
Kepergian sepasang suami istri membuat membuat suasana semakin ramai dengan tawa renyah para pengunjung di lapaknya Abang Gondrong penjual penthol. Mereka juga berpikir ada-ada saja permintaan wanita hamil yang membuat orang lain bingung.
Mereka sampai di rumah utama waktu hampir sore. Deddy penasaran dengan pesan yang dikirim oleh anak laki-lakinya itu pada Mammynya.
Mobil milik Monik masih terparkir di tempat semula. Mereka masih membuat rencana pesta pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
Mammy berjalan melewati beberapa orang yang sedang berdiskusi tanpa melirik mereka sama sekali. Secepat kilat wanita itu ingin sampai di kamar lain.
Deddy yang mengikuti istri tercintanya itu selalu mengawasi gerak-gerik wanita itu. Suaminya itu tahu bahwa wanita itu akan pergi.
Serasa mendapat energi lebih wanita paruh baya sudah menghilang dari pandangan semua orang. Disisi lain suaminya terasa lebih tenang tadi mammy sudah mengisi perutnya.
Deddy ikut bergabung dengan ketiga pemuda tersebut. Ingin segera menyelesaikan visi dan misi terhadap anak laki-laki satu-satunya.
"Bagaimana sudah kelar?" Tanya Deddy yang baru saja bergabung dengan menatap tajam anak semata wayangnya itu.
"Belum." Jawab Ziko.
"Oh ya lanjutin aja sampai selesai, nanti bakalan dikasih bonus banyak sama bos kalian." Kata Deddy beranjak pergi menuju kamar utama.
"Kira'in bantuin." Seloroh Alfian.
"Menikah sekali seumur hidup Al, baik-baik susun strategi." Kata Deddy agak keras saat menaiki tangga.
Deddy mencari sang istri di kamar utama tetapi tidak ditemukan. Dia pun keluar menuju kamar Alfian, ternyata benar masih kembali ke kamar Sang Anak.
Sementara Deddy sedang menggiring istrinya untuk menepati janji, Alfian berusaha menyelesaikan pekerjaan mengenai kehidupannya di masa depan.
Penjual penthol Abang gondrong sudah dalam perjalanan menuju rumah utama milik Alfian. Di depan gerbang yang cukup tinggi seorang satpam menghentikannya.
"Bang di sini bukan tempat jualan." Kata satpam yang memandang rendah Abang Gondrong jika dilihat memang tidak rapi dengan penampilannya.
"Maaf Pak, saya cuma ngantar pesanan." Kata Bang Gondrong.
"Mana ada sih Bang yang pesen makanan beginian di rumah ini." Balas Satpam.
Abang Gondrong mengeluarkan sebuah kartu nama kemudian diserahkan pada Satpam. Satpam menghubungi yang punya rumah.
__ADS_1
Penjual penthol itu diminta masuk setelah mendapat kepastian dari yang punya rumah. Mammy yang mendengar pesanannya sudah tiba tidak jadi masuk kamar tetapi malah turun menemui penjual penthol.
Diskusi ketiga orang yang berada di ruang tengah terhenti tatkala melihat wanita paruh baya yang sedang hamil muda itu berjalan keluar rumah lagi. Mereka pun penasaran dengan sang mammy hingga pandangan mereka pun terus mengikuti kemanapun mammy melangkah.
"Ada-ada saja kelakuan orang hamil itu." Kata Ziko lirih.
"Pasti merepotkan." Lanjutnya.
"Ya memang kenapa? Laki-laki itu memang mau enaknya doang gak mau direpotkan." Kata Monik jengkal.
"Memang kamu nanti gak mau punya anak?" Tanya Alfian.
"Entah.... " Jawab Ziko dengan mengendikkan kedua bahunya.
"Sepi gak ada anak kecil, gak gitu mana mungkin orang tua gue bela-belain bikin anak lagi." Kata Alfian.
"Gimana bikinnya?" Seloroh Ziko memandang gadis yang ada di sampingnya.
"Dasar elu, gitu aja udah mesum." Kata Monik memukul kepala Ziko.
"Praktek aja langsung." Kata Alfian.
"Gila." Ketus gadis itu.
"Kalau kita ngobrol terus ni mana selasai-selesai." Kata Monik memperingatkan.
Mereka kembali mendiskusikan rencananya. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya hanya dengan kekuatan uang.
"Al ini pesenan kamu sudah dateng." Kata Mammy dengan sedikit keras.
"Iya Mam." Jawab Alfian yang sebenarnya tadi sudah mencari-cari barang bawaan Mammynya tetapi ternyata tidak menemukan buah tangan.
"Oh ternyata ini tadi pesanan Alfian sekalian gerobak dan penjualnya." Batin Deddy.
"Memangnya tadi kamu pesen apa Bos?" Tanya Ziko.
"Penthol." Jawab Alfian beranjak keluar.
__ADS_1
"Itu kamu habisin, harus habis." Kata Mammy dengan tertawa renyah.
"Hah, sebanyak itu Mam." Kata Alfian terkejut dan membelalakkan mata tak percaya.
"Jangan salah Al, harus habis sama sama yang jualan juga tadi udah dipesan sama Mammy." Kata Deddy.
"Masak jeruk makan jeruk juga." Kata Alfian.
"Mana habis segini banyaknya." Batin Alfian.
"Habisin itu Al, nanti biar cepet jadi bikin dedeknya." Canda Deddy.
"Gimana bikinnya Ded?" Balas Alfian.
"Haduh kalian ini gak Bapak gak anak semua omes." Kata Mammy yang mendengar mereka berdua adu mulut.
"Bukannya begitu Mammy sayang. Tadi juga Ziko tanya bikinnya gimana?" Kata Alfian melindungi dirinya sendiri.
"Enak aja gue yang disambung hitamkan." Kata Ziko yang tidak mau disalahkan.
Ziko yang mencium aroma makanan dari luar langsung menyusul Alfian. Dia memang tidak pernah ketinggalan kalau soal makanan.
"Seharian sudah bekerja keras nih tante, perut ku rasanya sudah minta di isi." Pinta Ziko yang juga ingin makan penthol Abang Gondrong.
"Itu kan tadi buat anak laki-laki tante, jadi maaf ya." Jelas Mammy.
"Tante katanya aku juga anak laki-laki nya tante. Gimana sih gak dibagi dengan ku gak boleh?" Jelas Ziko yang juga masih ingin makan.
"Beda lah tujuan ku kan besuk biar Alfian kuat bikin dedek-nya." Jelas Mammy.
"Kalau masalah bikin dede tanya Deddy sama Mammy aja yang tokcer." Jelas Alfian yang tidak mampu menghabiskan semua pesanan Mammy.
Adu mulut masalah makan terlalu panjang hingga membuat Abang gondrong geleng-geleng kepala. Akhirnya semua dapat jatah makan karena Deddy juga ikut makan.
Abang Gondrong dengan sabar melayani mereka. Dia cukup bersyukur jualannya hari ini segera habis.
Rencana yang mereka susun dengan rapi telah selesai. Mereka juga sudah makan penthol buatan Abang Gondrong.
__ADS_1
Ziko mengantar Monik pulang ke rumahnya, berlanjut Ziko pulang ke apartemen miliknya. Waktu yang terus berjalan dengan cepat tak disia-siakan dengan aktifitas hari ini.
Menunggu datangnya besuk Alfian sudah tidak sabar dengan segala hal yang harus dipersiapkan. Perasaan senang sudah menghiasi hatinya hingga semalaman dia tak bisa tidur.