Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 83. Iya Aku lupa


__ADS_3

"Iya aku lupa... Biasa lah saking bangetnya bahagia hingga membuatku gila dan lupa segalanya." Kata Briyan.


"Sihir apa yang digunakan itu Dita hingga membuat elu gila sampai tergila-gila bahkan?" Tanya Adrean.


"Udah deh jangan ledekin terus, bikin makin kangen aja sama itu calon mempelai." Kata Briyan.


"Aku cuma mau minta tolong kamu bimbing itu anak gadis aku sebelum kamu meried. Aku minta dia jadi sekretaris kamu di sini biar dia banyak belajar dari kamu." Kata Adrean menjelaskan secara rinci.


Hening


hening


hening


"Dia kerja di sini untuk Uji Coba atau masa percobaan." Lanjut Adrean setelah sekian menit tanpa ada jawaban.


"Uji Coba kayak barang aja." Canda Briyan kemudian.


"Dia mah udah pinter. Cerdas lagi dalam segala hal." Sambung Briyan.


"Maksud gue itu biar dia tidak diremehin sama bawahannya kalau tanggung jawab sudah aku serahkan sepenuhnya. Kalau udah seperti itu kan terlihat dia berjuang dari bawah, siapapun akan segan padanya biarpun cewek." Jelas Adrean yang panjang kali lebar alias itu rumus luas.


Briyan hanya menganggukkan kepala ringan. Itu bertanda bahwa Briyan mengerti maksut Adrean.


"Paham Elu?" Tanya Adrean lagi.


"Iye-iye gue paham." Jawab Briyan.


"Pinter Elu." Puji Adrean.


"Udah dari sononya, Yan." Jawab Briyan narsis.


"Udah gue kembali dulu ke ruangan ku. Lanjutin itu bayangan Dita sambil merem melek." Ledek Adrean.


♥️♥️♥️♥️


106


Udah gue kembali dulu ke ruangan ku. Lanjutin itu bayangan Dita sambil merem melek." Ledek Adrean sambil berbalik melangkahkan kakinya keluar ruangan Briyan.


Adrean menutup pintu ruangan asistennya dengan rapat. Ia pun kembali menuju ruang kerjanya.


Mentari terlihat sedang fokus terhadap apa yang dibacanya. Kehadiran Papanya tidak disadarinya. Lama sekali Papanya sudah duduk di kursi kebesarannya.


Dreeeeet dreeeeet dreeeeet dreeeeet


Ponsel Papa yang di taruh di atas meja bergetar. Mentari terkejut mendengarnya, Ia melihat ke arah meja kerja Papa.


Papa mengambil ponselnya. Ia mulai menjawab telepon itu.


"Assalamualaikum." Sapa Papa.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Penelepon di seberang.


"Nanti malam kami sekeluarga ingin berkunjung ke rumah Bapak. Apa bapak ada waktu?" Tanyanya lagi.


"Untuk calon besan kita selalu ada waktu Pak. Kami tunggu kedatangan Bapak." Balas Papa.


Mendengar percakapan itu jantung Mentari langsung berdegup kencang. Seakan mau melompat keluar. Untuk menutupi perasaannya yang tak karuan itu ia membuka percakapannya dengan Papanya.


"Sudah lama Pak Bos?" Tanya Tari sebelum ditanya.


"Sudah, kenapa?" Tanya Papa.


"Haduh kenapa Papa matap aku kayak gitu?" Batin Tari.


"Kenapa tadi diam aja?" Tanya Tari untuk mengalihkan apa yang akan dibicarakan Papanya.


"Kamunya sih serius banget mempelajarinya. Cepet tua ntar kalau gitu terus." Ledek Papa.


"Ledekin terus Pa, yang penting happy hati ini." Balas Tari.


"Ya pastilah happy nanti malem kan ada yang mau diseriusin." Ledek Papa lagi sambil berjalan menuju sofa dimana anak gadisnya duduk.


Papa duduk disebelah anaknya itu. Walaupun bukan darah daging tapi keduanya saling sayang menyayangi layaknya orang tua dan anak.


"Sebentar lagi tuh ada yang mau nyusul meried Om Briyan." Kata Papa.


