


**** **** Apartemen Briyan **** ****


Seorang laki-laki dengan usianya yang sudah setengah baya sedang berada di dapur. Ia sedang menikmati sebuah kopi dengan nikmatnya.


Ceklek


Pintu apartemen dibuka oleh sang pemilik dengan perlahan. Ia masuk dan mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan.


Mata besarnya melihat sebuah ruangan yang masih menyala lampunya. Perlahan ia berjalan mendekat pada ruangan itu.


"Sudah pulang?" Tanya Bapak.


"Ya." Jawab Briyan singkat.


"Bapak kok belum tidur?" Tanya Briyan.


"Menunggumu." Kata Bapak.


"Aku sudah besar Pak, gak usah ditunggu pulang." Pinta Briyan sambil mengambil bubuk kopi dan gula yang tersedia di dalam toples meja dapur hendak membuat kopi hangat untuknya sendiri.


"Aku tahu." Kata Bapak setelah menyesap sedikit kopinya.


"Besuk sebaiknya kamu sudah mulai mengurangi pekerjaan mu. Jangan terlalu banyak bekerja karena tinggal dua hari lagi kamu akan menikah." Nasehat Bapaknya.


"Baiklah." Kata Briyan setelah ia duduk.


"Malam Pak." Sapa sang adik sambil mencium punggung tangan Bapaknya.


"Hai kak." Sapa sang adik pada kakaknya.


Setelah menyapa kakaknya itu ia memeluk tubuh kekar sang kakak dengan erat. Briyan mencoba melepaskan pelukan itu karena dia tidak nyaman.


"Lepas." Teriak Briyan.


"Tidak akan." Kata sang adik.


"Kau harus mau menemaniku mulai hari ini, karena sebentar lagi kau akan menikah." Bisik sang adik dengan begitu manja tepat ditelinga sang kakak hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


"Nanti akan aku berikan napas buatan kalau sampai itu terjadi." Balas sang adik.


"Jangan macam-macam." Hardik Briyan.


"Hai jangan-jangan kamu sudah belok?" Tanya Briyan.


"Maksud kakak apa?" Tanya sang adik sambil melepas pelukannya.


Briyan hanya menaikkan sedikit bahunya sebagai jawaban. Sang adik merasa puas bisa memeluk erat kakaknya.


Semenjak sang kakak sangat sibuk dengan tuntutan kehidupan. Adik kecilnya sangat merindukan kasih sayang dan pelukan sang kakak.


Tiap hari sang adik hanya bisa berharap sang kakak untuk memelik dirinya. Bukan hanya tubuh tapi hatinya. Adiknya itu juga tahu biarpun sang kakak tidak banyak waktu untuknya tapi dalam hati ia sangat menyayanginya.


Bapaknya yang sedang duduk di dekat mereka hanya tersenyum tipis melihat kelakuan keduanya. Sudah lama mereka tidak berbincang dan bersenda gurau seperti itu. Terasa hangat bagaikan sebuah keluarga bahagia yang saling melepas rindu sekian lama tidak bertemu.


"Ibu aku sangat merindukanmu." Kata Sang Adik lirih berjalan menuju kamarnya.


Adiknya Briyan berjalan menuju kamar karena hampir air yang ada di dalam matanya meluap. Ia tidak ingin orang lain melihatnya menangis.


"Aku ke kamar dulu." Pamitnya.


Ia berlalu menuju kamar meninggalkan kedua orang itu meminum kopinya.


Waktu sudah sangat larut. Mereka yang tadi menikmati kopi hangat segera pergi ke dalam kamar mereka masing-masing.


Briyan yang sempat mendengar kata-kata adiknya tadi duduk di balkon kamarnya. Pikirannya sama seperti adiknya.


Cukup lama ia berada di balkon menikmati kesendiriannya. Ia mengenang masa-masa bahagia bersama sang Ibu. Hal itu membuatnya sejenak melupakan kerinduan pada calon istri.


Udara semakin dingin hingga menusuk dalam tulangnya. Briyan masuk dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Tidak lama ia pun tertidur dengan pulas.


*** *** *** Di rumah Dita *** *** ***


Dita sejak kepergian calon suaminya tadi hanya berada dalam kamar setelah makan malam. Ia merasa tidak enak pada Briyan.


Pikirannya kacau balau gak tentu arah. Hatinya juga rindu pada laki-laki itu. Apalah daya, sang ibu sudah melarang hingga waktunya tiba.


Semua persiapan sudah selesai di cek ulang. Tidak ada yang kurang walaupun sedikit harapannya mereka.


Briyan dan Dita selama dua hari sebelum hari pernikahan sudah cuti untuk pernikahan mereka. Keduanya sudah merasa rindu tak tertahan.


Setelah menikah akan aku habisi kamu sayang. Batin Briyan dimalam sebelum pernikahan.


Briyan tidur lebih awal di apartemennya. Begitu juga dengan Bapak dan adiknya.


Dita sudah berada di hotel tempat resepsi pernikahannya bersama ibunya. Ia tidak ingin besuk pagi terburu-buru ke hotel karena harus di make - up terlebih dahulu. Hingga ia memutuskan untuk tidur di hotel bersama sang Ibu.


