Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 113. Kantin Kantor: 85


__ADS_3

Melihat Ziko yang menunduk, Ia pun mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak mau melihat sahabatnya itu bersedih hati.


"Jadi tadi sengaja ngerjain aku Bos besar. Awas saja ya aku akan ngerjain kamu juga kalau sudah saatnya." Batin Ziko.


"Maaf sobat aku tadi ngerjain kamu." Kata Alfian dengan senyumnya.


"Aku gak mau kamu dan Monic pacaran sangat lama. Kita gak tahu nantinya ada setan yang siaga. Walaupun aku tahu biarpun kamu seorang buaya darat kamu gak mungkin bertindak lebih jauh." Nasehat Alfian yang sangat panjang.


"Ada masalah kah jika kalian segera menikah?" Tanya Alfian kemudian.


Ziko masih tidak bisa berkata. Lidahnya kelu untuk berucap. Ia tahu kalau Alfian akan selalu membantunya. Tapi rasa tidak enak hati semakin hari semakin ada dalam dirinya.


"Sudah siang, waktunya istirahat. Ayo makan siang bersama ku." Ajak Alfian.


"Baiklah." Kata Ziko yang setuju ikut makan bersama atasannya.


Kedua laki-laki ini pergi meninggalkan ruang kerja Alfian menuju kantin perusahaan. Ziko berjalan mengekor dibelakangnya Bosnya itu.


Di kantor ia selalu menghormati Alfian sebagai atasannya sehingga ia berjalan di belakangnya. Sikap Ziko seperti itu membuat Alfian semakin menghormati dan salut padanya.


Keduanya saat berjalan bersama seperti itu selalu mengundang kekaguman bagi kaum hawa. Alfian dan Ziko memang memiliki paras yang sangatlah tampan dan menawan. Mereka mampu menghipnotis semua kalangan.


*** Di Kantin ***


Alfian dan Ziko sampai di kantin. Semua mata tertuju pada mereka. Suasana kantin menjadi hening. Tidak ada suara gaduh seperti biasa para karyawan.


Alfian melihat kondisi di kantin tersebut penuh dengan antrian yang terkadang membuat para karyawan kehabisan waktu untuk istirahat dan makan. Ia mendekati tempat makan tersedia yang diikuti oleh asistennya.


"Tuan mau makan apa?" Tanya sang koki.


"Kamu pesan apa Zik?" Tanya Alfian.


"Aku sama dengan Bos saja." Balas Ziko.


Alfian berjalan menuju salah satu meja. Tak berapa lama seorang pelayan menawarkan mereka untuk duduk di salah satu ruangan VIP yang ada di kantin itu.


"Tuan silahkan di ruangan sebelah sana." Pinta Pelayan.


"Tidak usah kami di sini saja."


Alfian dan Asistennya duduk di dekat taman. Mereka ingin menghirup udara segar di sana.


Tak berapa lama pelayan datang dan mencatat pesanan Alfian. Sambil menunggu pesanan itu datang Alfian memberikan penilaian terhadap kantin perusahaannya.

__ADS_1


"Menurut mu apa yang perlu diperbaiki di sini Zik?" Tanya Alfian.


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu? Tanya Ziko.


"Sopan aku tanya belum dijawab malah balik tanya." Tegur Alfian sambil tersenyum.


Pelayan pun datang membawa beberapa makanan yang mereka pesan. Mereka pun menghentikan perbincangan tersebut.


"Silahkan dinikmati Tuan." Kata Pelayan.


"Terimakasih Mbak." Kata Ziko ramah.


"Sama-sama Tuan." Balas Pelayan.


Pelayan itu berbalik meninggalkan Alfian dan Ziko. Mereka menikmati makanan yang mereka pesan tanpa bicara.


Makan siang kali ini membuat suasana kantin sunyi. Kariyawan disana tidak berani bertingkah. Biasanya banyak sendau gurau kali ini mereka sangat canggung.


Alfian mengambil tisu di atas meja di depannya. Ia mengusap mulutnya selesai makan dan minum di kantin itu. Ziko berjalan menuju kasir untuk membayar semua pesenannya.