"Anak gadis ku itu ternyata cantik buktinya masih belasan tahun udah ada yang melamar." Kata Papa.


"Katanya sih kalau udah nikah berari udah laku tu itu tandanya cantik." Goda Papa.


"Apa'an sih Pa. Berarti akunya selama ini gak cantik gitu? Elak Tari gak sependapat sambil mengerucutkan bibir.


"Itu bibir dimonyong-monyongin apa udah minta di Sun sama seseorang? Tanya Papa.


"Apa'an sih Pa." Kata Tari dengan wajah yang sudah memerah karena marah.


"Aku tu menjaga sumua milik ku dengan baik sebelum ada seseorang yang dihalalkan untuk ku." Lanjutnya sambil bergelayut manja dengan sang Papa.


"Bagus Sayang." Kata Papa sambil menepuk punggung anak gadisnya.


"Seorang wanita itu harus pandai-pandai menjaga diri agar bisa dihormati oleh suami ataupun keluarga suami." Lanjut Papa.


Suasana menjadi hening. Ia tahu anak gadisnya yang cerdas bisa menebak siapa yang menghubungi Papanya baru saja.


Tok tok tok


Suara pintu ruangan Papa diketuk oleh seorang sekretaris yang cantik. Ia menyerahkan sebuah dokumen pada Papanya. Saat itu sang Papa bertanya padanya mengenai jadwalnya hari ini.


"Mon, hari ini aku ada jadwal meeting atau bertemu klien tidak?" Tanya Papa.


"Anda hari ini free Tuan." Jawab sekretaris Papa yang baru.


"Baiklah nanti Asisten Briyan yang akan handle pekerjaan ku hari ini. Saya ada urusan hari ini." Kata Papa.


"Baik Tuan, saya permisi." Kata Mona.


Mona meninggalkan ruang kerja Papa dengan raut wajah yang sangat senang. Mona menyukai Briyan sejak ia bekerja di perusahaan ini. Ia belum tahu kalau Briyan akan menikah.


"Ok saatnya PDKT. " kata Mona dalam hati.


Papa mengajak anaknya makan siang di rumah makan yang sangat sederhana. Rumah makan itu menyajikan berbagai makanan yang tidak kalah enak dengan restoran berbintang.


Rumah makan ini sangat ramai dengan pengunjung karena masakan yang sesuai dengan selera mereka serta harga cukup murah bila dibandingkan dengan rasanya.


Papa mencari tempat duduk yang dirasa cukup nyaman. Tempat yang menghadap sebuah taman. Sebenarnya ada ruangan VIP. Tapi Papa hanya memanfaatkan fasilitas tersebut jika ia bertemu dengan klaen.


Setelah duduk Papa melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan untuk makan siang mereka.


Pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa daftar menu siang ini. Menu tiap hari selalu berganti-ganti setiap hari. Sehingga pengunjung tidak merasa bosan.


Pelayan itu mencatat semua pesanan Papa dan Mentari. Saat pelayan itu pergi Papa menjelaskan sesuatu pada anaknya.


"Sayang tadi yang menghubungi Papa adalah Daddynya Alfian. Katanya nanti malam mereka mau berkunjung ke rumah kita." Kata Papa.


"Kayaknya Alfian udah kebelet itu mau menikah." Sambungnya lagi.


Deg


Jantung Mentari seakan berdetak semakin cepat saat mendengar perkataan Sang Papa. Tapi jantungnya itu berdetak cepat bukan hanya karena melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Panjang umur juga itu cowok." Kata Tari keceplosan.


"Ya Ampun sayang, mata kamu lihat kemana sih? Tanya Papa yang saat itu melihat anaknya sedang fokus dan tidak begitu memperhatikan arah pembicaraannya dengannya.


"Jangan dibiarin itu mata jelalatan ke laki-laki lain." Sambung Papa.


"Jelalatan Gimana orang akunya lagi lihat cowok ganteng." Jawab Alfian.


Tak butuh waktu lama pelayan tadi mengantarkan pesenannya. Mereka berhenti dari arah pembicaraannya.


"Terimakasih Mbak." Kata Papa dan Mentari bersamaan.


