
Alfian baru menyadari kalau gadis itu tadi naik sepeda motor. Ia melihat kepergian gadis itu menuju tempat parkir motor.
Alfian yang terus memandangi punggung gadis itu didasarkan oleh suara seseorang. Gilang lah yang membangunkannya dari pandangan tadi.
"Eheem eheem." Suara Gilang berdehem.
"Elu kenal sama itu cewek?" Tanya Gilang setelah Alfian menoleh padanya.
"Kok aku lihat tadi elu berbincang lama banget sama itu cewek." Lanjutnya sebelum Alfian menjawab.
Alfian memang tidak akan menjawab pertanyaan itu tadi. Ia bukan orang yang suka banyak bicara apa lagi pamer tentang seorang wanita.
"Cantik juga itu cewek, aku harus dapatin itu cewek. Kalau elu kan banyak itu cewek yang cinta sama elu mereka kaya-kaya lagi. Cewek-cewek yang maksur elu aja naiknya aja mobil mewah. Sedangkan itu cewek barusan hanya naik motor. Masak elu juga demen gak dong." Jelas Gilang yang sangat panjang sekali.
Alfian hanya mendengarkan ocehan temannya Gilang sambil berjalan menuju tempat parkir. Mereka berpisah di tempat parkir.
Hari ini ia langsung menuju perusahaan karena memang sudah tidak ada jadwal kuliah. Hanya tinggal menghitung minggu mereka akan menikah hingga Alfian harus fokus menyelesaikan tugas kantornya.
Persiapan untuk pernikahan tidak perlu calon mempelai yang harus turun tangan. Kekuatan uang bisa menyelesaikan semuanya dengan mudah dan cepat.
Ziko sudah menunggu di ruangannya (masih ingat kan tentang Ziko teman Alfian pleboy tapi masih dalam batas normal). Ziko selaku asistennya bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan perusahaan.
Monic adalah pacar Ziko yang bekerja sebagai sekretaris sudah pacaran lumayan lama. Mereka belum ada keseriusan untuk menuju kepelaminan. Tapi rasa saling percaya ada pada hati mereka sangatlah dalam.
Alfian telah sampai di perusahaannya tanpa ada yang tahu kapan ia telah sampai. Ia langsung duduk di kursi kebesarannya dengan sangat gagahnya.
Tut Tut Tut
Anggaplah bunyi telp. penghubung antara ruang Bos dengan Asistennya berbunyi.
"Oh May Good." Teriak Ziko.
"Tadi ditungguin lama gak dateng, sekarang ngawetin orang." Umpatnya kemudian.
"Bisa keruangan ku sekarang." Pinta Alfian dari ruangannya.
"Ok Baiklah Bos." Balas Ziko.
Tok tok tok
Suara pintu ruang kerja Alfian diketuk pelan.
__ADS_1
"Masuklah." Pinta Alfian.
"Kenapa Bos panggil saya? Ada yang penting kah?" Tanya Ziko berbondong bondong sebelum dijawab.
"Kumpulkan seluruh berkas kerjasama dalam sebulan ini. Saya akan memeriksanya." Perintah Alfian.
"Ok baiklah." Jawab Ziko
Ziko pergi meninggalkan ruang kerja atasannya. Ia menuju ruang kerjanya dan menghubungi beberapa karyawan yang masih memegang file yang belum berada di tangannya untuk segera menyerahkan pada asistennya itu.
"Bos yang bener aja ini kerjaan banyak banget sebulan. Emang apa yang terjadi sih. Kenapa gak cerita. Pusing aku jadinya. Bisa-bisa sebulan ini aku waktu liburpun harus ada bersamanya. Gak jadi pacaran ini." Keluh Ziko dalam hati.
Beberapa Karyawan yang tadi sempat dihubungi Ziko pun segera menyerahkan semua berkas yang perlu mereka serahkan. Ziko memeriksa semua berkas itu terlebih dahulu barulah ia menyerahkannya pada atasannya itu.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Alfian diketuk oleh asistennya.
"Masuk." Perintah Alfian.