Ibu ikut ke hotel karena takut Briyan akan menemuinya disana. Memang benar adanya Briyan juga datang ke hotel.


Fleshback


Siang hari sehari sebelum hari pernikahan Briyan datang ke hotel. Alasannya ingin cek ulang lokasi.


Dita baru tiba bersama ibunya belum menyadari keberadaan Briyan. Mereka langsung menuju kamar mereka.


Kamar Ibu dan Dita terpisah walaupun tempat tidur itu sangat besar. Benda pipih dalam tas berbunyi dengan nyaring. Tanda ada pesan masuk.


Dita tidak segera membalasnya. Ia takut sang ibu mengetahuinya.


Mereka mulai memasuki lift dan menuju lantai paling atas tempat kamar mereka. Keluar dari lift mereka masuk ke kamar masing-masing.


Langkah kaki Dita terhenti ketika sebuah tangan memegang tangannya. Dita terkejut dengan yang dilakukan ibunya.


"Jagalah dirimu, jangan menemuinya dulu." Titah sang ibu.


Dita tidak menjawab perkataan sang ibu. Ia berlalu sambil mengukir senyum diwajahnya hingga kecantikannya itu terlihat natural.


Briyan merasa pesannya tidak dibalas, ia langsung menuju lantai atas menggunakan lift. Saat keluar dari lift itu juga Dita juga keluar dari dalam kamarnya.


Briyan yang melihat calon istrinya itu langsung mendekatinya. Ibu sudah berdiri di depan pintu menyaksikan keduanya tanpa mereka sadari dengan bersedakap.


"Kenapa tidak membalas pesan ku?" Tanya Briyan.

__ADS_1


"Ada Ibu." Jawab Dita yang saat itu melihat ibunya.


Briyan seketika menoleh mendengar langkah kaki mendekat. Ia gelagapan melihat calon ibu mertuanya itu.


"Tinggal besuk kenapa gak sabar sih Nak?" Tanya Ibu Dita sambil berjalan hingga Briyan berjalan mundur akhirnya punggungnya menempel pada dinding.


Melihat Briyan yang semakin salah tingkah sang ibu ingin mengerjainya. Ibu sengaja mendekatkan badannya hingga hampir menempel pada badan kekar itu.


117


Melihat Briyan yang semakin salah tingkah sang ibu ingin mengerjainya. Ibu sengaja mendekatkan badannya hingga hampir menempel pada badan kekar itu.


"Ehem-ehem. Apa yang kamu lakukan di sini Nak? Tanya Ibu dengan tegas.


"Ti... tidak Bu. Sa ....saya cuma mau memastikan untuk kesiapan istri ku untuk besuk." Jawab Briyan gagap sambil menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.


"Kenapa kalian gak mengerti juga sih." Kata Ibu dengan tegas.


"Ma ma maaf Bu. Ka ka kalau begitu saya pamit dulu." Kata Briyan dengan takutnya.


"Udah sana kamu masuk." Kata Ibu pada Anak Gadisnya.


"Dasar anak jaman Now." Sambung ibu dengan lirih. (Gak apa-apa dong ya sang ibu pakai sedikit bahasa anak muda).


Dita akhirnya masuk dalam kamar kembali. Ia tidak tahu kalau calon suaminya akan menemuinya.


Waktu sudah semakin sore. Sejak sampai di hotel Sang ibu dan Dita hanya istirahat tidak melakukan aktivitas yang melelahkan fisik mereka.


Malam pun semakin larut Dita mulai merasa tidak tenang. Ibu pergi ke kamar Dita untuk melihat keadaan anaknya.


Ibu melihat anaknya Dita sangat cemas. Padahal besuk seharusnya adalah hari bahagianya. Hari yang seharusnya ditunggu-tunggu olehnya.


Ceklek


Pintu kamar hotel Dita dibuka oleh ibunya. Dita melihat kedatangan sang ibu sambil memegang ponselnya dengan duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya.


Sang ibu berjalan mendekati anaknya itu dengan senyum tipis di wajahnya. Ia pun duduk di tepi tempat tidur dekat dengan putri satu-satunya.


"Kenapa wajah mu seperti itu sayang?" Tanya Ibu pada Dita.


"Gak apa-apa Bu." Balas Dita.


"Katakan saja sebelum kamu jadi milik orang." Kata ibu dengan berat hati.


"Ibu aku......" Kata Dita terpotong.


"Segera lah tidur. Besuk semua akan baik-baik saja." Perintah sang ibu.


Ibunya tahu apa yang dikhawatirkan oleh sang anak. Ia berusaha memberikan ketenangan untuk anaknya itu agar tidak terlalu cemas.


*** *** *** *** Di Apartemen *** *** ***


Sejak Siang tadi Briyan memantau persiapan untuk pernikahannya. Ia tidak mau ada yang kurang sedikit pun. Rasa senang dalam hatinya mengalahkan rasa capek yang ia kerjakan sejak siang hari.