Untuk semua pembayaran Ziko sudah diberi kartu debit dan kartu kredit milik Alfian. Tiap kali Alfian memintanya untuk membelikan sesuatu atau kebutuhannya tidak setiap saat harus memintanya. Ziko pun tidak diijinkan menggunakan kartunya sendiri jika sedang bersama dengan Alfian.


"Sudah Tuan." Kata Ziko menghampiri Bosnya setelah membayar.


Alfian langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju lift. Ia segera menuju lantai paling atas tepatnya ruang kerjanya.


"Sebenarnya ada apa sih Bos?" Tanya Ziko.


"Udah jangan banyak ngomong!" Tegas Alfian.


Keluar dari lift mereka berdua langsung menuju ruang kerja Alfian. Ruang kerja ini hanya bisa dibuka dengan sebuah kartu dan no PIN.


"Duduk." Kata Alfian.


Ziko langsung duduk di kursi yang terletak di depan kursi kebesaran Alfian.


"Siapa suruh kamu duduk di situ." Tegur Alfian.


"Biasanya juga duduk di sini Bos." Kata Ziko sambil berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Udah hangan banyak tanya atau mau aku potong gaji!" Perintahnya.


"Hari ini ada apa dengan sahabatku yang satu ini." Setan apa yang memasukinya hingga bertindak tidak seperti biasanya." Kata Ziko dalam hati.

__ADS_1


Alfian memang tidak suka dibantah oleh siapapun. Banyak rekan bisnis atau partner kerjanya merasa sungkan karena ketegasnnya dalam bekerja. Ia tidak pernah gagal dalam memenangkan tender.


Setiap kebijaksanaan yang Alfian ambil selalu mementingkan kepentingan orang banyak. Hal itulah yang membuat banyak orang menghormatinya.


"Beberapa hari lagi acara pernikahan Asisten Tuan Briyan, kita dapat undangan. Kita berangkat bersama. Ok." Kata Alfian.


"Jemput aku di rumah." Sambungnya lagi.


Aku ajak kamu karena aku gak mau dijadikan sopir sama bokap gue Zik." Kata Alfian dalam hati.


"Lha Bos, aku kan berangkat sama Monic." Kata Ziko.


"Potong gaji." Peringat Alfian.


"Haduh jadi Bos enak banget tinggal main ancam saja." Kata Ziko dalam hati.


"Tapi Bos masak besuk kita jeruk makan jeruk." Jelas Ziko.


"Gak usah protes, kamu bisa pasangan mu juga kali." Jelas Alfian.


"Bos masak kamu mau jadi obat nyamuk?" Tanya Ziko.


Alfian sudah tidak mau menerima protes asistennya. Ia mengambil beberapa beberapa berkas yang ada di meja dan diserahkan pada asistennya itu.


"Kerjakan itu saja dari pada banyak protes." Perintah Alfian.


Berkas-berkas yang diterima Ziko itu adalah berkas yang sangat penting. Terjadi sedikit kesalahan bisa fatal. Hingga Alfian hanya mempercayakannya pada Ziko.


Sopir sang Deddy baru pulang kampung karena orang tuanya sedang sakit, hingga akhirnya ia harus pulang ke rumah orang tuanya. Sopir kepercayaan keluarga Alfian memang sudah sangat lama bekerja di keluarga mereka. Ia tidak pernah pulang kampung sebelumnya selama bertahun-tahun.


"Bagaimana menurut mu kantin tadi?" Tanya Alfian penuh perhatian.


"Maksut Tuan?" Tanya Ziko.


"Menu, pelayanan kondisi, dan yang lain sebagainya." Jelas Alfian.


"Pelayannya cukup cantik." Puji Ziko.


"Dasar mata jaring." Kata Alfian memotong penjelasan Bosnya.


"Emang benerkan kan Bos? Cantik dan masih muda. Namanya juga wanita." Jelas Ziko.


Alfian hanya menggeleng-gelengkan kan kepala nya perlahan. Ia tahu sifat sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


Beberapa kalimat untuk memperbaiki kantin yang ada di kantornya terucap dari mulut Alfian. Ia tidak ingin karyawan mendapatkan pelayanan di kantor itu merasa tidak nyaman hingga mereka lebih memilih jajan di luar.


Berbagai kebijakan yang Alfian inginkan adalah memulainya dari dalam perusahaan. Jika kenyamanan di dalam perusahaan tercipta maka semua kariyawan pastinya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2