"Sama-sama Pak, Mbak."


"Silahkan menikmati."


Pelayan pun pergi setelah itu. Papa dan Mentari melanjutkan obrolan ringan mereka.


"Cepat makan." Perintah Papa sambil melihat wajah anak gadisnya itu.


"Ntar dingin lho." Kata Papa lagi.


"Kayak es aja dingin." Jawab Mentari.


Seketika Papa mengikuti arah pandang anak gadisnya itu. Papa pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kayaknya kamu juga udah kebelet ya?" Tanya Papa.


"Iya Pa." Kata Mentari Tanpa sadar.


"Kenapa lidah ku jadi keseleo ini melihat makhluk tampan dengan penampilan yang berbeda hari ini." Batin Tari.


"Iya Pa, Aku kebelet pipis. Aku ke toilet dulu deh ya. Kata Tari yang sudah malu dengan jawabannya barusan.


Mentari pun berlalu pergi ke toilet dengan segera. Wajahnya sudah terlihat sangat merah karena malu.


Mentari pun sudah kembali lagi ke meja tadi. Ia hendak makan pesanan yang tadi. Ia perharap sang Papa lupa dengan kata-kata nya baru saja.


"Makan tu yang kenyang biar cepat gemuk." Kata Papa.


"Iya deh - iya." Kata Tari.


" Entar kalau udah gemuk baru disembelih biar dagingnya banyak." Sambung Tari.


"Iya kayak hewan yang disembelih nunggu gemuk." Jelas Tari lagi.


"Waduh, bukan begitu sayang." Kata Papa.


"Disembelih apa belah Suren biar dagingnya banyak tapi empuk.😁😁😁😁." Pikiran Papa yang mulai presnya.


"Trus apa dong?" Tanya Tari.


"Ntar kalau kamu sampai kurus itu badan, pasti nanti ada yang bilang kamu gak pernah dikasih makan." Jelas Papa.


Mereka pun selesai makan langsung menuju rumah. Papa menyiapkan segala sesuatunya. Mama pun segera diberitahu suaminya.


♥️♥️♥️♥️


107


Mereka pun selesai makan langsung menuju rumah. Papa menyiapkan segala sesuatunya. Mama pun segera diberitahu suaminya.


Mama yang saat itu sedang sangat sibuk di kantor baru dua hari ini pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda beberapa tahun. Ia tidak ingin mengecewakan anak gadisnya itu walaupun ia bukan anak kandungnya.


Pukul 14.00 Mama segera beranjak dari kursi kebesarannya. Ia bersiap untuk pulang.


Keluar dari ruang kerja Sinta berpapasan dengan sahabatnya yang sekaligus asistennya. Sahabatnya itu penasaran karena Sinta keluar dengan tergesa-gesa.


"Ada apa tergesa-gesa? Tanya Reno.


"Aku harus segera menjemput anak ku?" Jawab Sinta.


"Kan elu punya sopir." Kata Reno.


"Dia anak ku bukan anak sopir ku." Jelas Sinta.


"Iya-iya Mama muda." Ledek Reno.


"Trus papa tuanya gak njemput elu lagi hari ini?" Tanya Reno.


"Gue kan bawa mobil sendiri." Kata Sinta.


"Jadi aku nyetir sendiri." Jelas Sinta.


"Iya sampai semua orang disetirin aja sama kamu yang punya SIM." Ledek Reno.


Mereka berdua berbincang dengan candaan sambil berjalan menuju lobi. Di lobi mereka berpisah karena tujuan mereka berbeda.


"Udah dulu Ren. Bicara sama kamu terus gak ada habisnya." Pamit Sinta.


Sinta menuju berjalan menuju tempat parkir. Ia masuk mobil dan menjalankannya pelan saat melewati Reno.


"Bye-bye. Kata Sinta dengan melambaikan tangannya.


"Bye-bye." Balas Reno.


Keluar dari perusahaan ia segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju sekolah ketiga anaknya. Di depan sekolah Mama pun turun berjalan menuju halaman. Ketiga anaknya sudah menunggu di taman sekolah.


"Sudah lama nunggunya sayang?" Tanya Mama pada ketiga anaknya.


