Ketulusan Cinta Mentari

Ketulusan Cinta Mentari
Bab 8. Tidak Berani Marah


__ADS_3

Mendengar perkataan Sang Suami Bunda membulatkan mata sempurna. Dia langsung saja menutup pintu kamar mandi setelah mendorong suaminya itu menjauh.


Wanita paruh baya itu tidak butuh waktu lama untuk mandi. Dia merasa sedang ditunggu oleh putrinya yang cantik di ruang makan.


Sang Suami kini sudah terlihat tampan, tapi wajahnya terlihat sangat kusut karena ditolak oleh istrinya. Mau bagaimana lagi jika dituruti pasti akan sampai berjam-jam lamanya sedangkan ditempat lain sudah ada perut yang menunggu karena kelaparan.


Sepasang suami istri itu segera keluar dari kamar setelah terlihat rapi. Keduanya menuruni tangga berjalan perlahan dengan sedikit berbincang.


Sang Putri satu-satu itu mulutnya sudah menggerutu dari tadi menunggu Ayah dan Bundanya. Dia sangat lama menunggu orangtuanya sedangkan perut sudah terasa sangat lapar.


Perutnya sudah keroncongan, genderang perang ditabuhkan para cacing diperutnya. Mulut Sang Putri sudah seperti ayam yang mau mematuk makanan berbentuk mengerucut karena marah.


"Kalian berdua kenapa lama?" Tanya Mentari saat kedua orang tuanya sudah duduk di kursi.


"Maaf sayang Bunda tadi juga harus menunggu ayahmu selesai mandi juga alias harus ngantri." Jelas Sang Bunda setelah duduk.


"Dengan mengantri kita juga bisa belajar bersabar." Lanjutnya.


Mentari menganggukkan kepala perlahan berulang kali tanda dia sudah mengerti dengan penjelasan Sang Bunda. Bunda mengambilkan makanan yang sudah ditata di atas meja makan seperti biasa untuk kedua orang suami dan anaknya.


"Terimakasih Bunda." Kata Sang Putri.


" Sama-sama sayang." Jawab Bunda.


"Anak pintar." Puji Sang Ayah dengan mengacak rambut putrinya hingga sedikit berantakan.


"Ayah jahat!" Kata Sang Putri dengan jengkel karena rambutnya kini sedikit berantakan karena ulah Ayahnya itu.


"Jelek tahu? Kalau marah-marah terus." Kata Ayah memperingatkan.


"Mau kamu cepet berkerut itu wajah halus mu yang cantik." Lanjut Sang Ayah membelai kulit wajah Sang Putri.


"Ayah." Jawab Mentari malu.


"Bi, mana Adrean?" Tanya Tuan Richat pada Asisten Rumah Tangga kepercayaannya.

__ADS_1


"Di kamar Tuan, seperti akan joging." Jawab Bi Inna.


"Tolong panggil dia." Pinta Ayah sebelum mulai makan.


Bi Inna segera melangkahkan kaki menuju kamar Sang Putra karena mendapat perintah dari Tuan Richat. Takut terlibat sang putra sudah berangkat untuk joging.


Tok tok tok


Pintu kamar Adrean diketuk oleh seseorang secara perlahan. Pemilik kamar segera membukakan pintu segera.


Wanita yang sudah lanjut itu sudah terbiasa sejak Sang Anak masih kecil mengetuk pintu sebelum masuk kamarnya. Hal itu memang sangat sederhana tetapi itu adalah etika yang secara tidak langsung harus diajarkan kepadanya.


"Ada apa Bu?" Tanya Adrean pada Sang Ibu.


"Kamu dipanggil Tuan Besar." Jawab Sang Ibu singkat.


"Tuan sekarang ada di ruang makan." Lanjutnya.


"Kalau begitu saya kesana dulu ya Bu." Pamit Sang Putra.


Seorang gadis kecil tersenyum senang melihat kedatangan pemuda yang diperintahkan oleh Sang Ayah. Kedatangannya membuat gadis ini terasa seperti mendapat seorang teman bermain.


"Duduklah, sarapan bersama kami." Titah Tuan Richat pada Pemuda itu.


