
Seorang gadis yang tadinya sedang bermanja-manja dengan Papanya, sekarang ia harus menahan itu semua setelah kedatangan kedua orang tua Alfian. Ia tahu tempat ketika ada orang lain biarpun itu adalah kedua orang tua Alfian.
Gadis ini tidak mau memperlihatkan kelemahannya pada orang lain. Ruang rawat yang sangat luas ini bisa menampung banyak orang.
Malam ini kedua keluarga memutuskan untuk menemani pasien yang sangat tampan ini. Para pria berbincang dengan sesama sedangkan kedua wanita itu juga sama.
Papa dan Ayah Alfian sejak tadi hanya berbicara tidak lepas dari perusahaan sedangkan para wanita ini membicarakan juga tidak lepas dari dunia mereka.
Ketiga anak kecil itu sudah mencapai dunia mimpi sejak tadi. Hanya saja sepasang remaja ini tidak berani berkutik sama sekali.
Sepasang muda mudi lain halnya bahkan hampir tidak pernah berbincang walaupun mereka sangat dekat. Bisa dibilang hanya satu jengkal saja mereka lebih banyak diam seribu bahasa.
Waktu sudah hampir pagi karena asiknya mereka sampai lupa waktu. Dilihat jam yang tergantung pada dinding sudah hampir subuh mereka masih saja asik dengan obrolan masing-masing.
Hari ini ibu hamil ini juga sama ia sangat suka dengan obrolannya hingga dini hari matanya tidak merasa kantuk sama sekali. Pada hal ibu hamil harus banyak-banyak istirahat apalagi dalam usia kandungan yang masih sangat muda seperti itu.
Sang Mama selalu mengingatkan pada ibu hamil tersebut untuk istirahat tapi selalu saja ada alasan untuknya untuk menghindari tidur yang harus dilakukannya. Ia tidak mau kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kandungan calon besannya itu.
Pagi hari ini mereka semua masih berada di rumah sakit. Para pemilik perusahaan hari ini dengan sesuka hati mereka meliburkan diri.
Mata mereka merah karena kurang istirahat. Bukan hanya kurang tidurpun tidak.
Pakaian ganti jangan tanya lagi, pastinya mereka tidak membawanya. Ada saja pasti pihak yang direpotkan.
Asisten mereka walaupun mereka banyak pekerjaan tetapi mereka pasti sudah siap untuk direpotkan dari pada potong gaji dan tidak dapat bonus bulanan.
Thiiiing
Bunyi pesan masuk pada Hp milik Ziko yang saat ini sedang memiliki pekerjaan ganda. Pesan dari Sang Bos Besar segera tahulah Ia karena nada sambungnya dibedakan.
Sebuah alasan sendiri Asistennya itu melakukannya. Ia tidak mau mengecewakan orang yang telah memberikannya sebuah pekerjaan. Hal itu menjadi alasan utama baginya.
Terlambat sedikit saja pastinya Atasannya itu memiliki tameng untuk menahan gaji dan bonusnya. Jika sudah seperti itu bisa mati kelaparan dianya.
Isi Pesan:
__ADS_1
"Bawakan Aku baju ganti! ~ Alfian.
"Baik Bos." ~ Ziko.
"Ada yang lain?" ~ Ziko.
"Tidak untuk saat ini." ~ Alfian.
Ziko keluar dari perusahaan dengan tergesa-gesa. Sekretaris Alfian melihatnya dengan heran melihat Sang Asisten.
Sekretaris itu menghadangnya di depan pintu lift khusus direktur. Apalah daya kekuatan seorang wanita tidak lah seberapa hingga yang semula ia hanya ingin menghadangnya malah ikut terdorong masuk ke dalam lift itu.
Pengguna lift itu hanyalah orang-orang tertentu jadi tidak seramai lift untuk para karyawan. Untuk selanjutnya jangan ditanya apa yang terjadi di dalam sana yang hanya ada seorang pria dan seorang wanita.