"Belum Ma." Jawab ketiganya kompak.


Mama berjongkok dan memeluk ketiga anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Udah Ma lepas, Kami udah besar malu dilihat teman-teman." Kata Axel sambil berusaha melepaskan pelukan Mamanya.


"Ya iyalah. Mau adu apa pun kita udah siap mental." Jawab Garda.


Papa dan Mama mereka memang selalu mengingatkan ketiganya untuk menjaga kakak perempuan mereka. Sekuat apapun seorang perempuan pasti akan tumbang juga jika sudah merasa lelah.


Mama pun berdiri dan mereka berempat berjalan bergandengan hingga memenuhi jalan. Hal ini dirasakan oleh Axel Daffa yang berjalan sama-sama di ujung.


"Emang ini jalan milik moyang kita ya?" Tanya Axel.


"Lho kenapa memangnya?" Tanya Mama.


Mama akhirnya melihat dari ujung ke ujung. Baru sadar kalau jalan hanya dipenuhi mereka.


"Udah ayo kita jalannya agak cepet ya." Perintah Mama.


"Kenapa memangnya Ma?" Tanya Daffa.


"Mama laper." Kata Mama berbohong.


"Lha itu di dalam tadi ada kantin, itu di luar juga banyak warung." Jelas Axel sambil menunjuk tempatnya.


"Gak mau ah jajan. Kakak aja dulu di sekolah jarang banget jajan. Kan malu Mama kalau ketahuan jajan sama anak kecil." Jelas Mama.


"Jangan-jangan Mama uang jajannya dikurangi sama Papa nih." Ledek Axel.


"Udah ah makan di rumah aja lebih higienis dan bergizi." Kata Mama.


Mereka masuk mobil dan pulang. Mobil dikendarai dengan kecepatan sedang dan sangat hati-hati.


Mobil tiba-tiba berhenti. Mama ingin membeli sesuatu. Anak-anak pun terkejut karena direk mendadak.


"Katanya sudah sangat dan sangat lapar kenapa berhenti di tengah jalan sih. Mendadak lagi berhentinya." Kata Garda sambil gedumel mulutnya.


"Iya ya benar." Kata Axel.


"Salah tahu." Tolak Daffa.


"Huuuu sok tahu." Sorak Axel dan Garda bersamaan.


"Enggak aku gak salah." Sanggah Daffa.


"Coba pikir kalau berhenti di tengah jalan kita pasti di bisa ditabrak orang lain kan?" Kata Daffa membela dirinya sendiri.


"Huuuua ha ha ha." Gelak tawa ketiga anak itu bersamaan.


"Makin pinter aja kamu coe." Puji Axel.


"Ya iya lah belajar serius ya makin tambah pinter." Kata Daffa yang menyombongkan dirinya.


"Udah kalian ini ribut apa'an sih?" Tanya Mama sambil berusaha menepikan mobilnya.


"Kalian tinggal di sini aja ya? ia Mama gak lama kok." Perintah Mama.


Mama langsung beranjak keluar mobil sebelum mendapat jawaban dari ketiga anaknya. Ia tahu watak mereka. Kalau dijawab nanti akan tambah panjang dan gak jadi turun. Mereka cerewet sekali kalau ketiganya sudah berbincang dan bercanda. Melebihi seorang wanita.


Mama berjalan menuju salah satu warung buah. Ia terlihat memilih banyak buah dengan aneka macamnya jenis buah.


"Tumben Mama membeli buah banyak banget." Gerutu Garda.


"Iya juga gak biasanya. Ini tak normal jumlahnya." Kata Axel.


"Apa jangan-jangan???" Tanya Garda menggantung.


"Udah kita lihat dulu aja kisah selanjutnya." Kata Axel.


"Kisah selanjutnya kepala lo peyang." Protes Daffa.


"Betul betul betul ini bukan sinetron masak pakai kisah selanjutnya." Kata Garda.


"Kebanyakan nonton sinetron sih lue sama Mama." Kata Daffa.


"Ini Novel Bung." Kata Garda.


"Kalau novel apa'an dong?" Tanya Axel.