Ziko pun membuka pintu ruang kerja atasannya. Ia menyerahkan semua berkas yang diperlukan dalam sebulan ini.
"Duduk aja dulu Zik." Perintah Alfian.
"He'em." Jawab Alfian.
"Sejak tadi saya sudah menunggu anda, katanya jadwal kuliah cuma pagi, tapi ini kok siang bolong baru sampai di kantor. Apa ada masalah?" Selidik Ziko.
"Ya masalahnya kamu." Jawab Alfian.
"Kok bisa saya sih bos?" Tanya Ziko tak percaya.
"Apa masalah yang ada di saya? Kalau saya yang bermasalah apa itu masalahnya?" Tanya Ziko beruntun ingin tahu.
Ada ketakutan pada diri Ziko setelah mendengar kata masalah padanya. Ia tidak mau mengecewakan orang yang telah membantunya selama ini.
Alfian melihat sahabat sekaligus asistennya itu sedang berpikir sesuatu tentang masalah pada dirinya. Tidak seperti biasanya ia menghadapi semua masalahnya dengan tenang kali ini terlihat ia sedikit melamun.
"Saya mohon maaf bila saya bermasalah selama bekerja dengan Bos. Tapi saya mohon jangan pecat saya." Pinta Ziko sambil menundukkan kepalanya karena ia pun tak tahu apa kesalahannya.
Hening dalam ruangan kerja Alfian cukup lama. Ziko pun tak berani membuka suaranya. Ia yang biasa banyak bicara kini terdiam sepi.
__ADS_1
"Monic hari ini tidak terlihat, kemana Dia?" Tanya Alfian.
"Sakit Bos." Jawab Ziko dengan lesu.
"Bukan sakit hati kan?" Ledek Alfian.
"Rasain gue kerjain, makanya pacaran jangan lama-lama." Kata Alfian dalam hati dengan penuh kemenangan.
"Maksut Bos?" Tanya Ziko.
"Sakit karena kamu dua'in." Jelas Alfian.
"Siapa sih yang gak tahu kamu? Buaya Darat." Lanjut Alfian.
Suasana dalam ruangan pun hening, tidak banyak perbincangan diantara mereka. Alfian berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya itu.
"Ziko duduklah di sini." Pinta Alfian.
Ziko berjalan mendekati atasannya itu dengan tubuh yang sudah lemas. Ia duduk agak jauh karena takut melakukan kesalahan lagi.
"Mendekatlah sini." Kata Alfian sambil menepuk sofa agar duduk tidak jauh darinya.
Ziko bergeser tempat duduk untuk duduk di dekat Alfian. Perasaannya sungguh tak karuan amboradul dibuat takut oleh atasannya itu.
"Zik, sudah berapa lama kamu pacaran dengan Monic?" Tanya Alfian dengan menepuk punggung Ziko sekali.
Perasaan Ziko menjadi lebih tenang dengan tepukan dari sahabatnya itu. Perasaan akan merasa bersalah pun berangsur menghilang.
Alfian adalah orang yang penuh dengan kehangatan. Ada berbagai cara yang bisa ia gunakan untuk menenangkan setiap sahabatnya yang sedang dalam kegelisahan ataupun dalam keterpurukan.
Saat marah Alfian pun bisa bertindak diluar batasnya. Dalam kondisi seperti itu tak ada yang bisa menenangkannya, bahkan keluarga terdekatnya sekalipun.
"Sejak masalah yang dulu menimpa adik kelas kita dulu itu." Jawab Ziko.
"Masak mau pacaran terus, gak ada niatankah untuk kejenjang yang lebih serius." Nasehat Alfian.
Kata-kata Alfian kali ini membuat Ziko sadar kalau ia dikerjain oleh sahabatnya sendiri. Ziko pun juga merasa kata-kata sahabatnya itu ada benarnya.
"Aku ......" Kata-kata Ziko terpotong ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya itu.
Lidahnya terasa kelu untuk bercerita apa yang mengganjal dihatinya sampai saat ini. Ia pun menundukkan kepalanya dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Melihat Ziko yang menunduk, Ia pun mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu bersedih hati