"Maaf Tuan saya ..." Jawab Adrean terputus saat melihat Sang Ibu dengan isyarat meminta persetujuannya.


"Sudah jangan menolak? Tanya Tuan Richat melihat kepala Pemuda itu tertunduk setelahnya.


"Terimakasih Tuan." Jawab Adrean setelah menerima anggukan dari Sang Ibu yang berarti memperbolehkannya.


Pemuda itu kini duduk bersama keluarga kecil Tuan Richat untuk menikmati sarapan mereka. Tidak seorangpun pembantu yang berani menyinggung tentang keistimewaan yang diberikan pada anak pembantu ini.


Semua Asisten Rumah Tangga di sana tahu akan jasa yang diberikan oleh ayah dari pemuda itu. Jasa Sang Ayah tidak sebanding dengan apa yang diberikan oleh Tuan Richat padanya hingga Dia harus kehilangan sosok seorang ayah.


Tuan Richat berusaha memberikan kasih sayang seorang ayah yang telah hilang karena sebuah pengorbanan terhadapnya. Sejarah itu diceritakan sang Ibu pada Pemuda itu ketika Sang Putra sudah memiliki sikap dewasa hingga tidak terjadi sebuah dendam di dalam hatinya dan bisa membedakan benar dan salah serta bisa membalas semua kebaikan yang orang lain berikan terhadap mereka.

__ADS_1


Mereka berempat memulai sarapan mereka dalam diam, hanya ada suara piring dan sendok yang terdengar saat makan. Sesekali gadis kecil itu mencuri pandang pada seorang pemuda yang kini sedang makan bersama mereka.


"Mau tidak ya Kak Adrean main bersama ku?" Batin Gadis Kecil itu dengan tersenyum-senyum sendiri.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ayah bisa menebaknya." Kata Ayah.


"Apa coba yang Tari pikirkan?" Tanya Mentari dengan manja.


"Kamu pengen ikut dengan Abangkan?" Tanya Ayah sambil mengacak pelan rambut Sang Putri hingga sedikit lebih berantakan lagi.


Gadis kecil itu tidak bisa menjawab apapun karena semua yang Ayahnya katakan adalah benar. Sejak dini dia diajarkan untuk jujur jadi Mentari tidak berani untuk berbohong.


Gadis kecil itu tidak berani untuk marah karena rambutnya yang lebih berantakan karena ada Kak Adrean. Dia takut tidak mau diajak bermain olehnya karena sifat pemarah itu.


Mendengar jawaban Sang Putri, Tuan Richat melihat ke arah seorang pemuda yang ada di dekatnya dan menganggukkan kepala. Sosok ayah ini sangat pengertian pada Sang Putri sejak dia dilahirkan, tahu dia tidak punya teman bermain hingga dia mengijinkan Adrean untuk membawa gadis ini bermain.


Pemuda itu tahu maksut dari Tuan Richat sehingga tidak perlu di jelaskan lagi secara panjang lebar. Sang Ayah mengijinkan mereka berdua pergi karena mempercayai Adrean dapat menjaga putrinya dengan baik sama seperti Bapaknya dahulu yang telah menjaga dia hingga mengorbankan diri sendiri.


Kedua orang itu pergi ke taman setelah sarapan. Adrean terlihat sangat tampan dengan pakaian olah raga itu walaupun sudah lama.


Mereka melakukan aktivitas di taman yang terletak di luar kediaman utama. Para gadis yang melihat Adrean merasa terpana dengan ketampanan dan tubuhnya yang suspeck itu.


"Ini anaknya Om?" Tanya seorang gadis.


"Masih muda punya anak sebesar ini. Umur berapa menikah?" Lanjutnya.


Pemuda itu tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan padanya. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala perlahan setelah kepergian gadis tadi.


"Kakak kenapa hanya diam saat ditanya oleh Kakak tadi?" Tanya Mentari.


"Kalau Kakak jawab nanti malah dia akan mengganggu bermain kita." Balas Adrean.


"Pastinya akan berlama-lama disinikan?" Tanya Adrean pada gadis kecil itu.


Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepala walaupun dia belum mengerti apa yang diucapkan Sang Kakak. Mereka pun melanjutkan bermain dan memainkan berbagai macam permainan.

__ADS_1


__ADS_2