"Kalau novel mah Bab gaes." Jelas Garda.


"Udah diem Mama udah selesai berbelanja jangan ada yang protes masalah belanjaan. Nanti kita bisa dihisap darah kita." Kata Axel yang panjang kali lebar.

__ADS_1


"Emang Mama vampir apa pakai acara hisab darah?" Tanya Daffa si kembar yang paling kecil dengan rasa takutnya.


Belum sempat dijawab oleh kedua saudara kembarnya Mama sudah masuk dalam mobil. Mereka terdiam tak ada yang berani bersuara.


Hening


Hening


Hening


Suasana dalam mobil yang dikendarai pun karena hening tak ada suara jadi terlihat mencekam. Pikiran Mama dan anak-anaknya sudah travelling kemana-mana.


"Apa mereka kecapean dan gak enak badan, hingga mereka harus diam seribu bahasa." Batin Mama.


Mobil kembali melaju ditengah kemacetan kota. Untung saja jalanan tidak begitu padat sehingga tidak begitu memakan waktu lama untuk sampai rumah.


Toko kue terlihat sangat sederhana. Mama menghentikan mobilnya tepat di depan toko tersebut sama seperti menghentikan mobil saat akan membeli buah-buahan.


"Ini Mama kita kenapa sih?" Katanya tadi laper pengen segera sampai rumah. Sekarang malah berhenti-berhenti terus." Gerutu Axel.


"Gue jadi merinding. Bulu kuduk gue berdiri semua jadinya." Kata Daffa.


"Ih serem." Sambung Garda.


"Nah itu juga beli kue banyak banget." Kata Daffa.


"Hari ini memang bener-bener berlebihan beli buah dan kuenya." Kata Garda.


"Udah ah aku gak mau ikut-ikutan uji nyali." Celetuk Daffa.


Mama segera masuk ke mobil. Karena anak-anaknya tidak ada yang bicara sama sekali. Mama langsung pulang tidak mampir-mampir lagi. Mama merasa takut kalau mereka tidak enak badan.


Di rumah Mama dan ketiga anak kembarnya sudah ditunggu oleh Papa dan Kakak. Ketiga anak laki-laki itu langsung keluar dari mobil.


♥️♥️♥️♥️


108


Di rumah Mama dan ketiga anak kembarnya sudah ditunggu oleh Papa dan Kakak. Ketiga anak laki-laki itu langsung keluar dari mobil.


Melihat tingkah ketiga bocilnya itu mereka merasa heran. Mereka terlihat agak pendiam.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?" Tanya Papa.


"Gak apa-apa kok Pa?" Jawab Axel.


Mama dan ketiga anak laki-lakinya itu langsung mencium punggung tangan Papa. Mereka bertiga langsung naik lantai atas menuju kamar masing-masing.


Mama membeli banyak belanjaan buah dan kue di dalam mobilpun segera di turunkan dan dibawa masuk. Mereka menyimpan buah dan kue di meja dapur.


Mama pun segera pergi ke kamar dan membersihkan diri. Mama bingung mau masak apa untuk hidangan nanti malam. Bukan hanya untuk keluarganya saja tetapi untuk keluarga Alfian.


Mama turun ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Papa dan Kakak.


"Anak-anak tadi kenapa Ma?" Tanya Papa merasa khawatir.


"Gak tahu lah Pa." Jawab Mama.


"Tadi keluar dari sekolah mereka masih ceria, Tapi sejak aku belanja buah-buahan tadi mereka seperti itu. Banyak diamnya." Jawab Mama yang sangat panjang sekali.


"Aku ke atas dulu aja kalau gitu, lihat anak-anak." Kata Papa.


"Kalian masak lah yang enak atau kita pesan aja?" Tanya Papa sambil beranjak berdiri.


"Masak aja deh Pa. Kalau pesan di resto kan mereka juga udah sering makan di resto." Jelas Kakak.


"Bagus juga." Puji Papa.


"Masak apa aja yang enak ya." Perintah Papa.


Papa pun mulai naik ke lantai atas. Mama dan kakak menuju dapur untuk memasak makanan dengan bahan yang ada di kulkas.