"Kenapa harus ketahuan sama Ibu saat aku mau sedikit menghilangkan rasa rindu ku." Kata Briyan dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.


Di dalam kamarnya ia sedang duduk bersandar di sofa. Ia memejamkan matanya tetapi ia tidak tidur.


Terasa lengket badan Briyan. Ia pun segera mengambil jubah mandinya dan segera mempersiapkan air untuk ia mandi.


Briyan selalu menyiapkan semuanya sendiri. Ia ingin berendam dalam backtub dengan air hangat.


Saat berendam ia memejamkan matanya. Ia sedang membayangkan wajah calon istrinya yang cantik.


Tok tok tok


Puntu kamar Briyan diketuk oleh adik kesayangannya. Adik satu-satunya itu.


Briyan yang sedang asik berendam dengan air di backtub tidak mendengar suara ketukan pintu. Hingga akhirnya hal tak terduga pun terjadi.


Braaaak


Terdengar sangat keras. Briyan masih saja memejamkan matanya ditempat yang sama.


(Braaaaak Itu suara apa ya coba tebak?)


Nyelonong aja itu adiknya karena merasa khawatir tidak ada jawaban. Sangat lama ia menunggu di depan kamarnya.


Saat sampai di dalam kamar sang adik laki-laki Briyan mengedarkan pandangannya di seluruh sudut ruangan. Kedatangan kakaknya tadi sebenarnya ia melihat setelah dipanggil tidak ada sahutan sama sekali. (Makhluk halus mungkin bisa ngilang).


"Kemana itu kakak ku yang paling ganteng?" Kata sang adik lirih.


"Masak ngilang gitu aja. Besuk kan hari bahagianya." Lanjutnya lagi.


Sang Adik menuju kamar mandi. Ia menguping lama di depan kamar mandi.


"Tidak ada suara air gemericik di dalam. Apa aku panggil lagi aja atau langsung aku buka paksa juga." Kata sang Adik lirih yang panjang sekali.


Tok tok tok


Suara pintu kamar mandi di ketuk.


"Kak kakak." Panggil sang adik


"Kak kakak." Panggil sang adik lagi.


Karena tidak ada sahutan dari dalam Sang adik langsung membuka pintu kamar mandi. Sungguh terkejutnya Briyan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Briyan dengan nada keras.


"Calon pengantin gak boleh mudah marah lho." Kata sang adik setelah berbalik badan.


"Ntar jadi jelek itu wajah dan cepet tua." Ledek Sang Adik


"Cepet sana keluar aku mau bilas badan aku." Perintah Briyan dengan keras.


"Tenang aja lah kak punya kita kan sama. Jadi aku akan segera keluar gak doyan sama kakak." Kata Sang Adik sambil tertawa geli untuk menutupi rasa takut akan amarah kakaknya.


Sang Adik sangat tahu bagaimana kakaknya itu kalau sedang marah. Ia mampu menghancurkan segalanya.


"Ya aku takut aja kalau kamu itu belok." Kata Briyan sebelum pintu kamar mandi ditutup oleh adik kesayangannya.


Sang adik menunggu di dalam kamar sang kakak. Ia melihat televisi duduk dikarpet dengan menyandarkan badannya di kursi sofa.


Briyan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Ia melihat sang adik sedang melihat televisi dengan sesekali tertawa renyah.


Briyan penasaran pada sang adik yang sedang melihat televisi dengan sesekali tersenyum renyah itu. Pasalnya ia sudah lama sekali tidak nonton baik televisi ataupun nonton di bioskop berdua bersama sang adik.


Briyan menghampiri adiknya itu. Ia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh adiknya hingga ia harus pergi ke kamarnya.


"Ada apa mencariku?" Tanya Briyan singkat.


"Aku ingin bersamamu malam ini." Jawab sang adik.


Mendengar jawaban adiknya Briyan jadi merinding sendiri. Briyan jadi mematung di tempat yang sama.


Bruuuuk


Badan besar dan kekar itu jatuh di atas sofa yang empuk. Adiknya itu mendekatkan wajahnya pada sang kakak.


"Menjauhkan!" Pekik Briyan.


"Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Adik.


"Apa yang kau lakukan dengan pintu kamarku?" Tanya Briyan saat melihat pintu kamarnya sedikit agak bermasalah.


"Maaf-maaf tadi aku mendobraknya." Kata sang adik lirih.


"Gimana besuk dengan malam pertama ku." Tanya Briyan.


"Kakak!" Pekiknya.


"Jangan pikirkan itu dulu, sekarang layanilah aku dulu. Rasanya aku sangat dan sangat merindukan mu." Kata adiknya sambil merengkuh tubuh sang kakak.


"Cukup, jadi kamu benar-benar bengkok ya?" Tanya Briyan dengan perasaan yang takut jika adiknya itu bermasalah.


Sang adik membetulkan posisi duduknya seperti semula. Ia baru menjelaskan titik permasalahan ia datang ke kamar kakaknya.


"Kak tolong hilangkan pikiran semacam itu padaku!" Hardiknya.

__ADS_1


__ADS_2