Thing
Suara pintu lift tertutup hanya mereka berdua di dalamnya. Keadaan yang sungguh tak disangka.
Monic terdorong ke dalam lift karena kehilangan keseimbangan akibat sepatu yang terlalu tinggi dan kini berhadapan dengan seorang pemuda. Tanpa sadar Pemuda itu menatap bibir merah ranum hingga menimbulkan suatu keinginan.
Pemuda itu kini mendekat dan semakin mendekat menekan tubuh gadis yang cantik yang berawakan putih itu. Ingin sekali Ziko memakan bibir yang seperti buah cerry itu.
"Maaf." Pinta Pemuda tampan yang sekarang berada dalam lift.
"Hem." Jawab Monic dengan menundukkan kepala.
"Mau kemana tergesa-gesa?" Tanya gadis itu.
"Ke rumah Tuan Alfian." Jawab Ziko.
"Bukankah dia di rumah sakit?" Tanya gadis itu kembali.
"Aku diminta membawakan baju gantinya." Jawab Ziko.
"Oh....." Kata Monic terjeda.
__ADS_1
"Gimana keadaannya?" Lanjut gadis itu.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Ziko.
"Aku belum sempat menjenguknya." Lanjutnya.
Pemuda itu dari samping terus memperhatikan wajah cantik gadis yang ada di dekatnya. Tanpa sadar pandangannya pun semakin turun hingga pada leher putihnya dan ingin menggigitnya seperti drakula atau Vampir.
Thing
Pintu lift pun terbuka hingga menyadarkan pemuda yang mendapatkan pemandangan gratis saat itu. Gadis itu pun menoleh sadar dari tadi dilihat oleh pemuda yang disampingnya itu.
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari lift dengan sedikit rasa canggung. Ziko yang ketahuan sedang memperhatikan gadis yang dilihatnya itu bersikap cuek seperti tidak terjadi sesuatu.
Di persimpangan lobi perusahaan mereka berpisah. Pemuda itu berjalan menuju tempat parkir sedangkan gadis itu menghilang entah kemana sejak keluar dari lobi.
Pemuda itu berjalan dengan tergesa-gesa dengan memasukkan tangan pada celana panjang yang ia kenakan. Ia mencari kunci mobil yang diingatnya tadi sudah dimasukkan dalam kantong celananya.
Kunci mobil di dapatkan di kantung celananya tapi setelah mengambilnya sungguh Na'as. Kunci itu terjatuh dan didapatkan bahwa ternyata ban mobilnya bocor.
"Sial." Rutuknya sambil menendang ban mobil itu.
Pemuda itu mengambil benda pipih yang ada di saku celananya. Ia menghubungi montir meminta bantuan untuk menggantikan ban mobilnya.
Montir langganannya memang selalu bisa diandalkan. Saat ini jika bukan sedang berada di kantor ia pasti sudah menggantinya sendiri.
Pemuda itu melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Perasaan jadi tidak enak karena sesuatu yang baru terjadi.
"*Celaka pasti ini kena poin dikira aku gak pecus kerja." Batin Seorang Pemuda yang baru saja mendapati ban mobilnya bocor.
"Potong gaji pastinya bikin semakin lama aja gue bujangnya." Lanjutnya*.
Setelah menutup panggilan ia melihat seorang gadis yang hendak menuju kantin. Gadis itu yang bersamanya saat di lift.
Gadis itu melihat Ziko yang baru saja mematikan ponselnya. Ia penasaran seketika tidak biasanya asisten bosnya itu membuang waktu yang sangat berharga.
__ADS_1
Gadis itu tidak jadi pergi ke kantin. Ia menghampiri Ziko yang sepertinya sedang membutuhkan bantuan.
Berjalan sedikit cepat gadis itu menghampirinya. Ia menahan rasa sakit pada kakinya itu.