Ketiga anak laki-laki tampan itu sudah berada di kamar Axel. Mereka masih berpikir tentang kejadian tadi bersama Mama yang belanja kelewat banyak.


Tok tok tok


Pintu kamar Axel di ketuk oleh Papa. Papanya tahu mereka selalu berkumpul di kamar kakak paling tua.


"Masuk aja pintu gak dikunci." Kata Daffa.


"Kok disuruh masuk sih." Protes Axel.


"Ini kamar gue tahu!" Kata Axel mengingatkan.


"Ntar kalau Mama gimana?" Tanya Garda dengan cemas.


"Terlanjur di suruh masuk tahu." Kata Axel.


"Gampang ntar kalau Mama berubah jadi vampir dan mau menghisap darah kita, kita tinggal teriak aja. Di bawah kan masih ada Papa dan Kakak." Jelas Garda yang sejelas-jelasnya.


Ceklek


Pintu kamar Axel pun dibuka. Suara langkah kaki semakin jelas terdengar. Ketiga bocil ini sudah sangat ketakutan. Mereka saling berpelukan layaknya teletabies.


"Kalian kenapa?" Tanya Papa.


"Kok kayak ketakutan. Apa kalian gak enak badan?" Tanya Papa beruntun.


"Oh.... Papa ya." Kata Garda.


"Aku kira.... " Suara Daffa tertahan.


Papa berjalan kemudian duduk di karpet tempat ketiga anak laki-lakinya itu duduk. Ia menyentuh kening ketiganya.


"Tidak demam gitu kok." Kata Papa.


"Ada masalah?" Tanyanya lagi.


"Ada yang aneh deh Pa dengan Mama." Jelas Axel.


"Aneh gimana sayang?" Tanya Papa.


"Tadi mama bilang laper pingin segera pulang. Tapi dijalan tadi malah beli buah dan kue banyak banget pokoknya berlebihan. Apa Mama jadi Vampir yang suka menghisap darah?" Tanya Daffa polos.


" Gak mungkin lah menghisap darah kalian yang sedikit." Jelas Papa.


"Mungkin lah Pa. Minta cepet pulang karena pingin segera hisab darah kita trus beli semua itu tadi nyuruh kita makan banyak kan darah kita juga jadi banyak." Jelas Axel.


"Iya itu sekarang Kakak dan Mama malah tambah masak banyak itu." Kata Papa yang membuat ketiganya semakin takut.


"Papa pokoknya harus melindungi kita!" Tegas Axel.


"Tentu saja nanti yang digigit bukan kalian tapi Papa yang akan digigit pertama kali. Papa janji gak akan biarin kalian digigit Vampir Wanita." Jelas Papa untuk menenangkan anak-anaknya.


Papa sudah cukup lama berbincang-bincang dengan anak-anaknya di kamar Axel. Ia pun hendak pergi untuk mandi.


"Kalian segera mandilah, nanti kita makan besar." Perintah Papa.


"Janji ya Pa nanti waktu makan kita aman." Kata Daffa memastikan.


"Ok tampan." Balas Papa.


Mereka semua akhirnya membubarkan diri menuju kamar masing-masing. Mereka segera mandi dan memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Mama di atas tempat tidur.


**** Keluarga Alfian ****


Siang ini Alfian memang tidak ada meeting atau pun pertemuan dengan klien. Hingga pekerjaan pun cepat selesai.


Pukul 15.00 Alfian sudah menyelesaikan semua pekerjaan kantornya. Ia segera pulang ke rumahnya.


Di rumah ternyata Deddy dan Mommy sudah ada di rumah. Biasanya mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Assalamualaikum." Alfian mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Deddy dan Mommy bersamaan.


"Tumben Deddy dan Mommy jam segini udah ngumpul?" Tanya Alfian.


"Kamu lupa apa Al?" Tanya Deddy.


"Emang ada acara apa sih Ded? Kayaknya penting banget." Tanya Alfian.


"Kamu ini Al Al masih muda tapi udah pikun." Balas Deddy.


"Kamu kemarin bilang apa sama kami orang tua kamu?" Tanya Mommy.


"Jadi..... " Kata Alfian terpotong.

__ADS_1


__ADS_2